
Bagi yang ada kebaikan didalam hatinya. Tuhan akan mencoba hingga hampir menyentuh batas mampunya. Dari yang cerita tawa menghiasi hari-harinya. Berubah menjadi petaka seakan tak ingin ada hari selanjutnya.
Aku Fa'iq dan Bu Gita harus kecewa tatkala DVR cctv dirumah TKP sudah diganti. Yang artinya bukti yang kita butuhkan sudah tidak ada lagi.
"Yaudah mau gimana lagi," ucapku yang bingung harus bagaimana lagi.
"Jadi lu harus banyak cari project bro, biar bisa cepet gantiin duit kantor," ujar Fa'iq mengarahkan.
"Nanti aku jual mobil sama perhiasan," tambah Bu Gita.
"PO pompa hydrant itu aku jual diharga 205 juta. Harga modal 80 juta. Kasih harga 90 juga aja ke kantor, sisanya simpen dulu. PO belum dilampirkan laporan kamu kan?" ujarku kepada Bu Gita memastikan.
"Belum, laporannya akhir minggu ini," jawab Bu Gita.
"Yaudah bagus kita mulai nabung buat ganti uang kantor," imbuhku.
Kita pun pulang ke rumah masing-masing. Dengan diantar Bu Gita. Didalam mobil setelah menurunkan Fa'iq, Bu Gita terlihat murung. Dalam perjalanan menuju kontrakanku, aku coba menghibur.
"Kadang jam segini masih ada polisi loh Mak Lampir, ga takut kena tilang cemberut gitu?" ledekku mencairkan suasana.
"Ga usah mulai deh," ucap Bu Gita.
"Terus kenapa murung gitu?" tanyaku lembut.
Tiba-tiba Bu Gita sign kiri dan berhenti dipinggir jalan. Dia menyandarkan kepala dibahuku sembari menangis.
"Maafin aku ya Mas. Aku jadi ngrepotin kamu sama Fa'iq," tutur Bu Gita sambil menangis karena dia merasa tidak enak atas keterlibatan aku dan Fa'iq.
Aku yang tak tega perlahan merangkulnya dan mengusap kepalanya bermaksud menenangkan Bu Gita.
"Jangan ngomong, aku sama Fa'iq ikhlas koq berjuang biar masalah ini cepat kelar," kataku sembari terus mengelus kepala Bu Gita.
Disini aku merasa hanyut terbawa perasaan. Rasa kasihan yang teramat besar kepada Bu Gita membuatku takut. Aku takut bila harus jatuh hati dengan Bu Gita. Seketika aku melepaskan rangkulanku dan menengadahkan kepala Bu Gita dari bahu. Karena sekilas aku teringat Via "Apakah ini Viaku? Via yang selalu ku rindukan kedatangannya? Via yang sangat aku cinta?" gumamku dalam hati.
"Sekali lagi maafin aku ya Mas dan terimakasih sudah mau bantu aku atas masalah ini," ucap Bu Gita yang juga mengusap air mata.
"Iya santai aja, mudah-mudahan kita segera dapatkan solusinya," kataku menguatkan Bu Gita.
Perjalanan pun diteruskan kembali menujuh kontrakanku. Setelah beberapa saat kita berbincang ringan, akhirnya kita sampai ditujuan. Aku turun dari mobil dan Bu Gita kembali pulang.
Sesampainya didalam kontrakan. Hatiku terus bertanya-tanya "Apakah Bu Gita itu Viaku?". Sebab aku mulai merasakan perasaan yang tidak seperti biasanya kepada Bu Gita. "Udah Hans jangan dipikirkan lagi, kita cuma berteman," ucapku pada diri sendiri.
Aku yang kelelahan tidak sadar terlelap begitu saja.
Semua yang aku miliki sekarang belum tentu akan kekal digenggaman. Pun semua hal yang aku inginkan namun belum aku dapatkan. Tidak selamanya hanya angan-angan. Selalu berprasangka positif kepada takdir menjadi hal yang paling tepat untuk aku jalani kehidupan. Tuhan pencipta alam sunyikanlah hatiku jika perasaan dihatiku bukan kepada jodoh darimu. Atau dekatlah paras itu sehingga aku semakin yakin bahwasanya dia Engkau kirim untukku.
Keesokan harinya aku awali hari dengan menyeduh kopi dan mengabiskan waktu dibalkon kontrakan. Aku sengaja tidak aktifkan HP biar orang-orang tidak menanyakan kenapa ga ke kantor. Karena memang semenjak kejadian semalam dengan Bu Gita. Aku ingin menelaah tentang perasaan yang aku rasa. Untuk memastikan dan meyakinkan hati ini. "Via aku sangat merindukanmu. Beberapa hari ini kehadiranmu tak nampak disekitarku. Tergantikan paras yang awalnya aku sangat membencinya, namun kini aku rasakan memiliki tempat dihati. Kau kah itu Via yang menjelma menjadi dirinya".
