
Sore ini aku diselimuti perasaan hati yang seakan berbunga-bunga. Menandakan kebimbangan yang sudah sirna. Aku memilih untuk menerima Bu Gita dan menjadi bagian hidupnya.
Sepulang kantor aku menunggu angkot arah rumah sakit Hermina. Dengan perasaan antusias ku bawa harapan untuk aku berikan kepada Bu Gita. Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit aku hanya diam dan membayangkan bagaimana bahagianya Bu Gita yang selama ini perasaannya tak berbalas. Sekarang aku datang dengan niat meminangnya. Segala kebahagiaan masih menyelimuti perasaanku.
Sesampainya dirumah sakit, aku menuju ruang rawat Bu Gita.
"Assalamualaikum," salamku memasuki ruang rawat Bu Gita.
"Waalaikumsalam," jawab Bu Gita dan Mamahnya serentak.
"Silahkan masuk Nak Hans," sapa Mamah Sari.
"Bagaimana keadaan Bu Gita?" tanyaku.
"Alhamdulillah sudah membaik, besok sudah boleh pulang," jawab Mamah Sari.
"Alhamdulillah," jawabku.
Kita pun mengobrol dengan saling memperkenalkan diri dan menceritakan kehidupan sehari-hari. Disini aku dapati perlakuan Mamah Sari yang baik semakin mendorong niatku untuk mempersunting anaknya.
Beberapa saat kemudian Mamah Sari izin untuk keluar karena adeknya Mamah Sari sudah didepan RS.
"Mamah keluar dulu ya. Nih om sudah nunggu didepan RS," izin Mamah Sari.
"Iya Bu hati-hati," jawabku.
"Mah minta tolong sekalian beliin Tata buah," titip Bu Gita dengan suara yang masih lemas.
"Iya nanti Mamah beliin," jawab Mamah Sari sekaligus berlalu keluar.
"Kamu kok sendirian. Mana solmetmu Fa'iq?" tanya Bu Gita yang masih berbaring diranjang RS.
"Iya sengaja tadi pulang langsung kesini. Fa'iq udah pulang duluan dia," jawabku.
"Oh ya aku...," ucap Bu Gita.
"Aku...," ucapku.
Secara berbarengan yang seketika hening dan membuat suasana canggung.
"Kamu dulu deh," suruh Bu Gita.
__ADS_1
"Kamu aja dulu, aku dengerin," jawabku.
"Iya tadi pagi aku lupa nyampein, kalo Safira nanya-nanya soal kamu. Kayanya Safira naksir kamu," ucap Bu Gita.
"Emang awalnya gimana?" tanyaku.
"Yah Safira nanya soal kamu. Aku jawab kalo kamu bawahan aku dikantor, erus orangnya baik, lucu juga," tutur Bu Gita.
"Terus?" tanyaku.
"Terus aku tanya dia kan. Ciye nanya-nanya naksir ya? Terus dia cuma senyum-senyum malu," ucap Bu Gita.
"Oh," jawabku singkat.
"Kok cuma Oh sih? Emang kamu ga suka sama dia? Emang kamu ga mau sama dia? Niatku mau jodohin kalian loh," tutur Bu Gita.
"Apaan sih pake jodoh-jodohan segala," jawabku.
"Hans, Safira itu wanita baik-baik, dia ga kaya aku bahkan jauh beda. Dan yang terpenting dia sahabat aku. Kamu tau sendirikan dia mau bantu aku cuma-cuma. Aku pengen liat dia bahagia dan aku yakin dia bisa bahagia sama kamu," ucap Bu Gita dengan nada yang serius.
Aku yang datang berniat mengungkapkan semua perasaanku kepada Bu Gita menjadi bimbang. Melihat semangat Bu Gita ingin menjodohkanku dengan Safira sahabatnya.
"Kok malah bengong sih?" seru Bu Gita mengejutkanku.
"Oh ya tadi kamu mau ngomong apa?" tanya Bu Gita.
"Ga jadi ga penting hehehe," jawabku mengalihkan.
Tidak berselang lama Mamah dan Omnya Bu Gita masuk ruangan rawat Bu Gita. Karena aku tidak mau mengganggu obrolan keluarga. Aku memutuskan untuk pamit undur diri.
Singkat waktu aku sudah dikontrakan. Dan lagi aku mendapatkan kekecewaan. Kenapa semua yang aku inginkan selalu menjauh? Kenapa yang aku anggap benar takdir berkata sebaliknya? Aku tak mengerti lagi akan perasaan dihati. Mungkin hanya Via yang mampu pulihkan aku dari semua yang melukaiku.
