Langit-Langit Angan

Langit-Langit Angan
Terserah Takdir Saja


__ADS_3

Ketika kegelisahan bersarang dihati. Rasa bersalah kian menghantui. Ketika itu lah hati akan mencari yang Maha Tinggi. Mengadukan apa yang dirasanya. Memohon pertolongan agar disegerakan menemukan ketentraman hati. Begitulah kebanyakan manusia, seperti aku.


Selepas kejadian semalam, dibutik aku hanya termenung sembari kembali mencoba menelpon Safira. Dari semalam sampai sekarang nomernya belum bisa dihubungi. "Apa aku susul ke Surabaya aja ya?" pikirku mencari solusi. Tapi nanti ga ada yang handle butik, secara semua karyawan masih baru. Belum bisa aku percaya sepenuhnya. Aku mencoba menelpon Gita. Namun ketika panggilan berdering, Gita malah menolaknya. Aku pikir Gita sedang bersama Safira. Akhirnya aku coba abaikan urusan asmara. Untuk menyibukan diri dalam bekerja.


"Kring kring," HPku berdering, panggilan masuk yang ku kira dari Safira atau Gita ternyata dari Fa'iq. Aku pun menjawabnya.


"Halo bro. Assalamualaikum," salamku setelah mengangkat telpon Fa'iq.


"Waalaikumsalam bro. Lu lagi sibuk ga?" tanya Fa'iq setelah membalas salamku.


"Ga bro lagi nyantai aja. Ada yang bisa dibanting bro?" ujarku lesu sekaligus menanyakan maksud Fa'iq menelpon.


"Gua liat story WA Gita semalem kaya yang lagi sedih banget. Kenapa lagi dia ya?" tanya Fa'iq.


"Emang dia bikin story apa?" tanyaku sebelum menjawab pertanyaan Fa'iq.


"Yahh gitu, intinya ngerasa bersalah dan menyalahkan dirinya seolah-olah ga tau diuntung, gitu yang gua inget, emang lu ga baca?" tutur Fa'iq.


"Di gua ga ada story dia bro, diblokir kali," jawabku.


"Lah lu kenapa lagi sama Gita?" tanya Fa'iq.


"Iya jadi semalem pas abis telponan sama lu gua mandi terus mau tidur. Pas mau tidur Gita nelpon, pengennya ga gua angkat tapi kepikiran barangkali ada yang penting. Akhirnya gua angkat. Baru saja gua angkat dan ngobrol sebentar tiba-tiba dimatiin sama Gita. Ternyata Safira kesitu bro dan denger kalimat terakhir Gita," tuturku menjelaskan.


"Kalimat love you?" tanya Fa'iq.


"Ga lah. Gita baru ngomong katanya perasaannya gelisah ga bisa tidur," ucapku.


"Emang lu udah jadian sama Safira?" tanya Fa'iq.


"Udah bro dari gua sehari di Bandung," jawabku.


"Emang pangeran cinta gampang banget ngegaet cewek," sindir Fa'iq.


"Yahh lu tau sendiri gua jomblo bertahun-tahun," tuturku.


"Itu karena lu ga nyari, sekalinya nyari dapet dua wkwkwk," ujar Fa'iq tertawa puas.


"Ah bisa aja lu, yaudah gua lanjut kerja dulu ya," ucapku pamit akhiri panggilan.


"Oke, Assalamualaikum," salam Fa'iq.


"Waalaikumsalam," balasku mengakhiri panggilan.


Aku mencoba kembali menelpon Safira. Tetapi nomornya belum bisa dihubungi. Aku yang bingung harus berbuat apa, hanya bisa merenung diruangan kerja.


Untuk sekedar menghilangkan suntuk, aku keluar dan duduk dihalaman butik. Hanya memperhatikan lalu lalang pengunjung butik. Tak terasa matahari sudah diatas ubun-ubun. Aku yang dari tadi pagi belum makan, perut terasa sangat lapar. Aku memutuskan untuk mencari makan siang disekitaran butik. Tidak jauh dari butik, aku menemukan mie ayam yang kelihatannya enak. Aku masuk ke kedai mie ayam dan memesan satu porsi. Sambil menunggu pesanan, aku kembali mencoba menghubungi Safira dan nomornya masih tidak aktif.


