
Bi Sumi menepati janjinya pada Indah. wanita paruh baya itu mengetuk pintu kamar sang majikan dengan sopan. Dan segera masuk ketika suara Indah mempersilahkan dirinya untuk masuk ke dalam kamar.
Saat masuk dia menemukan Indah kini tengah memandang lekat album foto pernikahannya dengan Devan.
" Non sangat cantik !! Pantas saja Devan bisa jatuh cinta !!"
Bi Sumi bersuara sambil mengatur posisi duduknya dilantai.
Indah yang memandang lekat Bi Sumi, malah keheranan dengan tingkah sungkan bi Sumi padanya.
" Eh Bi , jangan duduk dilantai, duduk disini saja, dekat sama aku.", Indah menepuk sofa disampingnya, "Bibi bisa panggil aku Indah saja kan ? Aku merasa jika aku tuan rumah disini dan kalian malah seperti sopir dan Asistenku karena panggilan yang berbeda ini !!"
Bi Sumi tersenyum, " Jangan membuat Bibi semakin nggak betah disini non, panggilan ini sebagai tanda hormat Saya kepada Nona karena telah menjadi istri dari majikan saya,Devan..!"
" Oh ya, kalau begitu Bibi juga harus memanggil Devan dengan panggilan Den, atau Tuan kan ? Biar adil. "
Bi Sumi memandang Indah dengan tatapan agak sungkan. Meski dia tahu jika Indah sebenarnya tengah mencoba mengurangi jarak yang nampak terbentang diantara mereka,
" Maafkan saya , Non . Tapi sepertinya hanya panggilan itu yang pantas dan cocok pada Nona !!"
Bi Sumi menunduk hormat, meminta pengertian Istri dari Devan ini.
" Oke ..!! sepertinya aku harus mengalah ! Tapi ?"
" Tapi apa Non !!"
Indah memperhatikan pintu dengan lekat, agak ragu untuk berbicara
" Devan sekarang ke rumah Riri, ada pekerjaan yang harus segera diselesaikan malam ini juga "
Seolah dapat membaca pikiran Indah Bi Sumi menjawab dengan nada menenangkan.
" Bi. Aku dan Devan tak melalui proses pengenalan terlebih dahulu. Dan jujur saja, tak ada cinta diantara kami. Tapi, setelah sah menjadi istri Devan, aku merasa jika aku berhak untuk tahu masa lalu dari lelaki yang telah berstatus menjadi suamiku itu.. Bisakah bibi cerita sedikit saja tentang Devan..!?"
Bi Sumi menampilkan senyum teduh. Perkataan Indah seolah menjawab keheranannya akan pernikahan mendadak Devan.
" Jadi ? Atas dasar apa Devan menikahi Non ?"
" Aku juga nggak tahu Bi. Makanya sekarang aku nanya ke Bibi, siapa tahu aku bisa mendapatkan alasan yang memuaskan dari keputusan Devan, yang menjatuhkan pilihannya kepadaku.."
__ADS_1
" Non sudah tahu kalau Devan seorang Duda !!"
Bi Sumi bertanya hati-hati. Dan mendapat anggukan antusias dari Indah.
" Syukurlah kalau Devan jujur soal itu !! " Mata tua itu menerawang, kemudian dia memandang Indah dengan hangat
" Devan dulunya punya Istri yang manis, namanya Bunga !! mereka juga telah dikaruniai seorang putra yang tampan yang saat pindah didekat rumah Bibi, masih berusia tiga bulan.
mereka berdua pasangan yang harmonis dan romantis, tak pernah sekalipun Bibi mendengar pertengkaran diantara mereka. Devan merupakan seorang buruh pabrik gula, dia pribadi yang rajin dan tangkas dalam segala hal.
Hingga saat itu tiba . Anaknya berusia Dua tahun saat kejadian tragis itu terjadi.."
Indah melihat Bi Sumi menangis, membuatnya semakin dilanda penasaran. Sementara banyak pertanyaan yang kini memenuhi otaknya tapi sengaja dia abaikan.
" Istri dan anaknya ditemukan meninggal didalam rumah mereka !! Devan sendiri yang pertama kali menemukan tubuh kaku kedua orang yang dicintainya itu.."
Bi Sumi memandang Indah yang kini menangis, ikut terbawa sedih mendengar semua cerita Bi Sumi.
" selama seminggu polisi berdatangan silih berganti, istri dan anak Devan entah dikebumikan dimana, tidak ada satu orangpun yang tahu dilingkungan itu. Kondisi jenazah dan sebab kematiannya pun tak pernah dijelaskan, dan Devan seolah ikut hilang ditelan bumi..!"
" Jadi, Bibi nggak tahu kenapa istri dan anaknya meninggal ? Apa mungkin Devan yang sudah..,!!" Indah menutup mulutnya, sangat wajarkan jika dia berpikir jika Devan lah tersangka akan kematian mendadak Istri dan anaknya.
