Langit-Langit Angan

Langit-Langit Angan
Ku Pastikan Semua Tetap Berjalan


__ADS_3

Degup jantungku tak beraturan, keringat mengguyur deras tubuhku. Nafas ku yang terengah-engah, seakan sedang bersembunyi dari maut. Kemudian aku berlari kembali secepat yang ku bisa. Namun setiapku menoleh kebelakang dia selalu berada tepat dibelakangku dan hendak meraihku. Akhirnya pelarianku terhenti oleh jurang yang curam didepan. Aku berhenti membalikan badan, dia hampir menerkam. Lalu aku tekadkan untuk melompat kedalam jurang "Aaaakkhhhhhh," teriakku yang spontan terduduk dan tersadar dari mimpi buruk. Dengan keringat yang masih bercucuran. Aku bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Karena aku terbangun menjelang magrib, tertidur dari sepulang kerja siang tadi.


"Aku nganggur dan masih ditanah perantauan. Mungkin kampung halaman ingin aku pulang," gumamku dengan sesekali menyiram air ketubuh. Selesai mandi aku memesan tiket kereta untuk tujuan Malang. Akhirnya aku memutuskan untuk pulang kampung malam ini.


"Tok tok tok. Assalamualaikum," salamku mengetuk pintu Ibu Kost.


"Waalaikumsalam," jawab penghuni rumah dan membuka pintu.


"Pak, Ibu ada?" tanyaku kepada Bapak Kost.


"Ada, tadi lagi sholat," jawab Bapa Kost dengan suara beratnya.


"Ada apa Hans?" tanya Ibu kost yang muncul dari ruangan lain.


"Ini Bu, aku mau pulang ke Malang, kesininya lagi belum tau kapan. Barang-barang sudah aku rapihkan dan sudah aku packing. Sebagian ada yang aku tinggal. Aku pamit ya Bu Pak terimakasih udah jadi orang tuaku diperantauan," tuturku berpamitan.


"Kok tiba-tiba banget?" tanya Ibu kost.


"Ga kok Bu udah dari kemarin aku rencanain," jawabku.


"Yaudah hati-hati, jangan lupa kalo ada waktu main kesini," ucap Ibu kost.


"Siap Bu. Assalamualaikum," salamku yang melihat taksi online ku sudah datang.


"Waalaikumsalam," jawab Bapak dan Ibu kost serentak.


Aku masuk kedalam taksi setelah dibantu pak sopir memasukan barang-barang dibagasi. Perjalananku menuju stasiun dibalut rasa haru. "Seperti ini rasanya menjadi hamba yang terasingkan Tuhannya, pahit takdir dan tersesat akan arah" gumamku dalam hati.


Tak lupa aku mengabari Fa'iq melalui pesan WA.


[ Bro gua pamit pulang kampung malam ini ya? ] pesan aku kirim ke Fa'iq. Tak butuh waktu lama Fa'iq pun menjawab.


[ Kok buru-buru banget bro? ] balas Fa'iq.


[ Yaudah gua anter ke stasiun ya? ] imbuh Fa'iq.


[ Gua udah distasiun, lima belas menit lagi kereta gua beragkat. Oh ya buat duit HP nanti aku ganti bulan ini ya ] ucapku dipesan WA.


[ Yaelah bro, sedih gua tau lu mau pulang kampung ] balas Fa'iq.


[ Santai aja bro dan doain dqpet hikmah dari semuanya ] ucapku.


[ Aamiin bro. Yaudah hati-hati, salam buat keluarga ] tutur Fa'iq.


[ Siap ] jawabku singkat.


Sesampainya distasiun aku langsung mencetak tiket dan masuk ke gerbong. Karena waktu cukup mepet untuk keberangkatan kereta. Akhirnya dengan perlahan kereta pun melaju. Meninggalkan stasiun kota dan meninggalkan tanah Ibu kota. Didalam perjalanan aku mengisi waktu yang membosankan dengan menulis puisi. Bukan hobi hanya sekedar iseng saja. Aku mengambil pena dan buku ditas, kemudian mulai menulis.