Pesanan mie ayam pun datang. Dengan lahap aku menghabiskannya. Setelah selesai makan siang, aku kembali ke butik. Didalam ruangan kerja, aku mencoba menyibukkan diri. Berharap dapat mengalihkan yang saat ini membebani pikiranku.


Ketika hari mulai sore dan aku yang disibukkan oleh pekerjaan, dapati ternyata sudah waktunya untuk pulang. Pengunjung butik juga sudah mulai sepi. HPku yang sedari tadi disaku berdering tanda panggilan masuk. Yang aku lihat ternyata dari Gita.


"Halo. Assalamualaikum," salamku setelah mengangkat telpon.


"Halo. Waalaikumsalam, sorry tadi pagi ga bisa angkat telponmu, tadi seharian aku sama Safira," tutur Gita.


"Terus bagaimana dia sekarang?" tanyaku.


"Kayaknya kamu harus kesini deh," usul Gita.


"Hah! Seriusan?" tanyaku.


"Iya, nanti kita jelasin bareng-bareng. Sekalian kamu ketemu ortunya Safira. Soalnya walaupun Safira ga nunjukin keselnya, tapi dia masih ketus sama aku. Padahal aku udah jelasin berkali-kali," ujar Gita.


"Yaudah besok aku kesana," jawabku menyetujui usulan Gita, karena aku pikir emang baiknya kalo dijelaskan langsung.


"Oke deh ditunggu kedatangannya besok. Nanti aku share lokasi kalo kamu sudah dibandara," ucap Gita.


"Iya siap. Oh ya bilangin Safira nomernya suruh aktifin," pintaku.


"Ga bakalan mau dia sebelum masalahnya kelar," jawab Gita.


"Ngeri banget kalo lagi marah," ungkapku menilai Safira.


"Yah emang gitu, dulu marah sama keluarganya juga gitu, seminggu ga aktifin HP," tutur Gita memberi tahu.


"Yaudah besok aku jalan dari sini," ucapku kembali menegaskan.


"Oke Hans makasih," kata Gita.


"Iya sama-sama," jawabku.


Obrolan dengan Gita diakhiri, aku memesan tiket pesawat untuk besok. Kemudian aku pulang ke kost.


Sesampainya dikost aku mandi dan membereskan kost yang sudah mulai berantakan. Sembari sesekali mengirim pesan WA ke Safira walaupun masih centang satu atau tidak terkirim.


Dengan sikap Safira yang seperti ini, aku rasakan bukannya semakin memunculkan rasa sayangku melainkan memadamkan api asmara yang sedari kemarin aku coba nyalakan dengan pemantik kebaikan Safira dan rasa belas kasihanku kepadanya. "Memang dasarnya ga ada perasaan sayang. Dipaksakan pun malah jadi hambar gini," gumamku sembari merebahkan tubuh diranjang.


Via, aku sangat merindukanmu. Situasi ini tidak pernah aku harapkan terjadi. Aku kira jalan takdirku akan semakin mudah, tapi nyatanya sama saja. Segalanya menguras pikiran dan energi. Aku lelah dengan semua yang ada. Gita yang dengan keangkuhannya. Safira dengan keegoisan yang tiada tara. Aku ingin meninggalkan semua ini. Hidup dikampung menjadi petani seperti Sentot kawan masa kecilku. "Apa aku pulang aja ya, dan buang kartu jual HP hidup apa adanya dikampung?" sempat terlintas dipikiranku untuk mengambil keputusan itu. "Sayang, kamu kuat kamu terbiasa menghadapi situasi berat," ucap Via dalam anganku. "Aku kesal Via, aku benci semuanya," jawabku. "Sabar dan tegar, mungkin setelah ini ada kebahagiaan yang ketika kamu rasakan, kamu tidak bisa membalas syukur yang setara atas nikmat dan kebahagiaan yang Tuhan berikan," ungkap Via dengan lembutnya. Aku yang termenung mendengarkan Via, kembali berpikir jernih. Untuk tak menjadi pecundang yang kabur meninggalan persoalan yang belum terselesaikan. Menghilang hanya akan membuatku tak jantan. "Benar kamu Via. Aku akan selesaikan masalah ini," gumamku termotivasi.

