
Pagi ini aku bangun terlambat. Mentari sudah muncul memberikan hawa hangat. Aku yang baru tersadar dari tidur bergegas membersikan diri untuk bersiap berangkat kerja. Dengan sedikit tergesah-gesah aku mengunci pintu. Berjalan kedepan menunggu angkot arah kantor. Didalam angkot aku sempatkan mengirim pesan ke ibu.
[ Assalamaualaikum. Hans berangkat kerja Bu, tapi sarapannya ntar dikantor ] pesan WA ku ke Ibu.
[ Waalaikumsalam. Iya Nak yang semangat ya ] balas Ibu.
Sesampainya dikantor aku menemui Fa'iq yang sudah terlebih dahulu berangkat.
"Pagi bro apa kabar?" sapaku kepada Fa'iq.
"Luar biasa bro," jawab Fa'iq dengan raut wajah sumringah.
"Kenapa lu kaya yang lagi seneng banget?" tanyaku ikut senang walaupun belum tau penyebab Fa'iq gembira.
"Bro istri gua positif hamil," tutur Fa'iq memberi tau.
"Alhamdulillah. Selamat ya calon ayah," godaku senang mendengar kabar baik.
"Sumpah bro gua bahagia banget, penantian dua tahun akhirnya dikasih juga," ungkap Fa'iq girang.
"Harus dijaga baik-baik bro, amanah tuh," nasihatku kepada Fa'iq.
"Pasti bro gua jaga dengan nyawa gua," jawab Fa'iq semangat.
Fa'iq yang sudah dua tahun menikah akhirnya mendapat momongan terlihat sangat bahagia. Lembaran baru untuk Fa'iq teman sekaligus sahabat yang selalu pengertian.
"Kemarin gimana ketemu, sapa tuh temennya Mak Lampir?" tanya Fa'iq.
"Oh ya kemarin udah ketemu bro dan ternyata dibandung. Gua nyampe kontrakan aja hampir setengah dua malam. Alhamdulillahnya dapat hasil bro. Si Safira bantu Mak Lampir," tuturku memberi tahu.
"Alhamdulillah. Salut sama jalan hidup Mak Lampir," ucap Fa'iq yang juga terkagum.
"Sama bro gua juga salut sama dua wanita yang kemarin gua temuin. Hebat banget," imbuhku.
"Terus rencana kedepan gimana?" tanya Fa'iq.
"Belum diobrolin, semalem kecapean pulang kerumah masing-masing. Tau nih katanya juga hari ini ga masuk," tuturku.
"Yaudah ntar pulang kerja kita susun lagi rencana yang jitu," ajak Fa'iq.
Perbincangan pun diakhiri dengan Fa'iq yang mau mengcopy dokumen. Dan aku yang bersiap untuk keliling mencari proyek.
Setelah berkemas lalu memanaskan mesin motor operasional tiba-tiba Bu Gita telpon.
"Kring kring!" panggilan masuk dari Bu Gita.
"Hallo. Assalamualaikum," ucapku setelah mengangkat telpon.
"Waalaikumsalam," jawab Bu Gita dengan suara lemas.
__ADS_1
"Baru bangun ya?" tanyaku.
"Aku di rumah sakit Hermina. Aku semalem kecelakaan", tutur Bu gita.
"Innalillahi, aku kesana sekarang," jawabku panik yang sekaligus menutup telpon.
Tak lupa aku juga mengabari Fa'iq.
"Tuuut tuut tuuu," panggilan berdering.
"Halo bro!" ucapku panik.
"Halo, kenapa bro?" tanya Fa'iq.
"Mak Lampir semalem kecelakaan, sekarang dirawat di RS Hermina, gua mau kesana lu mau ikut ga?" tuturku memberitahu Fa'iq sekaligus mengajak.
"Oke gua ikut, lu dimana sekarang?" tanya Fa'iq.
"Gua udah diparkiran, cepet gua tunggu," ucapku sembari menutup telpon.
Aku dan Fa'iq menuju RS Hermina menggunakan motor operasional kantor. Kurang lebih 40 menit aku dan Fa'iq sampai di rumah sakit Hermina. Setelah menanyakan ruangan Bu Gita, kita bergegas menjenguknya.
"Ya Allah Mak Lampir ada-ada aja," ucapku sesampainya diruang rawat Bu Gita.
"Git kamu ga apa-apa?" tanya Fa'iq yang berdiri simpingku.
"Aku ga apa-apa tapi janin dalam rahimku udah gada," jawab Bu Gita sembari meneteskan air mata.
