
Sebagian manusia mudah jatuh cinta dan mudah dicintai. Melewati hari-hari dengan hati yang berseri-seri. Sebab cintanya bersambut. Kenapa denganku? Ada apa dengan diriku? Mengapa tak seberuntung manusia lain perihal asmara. Apakah aku akan seperti Pak Haryy? Yang hidup hanya dengan kenangan bersama istrinya. Tapi Pak Haryy sudah menikah, sudah banyak kenangan ya tercipta selama hidup istrinya. Aku? Dea berpulang ketika baru tunangan. Saat itu aku sangat berduka, sampai hadirlah Via. Hidup bersama Via bertahun-tahun, namun kebahagiaan bersamanya hanya semu dan mudah hancur saat aku terhenyak oleh kenyataan. Memang nyatanya Via hanya ada dialam anganku. Yang ku kira menjelma sebagai Gita, wanita yang awalnya sangat ku benci. Tetapi kini sangat ingin aku sayangi. Iya Gila lah orangnya, wanita nyata yang mengembalikan rasa dihatiku. Semenjak berpulangnya Dea tunanganku beberapa tahun lalu.
Malam ini malam terakhir dikampung halamanku. Karena besok aku harus berangkat ke bandung untuk menghadiri acara Safira. Setelahnya aku akan mencari kerja.
ATM, SIM dan KTP sudah aku urus. Lamaran kerja pun sudah aku buat. "Bismillah Ya Tuhanku semoga aku mendapatkan pekerjaan lagi," doaku yang sedari tadi duduk diteras rumah.
"Besok mau berangkat kok belum tidur?" tanya Bapak yang baru keluar.
"Besok keretanya agak siang berangkatnya Pak," jawabku.
"Oh gitu, suda ada gambaran mau kerja dimana?" tanya Bapak.
"Belum ada Pak. Doain aja semuga cepet dapet kerjaan Pak," jawabku.
"Yang penting kabarin terus, jangan sungkan kalo kehabisan uang kabarin Bapak," ucap Bapak memberikan support.
"Siap Pak santai aja, aku juga masih dapat gaji bulan ini dari perusahaanku yang kemarin, nanti buat bekel disana," tuturku.
"Bagus lah kalo gitu," kata Bapak.
Malam mulai larut, aku dan Bapak memutuskan istirahat. Didalam kamar aku menatap langit-langit kamarku. Menunggu kantuk mengetuk dan terlelap bertaburkan mimpi. Namun kantuk tak kunjung tiba aku rasa. Tak hayal aku masih terjaga. Sesekali terlintas diangan gambaran wajah Gita. Berulang kali pula aku menepisnya. "Via, aku merindumu, hadirlah dalam bentuk nyata diduniaku. Atau bawahlah aku keduniamu selamanya. Hingga hanya kita berdua ditempat yang pernah kita kunjungi bersama. Disana aku akan mendirikan pondok untuk melindungi kita dari dingin malam dan terik siang. Disana aku akan meratukanmu sebagai seorang istri. Kemudian Tuhan menitipkan keturunan untuk kita. Bersama kita akan merawat dan membesarkan anak-anak kita," lantunan anganku, sebelum akhirnya aku terlelap.
Esok yang cerah dikampungku. Bapak hari ini dirumah karena tau aku akan berangkat. Ibu yang sibuk menyiapkan sarapan untuk keluarga, memanggil semuanya untuk sarapan bersama. Dimeja makan kita bercanda sambil menyantap soto ayam masakan Ibu. Adikku pamit bersekolah setelah menyemangati aku yang hari ini berangkat merantau lagi.
"Mas kerjanya yang semangat biar cepet nikah wkwkwk," ucap Adikku yang disambut tawa oleh Bapa dan Ibu.
Keseruan keluarga yang selalu aku rindukan saat diperantauan. Selesai sarapan Bapak mengajakku berbincang diruang tengah.
"Nak. Jadi Bapak beberapa bulan ini bekerja ikut bantu Pademu mengurus perkebunan. Alhamdulillah pendapatan cukup untuk kebutuhan Ibumu dan adikmu. Bapak juga menyisihkan penghasilan untuk kamu menikah," ucap Bapak.
"Tuh kan bener Nak," sahut Ibu membawa teh hangat dan bergabung.
"Loh Ibu udah cerita duluan," ujar Bapak.