__ADS_1


Aku terlelap lebih awal malam ini. Karena letihnya badan dan lelahnya pikiran. Aku berharap mimpi yang datang, sedikit mengurangi bebanku dikenyataan.


Pagi yang cerah untuk aku yang bersiap terbang ke Surabaya. Setelah semuanya siap, aku memesan taksi online untuk mengantarku ke bandara. Karena mobil Safira kemarin aku tinggalkan di butik. Sesampainya di bandara, setelah melakukan boarding pass dan menunggu beberapa menit, waktu pemberangkatan pun tiba. Aku bergegas masuk kedalam pesawat yang akan membawaku ke Surabaya. Enam jam kemudian, saat pesawat landing di bandara Surabaya, aku menuju ke lokasi yang sudah Gita kirimkan. Aku menggunakan taksi online untuk menuju kesana. Empat puluh menit perjalanan dari bandara, aku telah sampai di Safashion Boutique yang ada di Surabaya. Kemudian aku masuk dan bertemu Gita yang terlihat sedang merapihkan display. Gita terkejut melihat kedatanganku.


"Kok nggak ngabarin kalo sudah sampai?" tanya Gita.


"Mau makan dulu atau mau langsung ketemu Safira diatas?" tanya Gita lagi.


"Ketemu Safira dulu aja, biar masalah cepat kelar," ucapku.


"Yaudah ayo. Tapi kamu harus bersikap manis biar Safira luluh," saran Gita.


"Iya ayok," kataku menyetujui.


Aku diantar Gita menuju ke lantai dua. Sesampainya di lantai dua, ketika Safira melihatku, dia terlihat terkejut sekaligus menghentikan aktivitasnya.


"Assalamualaikum," salamku kepada Safira.


"Waalaikumsalam. Kok kamu disini?" tanya Safira.


"Ya gimana lagi, dari pada aku mati penasaran, dari kemarin ga nafsu makan, ga bisa tidur kepikiran sama cewek yang kayaknya HP nya di jual," tuturku.


Seketika Gita tertawa dan Safira yang terlihat menahan senyum. Safira mempersilahkan aku duduk disofa yang berada didepan meja kerjanya.


"Ga usah ngelawak. Ga lucu," ucap Safira jutek.


"Udah dong marahnya. Kamu tuh cemburu buta. Aku sama Gita cuma berteman, ga lebih," tuturku menjelaskan.


"Iya beb. Aku juga tau diri, mana mau Hans sama aku yang berstatus janda," imbuh Gita.


"Maafin aku ya," ucapku.


"Aku juga minta maaf ya beb," tambah Gita.


"Iya ya aku maafin. Aku juga minta maaf ke kalian karena udah nyangka yang aneh-aneh," ujar Safira yang terlihat mulai percaya dengan apa yang aku dan Gita sampaikan.


"Jadi HP laku berapa?" tanyaku mulai bercanda.


"Ihh emang aku jual? Ga lah," jawab Safira.


"Loh sampe sekarang nomernya ga aktif," protesku.


"Iya nih aku aktifin," jawab Safira.


"Kayaknya aku harus izin lanjutin kerja dulu nih, dari pada ganggu hehehe," ucap Gita pamit meninggalkan aku dan Safira ruangan dioffice.


"Yaudah, Oh ya aku minta tolong dong beb, pesen makanan buat makan bareng disini, kasihan buat yang katanya dari kemarin ga nafsu makan," pinta Safira kepada Gita yang sekaligus menyindirku.


Aku dan Safira melanjutkan mengobrol, yang menandakan Safira sudah baik-baik saja.


"Butik yang disana gimana?" tanya Safira.


"Alhamdulillah lancar, pengunjung lebih ramai dari awal kita launching," jawabku.


"Alhamdulillah," kata Safira.


"Marahnya jangan kayak gini lagi ya, aku beneran bingung kalo kamu udah marah," pintaku.


"Iya sayangku," jawab Safira sembari menyandarkan kepalanya dibahuku.


"Kangen," ucapku sembari mengusap kepala Safira.


"Banget," jawab Safira memeluk tanganku.


