
Indah pulang ke rumah dengan lesu, karena saking semangatnya mengetahui tentang suaminya dia melupakan makan siangnya.
yang lebih membuatnya kesal adalah , tak ada satupun hal yang dia dapatkan dari aktivitasnya penyelidikannya tadi.
Devan, suaminya itu rupanya benar-benar sosok misterius, semangatnya yang berkobar saat ingin menyelidiki sang suami, saat bicara dengan Astrid tadi, menguap entah kemana ?
" Siapa kamu?"
Indah bergumam pelan, memandang foto pernikahan mereka, yang entah siapa yang meletakkannya disana dan sejak kapan telah berada didinding yang semula polos itu.
Pintu rumah terbuka lebar. Membuat Indah sedikit berjingkat karena kaget.
Devan, datang dengan wajah yang lelah, dan juga penampilan yang berantakan. Membuat kening Indah ikut kusut memandang kearah suaminya.
"Mulai besok. Kamu berhenti bekerja, Aku sanggup jika hanya untuk menafkahi mu seorang diri..!!"
" Aku lapar, apakah di rumah ini, Kita punya ART..?" Indah berbicara lesu, menatap Devan dengan mata yang sayu.
Devan sendiri merasa aneh dengan nada suara Indah yang tak seperti biasanya, Dia menatap istrinya dengan kening berkerut.
" Kamu baru pulang ? Belum ke dapur ?"
Devan menelisik penampilan Indah yang memakai rok, kemeja krem dan blazer putih. Jelas jika perempuan itu juga baru sampai seperti dirinya.
" Tentu saja di rumah ini ada pembantu,, "
" Kalau begitu panggilkan. Aku sekarat sepertinya, hingga tak
punya tenaga lagi.."
Devan mendekati Indah, menyentuh kening yang tertutup poni itu dengan pelan. Tak terasa panas, itu artinya Indah tidaklah demam. Tapi kenapa sedari tadi perempuan ini bicara ngelantur didepannya.
" Kamu sehat kan ? Sepertinya aku lupa menyelidiki rekam jejak medis mu, dan itu mungkin sesuatu yang fatal.."
Devan berkata sarkastik dan memandang remeh pada Indah yang kini tergolek pasrah di sofa.
"Kamu suami yang kejam. Aku lapar, bukan penyakitan..hhhhh"
Indah memijit keningnya yang tiba-tiba merasakan pusing.
" Sepertinya aku benar -benar lapar..!!"
__ADS_1
Devan akhirnya mengalah dan menuju kearah dapur, karena dia juga tak biasa jika harus berteriak memangil sang Art yang pasti tengah berada di dapur..
" Apa menu sore ini Bi ?"
Meski sedikit kaget dengan suara Devan yang tiba-tiba saja sudah dibelakangnya Bi Sumi langsung saja membuka tudung saji yang baru saja selesai ditutup olehnya semenit yang lalu.
"Tumis toge dan sambel wortel dan jus alpukat dengan toping susu melimpah.." Ujar Bi Sumi, yang tak sadar akan reaksi Devan.
" Kenapa menu ini Bi ? kenapa nggak masak menu yang biasanya. ?"
Devan memandang aneh pada Bi Sumi.
" kamu kan sekarang pengantin baru , Van. meski mengkonsumsi makanan ini supaya kualitas ****** mu jadi baik.mudah-mudahan dengan ikhtiar ini, Bibi bisa cepat-cepat punya cucu.."
" Iyah sih Bi. Tapi nggak gini juga kali. Masa aku harus makan menu ini ?"
" oh , atau Bibi buatkan steak daging dan opor ayam saja.. Gimana ? kebetulan Bibi tadi beli buat stok siapa tahu non Indah doyan sama daging kan !"
" Oke. Aku makan !!! Tapi buatkan sesuatu untuk gadis itu Bi. Dia kelaparan "
Nasi yang sedari tadi, sudah diisi kedalam piring milik Devan kini malah diambil Bi Sumi, tangan tua itu dengan cekatan menambah lauk dan sambal, segera ia berlalu ketika kedua tangannya telah dipenuhi oleh piring dan gelas berisi air minum
Masih terdengar oleh Devan jika Bi Sumi berbicara kesal sambil melangkah cepat ke depan.
Membuat Devan, memijit pelipisnya " Aku kan juga Lapar. Bi !!" Lirihnya mencomot tauge dengan sendok, tanpa nasi.
