
Meski otaknya dipenuhi dengan berbagai pertanyaan tentang siapa sebenarnya Devan, tapi Indah lega karena dia telah melewati hari-hari yang biasanya membuatnya cemas dan merasa takut dan akhirnya kini dia sampai pada hari ini, hari dimana mereka akan melakukan Akad, pengucapan janji suci dihadapan penghulu.
Indah memandang pantulan dirinya di cermin. Kebaya putih yang membalut tubuhnya ini sangat mewah dan pas, Dia tersenyum nyaris menangis.
Tapi ini bukanlah tangisan kesedihan seperti hari-hari yang lalu. Ini adalah wujud kebahagiaan dirinya yang kini akhirnya mencapai tahap ini. Astrid yang sedari tadi berada disampingnya, ikut memandang kearah cermin,
" Kamu cantik sekali, Indah..!"
Astrid kini merangkul Indah, mencoba menetralkan perasaan Indah yang kini pasti merasa terharu dan tak percaya..
" Aku akhirnya menikah Trid, Aku benar-benar merasa ini seperti mimpi.."
Indah meraba setiap helaian halus kain sutra yang digunakan sebagai bawahan dari kebayanya. Pernikahan ini memang bukan didasari karena cinta, tapi dia tak menyangka jika Devan, calon suaminya itu seolah tahu jika ini adalah bentuk dari pernikahan yang selama ini telah menjadi mimpinya.
" Ayo , Ndah. Sebentar lagi akad di mulai!"
Astrid mengandeng Indah keluar dari kamar pengantin. Diluar kamar, telah berjejer Bridesmaids yang siap menemani Indah ke Taman, lokasi tempat akad akan dilakukan.
Meski tak banyak tamu undangan yang hadir karena berkonsep privat, namun Indah lagi-lagi dibuat terpana dengan dekorasi di taman Ini. Bunga segar tersusun indah dan menyebarkan bau semerbak menghadirkan rasa rileks dan nyaman.
Dan di sana, Devan dengan gagah berdiri menyambut kedatangannya. Pria itu tak tersenyum namun pesona yang dipancarkan masih mampu memikat hati.
Indah melangkah dengan anggun, dan duduk tepat di kursi yang telah disiapkan di samping calon suaminya, yang beberapa menit lagi telah berubah status menjadi suaminya.
Indah gemetar, tak sadar matanya kini telah mengalirkan butiran bening tanpa henti. Ketika kata 'SAH' Akhirnya bergema, tubuhnya lunglai tak bertenaga. Membuat Devan dengan sigap membopongnya, segera masuk kedalam.
Suasana mendadak riuh. Karena Sang pengantin wanita mendadak pingsan.
Namun acara masih tetap dilanjutkan dengan jamuan para tamu undangan yang hadir.
***
Indah mengerjapkan matanya yang silau akan cahaya lampu kamar yang terang.
Dia refleks duduk, mengingat akad yang terjadi beberapa saat yang lalu . Apakah dia tadi bermimpi ? atau kini memang statusnya telah berubah menjadi seorang Istri ?
" Kamu sudah sadar ?"
__ADS_1
Suara Astrid membuatnya menoleh, matanya mendadak tertumpu pada cermin yang memantulkan ekspresi dari wajahnya sendiri. Dia masih memakai kebayanya.
" Gue beneran menikah Trid ?"
" Ya iyalah Ndah, Lo pingsan saat akad selesai tadi.."
Indah mengedipkan matanya berkali-kali, tak percaya jika semuanya ternyata memang terjadi.
" Terus !! Devan mana ?"
Astrid menggeleng, pria yang telah memperistri sahabatnya itu, tak menampakkan kecemasan sedikitpun saat Indah pingsan tadi. Dan langsung meninggalkan Indah yang tak sadarkan diri didalam kamar pengantin ini. Namun Astrid tak ingin mengatakan keanehan Devan ini pada Indah.
Seolah mengerti akan ekspresi Astrid , Indah nampak murung
" Hmmm... Gue rupanya menganggap semua ini terlalu berlebihan ya Trid,"
Indah memperbaiki posisi duduknya .
" Kamu udah lihat gimana kelanjutan acara diluar ?"
" Enggak lah Ndah. Nggak mungkinkan aku ninggalin kamu sendiri disini.."
Indah tak ingin larut dengan pikiran buruk yang memenuhi otaknya.
