Lelaki Terakhir

Lelaki Terakhir
ciuman pertama


__ADS_3

Rupanya pertanyaan Indah tadi mempengaruhi hati Devan, dia merasa Indah tak berada di pihaknya, dan malah menyalahkan tindakan pembelaannya akan kelakuan Gadis kejam tak berhati seperti Dara !!


mereka memasuki pekarangan rumah dengan kecepatan sedang, Indah menunduk dan melihat saja ketika Devan malah langsung turun dan menuju pintu utama rumah mereka.


Meski selama pernikahan Indah telah merasa terbiasa diperlakukan seperti ini, tapi kali ini, entah kenapa Indah memandang dengan berbeda dan merasa bersalah akan apa yang ditunjukan oleh pria itu.


Dengan lesu Indah membuka pintu mobil, dan mengikuti jejak sang suami yang entah pergi ke arah mana.


" Eh Non ! Pulang bareng Devan ya ?" Bi Imah datang dari arah Dapur. Ditangan wanita paruh baya itu kini terdapat secangkir kopi yang mengepulkan asap.


" Iya Bi !!.itu kopi buat siapa ? Devan !!"


" Iyah, Non !! Biasanya sih, Devan lagi banyak pekerjaan kalau dia minta kopi gini. ."


" Sini Bi !! Biar aku saja yang antar, Dimana Devan sekarang ?"


Bi imah segera menyerahkan kopi itu ke Indah " Di kamar atas non !! kamar paling sudut ujung !!"


Indah yang telah menerima cangkir kopi itu mendadak ragu, apakah dia harus datang ke sana ?


bagaimana jika Devan marah dan malah mengusirnya pergi, Apakah dia bisa menghadapi kemarahan pria itu lagi ?


" Kenapa non . Non nggak bisa ? gerah karena baru pulang. Kalau begitu biar bibi saja Non. ..!"


Indah menggeleng dan mencegah tangan bi Imah yang hendak mengambil alih kembali kopi dari tangannya.


Meski agak ragu, dia kini mantap berjalan menaiki tangga.


Setiap langkahnya di tiap titian tangga itu seolah terdengar seperti bom waktu, dan tinggal lima langkah lagi dia telah mencapai pintu dengan ukiran berbeda dengan yang lain.


Dengan pasti Indah akhirnya memantapkan langkah, dan kini semakin dekat malah dadanya yang berdetak kencang, akan apa yang mungkin saja dihadapinya nanti dikamar itu .


" Kenapa hanya berdiri di sana Bi ? Bibi kan tahu jika pendengaran ku sangat sensitif !!"


Eh, Indah mengurungkan niatnya membuka pintu ketika dia mendengar ucapan Devan.


Tiba-tiba pintu malah terbuka, menampilkan wajah Devan yang kini menatapnya dengan kening berkerut.


Indah menyodorkan cangkir kopi dengan kikuk dia mendadak diam dan tak tahu harus mengatakan apa .


" Kamu belum mandi ?"

__ADS_1


Pertanyaan itu membuat Indah menelisik penampilan Devan yang terlihat santai dengan kaos polos berwarna putih dan juga celana pendek di atas lutut. Benar, pria itu sudah mandi dan menguarkan aroma shampo khas dari rambutnya yang basah.


" Aku baru saja sampai !!"


Devan memilih berbalik dan duduk di kursi kayu yang tampak elegan dan mengkilat, membuat Indah terkaget lagi. Karena ruangan ini sekarang telah berubah. foto didinding kamar tanpa ranjang itupun telah berganti menjadi foto pernikahan mereka.


" Masuklah !! Bukankah kamu penasaran akan semua ini. Duduk disini .." Devan menepuk satu kursi yang berada tepat di depannya.


" Aku akan menjelaskan apapun yang mau kamu ketahui tentangku !!"


Indah menurut, meski tampak ragu ! Baginya dia sekarang sudah cukup untuk terpukau dan menampilkan wajah aneh pada sang suami.


Namun yang terjadi adalah suaminya itu malah berdiri, mengambil figura foto mereka dan menurunkannya, membuat Indah dapat melihat jika foto yang dilihatnya malam itu masih berada di sana. tepatnya dibalik figura yang baru saja diletakkan Devan dilantai.


" Mereka anak dan istriku !!"


Devan memulai cerita dengan menatap dalam pada foto.


" kami menjalani hidup yang sederhana, tapi dilimpahi dengan kebahagiaan yang mungkin tak akan bisa aku rasakan lagi .."


