Langit-Langit Angan

Langit-Langit Angan
Mencari Jejak Keadilan


__ADS_3

Esok yang cerah. Sinar mentari menerpa wajahku yang berdiri dibalkon kontrakan. Memejamkan mata menghadap ke timur. Seakan menempah diri bersiap atas apa pun berikutnya yang akan menimpa.


Hari ini aku absen kerja lagi. Kantor menjadi tempat yang menyeramkan saat ini. "Kruyuk!" perutku berbunyi, mengisyaratkan kelaparan melanda. Wajar saja makanan yang kemarin Fa'iq bawakan dan tadi malam Ibu Kost berikan, tak sedikit pun aku sentuh. Aku pun memutuskan mencari sarapan.


Setelah aku mengunci pintu kost. Aku berjalan ke depan gang sembari mengecek HP. Tak ku sangka ada 12 pesan WA dari Bu Gita belum dibaca dan 1 pesan WA dari Ibu yang baru masuk.


[ Nak, jangan lupa sarapan sebelum berangkat kerja ] isi pesan Ibu.


[ Iya Buk, siap ] jawabku singkat.


Setelah aku membalas pesan dari Ibu. Aku buka ruang obrolan Bu Gita.


[ Aku udah memintamu baik-baik. Jangan sampai aku melakukan hal-hal yang merugikanmu ] tulis Bu Gita dipesan WA.


[ Ayok lah Hans. Jangan bikin ribet ]


[ Apa aku kurang cantik? 🥺 ]


[ Apa aku ga menarik buat kamu? 🥺 ]


[ Apa kamu ga kasihan sama aku? Yang sebentar lagi perutku semakin buncit. Orang-orang bakal tau aku hamil tanpa suami 😭 ]


[ Ping ]


[ P ]


[ P ]


[ P ]


[ P ]


[ P ]


[ Jangan cuma mau enaknya aja. Kamu harus tanggung jawab nikahin aku ]


Karena geram membaca pesan terakhir dari Bu Gita, aku pun membalas.

__ADS_1


[ Anak itu bukan anak gua. Gua ga pernah nyentuh lu ] balasku dengan emosi yang melonjak.


Setelah sarapan diwarung depan gang masuk kontrakan. Aku pun berdiri disamping jalan, menunggu angkot yang lewat. Niat ku ingin mengintai rumah Bu Gita. Berharap dapat cela untuk misiku dan Fa'iq mengambil DVR cctv dirumah Bu Gita. Satu angkot terlihat merapat ke sisi jalan tempatku berdiri. Aku masuk kedalam angkot menuju rumah Bu Gita untuk mengintai.


"Tiktuk!" satu pesan WA masuk dari Bu Gita yang merespon pesan balasanku.


[ Terserah kamu mau ngomong apa. Aku pegang buktinya. Sekarang pilihanmu cuma nikah sama aku atau membusuk dipenjara ] balas Bu Gita bengis.


Membaca pesan balasan dari Bu Gita emosiku semakin melonjak. Perasaan benci pun semakin memuncak. "Sumpah, mati aja lu sana," gumamku dalam hati yang sudah tak bisa membendung emosi.


Dengan situasi emosi seperti ini. Tiba-tiba terngiang nasihat Via "Bener, semua ini hanya fase yang harus aku lalui. Mudah-mudahan didepan aku dapatkan hikmahnya," tuturku dalam hati menenangkan diri, didalam angkot menuju rumah Bu Gita.


Kurang lebih empat pulu lima menit perjalanan menggunakan angkot. Aku turun diminimarket dekat rumah Bu Gita. Aku yang mengenakan hoodie dan topi memulai pengintaian. Dengan mengambil foto secara diam-diam setiap sudut rumah Bu Gita. Berharap ada cela untuk masuk selain dari gerbang. Sekitar 3 kali aku berkeliling, aku tak menemukan cela masuk. Karena aku lihat setiap sudut rumah terbapasang kamera cctv. Dan yang mengherankan. Aku juga melihat mobil Pak Dirut terparkir didepan rumah Bu Gita.


Sengaja aku menunggu sampai ada yang keluar dari rumah itu, untuk memastikan Pak Dirut ada didalam. "Pasti Bu Gita dan Pak Dirut mau melaporkanku ke polisi," gumamku dalam hati yang masih mengintai dari sebrang rumah Bu Gita. Kebetulan ada tempat yang tak terlihat dari arah rumah Bu Gita, karena terhalang tanaman pagar yang lebat.


