Langit-Langit Angan

Langit-Langit Angan
Dunia Menjarah yang Ku Punya


__ADS_3

Benar-benar hanya sesaat bunga yang mekar dihalaman hatiku. Tak sempat aku memetiknya sebab baru kemarin aku melihatnya mekar indah. Harus aku relakan tumbang oleh keadaan alam. Kini hanya harumnya yang melekat diingatan.


Aku kembali terdampar didalam bisunya kesunyian. Sesekali senyumi keadaan hati. Entah ini nyata atau hanya diangan? Yang jelas langit-langitnya tak mampu ku pegang.


Malam ini aku sampaikan keinginan, kepada semua yang terlihat oleh pandangan.


"Hai pintu, bosankah kamu dengan hidupmu yang hanya menutup dan membuka? Apa kamu tau aku ingin didekatnya,"


"Hai dinding, lelahkah kamu dengan hari-harimu yang hanya tegar berdiri melindungi penghuni rumah dari dingin malam dan panasnya terik siang? Apa kamu tahu saat ini aku ingin memeluknya,"


"Hai langit-langit kamarku, sampai kapan kamu menggantung diatas. Jika kamu lelah jatuhkan dirimu beserta atapnya, hingga menimpaku dan mati. Apa kamu tahu kalau aku mulai merindunya,"


"Hai meja, bagaimana kabar punggungmu yang memikul barang-barang diatasmu? Apa kamu tahu tentang perasaan dia sekarang",


"Hai cermin, sejak kapan kamu suka menampakan objek didepanmu? Apa kamu tahu aku kesepian,"


Semua yang ada dipandanganku nampak tersenyum mengejek, tatkala aku tanyai mereka satu persatu. Dan kegilaan ini semakin menjadi-jadi, seiring aku dipaksa sadar atas dia yang seakan menghindar. Aku dituntut tegar atas kabarnya yang tak ku dengar. Dan aku dianggap gila karena tak sanggup rela.


Diperbaringan menunggu kesadaran tertelan lelap. Aku menyapa Via. Via bersediakah kamu selalu disini? Menemani aku yang ditelantarkan takdir. "Aku selalu disisimu, menjadi yang pertama tau tiap-tiap kegelisahan hidup hinggap dihatimu," tutur Via dengan nada lembut. "Terimakasih, selalulah seperti ini, karena selainmu tiada yang mengerti isi hati," ucapku yang mulai lega. "Nafasmu masih tersemat dijiwa ragamu. Kakimu masih sanggup melangkah. Anganmu masih luas untuk merancang masa depan. Tekatkanlah niat dan tujuan, bahwasanya kamu akan sampai dipemberhentian yang begitu membahagiakan," ungkap Via menyemangatiku. "Benar katamu, aku harus bangkit dari keadaan ini. Mungkin Gita yang ku sangka jelmaanmu sudah tak ada lagi disini. Mungkin rasaku untuknya terpaksa tak bisa diterimanya. Tapi aku masih milikmu Via dan kamu masih utuh untukku," ujarku mulai termotivasi.


Hingga akhirnya aku hilang kesadaran karena berpindah ke alam mimpi. Merehatkan angan dan mengistirahatkan badan.


Esok pagi yang sama saja membosankan. Hari libur kerja namun suasana hati tiada yang berubah. Masih berat dan asing harus berpisah dengan Gita. Yang sekarang menetap disurabaya.


"Kring kring!" HP ku berdering menandakan ada panggilan masuk, dari Fa'iq.


"Halo. Assalamualaikum bro," salamku setelah menjawab telpon.


"Halo. Waalaikumsalam," jawab Fa'iq.


"Gimana bro?" tanyaku yang baru bangkit dari posisi rebahan menjadi duduk diranjang.


"Lu ada acara ga hari ini?" tanya Fa'iq.


"Mana mungkin gua gada acara bro. Gua orangnya sibuk," jawabku yang ingin menutupi kegabutanku.


"Seriusan nih, kali lu gada acara gua mau maen. Suntuk gua dirumah, istri lagi dirumah mertua," ucap Fa'iq.


"Nah lu kenapa ga ikut bini lu?" tanyaku.


"Gua nganterin doang kemarin sore, istri mau nginep," tutur Fa'iq.


"Yaudah sini aja bro," ucapku.


Panggilan telpon Fa'iq diakhiri. Aku yang mager memutuskan untuk melanjutkan tidur.


Seakan belum lama aku tidur, terdengar ketukan pintu yang adalah Fa'iq.


"Tok tok tok. Assalamualaikum," salam Fa'iq.