" Bukan !!! Devan tak membunuh istri dan anaknya. Karena selepas tiga bulan kejadian, Devan kembali lagi.Semua perkiraan warga seolah telah dia bantah dengan kehadirannya lagi. Tapi !! Devan datang dengan penampilan berbeda, saat datang dia selalu membawa apapun yang sekiranya diperlukan untuk warga.. Jujur saja, sampai kini Bibi nggak tahu kenapa Devan bisa sekaya ini sekarang ? Bibi juga enggan menanyakan hal ini, takut menyingung perasaannya yang memang rapuh setelah kematian anak dan istrinya.."
Indah memperhatikan wajah Devan pada foto yang ada didinding, Tetap saja, pria ini terlalu menyimpan banyak misteri, sehingga membuat Indah semakin diliputi rasa penasaran.
" Devan sangat mencintai almarhumah Bunga, dan kepergiannya seolah telah merubahnya menjadi bersikap dingin dan tak takut akan kematian. Dia menjadi pribadi yang berbeda sekarang, semuanya bertolak belakang dengan Devan yang dulu..!" Bi Sumi, mengakhiri ceritanya dan memperhatikan reaksi Indah, namun rupanya Nona nya itu kini malah melamun.
" Non kenapa ?"
Bi Sumi menyentuh lengan Indah,
" Aku masih belum mengenal dia sedikitpun Bi. semuanya masih Abu-abu di mataku...! Dan soal hubungan ini, aku takut akan berakhir lebih tragis daripada kematian..!!"
Indah mengingat wajah-wajah lelaki yang hampir saja mempersuntingnya, siluet itu seolah berputar di kepalanya.
" Apakah ada kemungkinan dia jatuh cinta padaku, Bi ? Atau selamanya kami akan menjalani rumah tangga dengan orang yang asing, tanpa bicara dan ingin tahu tentang pasangannya sama sekali ? ?"
Bi Sumi mendengar suara langkah kaki Devan, dia memilih beranjak tak menjawab ucapan Indah
__ADS_1
" Non maaf, sepertinya Devan sudah pulang..!!"
Indah melirik ke arah pintu dan benar saja dia menemukan Sosok Devan yang memandang datar Bi Sumi dan juga dirinya.
" Maaf Van, Non Indah hanya takut sendirian. Makanya bibi temani ...!!"
Bi Sumi melangkah kearah pintu, membuat Devan sedikit minggir memberi ruang bagi Bi Sumi untuk melewati pintu keluar kamar.
Sementara Indah kini malah menatap lekat ke arah Devan. Dengan langkah pasti dia melangkah ke arah Devan, memeluk leher pria itu dengan gerakan sensual, mencoba membangkitkan gairah Devan.
" Aku lelah !!"
Devan melepaskan pelukan Indah dan berniat pergi kearah kamar mandi.
" Apa kamu bakalan mandi lagi, apakah apa yang aku lakukan barusan membuatmu gerah. .."
Indah bertanya dengan tenang, meski raut wajahnya tampak kesal dengan ucapan yang baru saja dia lontarkan sendiri. Apakah sekarang dia sepeduli itu pada Devan ?
" aku belum mandi !! " Devan berkilah dan tetap pada tujuan awalnya,
" Sebegitu inginnya kamu menghindari ku. Atau kamu habis keramas karena telah tidur dengan perempuan entah siapa di luaran sana..!!"
Devan yang tadi telah menyentuh gagang pintu kamar mandi, menoleh pada Indah dengan tatapan tak mengerti. Ada apa lagi dengan istri kontraknya ini ?
" Jangan asal bicara !! Aku bukan tipe pria seperti itu ."
" Oh Ya, lalu kamu tipe seperti apa Hah ?Seorang lelaki yang tahan bertahun-tahun menduda, tanpa sentuhan wanita, itu adalah sosok halu, alias tak nyata, jadi jangan berkelit lagi, aku istri mu sekarang ! jika tak bisa memberiku jawaban tentang apa yang membuatmu memilihku, setidaknya berikan hak ku sebagai seorang Istri..!!"
Indah merasa dia adalah wanita paling murahan di dunia saat pengakuan itu meluncur lancar dari mulutnya..
Devan mendekat,
" Kamu yakin ? ini memang hanya pernikahan kontrak, tapi tidak ada poin tentang pelarangan sentuhan fisik !! Aku pria, aku bisa bercinta dengan wanita manapun tanpa adanya perasaan cinta ? Tapi apa itu juga berlaku denganmu, Nona !! sebagai seorang perempuan yang masih menjunjung kehormatan, aku meragukannya ?"
Indah tertohok, Devan benar. Dia tak ada sedikitpun perasaan pada Devan. Tapi, kenapa ? Dia malah mengemis seperti jablay murahan kepada Devan ?
Mendadak dia gugup ketika Devan ,semakin mendekatkan diri padanya.
" Aku pria normal !! Dan tak suka jika kejantananku diragukan..!!"
__ADS_1
Mata Indah melotot, ketika Devan membisikan hal itu dengan nada penuh gairah.