"Dari awal aku pulang Ibu udah cerita Pak," imbuhku sembari tersenyum.
"Nah jadi kapan kamu mau kenalin mantu Bapa?" pinta Bapak.
"Hans boleh cerita ya Pak Bu," izinku.
"Boleh toh Nak," jawab Ibu dan Bapak serentak.
"Hans dipecat gara-gara difitnah, sebelumnya Hans sama temen Hans nyari bukti. Disaat lagi nyari-nyari bukti otomatis Hans deket terus sama Gita", tuturku.
"Gita yang janda itu?" tanya Ibu yang inget dengan ceritaku sebelumnya.
"Betul Bu, Hans jatuh cinta sama Gita sampai sekarang. Tapi pas Hans mau ungkapin perasaan ke Gita, Gita malah jodohin Hans sama Safira temennya Gita," ucapku menjelaskan.
"Bukannya Gita udah ngejar-ngejar kamu duluan?" tanya Bapak.
"Iya Pak, tapi karena Hans lama ga merespon perasaannya Gita, Gita pikir aku ga ada rasa sama Gita," tuturku menjelaskan.
"Yaudah kamu berangkatnya ke Surabaya aja samperin Gita dan ungkapin semuanya," saran Bapak.
"Nanti Safira gimana Pak, Gita udah pesen buat jangan sampai nyakitin Safira," tuturku.
"Gita sama Safira itu sahabatan Pak," kata Ibu kepada Bapa.
"Iya Bu tau, Kalo Safira tau kamu sukannya sama Gita, mereka berantem dong," ucap Bapak setelah memahami keadaanya.
"Pasti Pak, kan sejauh ini Safira ga tau kalo Gita pernah suka sama Hans," ungkapku.
"Berdoa aja Nak, In Shaa Allah kamu bisa dapat yang terbaik dari Allah," saran Ibu.
"Dan jodoh ga akan tertukar," imbuh Bapak.
Obrolan dipagi ini, mengulas tentang asmaraku. Ada perasaan malu karena belum bisa memberikan menantu untuk kedua orang tuaku, diusiaku yang sudah dua puluh delapan tahun. Karena jam didinding terus berputar, artinya aku harus siap-siap berangkat.
"Jadi tetep mau berangkat ke Bandung?" tanya Bapak.
"Iya Pak sudah janji, ga enak kalo ga nepatin," jawabku.
"Pokoknya selalu hati-hati dimanapun kamu berada," ucap Ibu yang seakan berat melepas kepergianku.
Setelah berpamitan dengan Ibu. Aku diantar ke stasiun Blimbing oleh Bapak. Menggunakan sepeda motor Honda Supra tua. Sepanjang perjalanan menuju stasiun, Bapak selalu memberikan wejangan kehidupan.
"Jodoh pati rejeki mpun diatur Gusti, menungso mung gari ngelakoni," ucap Bapak dengan bahasa jawa, yang bembekas diingatan.
Sesampainya distasiun aku berpamitan dengan Bapak. Pesan Bapak kepadaku agar aku lebih semangat dan lebih mendekatkan diri dengan Tuhan. Bapak pun pulang kembali kerumah. Aku langsung mencetak tiket dan menunggu keretaku datang. Sembari menunggu aku mengabarkan keberangkatanku ke Safira.
[ Assalamualaikum, Fir nanti malam aku nyampe Bandung ] tulisku melalui pesan WA.
Safira yang sedang online langsung membalas pesanku.
[ Waalaikumsalam, Oke nanti kabarin aja kalo sudah sampai ] balas Safira.
__ADS_1
[ Oke siap ] balasku.
Aku harus menyembunyikan perasaanku ke Gita saat didepan Safira. Seharusnya aku sudah tak memiliki rasa untuk Gita. "Ya Tuhan aku yakin semua yang Engkau takdirkan memiliki alasan. Begitupun dengan penciptaanku, Engkau menciptakan aku tentunya bukan tanpa alasan. Maka ridhoilah jalan hidupku," doaku yang terlontar saat menunggu kereta.
Beberapa saat kemudian kereta jurusan Bandung datang. Aku menaiki gerbong dan duduk sesuai tiketku. Seiring kereta mulai berjalan meninggalkan kampung kelahiranku. Aku titipkan niatan agar dapat kembali pulang dengan segudang kesuksesan, seperti doa kedua orang tuaku.