"Waalaikumsalam, masuk aja bro," jawabku masih malas bergerak.


"Dikunci loh," teriak Fa'iq dari luar pintu.


"Oh iya tah, sebentar," jawabku memaksakan diri bangun untuk membuka pintu.


"Mentang-metang minggu libur kerja males-malesan," ucap Fa'iq sembari masuk.


"Mau ngapain lagi bro," jawabku.


"Ngopi lah," usul Fa'iq.


"Dah tuh bikin sendiri," jawabku yang kembali merebahkan tubuh dikasur.


Fa'iq terlihat membuat kopi dan menikmati kopi bersama rokoknya dibalkon kontrakan. Aku yang jadi ingin memutuskan untuk ikut membuat kopi. Dibalkon kontrakan kita menikmati kopi dan berbatang-batang rokok yang kita hisap. Dengan sesekali berbincang.


"Lu keliatan lemes banget Gita udah ga disini?" tanya Fa'iq.


"Ga tau lah gini mulu takdir gua," jawabku memulai curhat.


"Udah sedalam itu lu sayang sama Gita?" tanya Fa'iq.


"Ga ngerti gua bro, yang gua rasain cuma hampa semenjak waktu itu gua niat mau ungkapin semuanya, Gita malah berniat jodohin gua sama Safira. Ditambah sekarang Gita udah jauh," tuturku.


"Emang susah bro keadaannya. Gua liat juga Safira beneran naksir sama lu. Kalo lu sama Gita bakalan hancur persahabatan mereka," ungkap Fa'iq.


"Gua ga mau itu terjadi bro," ucapku.


"Terus lu mau gimana?" tanya Fa'iq.


"Kayanya gua bakalan deketin Safira bro, kalo dengan itu Gita bisa seneng, gua mau lakuin," ujarku.


"Terus perasaan lu gimana?" tanya Fa'iq.


"Gita rela jodohin Gua sama Safira, yang lu juga tau dari awal Gita gimana ke gua. Disini gua anggap Gita udah ngorbanin perasaannya duluan. Jadi ga salah kalo sekarang giliran gua yang berkorban perasaan," ungkapku.


"Lu yakin?" tanya Fa'iq memastikan.

__ADS_1


"Yakin ga yakin bro," jawabku.


Obrolan dengan Fa'iq ditutup dengan aku yang keluar sebentar membeli makan siang. Karena disiang ini aku belum makan dari pagi. Setelah membungkus makanan, aku dan Fa'iq makan siang bersama dikontrakanku. Tiba-tiba terdengar dering HPku.


"Kring kring!" dering panggilan masuk dari nomer yang belum aku save. Ternyata Safira.


"Halo. Assalamualaikum," salam Safira setelah panggilan aku jawab.


"Halo. Waalaikumsalam," jawabku.


"Lagi sibuk ga?" tanya Safira.


"Ga kok, baru selesai makan siang nih sama Fa'iq dikost. Ada yang bisa dibanting?" jawabku yang sekaligus bertanya maksud Safira menelpon.


"Aku cuma mau ngabarin Gita masih sering bengong dan belum mau beli nomer lagi," tutur Safira.


"Semangatin dia ya Fir, kasihan banget sahabatmu," pintaku.


"So pasti. Oh ya buat sabtu depan kamu jadikan hadir diacara launching butikku dibandung. Ajak Fa'iq juga," tanya Safira.


"In Shaa Allah aku dateng. Kalo Fa'iq belum tau dia bisa ikut atau ga. Ntar aku tanya," jawabku.


"Oke gitu aja ya, makasih Hans," ucap Safira yang nampak agak canggung.


"Iya siap sami-sami," jawabku.


"Assalmualaikum," salam Safira.


"Waalaikumsalam," jawabku sembari menutup telpon.


"Kenapa bro Safira," tanya Fa'iq yang sedari tadi disampingku.


"Lu ga denger?" tanyaku.


"Gimana mau denger ga diload speaker," jawab Fa'iq.


Aku pun menceritakan isi panggilan dari Safira kepada Fa'iq. Dengan perasaan antusias Fa'iq menyanggupi ajakan Safira untuk hadir diacara launching butik sabtu depan. Setelah mendengar kabar Gita yang masih sering bengong dan belum mau mengaktifkan HPnya.


"Setelah kemarin Gita kirim video ke istri Pak Dirut, belum ada desas desus perang dunia bro," tutur Fa'iq.


"Mungkin istri Pak Dirut besar hati dan mau memaafkan Pak Dirut," terkaku.


"Masa iya sih. Gua ga ngebayangin bro kalo gua yang diposisi Pak Dirut. Gimana istri gua ngamuk hahahaa," seru Fa'iq sembari tertawa.


