Langit-Langit Angan

Langit-Langit Angan
Tersingkapnya Tabir


__ADS_3

Sore ini dikantor begitu tenang. Tidak ada suara-suara sumbang yang terdengar disetiap sudut kantor. Mungkin mereka takut dengan ancamanku tadi pagi. Padahal tidak mungkin aku minta Mak Lampir buat pecat orang yang nyinyir. Begitulah kebanyakan manusia. Selalu jeli dan detail dalam mengoreksi kesalahan orang lain, tapi tumpul dan pura-pura dungu kalau harus mengoreksi kesalahan sendiri.


"Tiktuk!" satu pesan WA masuk dari Mak Lampir.


[ Pulang yuk! ] pesan Mak Lampir mengajak pulang bareng.


[ Ayuk. Aku udah dibawah ] balasku.


[ Oke sayang aku turun. Cium dulu dong ] balas Mak Lampir.


[ Cium? ] balasku.


[ Iya cium sayang. Kalo ga mau, aku ga turun, ga mau pulang juga ] balas Mak Lampir yang semakin parah menyebalkannya.


[ Ummmachh ] jawabku singkat.


[ Hehehe makasih sayangku ] balas Mak Lampir kegirangan.


Fa'iq yang sedari tadi ngobrol bersamaku diloby kantor. Aku tunjukan kelakuan Mak Lampir dichatt WA. Fa'iq hanya komen agar aku sabar. Tidak lama kemudian muncul lah Mak Lampir.


"Hay Fa'iq. Hay sayang," sapa Mak Lampir mulai nimbrung.


"Hay juga Bu," jawab Fa'iq datar.


"Hay. Udah? Mau langsung pulang?" jawabku ga tahan kalau harus ngobrol bertiga pakai sayang-sayangan.


"Ayuk. Fa'iq kita jalan dulu ya," jawab Mak Lampir sekaligus berpamitan.


"Gua jalan duluan bro," ujarku pamit pada Fa'iq.


"Yoi bro hati-hati. Awas jangan sampe lecet ya!" ucap Fa'iq sembari tertawa.


Aku dan Mak Lampir berjalan ke parkiran. Setelah masuk kedalam mobil Mak Lampir mulai minta aneh-aneh.


"Sayang cium kening aku dong," Pinta Mak Lampir menunjuk jidadnya.


[ Uuummaaacchhhhhh! ] pesan ku kirim ke WA Mak Lampir.

__ADS_1


"Tiktuk" HP Mak Lampir berbunyi.


"Iiiihhhh kok ciumnya di WA? Kita kan lagi bareng. Cium yang beneran dong," pinta Mak Lampir manja.


"Untuk sekarang ciumnya lewat WA aja dulu. Cium beneranya ntar kalo udah ijab qobul," tuturku menahan emosi karena Mak Lampir sudah kelewat batas menyebalkan.


Dengan raut muka cemberut Mak Lampir mulai menyetir.


"Kalau nyetir ga boleh manyun, ntar kena tilang," ucapku memecah keheningan.


"Kok kena tilang?" tanya Mak Lampir.


"Yah siapa tau ada tilangan orang jelek," jawabku menggoda sekaligus berusaha mengontrol suasana.


"Maksud kamu aku jelek?" tanya Mak Lampir kesal manja.


"Jelek banget kalo lagi cemberut gitu," jawabku jujur.


"Iihhhh nyebelin banget sih," ujar Mak Lampir yang mulai tersenyum.


Sesampainya dikafe aku mempersilahkan Mak Lampir duduk. Memanggil pelayan untuk memesan makanan. Sambil menunggu pesanan aku dan Mak Lampir sibuk dengan HP masing-masing. Seketika emosiku tak terkendali tatkala mendengar Mak Lampir mengobrol dengan janin diperutnya.


"Gubrak!" suara tanganku menggebrak meja.


"Anak itu bukan anak gue!" tegasku lantang.


Seketika Mak Lampir beranjak dari tempat duduk kemudian berlari dan masuk ke mobilnya. Aku yang telah gagal mengontrol emosi merasa semuanya harus diungkapkan. Aku pun bergegas menyusul Mak Lampir. Didalam mobil aku lihat Mak Lampir menangis terseduh-seduh.


"Aku pikir sikap manismu tulus ke aku" ucap Mak Lampir terbata-bata.


"Aku kira kamu sudah tulus nerima aku dan anak yang ada diperutku" imbuh Mak Lampir dalam tangisnya.


Setelah hening beberapa saat dan aku mulai mengendalikan emosiku. Dengan nada halus aku ungkapkan semua yang aku tahu.


"Sudah lah Bu. Aku tahu semua yang Bu Gita dan Pak Dirut sembunyikan. Aku cuma ga habis pikir kenapa Bu Gita dan Pak Dirut tega jadiin aku korban atas perilaku bejad kalian," tuturku berharap dapat jawaban.


Mendengar ucapanku Mak Lampir menengadahkan pandangan. Dari yang sebelumnya tertunduk dan sesekali mengusap air mata.

__ADS_1


"Bukankah Pak Dirut yang seharusnya tanggung jawab atas anak yang Ibu kandung?" tanyaku memojokan Mak Lampir.


"Kamu tau dari mana?" tanya Mak Lampir keheranan.


