
Rasa ini masih melekat dihati, meski tahu tak ada harapan walau sampai nanti aku menepi. Aku yang diibaratkan penulis puisi. Hanya menggoreskan pena diatas kertas dengan kata-kata yang puitis. Mengandalkan angan tanpa tahu siapa objek sebenarnya. Puisi ini seperti kisah cintaku yang indah tercurah namun tiada kisah nyatanya. Iya, rasa cintaku ke Gita hanya ada diangan saja. Meski sempat ku utarakan, namun tak mendapat balasan yang membahagiakan. Melainkan penolakan yang membuat hatiku hancur berantakan. Herannya perasaan ini sedikitpun tak lenyap dari hati. Membalut waktuku hingga sampai kapan, entah aku tak tahu.
Pagi ini aku bersiap menjemput Safira dihotel, untuk mengantarnya ke airport. Karena hari ini dia pulang ke Surabaya. Setelah rapih aku bergegas menuju hotel dengan mengendarai mobil Safira. Sesampainya di parkiran hotel aku sengaja tidak menelpon Safira, melainkan langsung menjemput ke kamar hotelnya, karena aku datang lebih awal dari waktu yang sudah dijanjikan.
"Tok tok tok. Assalamualaikum," salamku sembari mengetuk pintu kamar hotel Safira.
"Waalaikumsalam," jawab suara yang adalah Safira, dengan membuka pintu kamar hotel.
"Masuk dulu, baru jam segini. Aku juga baru selesai mandi," ujar Safira.
"Yaudah ga apa-apa biar santai jalannya. Tau sendiri sekarang Bandung macetnya kaya Jakarta," tuturku.
"Yaudah deh ayuk, sekaian cari tempat sarapan dulu di pinggiran jalan," kata Safira.
"Koper masih dimobil kan?" tanya Safira.
"Yahh aku buang," jawabku menggoda.
"Ga usah kumat ya," ujar Safira dengan nada ditekan.
"Hehehe iya dimobil," jawabku.
Setelah selesai bersiap, aku dan Safira mulai berjalan menuju airport. Sambil sesekali melihat pedagang sarapan dipinggir jalan.
"Mau sarapan apa?" tanyaku sambil nyetir.
"Enaknya apa ya?" ucap Safira ingin mendapat usulan.
"Bubur ayam doyan?" tanyaku.
"Doyan lah," jawab Safira.
"Itu depan ada," kataku menunjuk ke arah tukang bubur ayam yang menggunakan gerobak dorong, terlihat dikiri jalan.
Aku dan Safira menepi, kemudian memesan untuk dua porsi bubur ayam. Tak menunggu begitu lama, bubur ayam siap disantap.
"Enak juga," komentar Safira yang sedang mengunyah.
"Iya," jawabku singkat.
Setelah menghabiskan sarapan, aku dan Safira melanjutkan perjalanan ke airport. Kira-kira satu jam dari tempat sarapan. Aku dan Safira sampai di airport.
"Aku bakalan kangen banget sama kamu," ucap Safira.
"Sama. Nanti kita VC terus," usulku.
"Beneran ya, awas aja nanti kalo ga diangkat," ancam Safira manja.
"Diangkat lah masa ga, kalo denger," kataku menggoda Safira.
"Tuh kan nyebelin. Udah mau jauhan loh ga boleh jahat," protes Safira manja.
"Iya yahh siap Bu Bos ku hehehe," tuturku sembari mengusap kepalanya.
"Aku seneng tau kalo kamu lagi kaya gini," ungkap Safira mengomentariku.
"Seneng gimana?" tanyaku.
"Berasa disayang banget sama kamu," jawab Safira.
Seketika aku terdiam sesaat. "Seandainya benar seperti katamu Safira," gumamku dalam hati.
"Tuh kan bengong lagi," ucap Safira mengejutkanku.
"Ehh iya. Aku juga ngerasain hal yang sama," jawabku.
Akhirnya saat perpisahan pun tiba. Safira sudah tinggal landas menuju Surabaya. Aku di Bandung ditanah perantauan. Kembali menekadkan niat untuk berjuang. Demi keluargaku di kampung dan demi masa depanku.
Aku pun kembali ke butik dan menjalankan apa yang menjadi tanggung jawabku. Sesampainya dibutik aku benar-benar tidak menyangka, karena pengunjung dihari kedua butik dibuka ramai sekali. Ditambah satu hal kebiasaan karyawan yang mengejutkanku. Saat aku baru masuk butik terdengar serentak.