"Yang sabar ya Git," imbuh Fa'iq.
"Iya, terimakasih," jawab Bu Gita.
"Sebentar lagi orang tuaku kesini, tolong jangan sampai orang tuaku tau aku habis keguguran atau aku hamil," pinta Bu Gita.
"Iya tenang aja," jawabku.
Setelah beberapa saat datanglah wanita paruh baya yang ternyata mamahnya Bu Gita.
"Ya Allah Nak kamu kenapa?" ucap Bu Sari mamahnya Bu Gita.
"Tata ga apa-apa kok Mah," jawab Bu Gita.
"Kenalin Mah ini Hans dan Fa'iq rekan kerja Tata," ucap Bu Gita memperkenalkan aku dan Fa'iq ke orang tuanya.
Setelah bersalaman dan sedikit berbincang. Aku dan Fa'iq memutuskan untuk undur diri. Setelah memastikan keadaan Bu Gita dalam masa pemulihan dan tidak ada luka yang serius.
"Kalo gitu saya sama Hans pamit dulu ya Bu," ucap Fa'iq berpamitan.
"Iya hati-hati," jawab Mamah Bu Gita.
__ADS_1
"Lekas pulih ya Git," ucapku dengan memelas.
"Iya makasih," jawab Bu Gita.
"Assalamualaikum," salamku dan Fa'iq setelah bersalaman.
"Waalaikumsalam," jawab mereka serentak
Sepanjang perjalanan pulang ke kantor, aku semakin terkagum dengan Bu Gita. Sebab seperti apa pun masalah yang dia hadapi sama sekali tak ingin orang tuanya tau. Berjuang menyelesaikan masalahnya.
Setelah mengantar Fa'iq ke kantor aku melanjutkan perjalanan ke warung kopi Bu Atmi. Untuk sekedar merenung dan menelaah semuanya.
Sesampainya diwarung kopi Bu Atmi aku memesan kopi dan rokok.
"Bu biasa," pintaku sembari duduk.
"Siap mangga diantos," jawab Bu Atmi.
Tak butuh waktu lama pesananku tiba. Dengan menghisap sepatang rokok dan sesekali meminum kopi, aku biarkan naluri menelaah semuanya. "Apa rasa ini nyata? Apakah Bu Gita benar Via? Semakin hari semakin kuat perasaan yang aku rasakan. Semakin mengenal Bu Gita semakin terkagum dengan kepribadiannya. Tapi apakah orang tuaku bisa menerima Bu Gita kalo tau status Bu Gita janda? Ya Tuhanku berikan hamba jawaban atas perasaan yang engkau sematkan dihati ini", gumamku dalam lamunan.
"Kapan nikahnya Den?" tanya Bu Atmi membuarkan lamunan.
"Kapan-kapan atuh Bu hehe," jawabku ringan.
"Kalo udah ada pasangannya jangan lama-lama, nanti basi hilang rasa ga nikah-nikah," canda Bu Atmi.
"Doain aja Bu semoga segera terlaksana," ucapku.
"Aamiin illahirabbi," jawab Bu Atmi.
"Yaudah jadi berapa Bu," tanyaku.
"Buru-baru teuing Den," tanya Bu Atmi basa basi.
"Iya Bu mau keliling cari proyek," jawabku.
"Oh yaudah atuh semoga dapet. Kopi sama rokok jadi 35 ribu Den," tutur Bu Atmi.
"Ini Bu," ucapku sembari memyodorkan uang.
"Nuhun nya," kata Bu Atmi.
"Sami-sami. Assalmualaikum," pamitku.
"Waalaikumsalam," jawab Bu Atmi.
Sepanjang perjalanan aku menyusuri jalan-jalan ibu kota, aku terngiang ucapan Bu Atmi. "Kalo kelamaan jadi basi dan hilang rasa,". Apa aku harus ungkapkan semuanya ke Bu Gita ya? Kalo hilang rasa berarti bukan Bu Gita jodohku. Tapi jarang aku merasakan perasaan seperti ini. Setelah dulu Dea pergi. Aku hanya hidup dengan Via.
Tak henti rasa berkecamuk dalam hati. Mungkin benar Bu Gita adalah Viaku. Mungkin benar Bu Atmi, sebelum basi dan hilang rasa aku harus mengungkapkannya.
__ADS_1
Jam ditangan menunjukan pukul 15.00 yang artinya aku harus kembali ke kantor. Setelahnya aku harus ke rumah sakit untuk menemani Bu Gita. Dan mungkin akan aku ungkapkan semua yang aku rasa.