
Devan menyentuh nisan anak dan istrinya yang nampak terawat itu dengan penuh senyum. Hal yang tak biasa dilihat oleh Riri, menularkan kebahagiaan yang sama pada gadis itu.
" Bunda !! apapun yang akan terjadi di kehidupanku kedepannya, kamu tetaplah orang yang paling spesial, dan tak akan tergantikan. Aku minta ijin mu, untuk menjalani hidupku dengan normal..!!"
Devan tertunduk, dan mencium nisan itu dengan mata terpejam.
" Aku punya orang lain yang harus aku bahagiakan sekarang !! .."
Kini tubuh kekar itu berbalik ke arah belakangnya, dimana makam Bima, sang putra berada. Posisi makam kedua orang yang sangat dikasihi oleh Devan itu memang bersebelahan.
" Bima !! Ayah percaya, jika kamu telah menjaga bunda dengan baik di sana...!! " Dan sekuat apapun pertahanan yang telah dibangun Devan, nyatanya air mata pria itu tetap saja jatuh, Dia memeluk nisan itu dengan perasaan sesak di dada. Mendadak kenangan-kenangan akan kebersamaan mereka kini terbayang lagi.
Namun semuanya tak berlangsung lama, karena beberapa detik kemudian Devan berdiri dengan tergesa, tanpa kata dia melangkah meninggalkan area makam. Riri yang sedari tadi terbawa suasana kini mengikuti langkah besar Devan dengan sedikit berlari. Sungguh hampir tiga tahun kebersamaan mereka tak juga mampu membuatnya membaca sifat Devan yang semaunya sendiri.
***
Indah nampak lesu memandang kearah layar laptop didepannya, sembari tangannya menscroll setiap kalimat yang telah dia hafal diluar kepala., tangan itu dengan cekatan mengklik copy pada setiap berkas yang tersimpan, meski terkesan ogah-ogahan namun dia masih bisa mengerjakan semua itu dengan baik.
Astrid yang sedari tadi memperhatikan kelakuan Indah kini mendekat !
" Ada apa lagi ? Apa masalah yang ditimbulkan Dara masih mempengaruhimu?"
Indah menatap Astrid kemudian menggelengkan kepalanya.
" Aku lelah ...!! kejadian akhir-akhir ini sungguh membuatku sangat merasa tak punya semangat hidup lagi ... !!"
Indah menutup laptopnya dan bertopang dagu.
" Aku ingin pensiun !!"
Astrid mengernyit, baginya ucapan Indah sangatlah aneh
" Apa sebenarnya yang terjadi dengan hubunganmu dan Devan ? Kenapa kamu mendadak jadi mellow begini. Dan apa maksudnya dengan pensiun ?"
" Jangan bahas pria itu !! Aku ingin pensiun dari segalanya Trid. Semua yang membuat aku merasakan lelah .Aku ingin mati saja .."
" Heii !! kamu Apa-apaan sih Ndah !! kok malah makin ngawur ngomongnya, Pamali loh, ucapan adalah doa ..!!"
Indah menunduk, meremas buku tangannya hingga merasakan sakit dan perih. Mencoba menyalurkan entah amarah atau kecewa yang terlanjur dalam bersemayam dihatinya .
__ADS_1
" Kenapa belum beberes , bukankah ini sudah waktunya pulang ?" Suara bariton itu membuat Indah menoleh, dia menatap sosok pemilik suara dengan tatapan tak percaya.
Begitupun Astrid yang tampak kehabisan kata-kata melihat kehadiran suami dari sahabatnya itu dengan bebas masuk ke ruang kerja mereka.
" Heii !! ini aku, bukan hantu . Jadi istriku, apakah pekerjaanmu telah selesai ? Aku kesini untuk menjemputmu !!"
Indah bertatapan dengan Astrid, menampakkan wajah bingung mereka pada satu sama lain.
kemudian tanpa kata, mereka membereskan meja mereka masing-masing karena memang jam telah menunjukkan waktu pulang.
Kini ketiganya nampak berjalan beriringan, membuat para karyawan berbisik-bisik akan sosok Devan, meski mereka menghadiri acara pernikahan Indah waktu itu, tapi melihat wajah rupawan Devan sekali lagi masih membuat mereka terpesona.
" Lain kali jika ingin menjemput ku, tunggu saja diparkiran, Aku tak suka jika ada orang yang seolah menyalahgunakan kekuasaannya, apalagi sekarang statusmu adalah Suamiku !!"
