Langit-Langit Angan

Langit-Langit Angan
Tempat yang Menyerupai Surga


__ADS_3

Segalanya menjadi tak terkendalikan. Cahaya hidupku yang redup kini semakin gelap gulita. Aku tidak bisa melihat dan membedakan lagi. Antara kenyataan dan khayalan.


Semenjak apa yang aku alami di kantor. Aku hanya merindukan Via. Aku hanya ingin bersama Via. Dan aku mulai tak pedulikan apa pun sekarang. Dari sepulang kerja kemarin sore. Aku hanya berdiam diri dikontrakan. Hari ini pun aku absen kerja.


"Kring kring!" HP ku berdering, panggilan masuk dari Fa'iq. Sedikit pun aku tidak bergeming dari posisiku saat ini.


"Tiktuk!" pesan WA masuk. Setelah panggilan tak ku jawab.


Aku terlelap dalam kerisauhan hati.


"Tok tok tok! Assalamualaikum," salam suara yang tak asing mengetuk pintu kontrakanku.


Aku yang setengah sadar mendengar ketukan pintu bergegas bangkit dari tempat tidurku.


"Waalaikumsalam," jawabku berjalan sempoyongan untuk membuka pintu.


"Ngebo banget lu bro, sampe gua salam 10x ketok pintu 30x," seru Fa'iq yang nyelonong masuk membawa bingkisan.


"Sorry bro," jawabku lemas dan berjalan menuju kamar mandi untuk cuci muka.


"Makan dulu tuh! Gua bungkusin dari kantin kantor. Pasti belum makan kan?" tebak Fa'iq melihatku keluar dari kamar mandi.


"Iya ntar gua makan," jawabku lesu. Mulai sadar dan kembali teringat masalah dikantor.


"Jangan gitu dong. Gua sempetin istirahat kerja kesini, masa ga dimakan," paksa Fa'iq.


"Iya bro makasih. Emang udah jam istirahat?" tanyaku.


"Udah. Lu kenapa ga masuk kerja?" tanya Fa'iq.


"Gua lagi males ngapa-ngapain hari ini. Ga nyangka bakalan ngalamin hal kaya gini," jawabku bingung mau memulai cerita dari mana.


"Emang kemarin apa yang diobrolin lu sama Pak Dirut? Kemarin lu belum sempet cerita. Keluar ruangan langsung cabut," tanya Fa'iq penasaran.


"Intinya Pak Dirut percaya sama Bu Gita. Bahkan mau backup Bu Gita buat penjarain gua, kalo gua ga mau nikahin Bu Gita," terangku dengan perasaan yang tak terlukiskan.

__ADS_1


"Ya Allah berat banget ujian lu Bro," ujar Fa'iq dengan raut muka prihatin.


"Yang lebih aneh, Bu Gita ngirimin rekaman cctv waktu gua dirumahnya, tapi rekaman itu tidak utuh," kataku menjelaskan.


"Apa bro isi rekaman cctv itu?" tanya Fa'iq yang semakin penasaran.


"Rekaman itu cuma tujuh detik. Memperlihatkan adegan Bu Gita meluk gua dari belakang. Posisinya gua lagi ngerjain laporannya Bu Gita disofa ruang tamunya," jawabku apa adanya.


"Kejadian sebenernya waktu itu Bu Gita ke dapur nawarin gua wine. Berhubung gua ga minum minuman keras, gua nolak. Abis itu gua yang lagi fokus ngerjain laporan kaget, karena tiba-tiba Bu Gita meluk gua dari belakang. Bisikin gua buat bersetubuh. Gua jawab ga bisa dan gua lepasin pelukan Bu Gita," imbuh ku memperjelas.


"Abis itu?" tanya Fa'iq yang hikmat mendengarkan ceritaku.


"Kalo rekaman cctv itu utuh pasti memperlihatkan Bu Gita marah ke gua," jawabku.


"Ga usah sok suci lu. Gua masih inget banget Bu Gita ngomong gitu pas gua paksa lepasin pelukannya dan gua cabut dari rumah Bu Gita," tuturku pada Fa'iq yang seakan tak tega melihat perlakuan Bu Gita ke aku.


"Yang sabar bro. Gua percaya sama lu. Ntar kita cari jalan keluarnya bareng," ucap Fa'iq menguatkan.


"Yaudah gua balik ke kantor dulu. Jangan lupa makan," imbuh Fa'iq sekaligus berpamitan.


Aku pun menutup pintu dan menjatuhkan tubuhku kembali diranjang. Bagaimana aku bisa menikah dengan wanita yang sekarang aku sangat benci? Bagaimana kalo aku memilih dipenjara? Bagaimana aku menjelaskan kepada Ibu dan Bapak? Ya Allah sangat berat ujian ini.


