Langit-Langit Angan

Langit-Langit Angan
Bersama Akan Lebih Mudah


__ADS_3

Ketakukan dan kekhawatiran sering kali hinggap dipikiran manusia. Bahkan seringkali menjadikan manusia itu tidak bisa berfikir jernih. Begitupun dengan kehidupan mendatang. Sebagian orang overthinking dengan apa yang akan mereka lalui dimasa yang akan datang. Nyatanya kita hanya perlu melaluinya. Banyak kasus khawatir dengan masalah yang akan dihadapi. Namun setelah mereka melaluinya ternyata tak seburuk yang mereka bayangkan.


Aku dan Mak Lampir yang berada dalam mobil, perjalanan pulang kerja menuju kontrakanku. Pikiran yang mulai mengarah ke hal negatif perlahan aku tepis. Sesampainya dikontrakan, aku mempersilahkan Mak Lampir untuk sekedar santai dibalkon.


"Mohon maaf menyerupai kapal pecah," ucapku menilai keadaan kontrakanku.


"Not bad lah untuk ukuran cowok," ucap Mak Lampir.


"Tetep aja ga senyaman rumah yang kamu tempatin," ujarku.


"Kamu tau kan itu rumahnya Pak Dirut, dan aku juga pengen segera keluar dari rumah itu," jawab Mak Lampir mengingatkanku.


Aku yang sudah membuatkan kopi susu untuk Mak Lampir yang sedang bersantai dibalkon kontrakanku, berniat untuk membersihkan diri.


"Aku mandi dulu ya," ucapku.


"Ikut," jawab Mak Lampir menggoda dengan logat canda.


"Eitttt udah janji ya ga minta aneh-aneh," sanggahku dengan sedikit senyum.


"Hehehe emang gua cewek apaan. Dah sono mandi bau," ucap Mak Lampir menyuruhku segera mandi.


Aku pun bergegas mandi. Didalam kamar mandi aku mendengar Mak Lampir seperti menelpon seseorang. Aku yang penasaran menghentikan kran air dan menghentikan aktifitas mandiku sesaat. Bermaksud mendengarkan obrolan. Tetapi obrolan ditelpon diakhiri Mak Lampir. Aku pun belum sempat mendengar apa pun. Setelah selesai mandi dan mengenakan baju. Aku menghampiri Mak Lampir yang sesekali meminum kopi dan menikmati pemadangan senja dipinggiran ibukota.


"Tadi nelpon siapa?" tanyaku penasaran.


"Fa'iq, aku minta tolong sesuatu," jawab Mak Lampir yang semakin membuatku penasaran.


"Oh," ucapku yang menahan diri.


"Enak juga ya sore-sore disini, cukup menenangkan," tutur Mak Lampir yang terlihat betah dikontrakanku.


"Iya aku paling suka kalo pulang kerja juga disini sambil ngopi," imbuhku.


Setelah beberapa saat terdengar ketukan pintu kontrakanku. Sempat khawatir takut itu Ibu kost dan berfikir macam-macam.


"Tok Tok Tok, Assalamualaikum," salam suara dari balik pintu, yang ternyata suara Fa'iq.


"Waalaikumsalam," jawabku dan Mak Lampir serentak.


Aku membukaan pintu dan mempersilahkan Fa'iq masuk. Kita bertiga mengobrol di balkon kontrakan.


"Bawa apaan lu bro?" tanyaku melihat Fa'iq bawa bingkisan.

__ADS_1


"Ini tadi Bu Gita transfer buat beliin makanan," jawab Fa'iq menyerahkan bingkisan ke Mak Lampir.


"Yaudah kita makan bareng," ajak Mak Lampir yang ternyata menyuruh Fa'iq datang membawa makanan.


"Ini bu kembaliannya," ucap Fa'iq menyerahkan uang kembalian.


"Oke makasih ya," jawab Mak Lampir yang memulai menyantap hidangan.


Kita bertiga pun makan bersama. Kekhawatiran dan ketakutanku yang sedari tadi musnah tatkala sekarang dikontrakan sudah bertiga.


"Katamu Fa'iq tau semuanya. Yasudah aku panggil aja biar sekalian bantu mikir rencana kita mau gimana," ucap Mak Lampir.


"Iya Bu Hans cerita semua sama aku dari awal dia kena masalah," tutur Fa'iq.


"Jangan panggil Bu lagi dong kita kan lagi ga dikerjaan," protes Mak Lampir.


