
Terkadang cinta yang diletakan disinggasana tertinggi hati. Menginjak juga merusak tatanan hati. Yang sebelumnya ada cinta, kasih, sayang, kenangan, impian dan harapan dalam hati. Harus disirnakan oleh orang yang di yakini adalah kebahagiaan mendatang. Setelah seperti itu, seakan dunia ini seperti neraka. Panas, gersang, gelisah, dan putus asa. Menemani hari-hari yang lajunya lambat sekali.
"Tok tok tok! Assalamualaikum," terdengar salam dan ketukan pintu dari kamar hotelku. Yang aku tahu itu Safira.
"Waalaikumsalam," jawabku sembari berjalan untuk membuka pintu.
"Sarapan Yuk?" ajak Safira setelah pintu aku buka.
"Ayuk. Kamu nginep dihotel ini juga?" tanyaku sembari berjalan menuju lift bersama Safira.
"Ini kamarku," jawab Safira menunjuk pintu yang baru kita lewati.
"Yaelahhh Safira, kenapa ga sekamar aja," ucapku memulai bercanda.
"Heeyyy apaan, ga mau lah sebelum kamu jabat tangan Ayahku dan disaksikan Pak KUA serta walimu," tutur Safira.
"Emang kamu mau nikah sama aku?" tanyaku didalam lift.
Sebelum Safira jawab pintu lift terbuka dan masuklah dua orang suami istri. Aku dan Safira bergeser untuk memberi mereka tempat yang lega. Tak lama pintu lift terbuka, aku dan Safira keluar menuju resto.
Menunggu pesanan datang tiba-tiba Safira berkata.
"Bismilah aku mau," ucap Safira yang mengejutkanku karena sedari tadi aku fokus dengan HPku.
"Mau apa?" tanyaku.
"Ihhh nyebelin banget sih, kamu kan tadi di lift ngomong," ujar Safira heboh.
"Bentar, ngomong apa ya?" tanyaku pura-pura bodoh.
"Hans, aku tusuk nih," ancam Safira menggunakan garpu.
"Hahahahahahahaha iya ya Bismillah mau," ucapku sambil tertawa karena tak tahan melihat expresi kesal Safira.
"Mau apa?" tanya Safira.
"Mau nikah sama aku," jawabku menahan tawa.
"Kok mukamu gitu kaya becanda," protes Safira yang mulai beneran kesal.
"Ga sayang aku serius. Aku berharap kamu mau nikah sama aku dan nanti kita wujudin impian. Kaya keluarga yang kita liat di alun-alun semalam," tutuku membujuk.
"Aamiin mudah-mudahan Allah mengabulkan," ucap Safira yang terlihat senang.
"Aamiin," jawabku.
"Jadi mulai sekarang kita jadian ya," ungkap Safira.
"Aku ga tau jadian, taunya kamu calon istri aku," jawabku yang membuat Safira terlihat semakin senang.
"Aku bahagia banget tau," ujar Safira.
"Aku juga," jawabku.
"Sebentar, emang kamu beneran mau sama aku? Aku beda loh sama kamu dari segi apa pun," tuturku mempertegas.
"Aku lagi bahagia please jangan bahas hal-hal yang merusaknya," pinta Safira.
"Ga gitu Fir. Kalo kita beneran mau ke jenjang yang lebih serius, kita harus siap melewati segala cobaan dan rintangan didepan," tuturku.
"Iya sayang aku tau, In Shaa Allah kita jodoh dan ga ada yang menghalangi aaminn," ucap Safira sembari tersenyum.
"Aamiin," jawabku.
Setelah selesai sarapan, Safira mengajak ku ke butiknya. Kita pun bergegas kesana, untuk mempersiapkan hari esok launching Safira.
Sesampainya di Butik, aku takjub melihat tempatnya yang mewah dan luas serta beragam dress dan gaun dimana-mana. Furniture yang terpajang juga tak kalah elegan.
"Yang di Surabaya juga semewah ini?", tanyaku.
"Kalo dari bangunan lebih besar ini. Tapi untuk pelanggan sudah pasti lebih banyak disana, hehe", jawab Safira.
"Oh itu sudah pasti lebih banyak disana dong", tuturku.
