Langit-Langit Angan

Langit-Langit Angan
Sabarku Kian Melebar


__ADS_3

Pagi yang cerah untuk aku yang sudah tidak peduli dengan kehidupan. Mengembangkan senyuman seolah melupakan yang sedang melilit perasaan. Mencoba menikmati dari sisi lain dimana aku harus bersikap baik dengan wanita yang aku benci. Hingga akhirnya nanti hidup bersama sebagai suami istri. Sempat menimbulkan gelak tawa ketika aku telaah. Kok bisa jalan hidupku seperti ini.


Dipenghujung penantian muncul lah Bu Gita dengan mobilnya. Aku yang sudah menunggu didepan gang kontrakkan melambaikan tangan. Kemudian aku masuk kedalam mobil. Kita pun berangkat ke kantor bersama.


"Kamu kenapa ada yang beda? Perasaan kemarin sebelum HP ilang sikap kamu ke aku ga kaya sekarang," tanya Bu Gita keheranan melihat perubahan sikapku.


"Ga pengen ada yang ilang lagi aja dari hidupku. Kemarin HP udah ilang. Kalo aku ngelawan takdir bisa juga kehilangan Bu Gita," jawabku meneruskan akting.


"Tuh kan Bu lagi," sahut Bu Gita dengan nada manja.


"Oh ya maaf sayang. Aku lupa," sanggahku merespon sikap manja Bu Gita.


"Jangan diulangin lagi!" tegas Bu Gita.


"Iya ya sayang," jawabku sembari menahan mual ingin muntah.


"Pasti orang-orang kantor nyinyir liat kita berangkat bareng," terkaku yang masih dalam perjalanan ke kantor.


"Bilang aja ke aku sayang, nanti aku SP orangnya," sahut Bu Gita seakan meneguhkan aku.


"Beneran ya," jawabku menagih.


"Iya pasti. Bila perlu aku pecat orangnya. Pak Dirut ga akan protes kalo aku pecat karyawan," ujar Bu Gita penuh wibawah.


"Oke deh," jawabku singkat, sekaligus membatin "Iya ga akan protes karna lu simpanannya,".


Tidak terasa akhirnya kita sampai dikantor. Dan seperti dugaanku orang-orang nyinyir melihat aku sama Bu Gita jalan bareng. Tidak lama Fa'iq menghampiri.


"Bu. Bro, Lu udah sarapan belum?" tanya Fa'iq kepadaku yang masih ada Bu Gita disampingku.


"Belum bro," jawabku singkat.


"Yuk ngantin dulu," ajak Fa'iq.


"Saya ke kantin dulu sarapan," kataku kepada Bu Gita.


"Aku ga diajak nih?" tanya Bu Gita sambil senyum.


"Boleh kalo mau," jawabku juga menawarkan untuk ikut.


"Ga ga ga, aku mau langsung bikin laporan, ga enak juga ganggu kamu sama Fa'iq. Tapi nanti jam makan siang kita makan bareng!" tutur Bu Gita sembari pamit untuk ke ruangannya.


"Oke siap," jawabku singkat.

__ADS_1


Aku dan Fa'iq menuju ke kantin untuk sarapan. Sesampainya dikantin beberapa orang mulai nyinyir setelah melihatku.


"Lu ngomongin gua?" tanyaku ke orang-orang yang nyinyir.


"Ciye yang mau jadi istri manager" sahut salah seorang dari mereka.


"Gua saranin mulai sekarang stop omongin gua. Kalian tau calon istri gua manager kalian. Gua bisa nyuruh buat pecat kalian," tegasku karena tak tahan menjadi bahan omongan mereka.


Seketika mereka pun diam dan bubar.


"Ciye yang mau jadi istri manager galaknya," ledek Fa'iq.


"Lu juga mau dipecat!" tegasku mengancam Fa'iq.


"Ampun ampun bro jangan gitu dong, istri gua makan apa kalo gua dipecat," ucap Fa'iq memohon.


"Wkwkwkwkwkwkwkwkwk seru juga" tawaku meledak melihat Fa'iq ketakutan.


"Sialan lu kirain tersinggung beneran," kata Fa'iq dengan raut muka kesal.


"Wkwkwkwk ga lah bro masa iya gua setega itu mecat-mecatin orang," jawabku dengan sisa tawa.


"Gua cuma stress bro. Stress yang sangat akud. Pengen nikmatin semua dari sisi lain aja," imbuhku menunggu pesanan diantar oleh pelayan kantin.


"Sabar bro gua yakin yang benar yang akan menang," ujar Fa'iq menenangkan.


"Sekali lagi inget! Seperti apa pun emosi lu saat bertatap muka sama Bu Gita, jangan sampe lu lepas kontrol, terus lu omongin semua yang lu tau antara Bu Gita dan Pak Dirut. Pokoknya selama lu belum pegang bukti cctv. Lu harus bersikap baik," ujar Fa'iq mewanti.