Dalam perjalanan, tak lupa aku memberi kabar Fa'iq.
[Assalamualaikum bro. Lu jadi ke acara launching butiknya Safira ga? ] tanyaku melalui pesa WA.
Menunggu balasan Fa'iq, aku menikmati pemandangan dari balik cendela kereta. Selintas aku menyaksikan banyak sekali ragam kehidupan yang Tuhan telah ciptakan. Saat melewati pemukiman padat penduduk. Tuhan yang mengatur dan menata semua itu. Saat melewati lebatnya hutan belantara. Selain Tuhan mustahil pepohonan itu hidup begitu lebatnya. Saat melewati pegunungan. Ternyata masih banyak tanah yang belum terjamah manusia. Saat melewati pesisir dan terlihat lautan. Maha besar Tuhan dengan segala kekuasaannya mampu mengumpulkan air sebanyak itu. Saat melewati menatap langit yang berawan. Seluas itukah ampunanMU untukku?
Benar yang Ibu katakan. Sebagai hamba yang ber Tuhan, sudah selayaknya melaksanakan perintahNya dan sebisa mungkin menjauhi laranganNya. Sebab bukan apa-apa semua yang ada dialam semesta ini. Melainkan Tuhan pemegang kendali.
"Tiktuk," bunyi HPku yang artinya ada pesan masuk dan ternyata dari Fa'iq membalas pesanku.
[ Waalaikumsalam, kayanya gua ga bisa bro. Soalnya bini gua lagi mual-mual terus. Kasihan kalo ditinggal ] balas Fa'iq.
[ Yaudah bro ga usah hadir, jagain dulu bini lu. Jangan sampe kenapa-kenapa sama calon anak lu ] balasku memberi saran.
[ Yoi pasti cuy. Calon penerus harus dijaga baik-baik, pun harus dengan nyawa gua bro, gua rela hehe ] balas Fa'iq.
Aku hanya tersenyum membaca pesannya.
Dan Fa'iq, Tuhan memberikan apa yang diyakini Fa'iq. Dua tahun menunggu kehadiran buah hati, diwaktu yang tepat Tuhan memberikannya. Fa'iq pernah cerita, betapa sakitnya ketika pejuang garis dua dicibir oleh tetangga bahkan keluarganya "Mandul" kata yang mengerikan untuk pasangan yang seperti Fa'iq dan istrinya. Aku sebagai teman sering ikut sedih mendengarkan cerita-ceritanya. Dan sekarang ketika Tuhan berkehendak memberikan kehamilan untuk istrinya. Kebahagiaan yang tiada tara yang Fa'iq rasakan, bahkan mampu menghapus derita penantian.
Lagi-lagi dari cerita hidup Fa'iq aku diperlihatkan kebesaran Tuhan. Sialnya aku baru menyadarnya sekarang. Bodohnya aku baru berpikir sekarang. Sedari dulu hanya menyalahkan takdir, hanya mencaci kehidupan yang dengan egoku menilai tiada keadilan bagiku. Semoga Tuhan mengapuniku.
"Kring kring," dering panggilan di HPku dari nomer yang tidak dikenal.
"Halo. Assalamualaikum," ucapku setelah terhubung.
"Waalaikumsalam," jawab suara wanita yang seperti tak asing.
"Maaf ini siapa?" tanyaku yang enggan menebak.
"Siapa hayo?" jawab suara dalam telpon seperti mempermainkan.
"Mohon maaf ini siapa? Atau aku matiin?" ujarku pura-pura tak tau.
"Galak amet sekarang hihihi," jawab suara itu yang aku yakin Gita.
"Hemm yaudah aku matiin ya. Assalamualaikum," kataku menggertak.
"Heyyyy ini aku Gita," ucapnya.
"Kan nyebelin, lagi dimana?" tanya Gita.
"Dimana? Masih nanya dimana? Bukannya aku selalu dihatimu ya?" kataku yang entah perasaan senang yang ku rasakan sekarang sangat luar biasa.
"Halaaahh dulu aku deketin jual mahal, sekarang hobi ngegombal wkwkwk," sindir Gita.
"Aku juga nyesel," ucapku lirih.
"Hah?" tanya Gita yang tidak jelas mendengar suaraku.
