Lelaki Terakhir

Lelaki Terakhir
Kembali ke awal


__ADS_3

Rupanya Riri dan Bi Imah masih menunggu didepan kamar, Ketika Indah keluar dari kamar rawat Devan, mereka memandang Indah dengan tatapan khawatir.


" Ri !! Bisa kamu jelaskan itu siapa ? kenapa wajahnya sangat mirip dengan Mendiang istrinya Devan ?" Indah memberondong Riri dengan pertanyaan penuh akan rasa penasaran.


Membuat Riri sedikit takut akan tingkah Indah yang tak biasa,


" Perempuan itu datang tiba-tiba saat Devan sadar tadi ! Dan dia langsung memeluk Devan, Devan juga terlihat senang akan kehadirannya. .!"


Riri menanti reaksi Indah namun tak kunjung melihat perubahan pada wajah cantik Indah yang kini terlihat pucat.


" Dokter bilang Devan mengalami amnesia lakunar, otaknya cidera hingga menyebabkan ia kehilangan sebagian ingatannya ..!" Riri menjelaskan apa yang tadi didengarnya dari sang dokter,


Indah menatap tak percaya akan ucapan yang dikatakan Riri. Jika demikian bagaimana nasib rumah tangganya dengan Devan kedepannya ?


Indah kini terduduk dilantai rumah sakit, padahal baru saja semalam dia mengalami kehidupan yang sempurna, dimana dia merasa dicintai dengan sangat dalam.


" Lalu siapa sebenarnya perempuan itu, Bi ?"


Kini tatapan Indah mengarah ke Bi Imah, wanita paruh baya itu tampak salah tingkah. Dia memang sengaja memilih diam sedari tadi karena dia tak tahu harus bereaksi seperti apa karena melihat perempuan yang parasnya sangat mirip dengan mendiang istri Devan itu, membuatnya mendadak merasakan rindu yang dalam pada sosok almarhumah.


" Bibi juga kaget Non. Dan Bibi juga nggak tahu siapa perempuan itu ?"


Selesai kalimat itu diutarakan Bi Imah, sosok yang mereka bicarakan kini hadir . Tak ada yang sadar akan suara pintu yang terbuka.


" Aku Rania saudara kembar Rindi !!" Tangan putih gadis itu menjulur didepan Indah. