
Devan membalas ciuman Indah dengan agresif. Sekian lama raganya tak mereguk kenikmatan dunia membuatnya tak sadar telah memperlakukan Indah dengan sedikit kasar, Indah bahkan dapat merasakan rasa asin darah pada bibirnya. Sementara Devan semakin gencar menyentuh setiap inci dari tubuhnya.
******* kini lolos dari bibir Indah. Dia mengakui jika Devan sangatlah ahli membuatnya terbuai, bahkan kini dia merasakan jika tubuhnya sudah tak lagi mengenakan pakaian, entah kapan Devan melucuti penutup tubuhnya itu ,
" Dev ... Sssshhh ahhhhh ...!!" Indah mendesis ketika pucuk buah dadanya menjadi target Devan. Sementara tangannya dengan kasar mengacak rambut sang suami.
Devan menatap tubuh polos Indah dengan pandangan kagum, dia juga melihat jika Indah sudah sangat siap menerima dirinya, Karena sedari tadi, tangan istrinya itu berusaha menggapai tubuhnya, dan menempatkan senjatanya di area inti sang istri.
" Dev...Ah... Ce...Pat !!"
Devan semakin tersenyum, dia kini dengan tak sabaran melepaskan celananya, hingga Indah dengan sangat jelas melihat jika junior milik Devan sudah sangat siap tempur. Indah sendiri sebenarnya sedikit ngeri akan ukuran Devan. Apakah akan muat ? Pikirnya merasa takut..!!
" Tahan ya, sayang !!! ini akan sedikit sakit ...!!" Devan berbisik dengan menggoda, sementara tangannya masih bergerilya di dada Indah. Mencoba mengalihkan perhatian Indah akan rasa sakit karena penetrasi.
Rupanya Indah malah gemas dengan tingkah Devan yang terlalu hati-hati. Dengan segera dia menyentuh junior Devan dan menuntun benda berotot itu Ke liangnya.
Jleb...!!
Indah merasa dirinya kini telah dipenuhi oleh Devan, sesak yang semula terasa kini berganti dengan perasaan minta dipuaskan.
Devan memulainya dengan sangat pelan, kemudian rasa nikmat yang memenuhi juniornya membuat Devan mempercepat gerakan pinggulnya.
Mereka seolah dipacu oleh waktu, hingga akhirnya gelombang nikmat cinta itu datang juga, membuat Devan memeluk tubuh polos Indah dengan puas. Dia benar-benar sudah dipuaskan oleh Istrinya itu.
'" Terima kasih !!.Aku sangat puas , , "
Devan mengecup puncak kepala Indah dengan sayang, Sementara Indah juga membalasnya dengan senyuman, Dia tak menyangka jika bercinta ternyata senikmat ini.
" Tapi ini belumlah cukup !!" Indah berucap dengan sensual, dia mendorong tubuh Devan yang masih berada diatasnya, setelahnya dia meminta Devan berganti posisi, membuat Devan menatap Indah dengan tak yakin.
" Kamu mau apa ?"
__ADS_1
" Ronde kedua .. Dan seterusnya ...!!"
Devan terbelalak ketika juniornya kini telah memasuki liang Indah kembali, namun sekarang istrinya itu yang memimpin, memompa juniornya dengan gaya kuda liar, membuatnya semangat meremas buah dada yang kini tampak menantang didepannya.
"Sepertinya ini benar-benar akan menjadi malam yang panjang bagi kita..!! " Devan berucap sembari mendesis menikmati kebrutalan Indah yang menungganginya.
* * *
Indah terbangun dengan tubuh yang terasa remuk, entah berapa ronde percintaan mereka semalam. Dan itu cukup membuat Indah merasa lelah, bahkan sangat lelah. Dia meraba sisi sebelahnya dan segera tersadar jika kini dia sudah berada di ranjang mereka. Tapi, sosok Devan tak ia temukan. Membuatnya dengan segera keluar kamar, mencari keberadaan Devan sang suami.
" Bi Imah... !!!! Bibi...!!!" Rumah ini sepi, sangat sepi, sehingga Indah merasa ketakutan. Dia sudah mencari di setiap sudut rumah namun, tak juga menemukan sosok Bi Imah maupun Devan. Membuatnya putus asa dan menangis dengan keras . Pikiran buruk itu kini datang, apalagi kalimat yang diucapkan Devan semalam pada sang penelpon.
" Ndah !!" Itu suara Riri, Indah dengan cepat menoleh . Dia menemukan wajah cantik Riri kini dipenuhi dengan air mata.