"Oh ya, Hans mau minum apa? Biar aku ambilkan di pantry butik", tanya Safira.
"Air mineral aja Fir", jawabku.
"Oke. Tunggu sebentar!" kata Safira sambil melenggang ke arah pantry.
Tak butuh waktu lama untuk mengambil minuman serta cemilan. Kita kembali melihat-lihat persiapan butik yang besok launching. Safira juga menyewa EO untuk acaranya besok supaya lebih tertata dan lebih menarik.
"Untuk acara Soft Opening besok, biasanya juga diselipin beberapa promo ya Fir?" tanyaku memastikan.
"Oh itu pasti. Biar menarik pelanggan lebih banyak tentunya. Aku juga udah bagi-bagi giveaway voucher belanja untuk followers butikku di sosmed", jawab Safira.
"Wah, pasti besok bakalan rame nih", kataku ikut antusias.
"Semoga saja sesuai ekspetasiku. Aku sudah lama memimpikan hal ini. Apalagi Bandung juga termasuk kota besar yang pastinya muda-mudinya begitu memperhatikan fashion mereka", tutur Safira.
"Kalo kata anak jaman now itu OOTD ya Fir", kataku sok tahu.
"Lah, kamu ternyata tau juga istilah itu. Aku kira kamu kudet sama istilah anak jaman sekarang", ledek Safira.
"Tau dong. Banyak bergaul sama Fa'iq jadi dikit-dikit tau lah", tuturku.
Aku dan Safira asyik mengobrol mengenai launching besok sehingga tak terasa waktu pun sudah menunjukan jam makan siang.
"Makan siang dulu yuk Hans!" ajak Safira.
__ADS_1
"Yuk. Mau makan apa?" tanyaku menawarkan.
"Kita cari sekitaran alun-alun aja gimana? Disana pasti banyak jenis kulineran", kata Safira.
"Emang nggak apa-apa kalo makan dipinggiran?" Tanyaku memastikan.
"Loh, emangnya kenapa? Makan dimana aja yang penting kan halal dan enak pastinya", jawab Safira.
"Kirain kamu tipe orang yang harus makan di resto atau caffe yang terjamin kebersihannya, hehe", kataku sambil meringis.
"Nggak gitu dong. Di resto ataupun caffe juga belum tentu bersih dan enak", tutur Safira.
"Yaudah yuk kita jalan sekarang!" ajakku.
"Yuk!" balasnya.
Safira pun mengemudikan mobilnya ke Alun-alun kota Bandung. Hanya butuh 10 menit, kita sudah sampai disana.
Banyak sekali pedagang yang menjual berbagai kulineran, baik makanan khas Bandung maupun jajanan masa kini yang begitu banyak digandrungi para pelancong. Banyaknya pedagang juga tidak merusak pemandangan, karena para pedagang disediakan kios-kios yang berjajar rapih. Akhirnya kita masuk ke salah satu kios dipinggiran alun-alun yang berjualan ayam bakar. Setelah memesan untuk dua porsi, kita memilih tempat duduk lesehan yang sudah disediakan setiap kios. Hanya beralaskan tiker Safira dengan senangnya duduk, menarik tanganku untuk duduk disebelahnya.
"Kring kring!" dering telpon masuk dari Ibu.
"Hallo, Assalamualaikum Bu", salamku kepada Ibu.
"Waalaikumsalam Nak. Kamu sampai jam berapa kemarin? Kok nggak ngabarin Ibu?" tanya Ibu.
"Iya Bu, maaf. Hans lupa. Hans sampai Bandung hampir maghrib", jawabku.
"Alhamdulillah yang penting sampai dengan selamat. Sudah makan siang Nak?" tanya Ibuku lagi.
"Ini baru mau makan Bu sama Safira. Lagi nunggu pesanan. Ibu sudah makan?" tanyaku balik.
"Syukurlah. Salam buat nak Safira ya. Ibu sudah makan barusan", jawab Ibu.
"Alhamdulillah kalo begitu. Iya Bu nanti disalamin", tuturku.
"Nyari kerja di Bandung Nak?" tanya Ibu.
"Iya Bu nanti coba nyari-nyari disini," jawabku.
"Yasudah nak, kamu makan dulu. Semoga cepat dapat pekerjaan. Ibu cuma mau memastikan anak Ibu sampai Bandung dengan selamat", kata Ibu.
