Langit-Langit Angan

Langit-Langit Angan
Relakan Rasa


__ADS_3

Mentari diufuk barat melukiskan senja yang begitu indah. Secara perlahan petang melenyapkan keindahan. Dan kegelapan selimuti malam. Sesingkat itu kenikmatan pandangan direnggut waktu. Sesingkat aku yang ku kira tiba masa bahagia namun nyatanya tiada. Perasaanku tak tersampaikan, rasa sayangku tak pernah dia rasakan.


"Kring kring," dering telpon berbunyi, panggilan dari Fa'iq.


"Hallo. Assalamualaikum," salamku setelah menjawab telpon.


"Halo bro, Waalaikumsalam," jawab Fa'iq.


"Besok masuk bro?" tanya Fa'iq.


"Masuk bro, gimana?" jawabku sekaligus bertanya.


"Gua udah dapet alat yang bisa buat cari bukti kelakuan big bos," tutur Fa'iq.


"Besok bawa ke kantor bro," pintaku.


"Iya lah sekalian pasang, lu gua Gita sepulang kerja langsung pasang," ajak Fa'iq.


"Siap bro, lu kalo soal ginian pasti semangat banget. Harusnya lu jadi agen rahasia bro kaya difilm-film," ucapku memuji skill Fa'iq.


"Hahaha bisa aja lu. Gua tertarik dunia teknologi bro makanya selalu semangat kalo soal ginian," ujar Fa'iq.


Perbincangan ditelpon pun diakhiri karena Fa'iq akan keluar bersama istrinya.


Malam ini aku rasakan seperti malam-malam sebelum kedatangan Gita dihidupku. Merebahkan tubuh diperbaringan dan melepaskan angan hingga membumbung tinggi menyentuh langit-langitnya.


Via esok atau lusa dan seterusnya aku hanya ingin bersamamu. Menghabiskan setiap detik waktu dalam hidupku. Via, aku kira kamu menjelma menjadi Gita. Sosok yang saat ini aku butuhkan dan aku harapkan kehadirannya. Nyatanya kamu masih kamu, bukan Gita atau yang lainnya. Via, aku sudah merindukan hadirmu diduniaku. Setelah kesadaran yang aku dapati dari Gita. Aku yang terus menerus hidup dalam duniamu, sering mengabaikan duniaku. Sedangkan yang tidak bisa aku hindari adalah duniaku. Dan untuk duniamu yang rentan buyar, sangat aku inginkan ada dalam duniaku. Via, sadarkan aku dari ini.


Tak terasa malam yang kian larut melahap kesadaranku, hingga aku terlelap berbalut mimpi-mimpi.


Pagi pun datang. Dering alarm seakan membangunkan dengan mesrahnya. Aku terbangun dipagi yang mendung. Dimana sinar hagat mentari kali ini tidak aku temui. Aku bergegas berangkat kerja, setelah membersihkan diri dan menyempatkan membalas pesan diHP.


"Berangkat Hans," sapa Ibu kost yang melihatku melenggak setelah mengunci pintu kontrakan.


"Iya Bu biasa nguli hehe," jawabku.


"Hati-hati," ucap Ibu kost.


"Siap Bu. Assalamualaikum," salamku pamit.


"Waalaikumsalam," jawab Ibu kost melanjutkan menyapu.


Didepan gang kontrakan menunggu angkot, aku terkejut karena melihat Fa'iq dengan motor metiknya tiba-tiba berhenti didepanku.


"Ayok bro," ajak Fa'iq.


"Sengaja jemput nih? Tanyaku.

__ADS_1


"Yoi bro, gua tadi berangkat dari rumah pagi, sengaja mau nyamper lu dulu," jawab Fa"iq sembari memberiku helm.


"Baik banget, tiap hari napa kaya gini hahaha," tuturku meraih helm dan membonceng Fa'iq.


Aku dan Fa'iq berangkat ke kantor bersama. Dengan sesekali bercanda disepanjang perjalanan.


Sesampainya dikantor aku dan Fa'iq menuju ke kantin terlebih dahulu. Fa'iq menemani aku sarapan, dia hanya memesan kopi. Menunggu pesanan datang Fa'iq membuka obrolan.


"Nih bro alatnya," ucap Fa'iq menunjukan benda seperti pensil yang ternyata kamera.


"Dapet dari mana lu bro," tanyaku.


"Pinjem dari temen gua yang ikut kumpulan para hacker," jawab Fa'iq.


"Terus rencananya mau gimana?" tanyaku.


"Kamera ini dibawa Gita ketemu Pak Dirut. alat ini bisa ngerekam secara live, bisa langsung dimonitor lewat HP, asal konek internet" tutur Fa'iq menjelaskan.


"Oh maksud lu Gita suruh ketemu Pak Dirut dan bahas masalah mereka," ujarku yang mulai mengerti rencana Fa'iq.


"Betul. Ntar kalo udah dapet bukti rekaman mereka. Terserah lu sama Gita dah mau diapain," imbuh Fa'iq.