"Tok tok tok! Assalamualaikum,"
__ADS_1
Terdengar ketukan pintu dan salam yang mengaburkan lamunanku. Yang aku tau itu suara Ibu kost.
"Waalaikumsalam," jawabku berjalan membuka pintu.
"Ibu ga liat kamu keluar berangkat kerja, kamu sakit?" tanya Ibu kost sembari menyodorkan kue.
"Ga sakit koq Bu, emang pengen ga masuk kerja aja," jawabku sembari menerima.
"kue apa nih Bu, baik banget pagi-pagi udah ngasih kue," imbuhku
"Kue pancong buat lawan kopi, udah ngopi belum?" tanya Ibu kost.
"Pas bener Bu, aku lagi ngopi, terimakasih ya Bu hehehe," jawabku sekaligus berterimakasih.
"Iya sama-sama," ucap Ibu kost sembari melenggang pergi.
"Aku yang malas keluar cari sarapan, dianterin kue pancong sama ibu kost, alhamdulillah," ucapku sembari menutup pintu dan melanjutkan ngopi.
Suasana beraktifitas mulai terasa. Aku yang bolos kerja memilih merapihkan kontrakan. Mencuci baju, mencuci piring gelas dan mengepel lantai. Sebagaimana mestinya perantau.
Selesai dengan aktifitas yang menurutku sangat melelahkan itu. Aku pun bersantai riya sambil mengaktifkan HP. Pesan dan panggilan tak terjawab muncul. Satu persatu aku balas pesan.
[ Nak jangan lupa sarapan. Terus nanti kalo istirahat telpon Ibuk ya ] pesan dari Ibu.
[ Sudah sarapan kue pancong Bu dikasih Ibu kost. Hans ga masuk kerja hari ini males banget. Ntar Hans telpon Bu ] balasku ke Ibu.
Kemudian aku membuka pesan dari Fa'iq.
[ Iya bro gua lagi males banget ] balasku
Berikutnya aku membuka pesan dari Mak Lampir.
[ Berangkat bareng ya, aku jemput ] ajak Bu Gita.
[ Ping ]
[ P ]
[ P ]
[ P ]
[ Panggilan tak terjawab ]
[ Panggilan tak terjawab ]
[ Panggilan tak terjawab ]
[ Panggilan tak terjawab ]
__ADS_1
[ Mas ga masuk kerja? ]
[ Udah jam 09.40 masih centang satu juga? ]
[ Mas jangan bikin kawatir ]
[ Langsung kabarin kalo udah baca pesanku ] tulis pesan Bu Gita.
[ Halo apa kabar? 😁 ] balasku
Setelah membaca semua pesan yang masuk, termasuk pesan-pesan group. Aku menelpon Ibu.
"Tuuuut tuuut tuuuut!" dering panggilan tersambung ke Ibu.
"Halo. Assalamualaikum," ucap Ibu.
"Waalaikumsalam, Ibu gimana kabarnya?" tanyaku setelah telpon Ibu angkat.
"Alhamdulillah Ibu Bapa sama adekmu sehat. Kamu sendiri gimana?" jawab Ibu sekaligus bertanya balik.
"Alhamdulillah sehat juga Bu," jawabku
"Nak, Bapa udah dua hari ini ga ngasih uang belanja. Ibu udah kehabisan uang," tutur Ibu.
"Ntar Hans transfer Bu abis telponan. Alhamdulillah Bu kemarin Hans dapet proyek. In Shaa Allah gajian bulan ini ada bonus juga," ucapku.
"Alhamdulillah. Terimakasih ya Nak. Semoga Allah selalu melancarkan rezeki kamu," tutur Ibu mendoakanku.
"Aamiin Ya Allah. Kangen Bu," ucapku.
"Kapan mau pulang Nak, katanya mau urus KTP ATM sama SIM yang kemarin kecopetan?" tanya Ibu.
"Iya Bu ntar kalo udah ada waktu senggang," jawabku.
"Yaudah Bu Hans transfe sekarang ya. Ibu jaga kesehatan," imbuhku.
"Iya Nak. Assalamualaikum," salam Ibu.
"Waalaikumsalam," jawabku menutup telpon.
Seperti biasa setiap setelah menelpon Ibu. Rasa rindu kampung halaman menggebu.
Dua pesan belum dibaca dari Bu Gita dan Fa'iq.
[ Balik kerja gua mampir ke kontrakan lu ] pesan WA Fa'iq.
[ Iya bro sini aja ] balasku.
Kemudian aku buka pesan Bu Gita.
__ADS_1
[ 🥺 ] pesan WA Bu Gita.
Aku pun sengaja tidak balas pesan dari Bu Gita dan kembali menonaktifkan HP. Karena lelah bersih-bersih kontrakan aku tertidur dihari yang sudah menjelang siang.