"Coba aja bro penasaran gua," kataku mengolok.


"Yah siapa tau istri lu juga bisa besar hati dan ngijinin lu nikah lagi," ucapku.


"Bro gua kenal banget istri gua bro, boro-boro ngijinin nikah lagi. Ketahuan kena kasus kaya Pak Dirut, bisa dipotong jagoan gua," tutur Fa'iq.


Aku hanya membalasnya dengan tawa. Dan tidak terasa hari sudah sore. Fa'iq pun pamit untuk menjemput istrinya dirumah mertuanya.


Aku yang kembali sendirian setelah Fa'iq pamit pulang. Kembali merasakan kensunyian. Seakan aku direndam dalam kesepian tanpa tepi. Tak ingin tenggelam terlalu dalam dikesunyian ini. Aku memilih untuk menelpon Ibu.


"Tuuut tuuut tuuut!" bunyi panggilan terhubung diHPku.


"Halo. Assalamualaikum," salam Ibu setelah angkat telpon.


"Halo. Waalaikumsalam," jawabku.


"Ibu sehat?" tanyaku memulai obrolan.


"Alhamdulillah sehat Nak. Kok tumben sore-sore gini nelpon?" tanya Ibu.


"Ga apa-apa Bu kangen aja," jawabku.


"Jadi kapan pulangnya?" tanya Ibu.


"In Shaa Allah, akhir bulan ini Bu, nanti Ibu masakin Hans soto ayam ya hehe," pintaku.


"Siap, tapi bener ya akhir bulan ini kamu pulang," ucap Ibu mempertegas.


"Siap Bu hehehe," jawabku.


Perbincangan dengan Ibu ditelpon diakhiri karena adzan magrib sudah berkumandang. Aku bergegas membersihkan diri kemudian menunaikan kewajiban. "Ya Tuhan semesta alam. Jangan biarkan aku merasa sendirian seperti ini," dalam doaku.


Malam ini aku berusaha tidur lebih awal. Dengan tidak menyapa alam angan dan tidak berniat menjelajahi khayalan. Esok harus kerja dan esok moodku harus sudah baik.


Aku pun terlelap diwaktu yang belum larut. Tak ingin terjaga yang kemudian merasakan gelisa tak menentu. Aku biarkan mimpi-mimpi menghiasi malam ini dalam lelapku. Tak terkendali dan terasa absurd cerita dalam mimpi.


Esok pun menyapa dengan tubuh yang lebih bugar dari biasanya. Karena waktu istirahat yang lebih dari cukup. Kemudian aku bersiap untuk memulai aktifitas kerjaku. Seperti biasa tanpa sarapan terlebih dahulu aku berangkat kerja. Menaiki angkot menuju ke kantor. Sesampainya dikantor karena aku datang lebih awal, aku jadi punya waktu untuk mempersiapkan semua yang akan aku kerjakan hari ini. Tak butuh waktu lama rekan-rekan kantor satu persatu bermunculan.


"Tumben berangkat pagi?" tanya Fa'iq yang baru sampai dan duduk disebelahku.


"Iya lagi kebangun pagi aja," jawabku sekenanya.


Sekitar pukul 09.30 tiba-tiba suasana kantor rame. Fa'iq yang sedari tadi disebelahku beranjak untuk mencari tau. Aku yang masa bodoh sedikitpun tak bergeming hiraukan itu.

__ADS_1


"Bro ada owner," seru Fa'iq yang sudah kembali keruangan kerja.


"Istri Pak Dirut?" tanyaku.


"Iya lah siapa lagi," jawab Fa'iq.


Aku yang tak peduli tetap melanjutkan pekerjaanku didepan laptop.


Tidak lama setelah Owner naik ke lantai atas ruangan Pak Dirut, muncul Genie masuk ruanganku dan mengabarkan kalau Owner memanggilku untuk keruangan Pak Dirut.


"Iya aku segara kesana," jawabku.


Genie berlalu dari ruangan kerjaku. Fa'iq yang panik memberi nasehat.


"Bro jawab apa adanya aja kalo Owner bahas soal Pak Dirut dan Gita," saran Fa'iq.


"Santai aja bro," jawabku sembari beranjak untuk menghadap Owner.


Dengan keteguhan hati aku mulai berjalan menuju lift untuk naik kelantai ruangannya Pak Dirut. Tak butuh waktu lama aku pun sampai didepan pintu ruangan Pak Dirut.


"Tok tok tok. Assalamualaikum," salamku mengetuk pintu ruangan Pak Dirut.


