Lelaki Terakhir

Lelaki Terakhir
Misteri


__ADS_3

Devan semakin mendekat ke arah indah, membuat gadis itu semakin mundur, dia seolah disadarkan jika bagaimanapun Devan tetaplah lelaki, ketika telah terdesak didinding pintu kamar. Indah memejamkan mata, hembusan nafas Devan bisa dia rasakan di wajahnya. Namun seperkian menit . Tak ada apapun yang terjadi.


Tak lama, terdengar suara Pintu kamar mandi tertutup. Rupanya Devan hanya menggertak saja..


" Huft... Hampir saja !!" Lirih Indah pelan, meraba dadanya yang masih berdetak kencang akan kelakuan Devan barusan.


sekali lagi, Dia memandang kearah foto yang terpajang didinding kamar. Dan menunduk dalam diam, lagi-lagi dia dipaksa untuk bertarung dengan perasaannya sendiri.


***


Pagi ini Indah telah duduk manis dimeja makan. Diapun telah rapi dengan baju kantornya. Namun Yang tak disadari Indah adalah Devan melihatnya dari tangga, tatapan tak suka pria itu tujukan pada sosok Indah, sang istri kontrak.


"Kan sudah kubilang, jika kamu harus resign dari pekerjaanmu !!"


Devan berucap dingin, Dia tak suka jika sosok istrinya itu membantahnya.


" Aku bosan di rumah, lagian aku juga sudah tanda tangan kontrak dengan pak Bagus, dan itu artinya aku terikat padanya sampai kontrak itu habis ..!!"


Indah membalas cuek, tak perduli meski dia merasakan aura yang tak bersahabat dari Devan.


" Kalau begitu, Gimana kalau indah saja yang mengantikan posisiku sebagai sekretaris kamu !! jujur aku kewalahan jika harus mengemban dua tugas sekaligus Van !!"


Riri tiba-tiba bersuara, saat baru saja sampai dan langsung duduk dihadapan Indah yang sarapan dengan santai.


" Jangan mengaturku !!" Devan memalingkan muka ketika matanya bersitatap dengan mata Bi Imah, dia sangat menghormati wanita paruh baya itu, tak tega jika dia memperlihatkan sikap kejam akan sosok Indah, dia tahu Bi Imah pasti akan memarahinya.


" Aku sudah mengemukakan pendapat dan solusi terbaik, jadi pikirkanlah Dev. Bukankah ini juga baik, agar kalian lebih dekat dan akrab..!!"

__ADS_1


Indah melihat jika Riri mengedipkan matanya kearah Bi Imah, setelah mengatakan hal itu. Sedangkan Devan, kini duduk tanpa bicara lagi. Dia selalu saja tak berkutik jika berhadapan dengan Bi Imah, karena dia telah menganggap wanita itu sebagai sosok pengganti ibunya.


" Iyah, Riri benar ,Dev..!!" Bi imah mendelik penuh senyum kearah Devan, membuat Devan ngeri karena panggilannya kini telah berubah ,Dari Van , ke Dev..ckckkck


" Terserahlah, yang jelas aku sebagai suami mu memintamu untuk mengundurkan diri dari perusahaan milik Bagus, jangan khawatir soal denda yang harus kamu bayar, aku akan mengurusnya ..!!"


Indah pasrah ketika Devan telah menjelaskan semua rencananya,


" Jadi , kapan aku akan jadi sekretaris mu ?" Indah berucap sensual, namun tak ditanggapi Devan, pria itu justru sibuk dengan gawainya tak perduli akan ucapan Indah, yang lagi-lagi mengodanya..


Riri dan Bi Imah mengulum senyum, baginya Indah dan Devan malah nampak serasi meski nyatanya mereka hanya bisa beradu argumen saja.


" Sabar non!! Devan akan panggil nona jika dia membutuhkan bantuan. ."


Indah menatap Bi Imah yang mengedip genit, tak mengerti juga kenapa sang Bibi mengatakan hal itu..


Devan menatap Indah dan Riri secara bergantian, " Ri, jika memang kamu ingin Indah mengantikan mu, bukankah kamu seharusnya mengajarinya ?"


" Tenang pak bos, khusus hari ini aku akan menjelaskan semuanya pada Indah. Menilik dari profesinya yang sudah mentereng sebagai sekretaris pak Bagus ,tentu saja akan mudah jika aku mengajarinya hal-hal tentang perusahaan dan juga tender-tender yang tengah kita kerjakan.."


Devan mengacungkan jempolnya, meski matanya tetap fokus kegawai miliknya.


Membuat Indah yang sedari tadi memperhatikan Devan, melipat kening kebingungan .


'Apakah dia ada selingkuhan ? hingga sepertinya hape itu lebih menarik dibanding pembahasan mereka soal perusahaan ?'


Batin Indah nelangsa, Semua tentang Devan seolah telah menyedot perhatiannya.

__ADS_1


***


Siang ini dimanfaatkan Riri untuk memberitahukan semua tentang perusahaan pada Indah. Sesuai dugaannya, Indah sangat mudah untuk memahami segala sesuatu yang telah dijelaskan oleh Riri.


" Sejak kapan kamu bekerja dengan Devan ?"


Indah bertanya ketika semua hal tentang perusahaan sang suami, telah selesai mereka bahas.


Riri mengetuk dagunya, seolah tengah berpikir dan menghitung waktu kebersamaan dengan Devan ,sang big bos.


" Kurang lebih tiga tahun . ." Riri tersenyum, mengingat pertama kalinya dia ditugaskan oleh seseorang kenalan. Untuk mengajari Devan hal-hal tentang dunia perkantoran,


" Kamu mungkin nggak akan percaya jika Devan bukanlah terlahir dari keluarga kaya ..!!"


" Aku tahu soal itu, dan aku penasaran dari mana Devan mendapatkan semua ini dengan hitungan bulan ?" Indah memotong ucapan Riri, dan malah mencecar Aspri suaminya itu dengan pertanyaan.


Riri menatap Indah , " Aku juga bertanya-tanya soal itu !! Sampai sekarang aku tak tahu dari mana Devan mendapatkan semua harta dan juga kedudukan yang tinggi ini ! Karena tiga tahun yang lalu, aku mengenalnya sebagai pria yang tak tahu apapun tentang perusahaan. Dan soal pengelolaan uang. ."


" Aku dengar dari Bi Imah jika Devan hanya buruh pabrik?" Indah menambahkan, semakin bingung karena ketidaktahuan Riri.


" Aku juga sudah tahu kalau soal itu...,!!".


Indah dan Riri kini bertatap- tatapan.


" Jadi sebenarnya siapa suamiku itu ?"


" Jadi siapa sebenarnya Devan ?"

__ADS_1


Mereka berucap bersamaan, dan akhirnya merebahkan diri di kasur, lelah juga jika harus memikirkan semua hal misterius dari diri Devan.


__ADS_2