"BOUTIQUE," teriak salah satu karyawan.
"SAFASHIONBOUTIQUE," teriak serentak karyawan yang lain.
"Waauuww ide siapa nih ada yel-yel gini?" tanyaku ditengah pengunjung yang memperhatikan.
"Alif pak," jawab Widya salah karyawan yang sedang berdiri tidak jauh dari pintu masuk.
"Bagus. Lanjutkan dan sampaikan ide-ide kreatif kalian," tuturku menyemangati semua karyawan sembari berjalan masuk ke ruangan office yang berada dilantai dua.
"Oke pak," jawab serentak semua karyawan.
Baru saja duduk dan membuka laptop. HP disaku berdering, panggilan masuk dari Gita.
"Halo. Assalamualaikum," salamku setelah menjawab telpon.
"Halo. Waalaikumsalam," jawab Gita.
"Lagi sibuk ga?" tanya Gita.
"Ga, baru nyampe butik abis nganter Safira ke airport," jawabku.
"Aku cuma mau klarifikasi soal hubunganmu sama Safira. Kenapa sesingkat itu kamu jadian sama Safira. Aku ga mau kamu jadiin Safira pelampiasan," tutur Gita.
"Kamu kalo nelpon cuma buat teror aku, mending matiin aja," jawabku.
"Emang salah kalo aku mau klarifikasi?" tanya Gita.
"Ga ada yang salah. Cuma aku ga suka aja dengan caramu dan nada bicaramu, yang seolah-olah takut aku bakalan nyakitin Safira," ucapku.
"Yah emang itu yang aku takutin. Oke maaf kalo nada bicaraku terkesan mengintimidasi. Sekarang aku tanya baik-baik, tolong jawab baik-baik juga," kata Gita.
"Oke aku maafin," jawabku singkat.
"Jadi apa yang bikin kamu tiba-tiba nembak Safira? aku menurut yang diceritakan Safira," ujar Gita menanyakan pertanyaan yang sama.
"Sebelum aku jawab pertanyaanmu. Kamu jawab dulu pertanyaanku," ucapku memberi syarat.
"Oke, apa yang mau kamu tanyakan?" tanya Gita menagih.
"Jujur aku ga ngerasa kamu sepeduli itu sama Safira, teror WA yang dari kemarin kamu kirim ke aku, lebih menunjukan kalo kamu sebenernya cemburu melihat aku dan Safira sekarang berpacaran," tanyaku yang membuat Gita diam sesaat.
__ADS_1
"Kenapa diam? Ga bisa jawab?" imbuhku.
Seketika terdengar isak tangis tadi Gita. Sebelum akhirnya dia menjawab.
"Apa yang kamu katakan bener. Aku ngrasain itu, tapi harusnya aku ga boleh seperti ini. Safira sudah banyak membantuku. Dia juga sahabat baikku," ungkap Gita dengan diiringi tangisnya.
"Terus mau sampai kapan kita yang saling cinta ini dipisahkan oleh perasaan ga enak dan hutang budi?" tanyaku yang mulai terbawa suasana.
"Aku ga tau Hans, yang jelas aku ga mau nyakitin Safira yang saat ini lagi bahagia, tapi aku juga ga kuasa menahan sakit hati ini," ungkap Gita masih dengan tangisnya.
"Ga cuma kamu yang sakit Git. Aku yang harus berpura-pura menyayangi Safira juga tersiksa. Sedangkan aku tahu orang yang jauh disana dan sangat aku cintai, menderita karena harus merelakan perasaannya. Aku sayang kamu Git sayang banget," ungkapku dengan tulus.
Terdengar isak tangis yang semakin menjadi-jadi dari Gita. Setelah Gita mendengar ungkapaku.
"Maaf Hans, apa pun yang terjadi kita tidak boleh menyakiti Safira. Dia ga tau apa-apa, jangan sampai dia merasakan apa yang sedang kita rasakan sekarang," pinta Gita yang tanpa sadar air mataku menetes juga.
"Yaudah bagaimana katamu aja. Yang jelas cepat atau lambat Safira akan tahu semuanya. Entah itu dari mana dia akan tahu," ujarku.
"Please Hans, demi aku demi perasaan cinta kita. Tolong jaga semua ini dari Safira," pinta Gita.
