Lelaki Terakhir

Lelaki Terakhir
batas sabar


__ADS_3

Malam ini Indah tak bisa memejamkan matanya. Entah apa yang menjadi pikirannya sekarang, hingga dia hanya menatap wajah Devan yang telah tertidur lelap disampingnya.


Baru saja beberapa detik memejamkan mata, Indah merasakan pergerakan dari suaminya..


Dia tetap menutup rapat matanya pura-pura tidur, dia penasaran akan kemana Devan tengah malam seperti ini.


Dugaannya ternyata benar, tak terlalu lama berselang, terdengar suara pintu dibuka dengan pelan.


Indah mengubah posisinya menjadi duduk dan mulai menghela nafas panjang.


" Mau kemana sih ? "


karena penasaran Indah mengikuti langkah Devan,dan menemukan pria itu menuju ke arah kamar yang berada disudut rumah. Kamar yang baru saja diketahui oleh Indah akan keberadaannya.


Indah beruntung karena Devan tak menutup rapat pintu itu, dia kini melihat dengan jelas foto dengan frame lebar didinding kamar yang tanpa ranjang. Wajah manis seorang perempuan dan seorang bocah kini menarik seluruh perhatiannya.


" Siapa itu ?"


Indah hampir saja menjerit ketika ada tangan yang menariknya menjauh dari kamar yang dimasuki oleh Devan.


" Ap.. ahhh !! Riri !!" Indah menghempaskan tangan Riri dengan kesal, jam didinding mengalihkan fokusnya" Ngapain kamu malam-malam berada disini ?"


" Pelankan suaramu. Devan bisa memergoki kita..!!" Riri masih mengawasi situasi.


Indah ikut menatap pintu itu dengan waspada.


" Jawab pertanyaanku !! Aku bahkan tak perduli jika Devan menemukan keberadaan kita disini. Bagiku aku sudah cukup bersabar dan berdiam diri akan semua rasa penasaranku ini ..!!"


Riri mengandeng lengan Indah. Dengan pelan dia mengajak istri dari bosnya itu untuk menuju kelantai bawah


" Aku akan jujur dan kuharap kamu mau berjuang jika memang kamu mencintai Devan ?"


Indah mengerutkan keningnya, dia sama sekali tak mengerti akan ucapan Riri. Namun dia menurut saja, saat gadis manis nan cantik itu mengajaknya kebawah .


Kini Indah memilih menatap Riri dengan intens, mencoba membuat gadis itu berkata jujur sejujur-jujurnya.

__ADS_1


" jadi katakan. Apa yang kamu ketahui tentang Devan. Jika dia belum bisa melupakan sosok istrinya ! Kenapa dia malah memintaku untuk menikah dengannya secepat ini ?"


" kenapa kamu bisa menyimpulkan hal itu ? Aku kan belum cerita soal itu !!"


" Jadi menurutmu aku sebodoh itu,hingga tak bisa memikirkan alasan apa yang membuat Devan memandangi potret anak dan mantan istrinya tengah malam begini ?"


Riri gelagapan, Indah benar. Bagaimana bisa dia malah menganggap jika perempuan didepannya ini sebodoh yang ia pikirkan .


" Devan memang belum bisa melupakan mantan istrinya. . Tapi untuk alasannya menikahimu aku tak mau mengatakan apapun . Biar kamu tahu sendiri dari bibir suamimu itu.."


Indah tak percaya akan perkataan singkat Riri


" Jadi , maksudmu menceritakan semuanya tadi apa ? aku tidak akan menanyaimu jika aku bisa membuat suamiku itu bicara ..!!"


Indah mencoba membaca raut wajah Riri.


" Ahh sudahlah.. Kalau begitu, apa tujuanmu datang kesini?"


Riri menunjukan layar hapenya pada Indah.


Membuat sosok istri dari bosnya itu kini malah menampakkan wajah marah..


" Apakah kalian tak punya waktu lain untuk bergosip ?" Devan berucap dengan nada dingin.


Namun tak ada jawaban. Indah malah menelisik penampilan suaminya dengan intens.


" Mau kemana ? ke kantor !!" itu bukanlah pertanyaan tapi sindiran.