Indah berucap dengan tegas, membuat Astrid memandang Indah dengan takjub akan keberanian perempuan itu pada sosok Devan, yang terlihat dingin dan kejam. Entahlah penilaian orang pasti berbeda-bedakan.
Sementara Devan malah tertawa,
" Kamu tahu, Ndah !! Saat aku belum punya semua ini. Itu juga yang aku katakan pada para bos besar yang datang ketempat kerjaku. dan saat ini, Ternyata punya uang dan posisi penting itu, benar-benar membuat kita lupa diri. Maafkan aku akan hal ini Ya ?"
Indah membalas ucapan Devan hanya dengan senyuman, Bagaimanapun, perubahan sikap Devan cukup membuat Moodnya yang tadinya buruk, kini lebih baik...!
" Hari ini aku nebeng ya !! Suamiku lembur , dan babysitter anakku sedang ada keperluan mendesak dan mendadak. Boleh ya !!"
Indah menatap Devan, karena yang punya mobil adalah pria itu , lagian hubungan mereka baru saja dimulai dengan baik. Dia tak mau jika Devan melihatnya seolah memanfaatkan kebaikannya.
" Oke, satu arah atau kemana ,?"
Astrid menunjukkan lokasinya pada Devan, dan segera memasuki mobil .
Mereka melaju dengan penuh keheningan, meski Devan tahu jika Astrid mencuri pandang padanya sedari mereka masuk ke mobil tadi.
" Kamu kenapa Trid ?Mau ngomong sesuatu ?" Indah rupanya juga menyadari akan tingkah aneh Astrid.
" Enggak apa sih Ndah, Tapi aku penasaran akan satu hal ?"
" Apa ?"
" Ini soal Dara !!" Meski mulutnya bicara dengan santai namun, Astrid tetap memperhatikan raut wajah Devan.
__ADS_1
" Ya terus apa hubungannya dengan Suamiku Trid ? bukannya aku cemburu, tapi aku lihat dari tadi kamu selalu saja curi pandang ke Devan..?"
Astrid kini melihat ke arah Indah yang menatapnya melalui kaca spion.
" Dara, Ndah !! sekarang dia sering meracau dan kalimat yang dia ucapkan adalah 'maaf karena telah menjebak istrimu' Seperti itu terus menerus..!!"
Indah memegang tangan Devan dengan kuat, membuat suaminya itu seketika menghentikan laju mobilnya.
" Kenapa nggak cerita soal ini dari tadi Trid ?"
" Aku mau cerita, tapi hari ini kamu fokus terus ke laptop milikmu tanpa memperdulikan kehadiranku..."
Devan menjalankan lagi mobilnya, tak perduli dengan pembicaraan Indah dan Astrid yang heboh membahas tentang Dara.
" Beneran bukan kamu orangnya Van, yang membuat Dara jadi stress dan ketakutan seperti itu !!"
" Sampaii !! silahkan Nona !!"
Astrid memandang keluar mobil, dan menemukan jika mereka telah berada tepat didepan pagar rumah miliknya,
" Nanti kita sambung lagi ditelpon ya Ndah !! Oh ya, Mau mampir dulu nggak nih ?
" Enggak deh Trid, kita langsung pulang saja..!!"
Indah menjawab dengan pasti. Membuat Astrid mengangguk dan langsung turun. Dia melambaikan tangannya dan juga mengucapkan terima kasih ketika Devan melajukan mobilnya meninggalkan rumah minimalis itu.
" Jadi !!"
" Jadi apa ?" Devan cuek, meski dapat dilihatnya jika Indah menampakkan wajah minta penjelasan.
" Apa yang sudah kamu lakukan Ke Dara ?"
" Hanya sedikit pelajaran, biar memberikan efek jera akan kelakuannya yang sangat kejam dan tega..!!"
" Sedikit kamu bilang ? Dia sampai gila loh Van. Kok bisa kamu sesantai itu menanggapinya.."
"TERUS, APA MENURUTMU PERLAKUAN DIA KEPADAMU BISA DIMAAFKAN?. Aku suamimu Indah..!! aku bahkan bisa membunuh orang jika sedikit saja aku terlambat menyadari kelakuan jahat perempuan ja**ng itu..! Sudah cukup, masa lalu yang membuatku merasakan sakit yang dalam, aku tak mau hal yang sama terulang lagi..."
Indah cukup kaget melihat Devan yang biasanya bersikap dingin menjadi sangat emosional seperti ini. Dia menyentuh pundak suaminya itu, meski tak melihat langsung apa yang telah di alami Devan dimasa lalu namun Indah bisa merasakan kehancuran hidup Devan setelah peristiwa mengenaskan itu terjadi.
__ADS_1