Devan kini menatap Indah dengan tatapan lemah


" Berkali-kali aku menantang maut, untuk menemui mereka. Tapi tuhan seolah semakin menghukum ku. Aku kalut, putus asa. Tapi untuk menodongkan pistol ke kepala sendiri, aku malah tak sanggup.. Aku begitu pengecut, hingga akhirnya takdir mempertemukan kita . .!"


" Maafkan aku Ndah. Sungguh aku belum sepenuhnya bisa jika melupakan masa lalu. Tapi ketahuilah jika aku mulai tertarik padamu. . !"


Indah memeluk tubuh Devan dari belakang, mendengar semua cerita pria itu dia merasa sangat merasa beruntung, setidaknya dia belum pernah merasakan perasaan sedalam yang dirasakan Devan pada istrinya. Jadi, semua pedih kehilangannya dimasa lalu tak ada apa-apanya jika dibandingkan penderitaan batin yang Devan rasakan.


" Bima adalah anugerah terindah bagiku , Ndah. Dan kepergiannya seakan membawa semua nafasku bersamanya..."


Devan terisak, dia membalik badan dan memeluk Indah dengan erat, seolah menyalurkan perasaannya pada sosok istri barunya.


Indah ikut bersedih, dan tanpa bisa dicegah air matanya membasahi pipinya yang putih.


" Aku akan selalu ada untukmu, Van. Jika benar kamu menginginkan kehadiranku. Tapi, jika hubungan ini kamu anggap pelarian. Maka aku tak akan terima !!"


Devan tertawa, entah kenapa ucapan Indah terasa lucu .


" Kamu mengancam ku, saat keadaanku yang seperti ini !! Apa memang seperti inilah caramu memperlakukan orang yang kamu sukai !!"


Kini Indah yang tertawa,

__ADS_1


"aku tak menyangka jika kamu senarsis ini ternyata !!"


Devan mempererat pelukan mereka, dan mencium pucuk kepala Indah dengan lembut berkali-kali.


" Maafkan aku karena telah memulai kisah kita dengan cara dan niat yang salah..!"


" Apa aku benar-benar telah kamu terima disini !" Indah menyentuh dada Devan yang terasa kasar ditangannya. Luka tembak pada tubuh suaminya itu ternyata tak kembali seperti semula.


" Aku sedang berusaha, aku harap kamu mau membantuku."


Indah kini memandang lekat wajah manis mendiang istri dan anak Devan,


" Biarkan saja foto mereka tetap berada di sana. Aku akan menerima kamu dan masa lalumu sebagai satu paket." Indah mengalihkan pandangannya kearah Devan lagi,


" Dan tentu saja, aku akan membantumu mencintaiku tanpa melupakan jika kamu pernah mencintai perempuan lain. ."


Mata keduanya kini bertemu, Devan merasakan kebahagiaan yang telah lama hilang itu kini merasuki sanubarinya.


Entah siapa yang telah memulai , kini kedua sejoli itu terlihat menikmati ciuman pertama mereka. Terasa lembut, membuat mereka sama-sama terbuai, tubuh mereka yang sama tinggi tak menyulitkan ketika mereka memperdalam ciumannya.


Indah mendorong dada Devan, dengan nafas terengah-engah. Dia tersenyum ketika menemukan mata Devan yang terpejam, rupanya bukan hanya dia yang merasa terbuai, tapi juga pria di Depannya ini.


Iseng, Indah menyentuh pucuk hidung Devan, membuat sang empunya kini membuka matanya. Mata berwarna hitam legam itu kini bertatapan dengan matanya.


"Aku boleh bertanya lagi ?"


Devan menyisihkan rambut panjang indah kebelakang telinga istrinya itu,


" Apa ?"


" Tapi jangan marah ?" Indah memamerkan giginya yang tampak putih terawat.


" Sebenarnya apa yang kamu lakukan pada Dara ?"


Devan melepaskan diri dari keintiman mereka, Kemudian dia duduk di kursi yang semula didudukinya.


" Aku tak akan mengatakan apapun !! Yang pasti hal itu adalah pembalasan yang pantas bagi gadis seperti Dara ..!!"


Devan kini tersenyum manis, menampilkan sisi lain dirinya kembali setelah berbicara dengan dingin sebelumnya,


" Aku akan melakukan hal yang sama sekali tak terbayangkan oleh mereka, jika mereka berani menyentuhmu. Siapapun itu orangnya ..!"

__ADS_1


Devan dapat melihat jika Indah memandang tak percaya akan ucapannya .


" cukup satu kali aku kecolongan , dan sekarang !! Tidak lagi.."


__ADS_2