Secercah rasa ku tahan sementara


Mencari celah ku intip waktu


Khayalkan tangan halusmu menyentuh ragaku


Sejuk terasa sekujur jiwaku.


Sunyi mengetuk aku melamun


Terisi cerita semu tak nyata


Membayangkan bahuku menjadi tempat sandaranmu


Baik waktu atau takdir tak memihakku


Tak akan perdulikan itu.


Begitu luas anganku mengulas tentangmu


Membicarakan caramu meraih hatiku


Yang mudah dan terkesan seketika


Hingga kini menjadi pemuja


Entah hanya terukir diangan atau muncul dikehidupan


Alunan cerita berbab-bab yang tersimpan


Tentangmu tentangku dan tentang yang kuharapkan


Nyata.


Sepenggal puisi yang ku tulis tak mewakili apa pun. Dan tak merubah apa pun dalam hidupku. Perjalanan yang mulai terasa melelahkan. Aku memutuskan untuk tidur, karena masih butuh empat untuk sampai ditujuan.


Baru saja menutup mata, aku terkejut oleh kedatangan seorang pria paruh baya yang tiba-tiba duduk disebelahku. Karena dari stasiun pemberangkatan kursi disebelahku kosong.


"Adek sendirian? Saya permisi mengganggu duduk disini karena nomer kursi saya memang disini," ungkap pria bertopi koboi tersebut.


"Silahkan Pak," jawabku singkat yang memang tidak tertarik untuk berbincang saat ini.


"Adek mau?" tanya pria itu menawarkan kue.


"Ga Pak terimakasih," jawabku.


Aku yang menjadi tidak bisa tidur, memutuskan untuk berbincang dengan pria disebelahku.


"Sendirian aja Pak?" tanyaku memulai obrolan.

__ADS_1


"Keliahatannya sendirian tapi sebenarnya ada istri saya disini," jawab pria disebelahku dengan menunjuk-nunjuk dadanya.


"Maksudnya bagaimana Pak?" tanyaku berusaha memahami.


"Maksudnya istri saya sudah berpulang dan sejak saat itu dia bersemayam dihatiku," jawab pria itu yang semakin membuatku penasaran.


"Boleh Pak diceritakan kisahnya?" pintaku.


"Tentu boleh dong, saya senang berbagi cerita hidup saya," jawabnya.


Pria ini sangat ramah dan mudah tertawa. Seakan tak mengenal beban dalam hidupnya.


"Dulu setelah saya menikah dengan istri saya, tepatnya tanggal 5 Januari 1989. Ketika itu menjadi hari yang sangat bahagia buat kami. Waktu itu saya berprofesi sebagai guru SMA. Tapi saya punya hobi sekaligus profesi sampingan sebagai penyiar radio," tutur Pria yang duduk disebelahku mulai bercerita.


"kalo istri Bapak profesinya apa?" tanyaku.


"Istriku dulu penggiat bidang seni. Walau lukisannya bagus dan puisi-puisinya bagus, tapi dia tidak berhasil jadi pelukis maupun penulis puisi. Alhasil dia hanya jadi Ibu rumah tangga saja hahaha," ujarnya.


"Setelah menikah kami hidup bahagia, walaupun belum semua impian kami raih," katanya yang terlihat sedih.


"Kok Bapak jadi sedih?" kembali aku bertanya karena melihat perubahan diraut wajahnya.


"Saya sedih ketika ingat penyesalan hidup saya," tuturnya.


"Kalo boleh tau kenapa Pak?" tanyaku.


"Istri saya sedang sakit hari itu. Dia minta saya untuk libur dari menyiarkan radio, tapi saya tidak mendengarkannya. Saya berangkat ke studio dan meninggalkannya dirumah. Malam hari jam sembilan lebih tiga puluh menit saya pulang. Dan saya dapati istri saya sudah terbujur kaku tak bernyawa," ungkapnya.


"Pasti Bapak terpukul dengan kejadian itu," ucapku yang tak tega mendengar kisahnya.


"Sudah pasti saya terpukul. Istri tercinta telah tiada. Istri saya berpulang ketika usia pernikahan kita baru dua minggu. Semenjak itu saya meninggalkan profesi saya sebagai penyiar radio dan guru. Saya memilih untuk melukis dan menulis," tuturnya.