"Orang macam apa Ibu ini. Dimana nurani Ibu? Dimana perasaan Ibu? Dimana rasa belas kasih untuk anak Ibu? Ibu tega jadiin aku korban. Ibu tega sama anak dalam kandungan Ibu kalo lahir nanti tidak tau ayah kandungnya siapa. Dia diasuh ayah yang ga memiliki hubungan darah. Ibu setega itu sama darah daging Ibu?" ungkapku dengan nada lembut berharap dapat diterima nurani seorang Ibu.


"Aku ga tega. Aku ga mau jadiin kamu korban. Semua ini bukan kemauanku," ungkap Mak Lampir dengan tangis histeris.


"Terus kenapa Ibu lakuin ini semua?" tanyaku meminta kejelasan.


Dengan tangis yang masih terseduh-seduh Mak Lampir mencoba menjelaskan.


"Semua ini ide Pak Dirut karena dia ga mau karir dan keluarganya hancur," tutur Mak Lampir masih dengan tangisnya.


"Minum dulu Bu!" sahutku sembari menyodorkan air mineral yang sudah aku bukaan tutupnya. Mak Lampir minum untuk menenangkan emosinya. Kemudian perlahan Mak Lampir melanjutkan ceritanya.


"Awalnya aku butuh uang dengan jumlah yang banyak untuk membayar hutang-hutang almarhum Papaku. Sepeninggalan Papaku, Mamah harus menanggung hutang Papa, sampai pada akhirnya datang depkolektor buat memberi peringatan karena sudah berbulan-bulan belum ada pembayaran. Kalo sampe satu minggu belum bayar rumah akan disita. Terus aku kalap terpaksa menggunakan uang kantor tanpa sepengetahuan siapa pun. Karena aku ga tega melihat Mamah harus menanggung semuanya. Dan yang aku alami sekarang ini imbas dari perbuatanku" tutur Mak Lampir terjeda karena tangisnya yang tak terbendung.


"Sudah mau adzan magrib Bu, Bu Gita tenangin diri dulu. Kita lanjut ngobrol di dalem kafe aja, sekalian Ibu makan," usulku yang mulai tak tega melihat wanita menangis sampai seperti itu.


Setelah Mak Lampir mulai tenang, kita melanjutkan obrolan didalam kafe.


"Serapih apa pun aku nyimpen kebusukan, lama-lama tercium juga. Dan benar aku ketahuan Pak Dirut menggunakan uang perusahaan untuk keperluan pribadi sejumlah 850 juta. Mulanya Pak Dirut murka dan hampir melaporkanku ke polisi karena penggelapan uang perusahaan. Selang sehari Pak Dirut mengirim pesan WA yang berbunyi [ Kalo kamu ga mau masuk penjara datang ke alamat ini ] disitu tertera alamat rumah yang sekarang aku tempatin. Aku yang ga mau masuk penjara mengiyakan permintaan Pak Dirut. Dirumah itu Pak Dirut memintaku melayani nafsunya. Aku sempat menolak dan memohon-mohon tapi Pak Dirut sama sekali ga punya belas kasihan. Berujung pengancaman jeblosin aku ke penjara. Aku hanya diam ketika Pak Dirut mulai memaksa menyentuh tubuhku dan menggauli aku. Karena pada saat itu aku ga tau lagi apa yang harus aku lakuin," ungkap Mak Lampir diiringi tangisan yang kembali pecah.


Mendengar cerita Mak Lampir aku semakin tak tega. Ternyata ada yang lebih memilukan dari apa yang aku keluhkan selama ini dalam hidupku.


Dengan menahan tangis dan berusha tegar, Mak Lampir meneruskan.


"Adanya kamu yang tidak tau apa-apa menjadi korban. Berawal ketika aku ngasih tau Pak Dirut kalo aku hamil benih dari Pak Dirut. Terus Pak Dirut Panik ga mau tau pokoknya jangan sampai karir dan keluarganya hancur. Karena semua aset yang dimiliki Pak Dirut atas nama istrinya. Beliau sampai menyuruhku menggugurkan kandungan. Aku bersih keras ga mau gugurin kandungan ini. Akhirnya muncul ide dari Pak Dirut untuk jebak kamu biar mau berhubungan intim sama aku. Termasuk yang kita ketemu client dihotel, sebenarnya itu cuma akal-akalan aja," terang Mak Lampir.


"Terus kenapa harus aku, masih banyak orang lain dikantor," Tanyaku protes.


"Sejujurnya aku ga pernah cerita sama Pak Dirut soal ketertarikanku sama kamu. Emang dari awal aku suka sama kamu. Mungkin Genie asisten Pak Dirut yang ngasih tau Pak Dirut. Karena cuma dia yang aku ceritain tentang perasaanku ke kamu. Tau-tau Pak Dirut nyuruh buat ngejebak kamu setelah tau aku hamil benih dia," terang Mak Lampir.


Seketika setelah mendengar semua penjelasan Mak Lampir. Emosiku beralih ke Bos Tua otak mesum. Hanya karena harta yang melimpah, bisa berbuat seenaknya. "Aku harus mengembalikan semua ke pelaku utama" gumamku dalam hati. Melihat aku yang hanya diam, Mak Lampir meminta maaf.


"Hans maafin aku, demi apa pun maafin aku," pinta Mak Lampir dengan derai air mata.

__ADS_1


Malam ini pun berakhir dengan kesepakan antara aku dan Mak Lampir. Sebagai syarat mendapat maaf dariku. Karena aku hanya akan memaafkan Mak Lampir setelah masalah ini berakhir.


__ADS_2