Dengan segera dia keluar dari kamar, mencari keberadaan Devan, pria yang telah sah menjadi suaminya..
Dia meninggalkan Astrid tanpa kata, dan menjelajahi rumah mewah dua lantai yang jadi mahar pernikahannya ini.
" Apa aku salah menilai selama ini ? Kenapa seolah kamu kecewa pernikahan ini akhirnya terjadi. .? Sebenarnya apa tujuanmu ? "
Devan berdiri membelakangi Indah. Pria itu tengah memandang lukisan abstrak yang tak dipahami oleh Indah sama sekali. Mereka hanya berdua di ruangan ini, ruangan yang terletak disebelah timur bangunan. Tempat yang terlihat sangat cocok jika digunakan untuk menyendiri.
" Jangan bahas yang telah berlalu, tapi berbahagialah karena apa yang mereka tuduhkan atas kamu ternyata adalah sebuah kesalahan. Buktinya aku masih sehat dan berhasil jadi suamimu kan ?"
Indah tersentak, sadar jika dia memang telah terlalu jauh berpikir. Inikan impiannya, soal nanti, kenapa harus dipikirkan !!
" Jadi. Apakah Takdir itu telah terbantahkan ?"
__ADS_1
Indah berbinar menunggu jawaban Devan,
Namun tak ada jawaban apapun yang dia dapatkan dan malah melihat kesedihan yang pekat memenuhi mata tajam suaminya itu.
" Heii... Kalian disini ? "
Riri tiba-tiba datang mengalihkan pandangan Indah, kini gadis itu bahkan menggandeng tangannya " Ayo Ndah, ganti baju. Resepsinya dimulai jam tujuh .."
" Resepsi a...pa ?"
" Resepsi pernikahan lah "
Indah terseok mengikuti langkah lincah Riri, Indah masih sempat menoleh kearah Devan, mencoba mencari tahu ekspresi pria itu lagi, apakah telah berubah.namun yang dilihatnya sekarang malah semakin membuatnya penasaran !!
Apakah pria itu sedang menangis ?
Dia bergegas mengalihkan pandangan seolah tak melihat apapun, meski matanya sempat bertemu dengan mata Devan.
Setelah dia sampai ke kamar pengantin tadi, Indah ingat jika Astrid kini tak terlihat. kemana sahabatnya itu pergi ?
"Astrid mana Ri..."
" Ganti baju di kamar lain. Dia bakalan jadi Bridesmaids kalian juga nanti malam. ." Riri menjawab cepat, membuka kebaya Indah tanpa canggung. Dan kini Indah hanya memakai kain kemben sebagai dalaman.
" Ri. Boleh tanya sesuatu ?"
" Apa ? Kalau soal konsep resepsinya seperti apa ! aku akan jawab dengan senang hati. Tapi jika tentang Devan lebih baik kamu tanya langsung saja tanya sama suamimu itu .."
Tangannya masih betah memastikan jika kini Indah telah siap dirias lagi.
Indah kecewa, karena belum juga mengajukan pertanyaan dia malah telah ditolak langsung.
Entahlah, rasanya Indah sudah salah melangkah, bisa-bisanya dia bertindak gegabah dengan menanda tangani kontrak pernikahan ini.Hanya karena pembuktian jika dia bukanlah perempuan bahu Laweyan. Dan kini dia malah dibuat kebingungan akan siapa Suaminya dan seperti apa asal-usul pria yang telah berhasil mempersuntingnya itu.
" Kamu benar-benar akan tutup mulut Ri. Meski aku bertanya padamu sebagai sesama perempuan ?" tak menyerah, Indah berusaha menyerang nurani Riri, agar buka suara.
Riri tersenyum lembut, " Aku dibayar mahal disini . Dan aku tidak akan mengecewakan Devan dengan alasan apapun , apalagi pada mu yang baru saja aku kenal lewat dirinya !!"
__ADS_1
Pintu kamar terbuka, Riri langsung keluar kamar , dan MUA Yang merias Indah tadi pagi kembali masuk, memulai make up pada wajah Indah lagi.
Indah menurut saja, sejujurnya dia kini merasa sangat lelah. Dia bahkan belum mandi. Tapi toner yang digunakan Sang MUA membuatnya merasa sejuk dan mulai menikmati sentuhan ajaib sang perias pengantin..