"Maaf sebelumnya Pak. Boleh saya tau nama Bapak?" pintaku sembari menyodorkan tangan mengajak untuk berjabat tangan.


"Nama saya Haryanto Suyadwo biasa dipanggil Haryy, (y)nya dua hahaha," ucapnya sembari menjabat tanganku.


"Ya Allah Pak Haryy penulis buku Dermaga Srayu," seruku terkejut lawan bicaraku ternyata penulis buku yang populer.


Pak Haryy hanya tersenyum melihatku terkejut.


"Lanjutkan ceritanya Pak," pintaku.


"Sampai mana tadi?" tanya Pak Haryy.


"Bapak mutusin buat jadi pelukis dan penulis," ucapku mengingatkan.


"Dan itu saya tekuni sampai sekarang haha," ucapnya.


"Boleh tau konsep cerita buku Dermaga Srayu? Saya sudah baca Pak tapi lebih keren kalo dijelasin sama penulisnya langsung hehehe," pintaku.


"Dermaga Srayu. Srayu singkatan dari Sri Ayu nama istriku. Dan dia buat saya bagaikan Dermaga, tempat bersandarnya kapal-kapal petualang. Masa mudaku senang berpetualang cinta. Dan hanya Sri Ayu yang mampu menghentikan petualanganku, hingga saat ini," jelasnya.


"Bagaimana saya bisa nikah lagi? Kalo istri saya hanya berpindah tempat saja, dari dunia kedalam hati saya hahaha," tuturnya.


"Asli sih Pak. Ga heran buku Bapak laris, isi ceritanya dalam banget," pujiku.


"Itu cuma kebetulan aja, kebetulan Tuhan memberi jalan rezeki hahaha," jawab Pak Haryy ringan.


"Aku beruntung banget ketemu Pak Haryy digerbong kereta ini. Dan terimakasih banget Pak sudah mau berbagi kisah yang menakjubkan," ucapku yang tidak bisa menyembunyikan perasaan senangku.


Perjalanan pulang kampung yang sangat menyenangkan. memberi pelajaran yang sangat berarti. "Aku yang selama ini menganggap hidupku menderita bahkan tak ada keadilan atau bahagia, menjadi sadar. Bagaimana dengan Pak Harry yang baru menikah dua minggu kemudian istrinya meninggal. Lalu bisa melanjutkan hidup hanya dengan kenangan istrinya yang melekat dihatinya. Terlepas dari kesuksesannya menjadi penulis. Beliau pasti sudah melewati fase yang tak terbayangkan beratnya. Aku sadar masalah dalam hidupku belum seberapa," gumamku dalam hati. Ketika Pak Haryy sudah turun distasiun Balapan Solo barusan.


Aku menikmati sisa perjalanan dengan menelaah diri. Berusaha berdamai dengan keadaan sekarang. Dan berhenti memaki dan menyalahkan takdir kehidupan.


Tak terasa kereta berhenti distasiun Blimbing Malang. Artinya aku harus turun, karena rumahku tak jauh dari stasiun tersebut. Perasaan semakin tidak sabar untuk berjumpa keluarga.


Dari stasiun aku memesan taksi online untuk mengantarku ke rumah. Setelah mendapat taksi dan menuju rumah, kira-kira pukul empat lebih sepuluh menit aku sampai didepan rumah. Turun dari taksi berjalan ke pintu dan mengetuknya.


"Tok tok tok. Assalamualaikum," salamku mengetuk pintu rumah.


Beberapa kali aku mengetuk pintu, akhirnya ada yang membalas salamku.


"Waalaikumsalam," jawab suara berat dari balik pintu yang adalah Bapak ku.


"Ya Allah Hans, pulang kok ga kasih kabar," ucap Bapak menyambutku.


Setelah cium tangan Bapak, munculnya Ibu dari ruangan lain.


"Ya Allah Nak, katanya akhir bulan pulangnya," sambut Ibu yang memeluk ku.