"Aku usahan semampuku Git," jawabku singkat, yang juga telpon ditutup oleh Gita begitu saja.
Setelah panggilan telpon diakhir, aku termenung menatap suasana siang hari kota Bandung dari balik jendela. Menelaah apa yang baru saja aku dan Gita bicarakan. Memang keadaan yang tidak menguntungkan, memaksa aku dan Gita menjalani ini. Aku semakin yakin Viaku adalah Gitaku. Yang kelak akan menghiasi hari-hariku dan bahagia bersama, mendidik serta mengasuh anak keturunanku dan Gita.
Lamunanku di buayarkan oleh Alif, salah satu karyawan butik yang mengetuk pintu ruanganku.
"Tok tok tok! Assalamualaikum," salam Alif.
"Waalaikumsalam, masuk," jawabku mempersilahkan masuk.
"Pak ada customer yang komplain soal item yang kemarin dia beli disini, katanya robek," ucap Alif.
"Oke ayuk nanti saya menyusul," jawabku.
Setelah Alif keluar dari ruanganku, tak lama aku menyusulnya.
"Bagaimana Bu ada yang bisa dibantu?" tanyaku kepada Ibu yang komplain.
"Iya gimana nih, masa baru beli kemarin robek?" komplain Ibu sembari memperlihatkan dress.
"Maaf Bu boleh saya lihat?" pintaku.
"Saya mau uang saya kembali," ujar ibu yang komplain.
"Ibu udah dari kapan nipu dibutik?" tanyaku.
"Maksud kamu apa? Jangan ngomong sembarangan?" gertak Ibu yang masih kekeh komplain.
"Bu, barang-barang yang kami jual ini brand import. Sedangkan dress yang Ibu komplainkan brand lokal. Bukan dari brand yang bekerja sama dengan butik kami. Silahkan Ibu check semua item dibutik kami, tidak ada brand seperti dress punya Ibu," tuturku menjelaskan, yang ternyata menyita perhatian beberapa pengunjung.
"Alif tolong check cctv hari kemarin, apaka ada Ibu ini bertransaksi disini?" kataku memerintah Alif.
"Baik Pak," jawab Alif.
"Udah-udah," sahut Ibu yang komplain sembari merampas dress ditanganku dan berlalu begitu saja.
Seketika tepuk tangan terdengar dari karyawan, setelah melihat Ibu penipu pergi.
Tak terasa waktu bergulir cepat, sore ini aku mengumpulkan karyawan untuk breifing. Setelah semua pengunjung pulang.
"Kumpul dulu yuk," ajakku kepada salah satu karyawan yang kemudian mengumpulkan karyawan lain.
"Oke. Asaalamualakkum kawan-kawan,"
"Waalaikumsalam," jawab mereka serentak.
"Saya ingin mengingatkan kepada kawan-kawan untuk selalu berhati-hati dalam bekerja. Motif kejahatan bisa saja tidak dari hal yang kita duga. Seperti kejadian siang tadi, kalo kawan-kawan jeli, seharusnya mudah diatasi oleh kawan-kawan," tuturku.
"Siap Pak, mohon maaf untuk kami terutama saya yang tidak mengecheck komplainan terlebih dahulu," ucap Alif.
"Oke ga apa-apa, jadikan pelajaran untuk kedepannya lebih teliti dan lebih jeli. Mengerti?" ucapku.
"Mengerti Pak," jawab mereka serentak.
"Selanjutnya saya ingin menekankan. Bahwasanya kita disini mencari nafkah yang halal bersama-sama. Jadi hindari kegiatan yang berbau ketidakjujuran dan hindari persaingan. Karena semua yang disini mendapat tugas dan tanggung jawab masing-masing. Bisa dipahami?" tuturku.
"Bisa Pak," jawab mereka serentak.
"Yang terakhir, usahakan tetap kompak dan jaga sinergy satu sama lain. Jangan sungkan untuk saling membatu. Karena seberat apa pun pekerjaan akan mudah jika dikerjakan bersama-sama," tuturku.
"Oke sementara itu saja dari saya, dari kawan-kawan ada yang mau disampaikan?" tanyaku.
"Cukup Pak," jawab mereka serentak.
"Oke terimakasih untuk semuanya, sekarang silahkan pulang dan hati-hati. Assalamualaikum," ucapku membubarkan breifing.