"Panggil Mak Lampir aja bro," sahut ku tertawa.


"Jangan mulai ya," potong Mak Lampir yang juga ikut tertawa.


"Panggil Gita aja kali ya, lebih tua aku juga dari kalian," usul Fa'iq.


"Nah bener tuh," jawab Mak Lampir menyetujui.


"Jadi ada ide apa nih?" tanyaku.


"Kalo kita pake cara yang sama gimana?" usul Fa'iq.


"Yang sama gimana?" tanya aku dan Mak Lampir serentak.


"Ciye ga usah kompak gitu kali," ucap Fa'iq tertawa.


Aku dan Mak Lampir tersipu malu.


"Awalkan Pak Dirut menggunakan potongan cctv buat pojokin lu bro, kita pake cara yang sama artinya kita harus punya rekaman cctv yang memperlihat Pak Dirut berbuat aneh-aneh sama Gita. Harusnya ada dong?" saran Fa'iq.


"Maksudnya video aku diperkosa Pak Dirut?" tanya Mak Lampir dengan nada tinggi.


"Itu pun kalo Gita setujuh," imbuh Fa'iq.


"Masalahnya kejadian itu dikamar dan yang ada cctv cuma diruang tamu dan ruang-ruang utama saja. Disetiap kamar ga terpasang cctv," tutur Mak Lampir.


"Gimana kalo kaya gitu bro?" celaku menanyakan ke Fa'iq.

__ADS_1


"Tetep kataku kita harus liat DVRnya, mencari bagian yang bisa dipotong atau di edit," jawab Fa'iq.


"Yaudah coba aja," sahut Mak Lampir.


"Oke opsi satu itu, terus ada ide lain ga?"


Sejenak suasana menjadi hening. Pertandakan kita bertiga sedang berfikir keras.


"Menurut gua patahain dulu yang menjadi senjata Pak Dirut," ucapku memecah keheningan.


"Maksud lu dengan ganti uang yang dipake Gita bro?" terka Fa'iq.


"Betul bro, cuma masalahnya dapet duit sebanyak itu dari mana?" imbuhku.


"Aku ga punya uang sebanyak itu, jual mobil pun cuma 200 juta," ucap Mak Lampir.


"Gara-gara aku kalian jadi ikut pusing. Maaf ya Hans dan Fa'iq," imbuh Mak Lampir.


"Ga apa-apa kita sudah berteman harus saling bantu Git," jawab Fa'iq.


"Naahhhh gimana kalo kita cari duit itu dari konsumen-konsumen perusahaan kita," seruku seakan mengejutkan Fa'iq dan Mak Lampir.


"Maksudnya gimana?" tanya Mak Lampir.


"Kita cari proyek terus kita bayar harga basic ke perusahaan sisanya atau untungnya kita kumpulin. Sudah pada tau kan peraturan dikantor dalam menjual barang, paling tidak jual dengan harga modal. Jadi kita tetep jualin barang kantor tapi kita juga bisa ambil uang kelebihannya", jelasku


"Secara administrasinya bagaimana, bisa diakalin?" tanya Mak Lampir.


"Untuk invoice Fa'iq bisa atur dong. Nah untuk laporannya Mak Lampir yang urus," imbuhku.


Seketika mereka tertawa mendengar aku menyebut Mak Lampir. Sekaligus menandakan mereka setujuh dengan usulanku.


"Gua sih setujuh dan untuk porsi gua ntar gua atur dah," ungkap Fa'iq.


"Yaudah kalo gitu aku juga setujuh," ucap Mak Lampir.


"Oke, jadi kapan kita mulai jalanin itu?" tanyaku.


"Sekarang aja, ayuk ke rumahku," ajak Mak Lampir.


"Ciye rumahku, pemberian Pak Dirut ya?" godaku.


"Ga usah mulai deh," jawab Mak Lampir agak kesal.

__ADS_1


Setelah adzan magrib kita bertiga bergegas ke rumah Pak Dirut yang sekarang ditempati Mak Lampir. Bermaksud mengambil DVR cctv dirumah itu. Dengan harapan mendapat bukti kuat untuk melawan Pak Dirut. Perjalanan menggunakan mobil Mak Lampir. Sesesakli didalam mobil kita bercanda, untuk mengurangi beban dan melupakan kesedihan. Kurang lebih satu jam akhirnya kita sampai ditujuan.


__ADS_2