Tidak sia-sia perjalananku dari Bandung ke Surabaya. Yang berhasil membujuk Safira sehingga sudah tidak marah. Sekaligus memberi kesenangan dihatiku. Yang jujur aku sangat rindu Gita. Aku terus membayangkan jika kedatanganku ke Surabaya bukan untuk Safira, tetapi untuk Gita. Aku yakin akan lebih indah. Aku juga tau apa yang dirasakan Gita saat ini. "Sabar Git, semoga Tuhan menguatkanmu dan menggantikan rasa sakitmu dengan nikmat yang bertubi-tubi," doaku dalam hati untuk Gita.


Setelah kita bertiga makan siang menjelang sore. Gita mengusulkan kepada Safira untuk mengenalkanku ke keluarga Safira.


"Beb, ajak Hans kerumah biar kenal tante sama om," usul Gita.


"Emang kamu udah siap?" tanya Safira kepadaku.


"Yang dimaksud siap gimana nih? Cuma ketemu kan?" tanyaku.


"Maksud Safira kamu udah siap kalo ditanya-tanya sama orang tuanya Safira?" tutur Gita menjelaskan kepadaku.


"Ya harus siap dong," jawabku.


"Yakin nih mau ketemu orang tuaku?" tanya Safira memastikan.


"Bebas, kalo aku siap-siap aja," jawabku.


"Selain mamah papah, dirumah juga ada kakaku cewek udah punya anak satu," tutur Safira memberi tahu.


"Mau kapan baiknya aku maen ke rumah?" tanyaku kepada Safira.


"Ntar malem aja," jawab Safira.


Setelah memastikan waktu untuk aku diperkenalkan kepada keluarga Safira. Aku dan Safira keluar untuk segedar berkeliling kota Surabaya. Sambil menyetir mobil Safira aku bercerita.

__ADS_1


"Dulu aku sering ke sini. Buat nonton konser," ucapku.


"Oh ya rumahmu kan di Malang ya, ga terlalu jauh dari sini," kata Safira.


"Iya, mau ke rumahku?" tawarku kepada Safira.


"Jangan sekarang aku belum siap ketemu calon mertua hehe," jawab Safira.


"Yaudah ga apa-apa ntar aja kalo udah siap," ujarku.


"Ini kita mau kemana?" tanyaku yang dari tadi nyetir tapi ga tau tujuan.


"Nyari tempat aja buat ngobrol, sambil nunggu maghrib," usul Safira.


Tetapi karena jalanan macet dan belum menemukan tempat untuk mengobrol, akhirnya kita memutuskan kembali ke Butik. Karena waktu juga hampir maghrib. Sesampainya dibutik aku bersiap untuk main ke rumah Safira.


Dengan rapih dan didandani Safira sama Gita. Aku dan Safira menuju rumah Safira. Sesampainya gerbang masuk dan memarkirkan mobil Safira, aku sangat terkejut melihat rumah yang megah.


"Ini rumahmu?" tanyaku.


"Iya lah kan kita mau ketemu keluargaku, masa ke rumah orang lain," jawab Safira bercanda.


"Kalo kamu mau tau, rumahku cuma sebesar garasi mobilmu," ucapku setelah turun dari mobil.


"Udah jangan ngomong gitu," ucap Safira.


"Oh ya kamu sebelumnya udah pernah cerita ke orang tuamu tentang aku?" tanyaku.


"Udah tapi cuma sekilas," jawab Safira sembari mengajakku masuk.


Setelah aku dipersilahkan duduk sama Safira dan Safira naik ke lantai dua rumahnya. Aku hanya terbelalak melihat rumah semewah ini. Apa mungkin orang sekaya Safira dan keluarganya mau nerima aku jadi menantu? Apa aku ga salah menyetujui ide Safira untuk main kesini? Segala pertanyaan berkecamuk di pikiran. Tetapi aku hanya menghela nafas panjang dan meyakinkan diri. Asal niat kita baik mudah-mudahan semuanya berjalan baik.


Cukup lama Safira dilantai dua rumahnya. Aku yang sedari tadi diruang tamu harus menelan ludah dan menghela nafas panjang. Tatkala melihat Safira dan orang tua serta kakaknya turun dari lantai dua. Aku bangun dari dudukku dan menyalami mereka.


"Assalamualaikum tante om kak," salamku sembari meraih tangan mereka untuk bersalaman.


"Waalaikumsalam," jawab mereka.


"Silahkan duduk," perintah ayah Safira dengan sedikit senyum.