Pulau ini tak berpenghuni. Aku sudah berkeliling mengitari. Pulau yang memiliki banyak taman-taman yang indah. Tumbuhan yang rimbun berbuah melimpah. Aku terdambar dipulau yang menyerupai surga. Dari kejauhan ku lihat paras yang melenggak mengampiriku, tak asing bagiku. "Via, kamu dari mana saja?" tanyaku menyambut kedatangan Via. Dia hanya melemparkan senyuman yang siapa saja melihatnya akan terpanah. "Sayang saja kalau-kalau aku terdampar ditempat seindah ini tanpa kamu," imbuhku yang berjalan berdampingan dengan Via. Menikmati keindahan alam yang tiada aku temukan tempat seperti ini sebelumnya. Via yang ikut takjub dengan semua yang menyintas pandangan mata. Memberi isyarat bahwasanya dia sangat bahagia. "Aku tidak ingin tinggalkan tempat ini," teriakku lantang menghadap ke langit. "Aku juga ingin abadi disini," teriak Via. Kita pun tertawa terbahak. Seolah tiada duka ditempat ini.


"Kring kring!" nada dering HP ku berbunyi. Panggilan masuk dari Fa'iq. Dengan kekesalan yang kurasakan, karena membuyarkan cerita diangan. Aku pun menjawab telpon Fa'iq.


"Halo, Assalamualaikum," salamku.


"Waalaikumsalam. Bro gua ada ide nih, gimana kalo kita cari rekaman cctv versi utuhnya dirumah Bu Gita?" usul Fa'iq.


"Setau gua cctv tuh ada DVR yang ngesave rekaman, tapi kita harus cari cara buat dapetin DVR itu dirumah Bu Gita" imbuh Fa'iq menguatkan idenya.


"Kita diem-diem masuk kerumah Bu Gita?" tanyaku merespon ide Fa'iq.


"Betul bro. Semacam jadi maling lah kita," jawab Fa'iq.

__ADS_1


Mendengar ide gila Fa'iq aku terdiam sesaat.


"Bro udah dulu telponnya. Lusa libur, gua ke kontrakan lu buat bahas ini. Assalamaualaikum," imbuh Fa'iq mengakhiri telpon.


"Yaudah. Waalaikumsalam," jawabku menutup telpon.


Setiap jiwa, raga, pikiran, perasaan dan hatiku menyentuh kenyataan. Kemudian teringat peliknya dunia. Semuanya melemah, seakan lumpuh dan terasa jelas lenyapnya tenaga dari syarat organ tubuhku. Apakah kehidupan setelah kematian akan lebih baik dari ini? Haruskah aku akhiri semua ini? Tuhan semesta alam. Tunjukanlah jalan untukku menuju ridho-Mu.


"Sudah berapa lama kamu disini?" tanya Via dengan wajah jelitanya. Kita duduk bersimpu memeluk lutut masing-masing. Sesekali menikmati hamparan keindahan tempat ini. "Sejak dunia sebelah yang aku tempati mengusirku," jawabku mencurahkan isi hati. "Kehidupan kadang melelahkan, tetapi yakinlah ada kalahnya lelah itu berganti bahagia," tutur Via seakan bercerita dengan anak kecil sebagai penghantar tidur. "Aku mengenalmu dan menemukan tempat ini karena kelelahan yang abadi yang aku rasakan dikehidupan," ungkapku memperbaiki sitiasi hati. "Kamu hebat kamu kuat kamu hanya perlu lebih semangat, semagat untuk melalui fase kehidupan yang melelahkan," ujar Via yang setelah aku telaah ada benarnya.


"Tiktuk!" bunyi pesan WA diHPku. Selaras kumandang Adzan Isya yang mengaburkan lamunanku.


"Tiktuk!" terdengar lagi pesan WA masuk. Aku tidak ada niatan membuka HP.


Setelah seharian hanya diranjang. Aku pun berniat membersihkan diri. Dengan badan yang lemas aku berjalan mengambil handuk kemudian ke kamar mandi.


"Tok tok tok! Assalamualaikum," terdengar suara sembari mengetuk pintu kontrakan.


"Waalaikumsalam," jawabku menghampiri dengan handuk yang masih melingkar dileher baru selesai mandi. Kemudian aku buka pintu. Yang adalah Ibu kost.


"Seharian ga keluar sakit?" tanya Ibu kost.


"Iya Bu lagi kurang enak badan," jawabku lemas.


"Yaudah banyakin istirahat. Nih dimakan!" saran Ibu kost sembari menyodorkan makanan.


"Terimakasih Bu," jawabku menggapai pemberian Ibu kost.


"Kalo perlu apa-apa telpon Ibu ya, biar nanti Bapa yang kesini," pesan Ibu kost sembari berlalu.


Aku meletakan makanan pemberian Ibu kost disamping makanan yang tadi siang Fa'iq bawa. Kemudian aku duduk diranjang membuka HP. Dua pesan belum dibaca dari Bu Gita.


[ Hans, semua yang aku lakuin ini, cuma biar bisa hidup sama kamu. Aku jatuh hati dari awal ketemu kamu. Aku mohon sama kamu terima aku dan cintai aku ] ungkapan Bu Gita dipesan WA.


[ Aku berusaha baikin kamu, deketin kamu, tapi kamu pernah ngomong udah ada pacar. Waktu itu nama Via yang kamu sebut. Dan aku kecewa. Aku ga mau kamu nikah sama wanita lain selain aku ] tutur Bu Gita di pesan WA yang terakhir.

__ADS_1


Aku pun hanya membaca tanpa membalasnya.


__ADS_2