"Siap Bu!" jawabku.
Obrolan dengan Ibu lewat telpon diakhiri. Pesanan sudah datang. Aku dan Safira mulai menyantap makan siang. Disela makan Safira bertanya dengan nada yang serius.
"Telpon dari Ibu?" tanya Safira.
"Iya Ibu nanya aku udah makan belum? Kemarin nyampe sini jam berapa?" jawab.
"Soal kamu mau nyari-nyari, boleh tau mau nyari apa?" ujarnya seperti ingin mengulik.
"Nyari kamu hehehe," jawabku menggoda Safira.
"Makannya dihabisin dulu nanti aku cerita," ucapku.
Safira terlihat lahap makan dipinggiran jalan. Aku benar-benar tak menyangka sekelas wanita seperti Safira bisa merakyat juga.
Setelah menghabiskan makanannya. Safira mengambil HPnya kemudian terlihat video call dengan seseorang, yang ternyata Gita. Safira memperlihatkan aku yang disebelahnya kepada Gita. Mereka mengobrol seru, sebagai ungkapan bahagia Safira. Aku yang tak ingin mengganggu hanya sekali menyapa Gita.
"Hay Git," ucapku dengan senyum saat arah kamera HP Safira menunjuk ku.
"Hay juga Hans," balas Gita.
Yang kemudian dilanjutkan dengan mereka mengobrol. Aku yang belum menghabiskan makan siang memilih untuk menghabiskannya terlebih dahulu. Dengan sesekali mencuri dengar obrolan Safira dan Gita. Terdengar Safira berkata kepada Gita, bahwasanya Safira dan aku sudah jadian. Meski Gita tak langsung merespon setelah mendengar itu. Pada akhirnya Gita terdengar memberikan selamat kepada Safira. Aku merasakan canggung dan merasa bersalah. Karena Gita pasti berpikir Safira hanya akan menjadi pelampiasanku. Setelah kemarin Gita menolakku. Memang kemarin candaanku dilift bersama Safira kelewatan. Sehingga Safira menganggap yang ku lontarkan sebagai candaan, dia terima dengan serius. Alhasil sekarang aku dan Safira menjadi pasangan kekasih.
"Daahhh semuanya," ucap Gita yang akan menutup video callnya.
"Daahh Git," ucapku membalas.
Video call antara Safira dan Gita berakhir, seiring aku yang sudah menghabiskan makan siangku. Setelah membayar ke penjual makanan, kita memutuskan untuk berkeliling kota Bandung.
Didalam mobil Safira masih belum bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Terlihat keceriaan diraut wajahnya yang tulus nan teduh itu. Aku semakin tak tega melihat Safira yang begitu bahagia. Terlintas dipikiran untuk menceritakan kejadianku sama Gita. Tapi setelah aku pikir-pikir akan lebih tak tega, jika harus melihat Safira hancur diatas rasa bahagia yang dia rasakan sekarang. Akhirnya aku hanya mengalir mengikuti alurnya.
"Tiktuk!" satu pesan WA masuk di HPku dari Gita.
[ Hans, gua minta tolong banget jangan pernah sakitin Safira ] tulis Gita dipesannya.
[ Maksud kamu apa sekarang jadian sama Safira, setelah kemarin kamu ungkapin perasaan ke aku? ] imbuh Gita.
[ Demi apa pun gua mohon Hans, jangan sakitin Safira. Dia ga tau apa-apa. ] pinta Gita dalam pesannya.
Aku hanya membaca tanpa membalasnya. Karena aku juga tak mengerti apa yang harus aku sampaikan ke Gita.
"Oh ya, yang katanya kamu nyari, nyari apa? Jadi mau cerita?" ujar Safira sembari menyetir.
"Oh soal itu. Yah makanya aku bahas waktu dihotel kita sarapan. Yang soal kamu emang bisa nerima cowok kaya aku. Itu karena saat ini aku belum kerja lagi dan soal nyari-nyari. Aku udah bilang sama Ibu mau nyari-nyari kerjaan disini setelah menghadiri undanganmu," tuturku tulus.