Aku pun mencium tangan Ibu. Suasana haru menyelimuti kepulanganku diwaktu menjelang subuh. Ibu Bapa dan Adik terlihat senang atas kepulanganku. Setelah melakukan kewajiban bersama, kegiatan keluarga yang sedang lengkap ini dilanjutnya minum teh bersama.


Aku menceritakan apa yang aku alami diperantauan. Dari terkena fitnah Pak Dirut dan Gita sampai akhirnya aku dipecat dari perkerjaan. Bapak Ibu dan Adik merubah raut mukanya menjadi sendu, mendengar ceritaku. Ibu yang terbawa perasaan akhirnya meneteskan air mata. Karena anak sulungnya mendapat takdir hidup yang kurang beruntung, sehingga melewati banyak cobaan. Bapak ku yang selalu mengajarkan untuk tegar dan tahan banting, menyemangatiku agar aku tak patah semangat.


Dan aku yang tak ingin melihat ada kesedihan dihati keluargaku. Menuturkan seakan-akan aku baik-baik saja. Pada dasarnya memang aku baik-baik saja, terlebih setelah bertemu Pak Haryy dan mendengarkan kisahnya. Membuatku termotivasi untuk tetap semangat menjalani hidup.


"Dek, dikereta mas ketemu sama Pak Haryy penulis buku dermaga srayu," ucapku kepada Adik ku.


"Mas minta tanda tangannya ga?" tanya Adikku.


"Oh ya, kenapa ga minta tanda tangannya yah hehehe," jawabku yang kelupaan.


"Yah mas, sayang banget," ucap Adikku yang ikut menyayangkan.


Hari sudah pagi, artinya aktifitas harus sudah dimulai. Bapak bersiap untuk berangkat mencari nafkah. Ibu mulai memasak dan Adikku yang masih SMP bersiap berangkat sekolah.


Aku merasakan kembali suasana kampungku dipagi ini. Dimana masih banyak lahan kosong dan bentangan sawah yang masih luas. Dengan menggunakan sepeda Adikku, aku memutuskan untuk berkeliling perkampunganku. Mengayuh sepeda menikmati pemandangan yang masih cukup indah. Sayangnya terlihat mulai ada pembangunan perumahan dan ruko-ruko dijalanan pedesaan. Mungkin kemajuan jaman sudah sampai dikampungku. Aku memilih rute pedalaman untuk menikmati hamparan sawah yang hijau. Berhenti sejenak untuk menghirup udara yang sangat menyegarkan.

__ADS_1


"Hans mbalik kapan koen?" teriak suara dari arah sawah.


"Loh Tot, iku awakmu tah," sapaku yang baru menyadari ternyat Sentot yang menyapaku.


Sentot adalah kawan masa kecilku, dahulu kita bermain bersama bersekolah bersama. Tapi dia memutuskan tidak melanjutkan sekolahnya, berhenti di SMP saja. Waktu itu alasannya untuk membantu orang tua disawah. Karena orang tuanya memiliki cukup luas lahan sawah. Obrolan dengan Sentot berlanjut.


"Mbalik kapan? Wes rabian tah durong?" tanya Sentot setelah bersalaman.


"Durong sek an, sek golet sing wayune pol," jawabku.


"Loh pie toh, aku ae anake wes loro," ucap Sentot.


"Alhamdulillah, subur yo," kataku ikut bersyukur.


"Yowes ngene iki urip nong ndeso, kerjo rabi nganaki hahaha," ucapa Sentot.


Kita berbincang saling menukar pengalaman hidup. Karena memang sudah jarang sekali kita berjumpa. Karena Sentot sedang bekerja, aku tidak ingin mengganggunya. Aku pun pamit untuk melanjutkan mengayuh sepeda. Karena matahari mulai terik, aku kembali kerumah.


"Assalmualaikum," salamku memasuki rumah setelah menaruh sepeda disamping rumah.


"Waalaikumsalam, makan dulu Nak," ucap Ibu menawarkan.


"Iya Bu udah laper banget hehehe," tuturku sembari berjalan ke dapur.


"Ini ikutnya sarapan apa makan siang Bu," tanyaku kepada Ibu yang menimani dimeja makan.