Sempat hening sesaat, sebelum akhirnya dengan spintan aku berkata.
"Aku nyesel, aku nyesel aku baru sadar ternyata aku sayang sama kamu," ungkapku yang entah apakah ini waktu yang tepat atau tidak.
"Hans, kamu ga lagi seriuskan?" tanya Gita.
"Aku serius Git," ujarku meyakinkan.
"Aku senang dan bahagia banget kamu ngomong gini, tapi maaf Hans ini bukan waktu yang tepat dan mungkin emang sudah ga ada waktu yang tepat lagi buat kita," ungkap Gita.
Aku hanya diam mendengarkan.
"Niatku nelpon buat ngabarin kamu, buat nanya kabar kamu. Bukan buat ini," imbuh Gita sembari menutup telponnya.
Kali kedua aku merasakan sakit hati karena Gita. Tapi kali ini yang aku rasakan lebih sakit bertubi-tubi dari sebelumnya. "Ga seharusnya aku ungkapin semua," gumamku dalam hati.
"Tiktuk!" pesan WA masuk dari Gita.
[ Hans, demi apa pun aku seneng banget ternyata kamu juga merasakan perasaan yang sama seperti aku. Waktu itu aku dirumah sakit, Safira menelpon dan banyak bertanya tentang kamu. Yang aku tau kalo Safira naksir kamu. Dia sahabatku, aku tau banget dia tipikal cewek yang susah jatuh cinta dan kali ini dia menunjukan sikap yang berbeda. Seperti bukan Safira, karena dia yang sebelumnya tidak pernah menanyakan cowok. Saat itu aku mutusin buat masa bodoh tentang perasaanku ke kamu. Karena saat itu juga aku sadar diri ga mungkin kamu mau sama janda seperti aku ] tulis Gita dipesanya.
"Tiktuk!" kembali pesan masuk dari Gita.
[ Hans, selama ini Safira selalu ngobrolin tentang kamu ] pesan Gita.
[ Sekarang aku ga akan minta kamu buat nerima Safira karena itu hak kamu. Tapi maaf sesayang apa pun aku ke kamu, secinta apa pun aku ke kamu. Aku ga bakalan biarin orang sebaik dan selugu Safira sakit hati karena aku. Karena aku dan kamu menyatukan perasaan. Sekali lagi maaf Hans, aku hanya bisa berteman dengamu selebihnya aku ga bisa ] pesan Gita.
Aku hanya sanggup membacanya dan mencoba meneruskan upayaku untuk apa pun yang terjadi, tidak akan menyalahkan takdir lagi. Mungkin ini yang terbaik untukku menurut Tuhan. Mungkin ini yang aku butuhkan sekarang, untuk kebahagiaan yang aku yakin akan datang.
Akhirnya kakiku menapak ditanah Bandung. Jam ditanganku menunjukan pukul tujuh belas dua puluh. Diluar stasiun aku lihat ada warung kopi. Aku mendatanginya dan memesan kopi sekaligus rokoknya. Menikmati kopi disore hari, dengan beratang-batang rokok yang aku hisap. Lumayan mempersingkat waktu, hingga menjelang magrib aku berjalan untuk mencari masjid setelah membayar kopi dan rokok.
__ADS_1
Dimasjid seusai melaksanakan kewajiban kemudian bermunajad. Tak terasa air mata ku mengalir. Mengungkapkan keluh kesahku kepada sang Khalik.
"Kring kring!" dering telpon berbunyi, panggilan masuk dari Safira.
"Assalamualaikum," ucap Safira setelah aku angkat telponnya.
"Waalaikumsalam," jawabku.
"Udah dimana?" tanya Safira.
"Dimasjid alun-alun Bandung," jawabku.
"Aku kesana ya," kata Safira.
"Siap ditunggu," jawabku.
Menunggu Safira datang, aku menikmati keramaian alun-alun kota Bandung. Melihat seorang Ibu berhijab dengan anak laki-laki yang masih balita. Bermain ditaman dengan gembiranya. Dalam hati bertanya "Diamana ayahnya?".
"Tiktuk!" satu pesan WA masuk, dari Safira.
[ Kamu disebelah mana? ] tulis Safita dipesannya.
[ Aku ditaman alun-alun depan masjid ] balasku.