Indah kini mencoba untuk berdiri, tapi tubuhnya sangat lemas dan membuatnya memutuskan untuk tetap tiduran disini,
" Non. Ini makan dulu. Bibi belum tahu makanan kesukaan non. Jadi bibi cuma masak seadanya saja untuk hari ini "
Mendengar suara asing ditelinga nya membuat Indah tiba-tiba punya kekuatan ekstra, Dia langsung duduk dan menatap Perempuan paruh baya didepannya dengan raut wajah penuh tanya.
" Siapa ? "
" Perkenalkan non. Saya Sumi art di rumah ini. .!"
" ART..? "Indah mengulang ucapan Bi Sumi dengan pelan, seperti orang linglung.
" Makan dulu Non. wajah non sangat pucat sekarang !!"
Bi Sumi menyodorkan lagi Nasi yang sempat diletakkannya di atas meja ruang tamu tersebut.
__ADS_1
Indah menatap nasi dengan lauk tauge dan wortel itu dengan kening berkerut, apakah Devan adalah pria pelit, hingga tak menyajikan lauk ikan ataupun Ayam ?
Namun nyatanya perut Indah sepertinya sangatlah lapar, hingga menatap menu itu dengan tatapan lapar.
" Ayo Non. Bibi orang baik kok hehe"
Indah menampilkan senyum tak enak karena ucapan Bi Sumi, dia sebenarnya tak bermaksud tak sopan. Tapi hanya sedikit kaget saja .
Dengan cepat Indah mengambil piring itu, semula dia hanya mencicipinya sedikit, tapi ketika cita rasa khas tauge dan wortel menyentuh lidahnya. Mulut mungil Indah tak mau berhenti untuk mengunyah. Tak sampai lima belas menit, semuanya habis tak bersisa. Pemandangan ini membuat Bi Sumi keheranan, tubuh tinggi dan langsing seperti Indah malah bisa menampung satu porsi besar nasi yang tadi dia sodorkan.
"Mau nambah Non ? Bibi ambilkan lagi, kalau non masih lapar ?"
" Ehh nggak usah Bi. Sudah kok !! aku kenyang hehhe"
Indah tersenyum malu, entah kenapa dia tidak bisa mengontrol diri tadi.
" Devan mana Bi ?"
" Devan dibelakang Non lagi makan juga..!
Devan itu sebenarnya, tetangga Bibi dulu waktu masih dikampung, setelah sukses dia ngajak bibi kerja sama dia, karena bibi juga kan sebatang kara. Suami bibi meninggal, sedangkan keturunan juga belum dipercayakan sama tuhan, jadinya bibi ikut saja, toh Devan sudah bibi anggap seperti anak sendiri !!"
Indah memandang Bi Sumi dengan mata berbinar, Dia tahu sekarang, harus bertanya dengan siapa tentang masa lalu Devan, suaminya.
Jika Devan bisa menghilangkan semua jejak digital dirinya dari para pencari berita. Sosok Bi Sumi sepertinya akan membukakan semua yang ingin Indah ketahui..
"Bi, aku mandi dulu yah ..!! Nanti lepas sholat Maghrib Bibi kekamar ku yah, buat nemenin aku nonton sinetron .."
Indah berlalu dari hadapan Bi Sumi, setelah mengucapkan terima kasih atas makanan yang terasa lezat tadi.
sehingga Indah dapat merasakan semua energinya kini telah terisi full.
Tepat setelah Indah pergi, Devan datang dan melihat kearah piring dengan tatapan aneh,
" Habis Bi ! Semuanya ?"
Bi Sumi tersenyum dan mengangguk, " Kamu pintar pilih Istri Van, Dia benar-benar bibit unggul. Cantik, pintar dan tahu menghargai kerja keras orang .."
Devan memandang Bi Sumi dengan nelangsa. " Bi, aku kan sudah bilang kalau mau lauk dan nasinya aku habiskan, kurangi Porsinya. Bagaimanapun laparnya aku, aku nggak akan sanggup jika harus menampung makanan yang diperuntukkan untuk lebih dari dua orang..!!!"
Bi Sumi, melengos. Membuat Devan memijit pelipisnya pelan. Baginya wanita paruh baya itu sudah seperti sosok ibu untuknya. Jadi sebisa mungkin Devan tak mau mengecewakan wanita itu..
__ADS_1