
Siapa itu patriach lama?
Statusnya tinggi tak terhitung banyak nya orang yang ingin berada dibawah bimbingannya. Rumor mengatakan dia adalah orang terkuat di Kota Azzure.
Oleh karena itu, orang-orang menjadi berharap tinggi kepada Chu Feng, Chu Feng yang masih muda dan tidak tahu apa-apa pada saat itu, dia tidak siap untuk menarik perhatian cahaya harapan yang tak terhitung jumlah nya.
Chu Feng yang dipuji dan dipuja oleh mereka yang percaya pada perkataan patriach lama bagai harta tak ternilai dan takkan pernah ada lagi.
Banyak orang berpikir bahwa prediksi dekan lama akan terwujud, Kota Azzure akan menyaksikan kelahiran seorang jenius, akan tetapi ...
Siapa tahu, yang terjadi adalah sebaliknya.
Performa Chu Feng sangat berantakan, dia menciptakan legenda, tetapi bukan legenda sebagai seorang pahlawan, apalagi legenda sebagai jenius terbaik sepanjang masa.
Dia menciptakan catatan legenda kegagalan masuk Sekte Pavilium Pedang Surgawi dengan hasil bakat terburuk dalam sejarah.
Hal ini menjadi lelucon dari waktu ke waktu.
Saat ini Chu Feng berada di depan tempat pendaftaran tes masuk sekte, Chu Feng menerima nomor urut ujian masuk sekte "1234? Nomor yang cukup bagus."
Melihat nomor urut ditangan nya Chu Feng hanya tersenyum, dia mulai berbaris berurutan menunggu giliran nya tiba.
Dia datang cukup terlambat, sedangkan anggota Klan Chu lainnya datang lebih awal ke tempat pengujian sekte.
Tes pertama sangat sederhana yaitu menguji qi dan darah dalam tubuh.
Semakin kuat darah semakin besar pencapaian dalam kultivasi, sehingga darah bawaan para pembudidaya sangat penting.
Proses tes garis darah juga sangat sederhana. Ada enam batu kuno dengan ukuran berbeda di bidang tes. Para peserta hanya perlu berdiri ditengah keenam batu tersebut, ketika array formasi batu di aktifkan, para penguji bisa menguji garis darah para kandidat.
Ini adalah metode paling kuno tapi juga paling efektif. Saat rune pada batu kuno telah aktif, batu tersebut akan mengirimkan cahaya ketubuh peserta ujian, lalu tubuh peserta akan mengeluarkan cahaya api beradarah dan akan terus menyala ke empat arah sesuai bakat para peserta ujian.
Tidak semua batu ujian akan mengirimkan cahaya ketubuh peserta ujian, itu tergantung garis darah dalah tubuh peserta ujian, semakin kuat garis darah dalam tubuh, maka semakin banyak batu kuno akan menyala begitu pula sebaliknya semakin lemah garis darah dalam tubuh peserta ujian, maka semakin sedikit batu kuno akan menyala.
Semakin besar nyala api berdarah terpancar, senakin kuat kekuatan garis keturunannya.
Ada seorang kandidat yang berbakat yang bersinar seperti nyala api, dan mewarnai seluruh ruang pemeriksaan.
"Nomor peserta 1111 Xi Wai, menyalakan lima batu kuno dengan l nyala api dari tubuhnya memancar hingga enam ratus meter dari tubuh... lulus!"
__ADS_1
"Nomor peserta 1190 Li Wang, menyalakan tiga batu kuno dengan nyala api dari tubuhnya memancar hingga dua ratus lima puluh meter... gagal!"
"Nomor peserta 1222 Gu Bo, menyalakan lima batu kuno dengan memancar dari tubuhnya hingga enam ratus lima puluh meter dari tubuhnya... lulus!"
"Nomor peserta 1230 Yu Tian...."
Suara pengawas itu menggunakan qi sehingga terdengar oleh semua orang yang berada disana.
Menunggu dalam antrean adalah proses yang panjang dan membosankan.
"Nomor peserta 1234..."
Setelah tiga jam penuh mengantri, akhirnya giliran Chu Feng tiba nomor peserta di berikan kepada pengawas dan dia pergi ke tengah lapangan.