" aku kira, aku tak perlu menjawab karena asisten kepercayaanku ini sudah memberi tahu kamu kemana aku akan pergi !!"


Indah menunduk, matanya tiba-tiba terasa panas dan tanpa bisa dicegah dia menangis.


" Jika aku tahu akan menjalani pernikahan seperti ini. Aku lebih baik tak pernah menikah..!!" tubuh ramping itu berdiri,dengan mata berlinang Indaj menatap Devan.


" Ini bukanlah pernikahan tapi ini adalah neraka dunia. ..!!"

__ADS_1


Devan memegang lengan Indah yang hendak berlalu , dia kini menarik mundur tubuh itu hingga berhadapan langsung dengan dirinya..


" Apa maksudmu. Bukankah impianmu adalah menikah. Seharusnya kamu berterima kasih padaku..."


Indah malah tertawa, meski air matanya tetap berjatuhan


" Kamu pikir, aku menginginkan pernikahan yang seperti ini !! Untuk apa menikah dengan seseorang yang berharap ia akan secepatnya mati demi bersatu kembali dengan istri dan anaknya..? aku ingin menikah karena butuh teman hidup dalam suka dan duka. Bukan mempersiapkan diri untuk menjadi janda.."


Devan tercengang !! Dia menatap kearah Riri dengan pandangan marah. Namun sang asisten malah menggelengkan kepalanya , mencoba mengelak dari pandangan penuh dengan tuduhan yang Devan tujukan untuknya..


" Bukan Riri yang memberi tahu ku !!" Indah melihat tatapan Devan yang tertuju pada Riri


"Jadi benar, apa yang aku katakan tadi ! Kamu menikahi ku agar bisa menemui ajal mu dengan cepat hah, apakah semua cerita tragis ku merupakan lelucon bagimu, ?"


Indah semakin kecewa, dia berpikir jika apa yang tadi terucap dari mulutnya tadi hanyalah kekonyolan yang tiba-tiba terpikirkan olehnya ,tapi ternyata itulah kebenarannya. Dia menghempaskan tangan Devan dengan keras.


" Aku akan menunggu kabar kematian mu. Tapi !! Izinkan aku tetap bekerja pada pak Bagus, setidaknya aku akan tetap waras sampai keinginanmu terkabul..!!"


Indah meninggalkan Devan yang tertegun. derap langkah kaki perempuan itu kini semakin menjauh, membuatnya mendudukkan diri dan menghantam meja dengan pukulan tinjunya membuat meja kaca itu pecah dan meninggalkan luka menganga pada buku tangan yang terkepal itu.


" Dev.. !!"


Devan mengisyaratkan Riri untuk tidak bicara padanya. Dia mengacak rambutnya dengan frustasi. Tak menyangka jika semuanya malah jadi seperti ini.


Sementara itu ,Indah yang mendengar sesuatu yang pecah tampak tak perduli. Wajahnya kini ia tenggelamkan ke bantal dan menangis sejadi-jadinya.


Ia sungguh menyesal kenapa harus menjalani pernikahan yang seperti ini.


" Baiklah.. Sudah cukup !!"


Indah duduk dengan cepat dan menghapus air matanya.


" Jika aku tak dianggap di hubungan pernikahan ini. Maka aku juga akan melupakan jika kamu adalah suamiku !!"


Indah segera menarik foto pernikahannya dengan Devan, dia mengambil gunting dan mulai merusak foto mahal itu dengan membabi buta. Bahkan tangan halusnya kini terlihat mengucurkan darah, namun dia seolah telah mati rasa. Sakit hatinya lebih besar daripada luka itu.

__ADS_1


" Kamu pikir kamu hebat ? aku bahkan bisa melupakan seseorang dalam hitungan hari. Jadi berhati-hatilah denganku bajingan...,!!"


Setelah memastikan foto itu tak berbentuk lagi, Indah kembali merebahkan tubuhnya ke kasur dan memejamkan matanya dengan rapat, mencoba menjemput mimpi yang mungkin bisa mengalihkan rasa sakitnya akan sikap Devan.


__ADS_2