" Devan di rumah sakit sekarang !!"
Indah kini berdiri didepan Riri. Wajahnya sudah menunjukan ekspresi datar didepan gadis itu. Membuat Riri semakin tak bisa menahan tangis, dia menuntun Indah yang seolah telah menjadi patung, tak ada penolakan.
Sesampainya di rumah sakit, Indah masih tak menunjukan reaksi sedikitpun, bahkan saat dia berada didepan kamar operasi suaminya .!
meski lampu telah berwarna merah, namun keriuhan seolah terjadi dikamar operasi Devan. Membuat Riri berinisiatif menghampiri suster yang sedari tadi sibuk mondar-mandir.
" Kenapa sus !! Apakah operasinya belum dimulai..!!"
" Kondisi pasien kritis, karena peluru telah mengenai tempurung kepala, dan hampir saja mengenai otak kecil, kemungkinan pasien selamat sangatlah tipis ...!!"
Indah tiba-tiba tergeletak pingsan, dia rupanya sedari tadi menyimak semua yang terjadi didepannya dalam diam. Hingga jiwanya seolah tertekan, dengan pikiran buruk. Membuatnya hilang kesadaran.
Bi Imah memangku Indah, sedangkan Riri memanggil suster yang kebetulan lewat agar memeriksa kondisi indah, sekaligus meminta suster untuk menyiapkan ruang perawatan untuk istri dari bosnya itu..
" Ya Allah Non. Semoga non kuat dengan semua ini !!" Bi Imah merapikan rambut yang menutupi wajah Indah, bibirnya terus saja memanjatkan doa agar Devan bisa melewati operasi kali ini dengan sukses seperti sebelum-sebelumnya.
__ADS_1
Indah akhirnya sadar, namun dia memilih diam. Seolah enggan menanyakan kabar sang suami. Dia takut jika dia mendengar hal buruk tentang Devan.
" Operasinya berjalan lancar Non !!" Bi Imah mendekati indah yang terbaring di atas brankar.
" Jadi non tak perlu berpikiran buruk lagi ...!!"
Indah mendengar itu dengan perasaan lega, Dia bahkan meneteskan air mata tanpa sadar. Kemudian dia segera menanyakan dimana kamar rawat suaminya itu, setelah diberi tahu oleh Bi Imah Indah segera melangkahkan kakinya dengan riang ke sana.
Tepat didepan pintu kamar rawat Devan, Indah berpapasan dengan Riri, wajah Riri yang dipenuhi air mata membuat Indah merasa khawatir. Dia dengan kasar menyingkirkan Tubuh Aspri suaminya itu, kemudian masuk ke kamar Devan tanpa permisi..
Indah mematung, matanya dengan jelas melihat jika Devan tengah mencium tangan seorang perempuan yang posisinya membelakangi dirinya.
" Aku seolah sudah lama tertidur !! Dan banyak mimpi aneh yang aku alami. Syukurlah, itu hanya mimpi. Kamu masih disini. Istriku yang paling cantik !!"
Suara Devan yang ceria membuat Indah yang mendengarnya tak percaya, jika perempuan didepannya ini adalah istri Devan, lalu dia apa ?
Indah merasa ini salah, dengan segera dia melangkah maju dan menarik bahu perempuan yang telah lancang mengantikan posisinya, seketika dia malah terkejut ketika menemukan jika wajah ini tak asing lagi. Jadi, apakah Istrinya Devan memang masih hidup ?
" Kamu siapa ?"
Pelan dan gemetar , Indah bertanya. Wajahnya yang tadi penuh amarah kini pucat pasi.
" Kamu yang siapa ? kenapa banyak orang asing yang masuk kesini ?" Devan menekan Bel disampingnya, berharap seseorang memberinya kenyamanan akan kebersamaan dirinya dan istrinya.
Indah beralih menatap Devan dengan pandangan tak percaya, Sangat jelas jika dia merasa tersinggung akan ucapan Devan yang membentaknya.
" Aku istrimu, Van!! Dan kamu ? Kamu siapa ?"
" Jangan mengada-ngada nona !! Saya sudah beristri, jangan membuat diri saya terlihat buruk didepan istri saya ..!!"
Indah memalingkan wajahnya pada sosok perempuan yang masih nampak terdiam dan tak memberikan penjelasan apapun pada Devan.
__ADS_1
" Sus !! Usir wanita ini. Dia sudah menganggu kenyamanan saya.. !!" Devan kembali bersuara membuat Indah akhirnya keluar dari kamar itu dengan perasaan hancur ...