
Jadikan semua yang kita temui dalam hidup sebagai pembelajaran untuk masa yang lebih baik lagi didepan. Aku yang pernah jatuh karena cinta dan juga pernah jatuh cinta. Tidak ingin gegabah dalam menggapainya. Dea wanita yang sampai saat ini terngiang di ingatan. Yang kemudian menjelma menjadi Via yang sekarang pun jarang aku temukan. Sangatlah syarat akan makna dalam hidupku.
Malam ini aku dan Bu Gita berniat menemui Safira teman Bu Gita. Setelah makan malam dilamongan depan kontrakan. Aku dan Bu Gita mulai jalan menggunakan mobil Bu Gita.
"Jadi kita ketemunya dimana?" tanyaku kepada Bu Gita yang lagi menyetir.
"Didaerah bandung," jawab Bu Gita.
"Bandung?" tanyaku kaget.
"Emang ngiranya dimana?" Bu Gita berbalik bertanya.
"Kirain masih disekitar Ibukota," jawabku.
"Safira tuh orang surabaya. Dia dibandung lagi ada urusan. Katanya survey lokasi buat buka cabang butiknya," ucap Bu Gita.
"Kerja bareng kamu dimana?" tanyaku.
"Dulu diperusahaan batik pekalongan, dia sebagai designer produk, aku yang urus expor impornya," terang Bu Gita.
"Wanita-wanita hebat," pujiku.
"Kalo Safira iya sampe dia sekarang punya banyak butik. Kalo biasa-biasa aja," ungkap Bu Gita.
"Bandung, lumayan jauh dong, ntar kalo cape gantian aku yang nyetir ya," tuturku menawarkan.
"Perasaan aku ga pernah liat kamu nyetir mobil deh, dikantor kamu seringnya pake motor. Emang bisa?" tanya Bu Gita.
"Eiiitttt sembarangan, bisa lah. Kalo mau aku ceburin ke jurang," jawabku memulai candaan.
"Diihhh serem amet. Mending aku yang nyetir dah," ucap Bu Gita sambil senyum.
Perjalanan dari Jakarta Bandung yang cukup melelahkan. Tak terasa hawa dingin bandung mulai menyerang. Tatkala aku dan Bu Gita mampir direst area kawasan Cimahi untuk sekedar ke taoilet. Kita melanjutkan perjalanan. Kurang lebih pukul 22.30 aku dan Bu Gita sampai ditempat tujuan. Disalah satu hotel didaerah Bandung tepatnya direstoran hotel tersebut. Dari kejauhan terlihat wanita yang berbalut hijab panjang melambai ke arah aku dan Bu Gita, yang ternyata itu Safira. Kita langsung menghampirinya.
"Hey lama kita ga ketemu," ucap Bu Gita yang langsung cipika cipiki.
"Iya udah lama banget," ucap Safira.
"Assalamualaikum," kataku sambil duduk.
"Waalaikumsalam," jawab Safira lembut.
Aku hanya mendengarkan percakapan mereka. Dan sesekali meminum kopi yang sudah dipesan. Beberapa saat kemudian aku lihat Bu Gita menangis setelah menceritakan masalahnya. Terlihat Safira juga menangis sembari merangkul Bu Gita.
"Yaudah kamu yang tenang ya, sekarang aku transfer duit buat gantiin duit kantormu," tutur Safira menenangkan Bu Gita.
__ADS_1
"Makasih banget ya Beb," ucap Bu Gita sembari mengusap air matanya.
"Mas makasih banget ya udah bantuin sahabat aku," kata Safira kepadaku.
"Iya sama-sama," jawabku singkat.
Tak terasa malam mulai larut. Safira menawarkan untuk menginap dihotel pun ditolak sama Bu Gita karena ada aku. Akhirnya kita berpamitan untuk kembali ke jakarta.
"Kamu nginep disini?" tanya Bu Gita kepada Safira.
"Iya aku nginep udah tiga hari. Rencananya besok urusanku kelar balik lagi ke surabaya," tutur Safira.
"Yasudah semoga usahamu semakin lancar. Aamiin," doa Bu Gita.
"Aamiin ya Allah," jawab Safira.
"Aku sama Hans pamit ya. Assalamualaikum," pamit Bu Gita sekaligus salaman.
"Hati-hati ya. Waalaikumsalam," jawab Safira.
Aku yang sedari tadi hanya memperhatikan mereka. Merasakan kagum melihat dua wanita hebat yang berwawasan luas dan mapan dari segi ekonomi. Namun kekagumanku harus aku hentikan sampai disini saja. Karena aku dan Bu Gita bergegas pulang ke jakarta.
"Bu hati-hati ga usah ngebut asal selamat sampe tujuan," ucapku setelah memasuki mobil
"Iya santai aja. Sekarang jam berapa?" tanya Bu Gita.