Aku pun kembali duduk. Kemudian Safira membuka perbincangan dengan mengenalkanku.


"Salam kenal," imbuhku setelah Safira mengenalku ke keluarganya.


"Udah mamah ga mau basa-basi. Saya mau nanya, kamu berani datang kesini modalnya apa?" tanya mamahnya Safira dengan nada ketus.


"Mamah kok nanyanya gitu," protes Safira membelaku.


"Mohon maaf sebelumnya, yang dimaksud tante modal, apa ya?" tanyaku pura-pura lugu.


"Kamu deketin anak saya sudah punya apa?" tanya mamah Safira.


"Mah yang baik-baik dong ngomongnya," sela papahnya Safira.


"Kalo yang dimaksud tante adalah materi, mohon maaf saya belum punya apa-apa. Saat ini juga saya masih bekerja sebagai karyawannya Safira," jawabku apa adanya.


"Ya Ampun anakku yang satu ini, suka banget bikin mamah naik darah. Apa-apaan kamu ini ngenalin calon suami karyawannya sendiri," ucap mamahnya Safira dengan nada tinggi memarahi Safira.


"Mah, Hans ganteng dan baik hati banget. Fira sayang sama Hans bukan dari materi tapi dari hati," ungkap Safira dengan air mata yang mulai berlinang dipipinya.


"Sudah-sudah mamah pusing. Buat kamu jangan berani-berani deketin anak saya lagi. Mulai sekarang kamu dipecat jadi karyawan Butik," teriak mamah Safira memaki aku kemudian berlalu pergi kembali ke lantai dua rumahnya.


Aku yang shock dengan kejadian ini hanya kasihan melihat Safira harus dimarahi mamahnya gara-gara aku. Aku pun inisiatif untuk pamit ke om dan kakak Safira serta Safira yang terisak.


"Om, kak dan Safira saya pamit. Safira, kamu yang sabar. In Shaa Allah kalo kamu nurut sama mamah, kamu bakalan dapetin yang lebih baik dari aku. Karena ridho orang tua adalah ridho Allah. Assalamualaikum" tururku sembari berlalu. Meski tak tega melihat Safira yang semakin terisak.


"Waalaikumsalam," jawab om dan kakak Safira.


Setelah keluar dari rumah Safira, aku berjalan entah mau kemana. Aku benar-benar tidak menyangka akan terjadi seperti ini. Sedikitpun aku tidak sakit hati dengan ucapan mamahnya Safira. Karena aku tahu diri dan terlatih untuk tidak mendengarkan ucapan orang yang bersifat menyakiti. Aku hanya kasihan dengan Safira. Dia pasti sakit hati melihat kelakuan mamahnya sendiri.


"Yaudah lah mungkin emang bukan Safira jodohku. Ya Tuhanku kali bukan Safira jodohku apakah Gita?" doaku menghibur diri dengan berjalan kaki. Melihat warung dipinggiran jalan aku mampir untuk sekedar membeli rokok. Setelah menyulut rokok, aku melanjutkan berjalan dengan sesekali menghisap rokok.


Belum terlalu jauh dari rumah Safira tiba-tiba mobil Safira berhenti didepanku. Kemudian Safira turun dari mobilnya dan berlari memelukku. Dengan tangisannya yang belum usai. Karena malu dilihat orang-orang, aku memapah Safira untuk masuk kedalam mobil. Aku menyetirkan mobilnya.


"Aku anter pulang ya," usulku.


"Aku bakalan bunuh diri kalo kamu anter aku pulang," jawab Safira yang belum tenang.


"Jangan ngomong gitu, bunuh diri dosa. Terus kita mau kemana?" tanyaku.


"Bawa aku sesukamu asal aku didekatmu," jawab Safira.


"Ya Allah Safira, kamu ga boleh gitu. Nanti keluargamu khawatir," tuturku menasehati.


Safira hanya diam dan sesekali mengusap air matanya.


"Hans maafin mamahku ya," ucap Safira.


"Iya ga apa-apa kok," kataku.

__ADS_1


Dalam perjalanan yang entah mau kemana, aku terus menenangkan Safira. Setelah beberapa saat aku berhenti dimasjid untuk menunaikan kewajiban. Safira pun ikut bersamaku.


__ADS_2