Tak lama berselang aku melihat pintu rumah Bu Gita terbuka. Muncul lah Pak Dirut dan Bu Gita dari balik pintu. Alangkah terkejutnya aku ketika melihat mereka berjalan ke arah mobil, dengan Bu Gita yang merangkul mesrah Pak Dirut. Aku bergegas merekam adegan itu. Sebelum Pak Dirut masuk kedalam mobilnya, Bu Gita memeluk Pak Dirut dan Pak Dirut membalasnya dengan mencium kening Bu Gita. "Manusia laknat. Kalian menjalin hubungan terlarang dan menjadikanku korban dari kelakuan bejad kalian," gumamku dalam hati. Setelah mendapat bukti adanya perselingkuhan antara Pak Dirut dan Bu Gita yang menjadikan ku kambing hitam. Aku pun pulang setelah mobil Pak Dirut keluar dan Bu Gita masuk kedalam rumah.


Di angkot perjalanan pulang. Aku yang menyaksikan perselingkuhan Pak Dirut dan Bu Gita secara langsung. Masih merenung dalam-dalam. Karena aku tahu bahwasanya Pak Dirut sudah memiliki istri dan tiga anak.


Angkot pun melaju kembali.


Setelah beberapa saat tujuanku sudah terlihat, yaitu gang depan kontrakan.


"Kiri!" teriakanku menghentikan laju angkot.


Angkot pun menepi, aku turun dan merogoh dompet disaku hoodie untuk membayar ongkos perjalanan. Terkejutnya aku dapati dompet dan HP sudah tidak ada disaku lagi.


"Loh dimana HP dan dompetku?" ucapku panik sembari memeriksa saku hoodie dan saku celanaku.


"Kecopetan Mas!" seru Pak sopir angkot.


"Bapak berjaket merah tadi?" seruku dengan menolehkan kepala kedalam angkot dan meliat bekas tempat dudukku. Berharap terjatuh dikolong tempat dudukku.


"Kalo ga salah turun disebelum pasar mas" jawab Ibu-ibu yang tadi duduk didepanku.


"Iya bener turun disebelum pasar tadi," imbuh Pak Sopir.

__ADS_1


Aku mencurigai Bapak berjaket merah karena dia yang duduk persis disebelahku. Sedangkan aku duduk dipaling pojok. Jadi cuma dia yang kemungkinan mencopet dompet dan HPku disaku hoodie yang aku kenakan.


"Lain kali jangan kebanyakan bengong kalo naik angkutan umum!" seru pak sopir yang terpaksa ikhlas tidak mendapat bayaran dariku.


Sembari berjalan dari gang depan ke kontrakan aku mengeluh "Ya Tuhan, masih ada juga cobaan yang Engkau berikan".


Sesampainya didalam kontrakan aku merebahkan tubuh. Berharap terlelap dan tidak bangun lagi sampai kapan pun.


Sabtu siang Fa'iq datang ke kontrakanku.


"Lu kenapa bro ga aktifin HP? Gua dari kemarin sore ngubungin lu," ucap Fa'iq yang baru duduk dibalkon kontrakan.


"Gua kecopetan kemarin diangkot," jawabku yang sedang lahap makan. Makanan dari Fa'iq yang sengaja dia bawakan untukku.


"Kok bisa?" tanya Fa'iq yang ga habis pikir menyaksikan terjalnya ujian hidupku.


"Harusnya semua masalahku teratasi. Jumat kemarin setelah sarapan gua iseng ke rumah Bu Gita. Bermaksud mengintai buat mencari cela masuk dan ambil DVR cctv rumah Bu Gita," terangku menghabiskan makanan.


"Terus, ada cela masukkan bro?" tanya Fa'iq penasaran.


"Ga ada. Setiap sudut rumahnya ada cctv. Kalo kita maksa masuk sudah pasti terpantau lebih dulu. Selain itu pagar keliling rumahnya juga tinggi dan diujung pagar ditanami kawat duri," ujarku menjelaskan sembari membereskan bungkus makanan.


Fa'iq terdiam mendengar penjelasanku. Raut mukanya berfikir keras mencari solusi lain.


"Yang paling bikin kesel bukan HP dan dompetku yang kecopetan, tapi bukti yang udah aku dapetin," ucapku yang baru keluar dari kamar mandi.


"Bukti apa bro?" tanya Fa'iq menghentikan berpikirnya.


"Lu pasti ga nyangka kalo ayah dari anak yang Bu Gita kandung itu sebenernya anak Pak Dirut," terangku.


"Wah seriusan bro?" sahut Fa'iq terkejut.


"Gua ngerekam adegan Bu Gita sama Pak Dirut yang mesra, sewaktu Bu Gita mengantar Pak Dirut ke mobilnya," tuturku


Aku pun menjelaskan dengan detail apa yang aku saksikan dirumah Bu Gita jumat kemarin. Dengan expresi yang sama Fa'iq kesal dan mencaci maki.


Beginilah gambaran kehidupan yang aku anggap tak memihakku.

__ADS_1


__ADS_2