"Kebetulan banget tau. Aku masih butuh orang buat pegang butik aku yang disini. Bayangin gimana ga keren coba. Butik yang di Surabaya dihandle sahabatku. Butik yang di Bandung dihandle pacarku. Dua orang yang sangat berarti dan sangat aku percayai. Mau ya please?" pinta Safira membujukku.
"Ehh aku ga ngerti soal butik loh, sebelumnya juga ga ada pengalaman," ujarku.
"Soal itu gampang. Bareng sama aku ngerintis butik yang disini," ungkap Safira memberikan solusi.
"Aku ga tau lagi Fir harus berterimakasih gimana ke kamu. Baru kali ini aku dapetin wanita sebaik kamu," ucapku yang entah aku sendiri bingung, mengandung ketulusan atau tidak.
"Jangan gitu nanti aku terbang," jawab Safira polos sembari tersenyum.
Tak terasa hari mulai sore. Aku dan Safira memutuskan untuk kembali ke hotel. Sesampainya dihotel Safira yang masih dimabuk kasmaran ikut masuk ke kamarku. Dikamar hotel kita melanjutkan obrolan. Dengan Safira menceritakan masa lalunya.
__ADS_1
"Aku dulu pernah jatuh cinta tapi ga seindah dan seistimewah sekarang," ucap Safira yang duduk dikursi sebelah ranjang hotel.
"Emang dulu jatuh cintanya gimana?" tanyaku sembari melepas kemeja.
"Yah mungkin karena masa kuliah dan aku terlalu fokus belajar akhirnya ga banyak kenangan yang tercipta dimasa-masa itu," tuturnya.
"Emang setelahnya ga pacaran lagi?" tanyaku.
"Aku pacaran cuma sekali waktu kuliah doang, setelah wisudah aku pikir akan banyak waktu buat pacaran dan kaya orang-orang kebanyakan menikmati masa mudanya. Ternyata aku ga gitu. Pasca wisudah aku malah lebih fokus bekerja dan ketemu Gita," ujar Safira.
"Bisa dibilang masa remajamu kelam untuk percintaan," ucapku meledek dan menahan tawa.
"Iya yaahhh puas kamu," jawab Safira manja.
"Hehehe," senyumku sembari memeluk Safira dari belakang.
Aku terkejut ketika Safira membalikan badannya dan memelukku dengan eratnya dan berkata.
"Aku sayang banget sama kamu Hans," ucap Safira dalam pelukanku.
Mendengarnya aku hanya membalas dengan memberikan pelukan yang sama eratnya. Setelah beberapa saat aku melepaskan pelukan Safira dengan mencium keningnya.
"Istigfar Fir. Maaf ya, aku takut keterusan," ucapku.
"Astagfirullah iya sayang," kata Safira seakan baru sadar.
"Udah ga apa-apa, yang penting kita masih sadar dan jangan sampai khilaf," tuturku melepaskan pelukan dan mengusap kepalanya yang dibalut jilbab.
"Yaudah kalo gitu aku balik kamarku. Mau mandi mau sholat mau minta maaf dan mau bersyukur sama Allah udah dikasih kamu buat aku," tutur Safira.
"Yaudah sayang," ucapku yang kembali mencium keningnya.
Setelah Safira keluar kamar, aku merebahkan tubuh dan menyesali semuanya. "Tak seharusnya aku bersikap seperti ini ke safira. Aku tak ada perasaan sama sekali ke Safira. Ya Tuhan munculkanlah perasaanku untuk Safira. Jadikan dia jodohku," gumamku didalam kegelisahan.
Aku memutuskan untuk keluar hotel dengan berjalan kaki. Tanpa tujuan yang jelas aku pun tak memberi tau Safira. Dan tak membawa HPku yang baru aku charger. Suasana Bandung menjelang magrib ramai kemacetan. Melihat masjid aku singgah untuk menunaikan kewajiban. Setelah dari masjid aku melanjutkan langkahku. Berharap Tuhan memberi petujuk untukku. Untuk mengartikan semua yang aku alami sekarang.
Safira sangat baik, dia memberikan segalanya untukku. Seakan semua harapan dia curahkan hanya untukku. Sedangkan aku sedikitpun tak memiliki perasaan sayang. Sekedar kasihan. "Ya tuhan munculkanlah perasaan sayang dari rasa kasihanku ke Safira," lagi aku terus berdoa. Karena aku tak ingin menyakiti Safira.