Setiap mengikuti ujian tes masuk sekte Chu Feng tersingkir disini.
Karena ia bahkan hanya mengaktifkan setangah batu kuno, dan pancaran cahaya ditubuh nya hanya beberapa meter saja.
Tapi Chu Feng yang sekarang bukan Chu Feng yang dulu.
Hari ini biarkan semua penghinaan beberapa tahun terakhir berakhir disini.
Tetapi ketika petugas ujian akan menyalakan formasi, terdengar suara dingin dari kejauhan "Tunggu sebentar, apakah kau Chu Feng? Siapa yang membiarkan mu mengikuti tes sekarang? Sekarang bukan giliranmu, silahkan kembali kepinggir dan menunggu giliranmu."
Chu Feng berbalik dan melihat, tidak jauh dari tempat pengujian pertama, seorang pria paruh baya terlihat duduk di sebuah kursi dengan santai dan sedang memandang dirinya sendiri dengan tatapan tajam.
Orang ini adalah pemimpin dari tes ujian pertama.
"Kenapa?" Ucap Chu Feng sambil mengerutkan kuning.
Pria paruh baya tersebut masih menatap dirinya dengan tatapan tajam, dan berbicara dengan nada merendahkan.
"Kenapa? Oh, aku akan membiarkanmu menunggu, aku akan jujur, aku adalah pemimpin ujian di sini. Apakah perlu bagiku untuk menjelaskan kepada sampah sepertimu? "
Chu Feng sangat marah dan ketika akan mengatakan sesuatu.
Tetapi pada saat berikutnya, matanya melihat seorang pemuda berdiri di sebelah pria paruh baya tersebut, memandangi dirinya sendiri dengan tatapan merendahkan.
Dia tidak lain adalah saudara angkat nya sendiri yaitu Chu San.
__ADS_1
Chu Feng tidak terburu-buru, Chu Feng memutuskan untuk bermain-main.
Memikirkan tentang hal ini, di dalam hatinya Chu Feng tersenyum dingin, dia menatap pri paruh baya lalu tersenyum dan berkata "Apakah kau yakin akan membuatku menunggu?"
Pri paruh baya merasa tersinggung mendengar perkataan Chu Feng dan dia berkata dingin.
"Membiarkan mu berpartisipasi sekarang hanya membuang-buang waktu, pergi kepinggir dan tunggu giliranmu, oh iya giliranmu adalah yang terakhir."
Mendengar permataan itu, Chu Feng hanya menganguk "Sangat bagus, aku akan menunggunya sampai akhir."
Lalu dia berjalan kepinggir lapangan dan berdiri sendiri.
Ada tatapan iba dari kerumunan atas kejadian ini, tetapi tidak ada yang menyuarakan nya.
"Lanjutkan kembali penilaian ini..."
Pria paruh baya dan pemuda disamping nya itu menunjukkan senyum kemenangan dan dengan malas mengumumkan bahwa tes penilaian akan berlanjut.
Faktanya setiap Chu Feng melakukan sesuatu akan menjadi topik yang menyebar ke seluruh Kota Azzure.
Pada awalnya mungkin orang-orang memiliki harapan kepadanya, tapi sekarang dia sudah menjadi lelucon.
Waktu berlalu semakin banyak orang melakukan tes penilaian pertama, semua orang ingin melihat Chu Feng membuat lelucon kembali.
Dari awal hingga akhir Chu Feng menunggu dengan sabar.
Di wajahnya, dia tidak bisa melihat sedikit pun ketidaksabaran atau kemarahan, tapi itu senyum merendahkan.
Kata-kata ejekan yang tak terhitung jumlahnya terus menerus terdengar, tatapan iba, tapi Chu Feng tidak menanggapinya dia hanya berdiri di pinggir lapangan menunggu dengan sabar.
Penilaian tes berlanjut.
Hasil pemeriksaan terus diumumkan, dan tragedi yang sama terus-menerus terulang.
Dalam sekejap mata satu hari berlalu, tapi Chu Feng belum mendapatkan gilirannya.
**
Dukung Author dengan vote like and comment.
__ADS_1
Komentar apapun akan dihargai oleh author.