Masih memperhatikan Ibu dan anak yang riang bermain itu. Tak lama datang sosok pria menghampiri mereka. Disambut anak kecil itu yang berlari memeluknya. "Ma Syaa Allah, indah sekali pemandangan ini," gumamku dalam hati.
"Assalamualaikum," salam Safira yang ternyata sudah disebelahku.
"Waalaikumsalam, hey apa kabar?" jawabku sembari menyodorkan tangan untuk bersalaman.
"Alhamdulillah baik, kamu apa kabar?" tanya Safira yang menggapai tanganku untuk berjabat tangan.
"Alhamdulillah baik juga," jawabku.
"Sini duduk dan coba kamu perhatikan itu," imbuhku menunjuk keluarga kecil ditaman.
"Ma Syaa Allah, bahagia banget mereka. Anaknya lucu banget," komentar Safira yang langsung melihat apa yang barusan aku tunjuk.
"Aku pengen suatu saat mengalaminya. Bermain bersama anak dan istri. Sederhana hanya mengajaknya ke taman alun-alun. Tapi kebahagiaannya sudah pasti luar biasa," tuturku.
"Aamiin, mudah-mudahan segera bisa seperti mereka," ucap Safira.
"Oh ya sebentar aku cari minum dulu," kataku.
"Ga usah, kita cari makan aja sekalian, mau?" usul Safira.
"Yaudah kalo gitu," ujarku mentetujui.
Aku dan Safira berjalan ke mobil yang Safira parkir disisi taman alun-alun. Sembari sesekali berbincang. Sesampainya dimobil Kita masuk dan Safira menyetir menuju tempat makan.
"Kamu pengen makan apa?" tanya Safira.
"Aku ikut kamu aja," jawabku.
"Kita makan diresto hotel aja ya, aku uda booking kamar juga buat kamu," tutur Safira.
"Oke!" jawabku singkat, yang mulai tidak enak karena semua fasilitas Safira yang tanggung.
"Bener Gita kamu orangnya baik banget," ucapku.
"Baik dari mana, emang kamu tau?" tanya Safira.
"Kamu ga kenal aku banget tapi udah berani ngasih banyak fasilitas kaya gini," jawabku memuji.
"Ga apa-apa lah, aku anggap ini salah satu pemulus bisnisku. Nanti kamu harus komentari butikku yang mau launching," ujar Safira seakan beralibi.
"Loh aku ga tau soal butik, masa disuruh komen. Ada-ada aja kamu?" ucapku sembari tersenyum.
"Yah kan siapa tau nanti kalo udah liat punya komen apa kek gitu hehehe," jawab Safira sekenanya.
"Iya deh siap," jawabku.
Tak butuh waktu lama, kita sampai dihotel. Setelah memarkirkan mobil aku dan Safira menuju resto. Kita makam malam berdua dan jujur baru kali ini aku berhadapan langsung dengan wanita sebaik Safira. Orang kaya sukses tapi tidak sombong. Sekali lagi aku membenarkan apa yang menjadi penilaian Gita ke Safira. Karena aku membuktikannya sendiri.
Seusai makan malam Safira mengantarku ke kamar yang sudah dia booking. Dikamar hotel aku cuma bisa berkata terimakasih karena sudah menyambutku sebaik ini. Safira pun pamit dari kamar hotelku.
"Yaudah selamat istirahat ya. Assalamualaikum," salam Safira.
"Waalaikumsalam," jawabku.
Dikamar hotel aku hanya merenung setelah merebahkan tubuhku. Sesekali air mataku mengalir teringat kejadian dikereta. "Tuhan memberikan perasaan yang luar biasa dihatiku untuk Gita. Tetapi Tuhan tak mengizinkanku bersama Gita. Ini ujian nyata yang harus aku terima dan bersabar sampai batasnya," gumamku dengan menghapus air mata.
Tapi perasaan sakit ini sulit aku hindari, sulit aku abaikan. "Ya Tuhan ku mohon kuatkan," kembali aku bergumam sembari menahan rasa sakit dihati.
Aku relakan dan aku terima semuanya yang menjadi takdirku dengan hati yang lapang. Dengan keyakinan Tuhan tidak akan menyia-nyiakan hambanya.
__ADS_1
Sampai akhirnya aku terlelap dengan kelegaan hati. Karena aku sudah serahkan segala takdirku kepada Penciptaku. Dan aku tidak akan mengeluh lagi.