"Tiktuk!" satu pesan WA masuk diHPku.


[ jangan lupa sarapan sebelum kerja ] pesan dari Ibu memberi perhatian.


[ Siap Bu, ini juga lagi sarapan ] balasku singkat.


"WA dari siapa bro? Calon istri ya?" tanya Fa'iq sembari senyum berniat meledek.


"Pala lu, dari nyokap gua," jawabku sedikit kesal.


Obrolan dikantin berakhir dengan nasihat Fa'iq. Aku dan Fa'iq meninggalkan kantin setelah sarapan. Kemudian masuk ke ruangan kantor untuk memulai pekerjaan.


Jam diruangan kantor menunjukan pukul 10.30, seperti hari-hari sebelumnya aku keluar kantor untuk mengunjungi proyek yang menjadi target marketku. Sebelumnya tak lupa terlebih dahulu mampir di warkop Bu Atmi. Setelah berkemas tiba-tiba ada panggilan masuk diHPku yang ternyata dari Bu Gita.


"Halo sayang, lagi dimana?" tanya Bu Gita setelah panggilan aku angkat.

__ADS_1


"Waalaikumsalam. Salam dulu dong baru nanya," jawabku menasehati.


"Oh ya maaf lupa. Assalamualaikum kesayangku. Hehehe," ucap Bu Gita manja.


"Lagi siap-siap mau ke proyek buat follow up penawaran yang kemarin aku kirim," tuturku memberi tahu.


"Aku boleh ikut?" tanya Bu Gita.


"Jangan panas," jawabku menolak.


"Hmm yaudah, tapi nanti makan siang jangan lupa bareng!" ujar Bu Gita mengingatkan.


"Oh makan siang ya? Kayaknya ga bisa, soalnya kalo ke proyek biasaya sampe sore, gimana dong?" tuturku meminta saran.


"Kok gitu banget sih? Tadi pagi sarapan ga bareng. Udah janjian makan siang bareng kamunya ga bisa!" ucap Bu Gita kesal.


Seketika aku ingat pesan Fa'iq. Seperti apa pun kesalnya aku emosinya aku jangan sampai Bu Gita curiga.


"Oh yaudah kalo gitu nanti kita pulang bareng terus mampir ke kafe yang biasa, gimana?" kataku memberi solusi.


"Yaudah kalo gitu. Kamu hati-hati ke proyeknya," ucap Bu Gita sembari menutup telpon.


Setelah panggilan dari Bu Gita diakhiri. Aku melanjutkan rencanaku jalan ke warkop Bu Atmi menggunakan motor operasional. Tak butuh waktu lama sampai juga diwarung Bu Atmi.


"Bu biasa ya!" ucapku memesan sembari duduk dikursi panjang.


"Oke. Mangga diantos," sahut Bu Atmi.


"Tumben sepi Bu?" tanyaku basa basi.


"Baru jam 11.00, sebentar lagi biasanya mulai rame" jawab Bu Atmi memprediki.


"Oh ya jam makan siang ya Bu," imbuhku.


"Muhun," jawab Bu Atmi singkat.


"Mangga Den kopi dan rokonya," ujar Bu Atmi memberikan pesananku.


Banyak kehidupan disekitarku yang membuatku iri ketika melihatnya. Seperti kehidupan Bu Atmi ini. Wanita paruh baya dengan segala semangatnya menjajahkan dagangan dari pagi hingga petang. Dibantu suami tercinta yang terlihat lebih rentah dari Bu Atmi. Hidup mereka terlihat rukun damai menerima rezeki dengan syukurnya. Nampak tak terlihat masalah dimata mereka. Bu Atmi dan Pak Asep suaminya, memiliki dua anak. Keduanya lelaki yang pertama sudah berumah tangga, yang kedua masih menempuh pendidikan SMA. Sungguh kalau boleh memilih, aku pilih hidup digaris takdir mereka.


Waktu berjalan begitu cepat jika kegiatan yang aku lakukan terasa nikmat. Jam ditangan menunjukan pukul 12.30 yang artinya aku harus jalan ke proyek. Setela membayar dan berpamitan dengan Bu Atmi, aku pun kembali menunggangi motor operasional yang selama ini sering aku pakai.


Sesampainya diproyek aku bertemu Pak Ruslan yang kebetulan stanby dilokasi. Perbincangan panjang lebar yang intinya mengabarkan. Kalau owner memberi lampu hijau atas penawaran pompaku. Dengan hati senang aku pamit dengan Pak Ruslan untuk undur diri kembali ke kantor.

__ADS_1


"Aku ada janji sama si Mak lampir Gita," gumamku dalam hati.


Dalam perjalanan ke kantor aku terus bergumam perihal Mak Lampir yang sangat mengesalkan.


__ADS_2