"Waalaikumsalam," jawab mereka serentak.
Hari yang melelahkan. Aku pun pulang ke kost untuk beristirahat. Sesampainya di kost tidak seperti biasanya, aku tidak bisa tidur lebih awal. Badanku letih tetapi pikiranku berkecamuk akan kegelisahan hati. Entah karena Gita atau Safira. Aku menyempatkan untuk menelpon Ibu.
"Tuuuuuuut tuuuuuut!" suara panggilan berdering.
"Halo, Assalamualaikum Nak," suara Ibu pertanda panggilan sudah dihubungkan.
"Waalaikumsalam Bu," kataku membalas salam Ibu.
"Gimana kabarnya Nak? Sudah makan belum?" tanya Ibu.
"Alhamdulillah sehat dan sudah makan. Ibu, Bapak dan adek sehat?" tanyaku balik.
"Alhamdulillah Ibu dan adek sehat. Cuma Bapak kurang enak badan. Tapi tadi sudah Ibu kasih tolak angin dan sudah mendingan," jawab Ibu.
"Alhamdulillah kalo sudah enakan. Kalian jaga kesehatan ya," tuturku.
"Iya nak pasti. Kamu juga harus jaga kesehatan jangan telat makannya," ucap Ibu menasehati.
"Siap Bu!" jawabku.
"Oh ya nak, gimana kerjaannya? Betah kan?" tanya Ibu.
"Alhamdulillah lancar. Sejauh ini sih nyaman Bu. Semoga kedepannya juga betah," ucapku.
__ADS_1
"Alhamdulillah kalo begitu," tutur Ibu.
"Yasudah Bu, Hans mau mandi dulu terus tidur. Hari ini Hans capek sekali," ucapku.
"Yasudah nak, selamat istirahat ya. Assalamualaikum," ucap Ibu mengakhiri obrolan.
"Iya Bu. Ibu juga istirahat. Waalaikumsalam," kataku.
Panggilan dengan Ibu pun berakhir. Dan kini seperti yang aku katakan kepada Ibu tadi, aku langsung ke balkon untuk mengambil handuk. Kemudian berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Berharap setelah itu bisa merebahkan tubuh lalu terlelap. Namun, belum sampai didepan pintu kamar mandi, suara dering telepon menginterupsi. Ternyata itu panggilan dari sahabatku, Fa'iq. Sudah lama tidak berbincang setelah hari pemecatanku waktu itu. Kami bertukar kabar hanya lewat chatt.
"Halo, Assalamualaikum!" kataku memberi salam.
"Waalaikumsalam bro. Wah apa kabar nih?" tanya Fa'iq menggodaku.
"Bisa ae lu. Alhamdulillah baik. Lu apa kabar? Gimana kandungan istri?" tanyaku balik.
"Alhamdulillah sehat semua. Sebagai apa lu kerja disitu?" tanya Fa'iq.
"Gua jadi manager bro," jawabku.
"Wuiihhh mantep bro, gimana rasanya jadi manager?" tanya Fa'iq
"Yah begini bro. Walau kelihatannya santai tapi ternyata melelahkan juga. Belum lagi kalo ada komplainan kayak tadi siang. Hampir aja kena tipu. Untung gue orangnya cerdas," ucapku begitu percaya diri.
"Waaah narsis mulu. Tapi lu nyaman kan kerja disitu?" tanya Fa'iq.
"So far sih nyaman-nyaman aja. Semoga kedepannya betah," tuturku.
"Aamiin deh kalo gitu," doa Fa'iq untukku.
"Aamiin, doa terbaik juga buat sohib gua. Yaudah gua mau mandi dulu nih," ucapku.
"Oke bro lanjut," ujar Fa'iq singkat.
Setelah mengakhiri telpon dengan Fa'iq, aku pun mandi. Berharap setelah mandi bisa langsung istirahat.
Alhamdulillah, enak sekali rasanya. Merebahkan tubuh diranjang dan memejamkan mata. Setelah mandi dan mencharge HP.
"Viaku sempatkan mengecup keningku. Sebelum akhirnya aku terlelap ditandu mimpi-mimpi. Kemudian aku berharap kamu yang menghiasi cerita dalam mimpiku. Bukan cerita seram atau menegangkan. Yang datang dan yang ku harapkan cerita indah bersamamu, walau hanya dimimpi," gumamku dalam hati.