"Masuk!" jawab suara dari balik pintu.


Didalam sudah ada Owner dan Genie. Aku pun masuk dan duduk didepan Owner setelah dipersilahkan duduk.


"Kamu tau soal video yang Gita kirim ke saya?" tanya Bu Owner.


"Tahu Bu," jawabku.


"Kamu tau hubungan Gita sama suami saya?" kembali Bu Owner bertanya.


"Sebelum ada video itu saya belum tau Bu," jawabku.


"Apa benar yang disampaikan Gita divideo itu?" tanya Bu Owner.


"Setahu saya faktanya seperti itu Bu," jawabku.


"Oke sekarang saya pengen kamu ceritain semuanya menurut versimu," pinta Bu Owner.


"Saya awalnya bingung dan stress ketika dituduh menghamili Gita dan disuruh Pak Dirut untuk menikahinya. Karena Pak Dirut ancam saya mau dijeblosin ke penjara, saya pun tidak bisa apa-apa selain menuruti perintah Pak Dirut. Setelah saya mulai mencari tahu dengan mendekati Gita. Saya mendapat satu momentum dimana Gita menceritakan semua fakta kepada saya Bu," tuturku.


"Kenapa Pak Dirut menunjuk kamu bukan yang lain?" tanya Bu Owner.


"Awalnya saya juga bingung Bu, tapi saya tau dari Gita ketika dia cerita katanya pernah curhat sama Genie tentang ketertarikannya sama saya. Kemungkinan Genie yang ngasih tau Pak Dirut soal perasaan Gita ke saya," ujarku.


"Genie apa benar itu?" tanya Bu Owner kepada Genie yang berdiri disebelahnya.


"Iya Bu benar, waktu itu Pak Dirut ketakutan setelah dikasih tau kehamilan Bu Gita. Terus nanya ke saya, Bu Gita pacarnya siapa? Saya hanya menjawab yang saya tau Bu. Kalo Bu Gita pernah cerita soal dia tertarik sama Hans," kata Genie.


"Terus apa yang kamu lakukan Hans, setelah tau fakta sebenarnya," tanya Bu Owner.


"Pertama saya kesal sama Pak Dirut karena saya dijadikan korban dari kelakuannya ke Gita. Kemudian saya mencari cara untuk lepas dari fitnah ini Bu," ucapku menjelaskan.


"Terus kamu rekam kejadian divideo itu?" tanya Bu Owner.


"Iya Bu karena saya pikir butuh itu untuk mengungkap kebenaran," jawabku.


"Disini kamu ga sepenuhnya salah. Tapi karena rekaman itu saya menjanda dan ketiga anak saya sudah tidak punya Ayah. Karena saya sudah usir laki-laki brengsek itu dari kehidupan saya," tutur Bu Owner.


"Saya minta maaf yang sebesar-besarnya Bu," ucapku.


"Tidak apa semuanya sudah menjadi takdir saya. Tapi saya tidak mau ada orang-orang bermasalah dikantor saya. Kamu Gita dan Genie saya pecat," tegas Bu Owner.


Terlihat Genie menangis karena kehilangan pekerjaannya. Dan kemurkaan Bu Owner tidak sampai disini. Beliau menanyakan keberadaan Gita. Sedikit pun tak aku beri tahu.


"Gita dimana sekarang, setelah ngirim Video nomernya ga aktif," tutur Bu Owner.


"Saya tidak tau Bu. Dan karena saya sudah dipecat saya izin undur diri," ucapku sembari meninggalkan ruangan itu.


Aku kembali kemeja kerjaku dan membereskan semua barang-barangku. Fa'iq yang melihatku seolah paham dengan yang terjadi. Dia pun membantuku berkemas sembari sesekali menenangkanku.


"Sabar bro," ucap Fa'iq.


"Iya bro santai aja, jalannya emang harus seperti ini," jawabku.


Setelah membereskan semua barang-barang, aku pun pulang diantar Fa'iq menggunakan motornya. Sesampainya dikontrakan aku menyuruh Fa'iq segera kembali ke kantor.


"Gua terimakasih banget dibantu banyak bro. Lu dibetah-betah disana," ucapku.


"Lu ga mau cerita dulu?" pinta Fa'iq.


"Ntar aja, mending lu balik kantor," saranku ke Fa'iq.


Fa'iq pun kembali kekantor dan aku masuk kontrakan, kemudian menjatuhkan tubuh diperbaringan.


Seperti ini keadilan, seperti ini kehidupan. Aku yang terlahir hanya untuk menghabiskan waktuku untuk menggapai Langit-langit angan.

__ADS_1


__ADS_2