"Sarapan toh, nanti siang makan lagi," ucap Ibu.


"Sarapan kok jam setengah sebelas hahaha," ujarku yang terus melahap makanan.


"Ga apa-apa biar gemuk," tutur Ibu dengan senyum.


"Terus gimana pacarmu?" tanya Ibu.


"Pacar yang mana Bu?" ucapku berbalik tanya.


"Pacarnya banyak tak?" sahut Ibu mengembalikan pertanyaan.


"Hahaha doain aja Bu," jawabku.


"Ibu sama Bapak sudah sering ngobrol soal pernikahanmu. Kalo emang sudah ada pasangan, kenalin ke Ibu sama Bapa. Biar bisa dinikahkan," tutur Ibu.


"Emang menurut Ibu aku udah pantes nikah?" tanyaku.


"Ya iya toh Nak. Itu Sentot aja sudah dua anaknya," ucap ibu.


"Iya Bu, tadi ketemu sentot disawah," kataku memberi tahu.


"Lah iya terus kamu kapan mau nikah? In Shaa Allah Bapa sama Ibu udah siap nikahin kamu," tutur Ibu.


"Wuidihhh Bapak sama Ibu banyak duit nih," kataku.


"Alhamdulillah ada buat nikahkan kamu, transferanmu dari dulu Ibu tabung sebagian, dan Bapakmu ternyata juga nabung dibank, Bapakmu cerita katanya nabung buat nikahkan kamu," tutur Ibu.


"Hans jadi terharu sekaligus malu Bu hehehe, karena belum bisa kasih Ibu sama Bapak menantu," ucapku.


"Diniatkan Bismillah nikah untuk ibadah, In Shaa Allah cepat dikabulkan," saran ibu.


"Oke Bu siap," tuturku membereskan bekas makanku.


Menelaah perbincangan dengan Ibu sangat berkesan dihatiku. Memang harusnya diusiaku sekarang udah berkeluarga. "Ya Allah Ya Tuhanku, mudahkanlah aku menjemput rezeki jodoh dariMu," doaku dalam hati.


Setelah sarapan aku kekamar mandi untuk membersihkan diri. Karena tidak terbiasa bersepeda, keringat bercucuran. Selesai mandi aku memeriksa HPku.


[ Bro udah nyampe Malang? ] tanya Fa'iq dipesan WAnya.


[ Udah bro pagi tadi jam limaan subuh ] balasku.


Kemudian aku membuka pesan dari Safira.


[ Apa kabar? ] isi pesan Safira.


[ Alhamdulillah Baik, kamu juga mudah-mudahan baik terus ] balasku.


Tak lama Safira membalas kembali pesanku.


[ Alhamdulillah, Aamiin ]


[ Sabtu jangan lupa ya hehe ] ucap Safira dipesannya.


[ Siap In Shaa Allah ] balasku.


[ Kamis aku berangkat dari Surabaya, nanti kalo kamu jadi jalan ke Bandung kabarin aja biar aku pesan hotelnya ] ucap Safira dipesannya.


[ Siap nanti aku kabarin. Gita ikut ga? ] tanyaku dibalansan pesanku.


[ Ga kayanya. Dia lagi semangat banget urus butik yang disini ] ungkap Safira.


[ Oh gitu yasudah ga apa-apa. In Shaa Allah aku tetap kesana, dan nanti aku kabarin ] balasku.


Selesai chattingan dengan Safira, Fa'iq pun membalas kembali.


[ Alhamdulillah bro, salam buat keluarga ya ] ucap Fa'iq menitip salam.


[ Siap bro ] balasku singkat.


Bahkan sampai saat ini perasaanku masih menginginkan Gita. Yang untuk sekedar chatt saja aku tidak bisa. Dan Safira, wanita baik cantik sekaligus memiliki rasa untuk ku. Tapi kenapa sedikit pun tidak ada perasaan cinta untuknya.

__ADS_1


Aku masih berkutat dengan perasaan yang entah bagaimana nanti akhirnya. Namun akan ku pastikan semuanya tetap berjalan meski pun perlahan.


__ADS_2