Via mempersembahkan yang wanita lain bahkan tiada terpikirkan. Aku menyimpan pemberiannya jauh didasar hatiku. Sehingga ketika dunia tak henti menggrogoti kebahagiaanku. Aku buka kembali pemberian Via dalam hati ini. Iya, memang tak nyata tapi melegakan dan memberi semangat yang bertubi-tubi, untukku kembali menjalani hari. Aku menanti Via disini, dimana semuanya ada dan nampak nyata. Via adalah cinta, Via adalah rasa dan Via adalah jiwa yang memberi warna disisa nafasku. "Jangan teruskan apa pun yang menghalagimu tertawa," kata Via merangkulku dari belakang. "Iya sayang," jawabku lega menyadari kedatangannya disini. Tempat ini selalu aku rindukan. Bersama Via ku lupakan yang menjadi beban. Air terjun tinggi itu, tak ada diduniaku. Airnya yang jernih lagi menyegarkan, setetes pun tak ku temui diduniaku. Dan Via seharusnya tidak hanya ditempat ini. Temani dalam khayalku juga nyataku.
"Kring kring," dering telponku berbunyi. Membuarkan khayalan yang sedari tadi menemani.
"Halo, Assalmualaikum," salamku setelah mengangkat telpon, yang ternyata dari Bu Gita.
"Waalaikumsalam," jawab Bu Gita.
"Sebentar aku tambahkan," imbuh Bu Gita yang ternyata menambahkan panggilan ke Safira.
__ADS_1
"Halo, Assalamualaikum," salam Safira setelah terhubung.
"Ada yang bisa dibanting?" tanyaku membuka perbincangan.
"Lagi ga sibuk kan?" tanya Bu Gita.
"Aku ga," jawab Safira.
"Aku sibuk banget, saking sibuknya ketiduran barusan," jawabku gurau.
"Hahahaha," tawa kecil Safira terdengar.
"Emang orang gitu kocak," imbuh Bu Gita.
"Hehehe ga ni serius ada acara apa sampe teloon bertiga gini?" tanyaku.
"Ga ada acara apa-apa, cuma boring aja terus pengen ketawa, karena pasti terhibur walupun cuma ngobrol sama kamu," tutur Bu Gita.
"Udah kaya pelawak ya?" celetuk Safira.
"Jangan dengerin Mak Lampir Fir, dia mah gitu agak-agak," ucapku.
"Ga usah kumat yah," seru Bu Gita mulai kesal.
"Hahahaha kok Mak Lampir?" tanya Safira.
"Kamu sahabatnya dari masa ga pernah liat dia marah? Dan pas marah mirip banget Mak Lampir," tuturku sembari tertawa.
"Aku nelpon bukan untuk dibully ya," ujar Bu Gita protes.
"Iya ih kasihan sahabatku. Nih aku mau ngundang buat acara lounching butikku yang dibandung minggu depan," ucap Safira mengundangku datang ke bandung.
"Wuiihhh selamatnya. Mudah-mudahan lancar," tuturku.
"Aamiin," jawab Safira dan Bu Gita serentak.
"Aku in Shaa Allah dateng," jawab Bu Gita.
"Kalo aku gimana bosku aja Fir," ucapku.
"Pokoknya aku bakalan seneng banget kalo kalian bisa dateng," tutur Safira.
__ADS_1
"Oke deh kita usahain," jawab Bu Gita.
Perbincangan telpon diakhiri dengan Bu Gita menyanggupi undangan Safira. Aku yang masih belum berdamai dari kejadian hari ini sama sekali tidak memperdulikan undangan itu. "Git, aku kira kamu Viaku. Aku sudah jatuh cinta, setelah perasaanmu yang aku tau juga cinta sama aku. Tapi kenapa? Kenapa ketika aku sudah mencintaimu, kamu berfikir untuk menjodohkanku dengan Safira. Apakah cinta dihatimu hanya sesaat untukku? Apakah sebenarnya tiada rasa cinta dihatimu untukku? Mengapa sesingkat itu kamu mudah mengabaikan rasa cintamu untukku? Atau atas nama sahabat kamu memilih mengabaikan perasaanmu? Sungguh Git aku tak tau lagi harus bagaimana memperlakukan perasaan ini," gumamku dalam hati.