Di taman dekat hotel tempatku meninginap. Aku duduk sembari mengisap berbatang rokok. Terlihat penjual kopi keliling, aku pun membelinya.
"Mang, kopi hiji," ucapku.
"Siap, mangga diantos," jawab mamang penjual kopi.
"Ini a kopinya," tutur mamang menyodorkan kopi dengan gelas plastik.
"Hatur nuhun," jawabku sembari membayarnya.
Aku mengahabiskan banyak waktu ditaman, tak sadar jam ditangan menunjukan pukul 22.30, aku pun kembali ke hotel.
Sesampainya dilorong hotel menuju kamarku. Aku melihat Safira didepan pintu kamarku sembari menangis. Aku menghampiri dan menanyakan apa yang terjadi.
"Kamu kenapa?" tanyaku sembari membuka pintu dan memapah Safira masuk kamarku.
"Kamu dari mana aja?" tanya Safira masih dengan tangisnya.
"Aku dari luar, sholat magrib sama isya dimasjid," jawabku sembari memeluk Safira menenangkan.
"HP dihubungi ga angkat, aku panik nyari-nyari kamu," protes Safira dalam pelukanku.
"Iya maaf sayangku," ucapku menenangkan Safira.
"Kalo sholat doang kok sampe selarut ini baru balik?" tanya Safira.
"Tadi ditaman deket hotel ada tukang kopi, aku beli dan menikmati suasa Bandung malam hari. Aku juga ga sadar tiba-tiba udah jam setengah sebelas," tuturku menjelaskan.
Safira masih dengan tangisnya merebahkan tubuh diranjangku.
"Sekali lagi maaf ya sayang udah bikin kamu khawatir," ucapku ikut merebahkan tubuh disamping Safira dan memeluknya.
Entah ini jalan takdir kita atau bagaimana. Aku dan Safira terlelap disatu ranjang yang sama. Hingga fajar subuh menjelang aku terkejut terbangun mendengar teriakan Safira.
"Aahhhkkkkhhhhh," teriak Safira.
"Kamu kenapa?" tanyaku sebelum aku juga teriak kaget.
"Aaakkhh astagfirullah, apa yang udah kita lakuin? Tanyaku yang baru menyadari ternyata kita tidur bersama.
Safira bergegas meninggalkan kamar hotelku dan kembali ke kamarnya. Aku yang melihat jam yang masih menunjukan pukul setelah lima pagi. kemudian aku bergegas untuk menunaikan sholat subuh. Setelah itu aku ke kamar mengetuk kamar Safira.
"Tok tok tok. Assalmualaikum," salamku.
"Waalaikumsalam," jawab Safira sembari membuka pintu.
"Maafin aku Fir, aku ga berniat dan ga bermaksud," jawabku sembari masuk ke kamar hotel Safira.
"Udah lupain aja, aku juga salah semalem panik ke kamarmu," jawab Safira.
"Tapi aku ga ingat kalo kita udah ngapain aja semalem, seingetku aku cuma tidur dan terbangun mendengar teriakanmu," tuturku.
"Iya memang kita ga ngapa-ngapain kok. Aku juga inget kalo aku cuma tidur diranjangmu," ujar Safira yang aku dengar melegakan hati.
"Kita khilaf Fir. Aku ga mau ini terjadi lagi sebelum kita halal," ucapku.
"Kamu mau temuin ortuku buat bicarain pernikahan kita?" tanya Safira.
"Iya aku mau. Setelah acara besok kita atur waktu ketemu orang tuamu ya," ungkapku.
"Iya sayang terimakasih," jawab Safira mencium tanganku setelah terlihat dia masih pakai mukenah menandakan dia baru selesai sholat.
__ADS_1
Aku hanya mengelus kepalanya dan pamit kembali kekamarku. Sembari terus bersyukur karena semalem aku dan Safira sama-sama ingat hanya tidur bersama tanpa melukakan perbuatan dosa.
Aku biarkan semuanya mengalir seperti semestinya. Aku hanya berusaha agar tidak menyakiti Safira. Dan aku yakin kelak ada perasaan cinta untuk Safira, jika memang Safira jodohku dunia ini.