"Jam 00.00 kita sampai," ucap Bu Gita.
"Woy apaan, jangan ngebut udah malem," protesku.
"Hehehe iya ya," jawab Bu Gita mulai menyetir.
Sepanjang perjalanan pulang ke jakarta. Kita mengobrol perihal rencana berikutnya. Setelah uang kantor sudah diganti dan Pak Dirut sudah tidak punya senjata lagi untuk mengancam Bu Gita.
"Setelah urusan dengan Pak Dirut selesai aku bakalan ke Surabaya bantuin Safira disana," ungkap Bu Gita.
"Terus?" tanyaku.
"Aku ga bisa hidup bareng mamah dengan janin diperutku. Aku juga ga sanggup kalo harus mendengar mamah dihujat orang-orang karena anaknya hamil setrlah menjanda," tutur Bu Gita haru.
"Kalo memang itu yang terbaik, aku selalu dukung kamu," jawabku.
"Kamu ga mau menahanku gitu? Biar ga ke surabaya?" protes Bu Gita sembari menyetir.
"Emang aku harus nahan ya?" jawabku polos.
__ADS_1
"Tau ah," jawab Bu Gita kesal.
Aku yang sebenarnya mengerti arah obrolan ini, memilih untuk pura-pura tak mengerti. Karena sejujurnya aku belum tau sebagai apa kamu dihatiku? Aku takut cuma rasa belas kasih. Aku takut cuma rasa sesaat karena intensitas kebersamaan kita yang sering akhir-akhir ini. "Maaf Git aku belum bisa memaknai rasa dihati ini," gumamku dalam hati. Aku pun mengalihkan obrolan dengan menanyakan tentang Safira.
"Ceritain dong soal Safira? Bisa sebaik itu mau bantu kamu," pintaku.
"Ciye kamu naksir ya?" tanya Bu Gita.
"Ga lah. Aku mah tau diri kali," jawabku mengelak.
"Iya jadi Safira tuh awalnya sahabat sewaktu SMA, terus kuliah bareng juga, terus sewaktu kita udah lulus aku dapet kerja duluan diperusahaan batik. Terus Safira aku masukin juga diperusahaan itu. Sampai akhirnya dia resign karena pengen buka butik. Waktu itu dia beneran ngerintis dari nol. Aku juga sempet bantu pas usaha dia lagi kalap. Dia bangkit dan sukses sampe sekarang. Malah mau buka cabang lagi kan," terang Bu Gita.
"Oh pantesan. Kamu orang baik makanya ketemu orang-orang baik pula, kaya Safira," pujiku.
"Kenapa kamu ikut resign?" tanyaku.
"Ketemu Pak Dirut terus ditawarin jabatan dan gaji yang lebih besar dari perusahaan batik, makanya aku mau," jawab Bu Gita.
"Setelah resign udah ga pernah ketemu Safira lagi?" tanyaku.
"Semenjak Safira resign kita ketemu cuma sesekali. Setelah aku resign dan pindah ke jakarta, udah sama sekali ga ketemu. Baru tadi kita ketemu lagi," tutur Bu Gita.
"Seneng dengerinnya, perjuangan sahabat yang saling bantu," ucapku terkagum.
Tak terasa perjalanan sudah sampai dijakarta. Tepatnya pukul 01.20 kita sampai dikontrakanku.
"Besok aku ga masuk ah," kata Bu Gita sebelum aku turun dari mobilnya.
"Iya capek pastinya," jawabku menanggapi.
"Aku boleh nginep disini ga?" tanya Bu Gita dengan nada bercanda.
"Eittt jangan dong nanti terjadi hal-hal yang diinginkan hahaha," jawabku menolak halus.
"Hehehe yaudah aku pulang ya," pamit Bu Gita.
"Iya Git hati-hati," ucapku sembari turun dari mobilnya.
"Assalamualaikum," salam Bu Gita.
"Waalaikumsalam," jawab melihat mobil Bu Gita mulai melaju.
"Walaupun ga nyetir badan terasa pegal. Apa lagi Bu Gita yang nyetir," gumamku berjalan masuk kontrakan.
Karena kelelahan aku pun langsung menjatuhkan tubuh diperbaringan. Tentunya dengan perasaan yang senang, karena kemungkinan menikahi Bu Gita secara paksa sudah bisa aku tolak. Tidak lain karena Bu Gita berhasil mendapatkan uang untuk mengganti uang kantor. Sungguh perjuangan Bu Gita sangat sangat lah hebat. Bisa melewati ujian yang menurutku sangat dasyat.
__ADS_1
Entah sekarang Via dimana. Hari-hariku terpenuhi memuji dan mengagumi sosok Bu Gita. Dan entah apakah sosok Via ada dalam diri Bu Gita. Segalanya menjadi sungkar untuk aku artikan.