"Oke kalo Gitu ntar gua obrolin juga ke Gita," ucapku menyetujui.


"Oh ya btw gimana kabar Gita?" tanya Fa'iq.


"Kemarin sepulang kerja gua ke RS, alhamdulillah udah baikan. Harusnya hari ini udah boleh pulang," jawabku.


"Niatnya mau jagain tapi disana udah ada om nya Gita juga, akhirnya gua pulang," jawabku.


"Syukurlah kalo udah baikan," imbuh Fa'iq.


Pesanan sarapanku datang. Sembari sarapan kita melanjutkan obrolan. Aku pun menceritakan niatan Gita yang mau jodohin aku sama Safira. Disitu Fa'iq sepertinya menangkap gelatku yang sebenernya tak setujuh dengan perjodohan itu. Karena Fa'iq tau kalau aku sudah mulai ada rasa sama Gita.


"Tiktuk!" satu pesan WA masuk diHPku.


[ Nak, kerjanya yang semangat jangan lupa sarapan ] ucap pesan yang ternyata dari Ibu.


[ Siap Bu hehe ini juga lagi sarapan ] balasku.


"Lu sebebernya sayang sama Gita kan?" terka Fa'iq melihatku jeda makan membalas pesan WA.


"Yah gitu lah bro. Gua juga heran kok muncul perasaan buat Gita," jawabku jujur.


"Kemarin niat gua jagain Gita di RS buat sekalian ungkapin perasaan bro. Karena gua tau kalo Gita juga udah punya perasaan yang sama. Bahkan dia duluan kan. Lu juga tau itu," imbuhku menjelaskan.


"Terus?" tanya Fa'iq.

__ADS_1


"Yah gitu sebelum gua ungkapin semuanya, Gita malah cerita kalo Safira katanya naksir gua," jawabku.


"Lu sih kelewat ganteng kelewat baek. Makanya cewek-cewek kepincut," goda Fa'iq yang berniat menghibur.


"Apaan," ucapku singkat sekaligus menghabiskan menu sarapan.


"Terus lu mau aja gitu dijodohin sama Safira?" tanya Fa'iq.


"Gua mau nolak bro tapi Gita seolah-olah nitipin Safira biar gua jaga perasaannya. Gua juga heran emang sampai segitunya persahabatan. Rela acuhkan perasaan sendiri demi sahabatnya?" tuturku.


"Kalo menurut gua bro posisi Gita saat ini ya. Dia tuh udah berusaha relain lu karena dia pikir perasaan ke elu ga berbalas. Mungkin dia mikir kalo lu ga bakalan mau sama janda," ucap Fa'iq menyampaikan pendapatnya.


"Yah maksud gua emang segampang itu buat relain perasaan?" tanyaku.


"Pastinya ga gampang bro. Tapi lu tau kan Gita tuh orangnya setegar apa," ucap Fa'iq.


Mendengarkan pendapat Fa'iq tentang Gita membuatku berpikir keras. Apa iya yang dirasakan Gita seperti itu. Rasa kasihan dan kagum semakin membuatku ingin bersanding dengan Gita. Wanita dengan ketegaran hati yang tiada tara. Jujur semakin jauh aku mengenal Gita semakin terkagum dengannya.


Perbincangan dikantin pagi ini harus berakhir. Karena aku dan Fa'iq memutuskan untuk masuk keruangan kerja.


"Kring kring!" dering panggilan masuk dari Mak Lampir.


"Halo. Assalamualaikum," salamku setelah menjawab panggilan.


"Waalaikumsalam. Kamu masuk kerja?" tanya Gita.


"Masuk kok, kenapa?" tanyaku.


"Pak Dirut ngajak ketemuan," ucap Gita memberi tau.


Sesaat aku yang teringat ide Fa'iq langsung menceritakan kepada Gita. Gita pun menyetujui rencana Fa'iq.


"Yaudah jadi aku jadwalin besok aja ya ketemu Pak Dirutnya. Hari ini kita siapin semuanya dulu," tutur Gita setelah mengerti rencanaku dan Fa'iq.


"Oke sip," jawabku singkat.


"Kalo gitu kamu lanjut kerja yang semangat," kata Gita menyemangati.


"Siap sayang," jawabku keceplosan.


"Ehhh apa tuh? Inget loh ada yang nanyain kamu terus," goda Gita.


"Hahaha becanda," jawabku mengalihkan.


"Yaudah Assalamualaikum," salam Gita.


"Waalaikumsalam," jawabku sembari menutup telpon.

__ADS_1


Dulu kamu yang minta aku panggil sayang Git. Sekarang kamu yang ngelarang aku panggil itu. Mungkin emang salahku terlalu lama menyimpulkan perasaan. Salahku juga waktu itu terus menghindar ketika kamu merasakan apa yang saat ini sedang aku rasakan.


Hari ini aku menjalani aktifitas kerja seperti biasanya. Dengan perasaan yang teduh sesuaikan cuaca yang mendung.


__ADS_2