"Kring kring!" telponku berdering menepis cerita yang baru saja mengalun diangan.
"Halo. Assalamualaikum," salam suara dari telpon yang adalah Gita.
"Waalaikumsalam," jawabku.
"Udah tidur?" tanya Gita.
"Kalo udah tidur ga mungkin angkat telpon dari Mak Lampir," ujarku setengah kesal.
"Ga usah mulai deh," jawab Gita.
"Ada apa?" tanyaku.
"Aku cuma gelisah ga bisa tidur," ungkap Gita.
Belum sempat aku jawab terdengar suara yang tak asing dari telpon yang ternyata Safira.
"Ciye pacar baru ya?" suara Safira yang terdengar dari telponku dengan Gita.
Tiba-tiba telpon dimatikan oleh Gita.
"Ya Allah apa secepat ini Safira tahu semuanya? Mudah-mudahan Safira tidak curiga," doaku yang panik akan kemungkinan Safira mendengar Gita sedang telponan denganku.
Beberapa saat kemudian Safira mengirim pesan WA.
[ Aku sakit banget. Aku tunggu telpon atau chatt dari kamu sejak aku sampe dirumah. Tapi kamu sama sekali ga hubungin aku. Awalnya aku coba ngertiin, mungkin kamu sibuk dan capek. Ternyata aku ke butik ga sengaja denger Gita lagi telponan sama kamu ] tulis Safira dalam pesannya.
[ Aku minta maaf karena ga hubungin kamu. Soal Gita, aku harap kamu percaya ucapanku. Barusan banget setelah mandi aku mau tidur karena hari ini beneran capek. Ditambah siang tadi dibutik ada Ibu-Ibu yang mau nipu dengan dalih komplain soal item yang dibelinya. Terus tadi HP sudah aku charge. Tapi Gita tiba-tiba nelpon, aku pikir Gita lagi bareng sama kamu makanya aku angkat. Ternyata kamu baru dateng ] balasku kepada Safira.
"Kring kring!" panggilan masuk dari Gita.
"Halo. Assalamualaikum," salam Gita.
"Halo. Waalaikumsalam," jawabku.
"Tadi Safira kesini. Terus sempet denger aku telponan sama kamu," ucap Gita panik.
"Terus sekarang Safira dimana?" tanyaku.
"Setelah aku jelasin, aku yang nelpon kamu duluan dan bilang kalo aku sama kamu ga ada apa-apa, Safira langsung pergi," jelas Gita yang masih terdengar panik.
"Yaudah aku telpon Safira dulu ya. Soalnya tadi dia sempet WA aku," usulku.
"Oke deh. Assalamualaikum," salam Gita mengakhiri panggilan.
"Waalaikumsalam," jawabku.
Aku pun bergegas menelpon Safira. Tetapi nomornya tidak aktif. Terakhir hanya membaca pesanku tanpa membalasnya. Aku kembali menelpon Gita.
"Hallo. Assalamualaikum," salamku setelah Gita angkat telponku.
"Halo. Waalaikumsalam," jawab Gita.
"Gimana?" tanya Gita yang panik.
"Nomernya ga aktif, mungkin dia butuh waktu. Ga apa-apa kamu ga usah panik gitu. Yang penting kamu udah jelasin. Besok kalo bisa ajak Safira ketemu," tuturku.
"Ga sekarang aja aku samperin kerumahnya?" ujar Gita.
"Ga usah, mungkin dia masih kesal, ntar malah jatuhnya emosi. Udah sekarang kamu tidur aja," saranku.
"Mana mungkin bisa tidur, aku udah bikin kesalahan. Harusnya tadi ga nelpon kamu," ungkap Gita terisak.
"Udah dong jangan nangis. Tadi siang udah nangis, malam nangis lagi. Abis nanti air matanya," kataku mencoba menenangkan.
"Kenapa semua jadi berantakan Ya Allah," tangis Gita pecah.
"Udah dong please jangan nangis gini aku ga tega," ucapku.
Aku pun hanya mendengarkan Gita menangis menyesal. Dengan sesekali menenangkannya. Kemudian Gita menutup telpon. Saat aku coba telpon lagi nomernya sudah tidak aktif.
__ADS_1
Dengan perasaan yang tak menentu. Aku pasrahkan segala urusanku kepada Tuhanku. Untuk kali ini benar-benar berat untuk aku selesaikan sendiri.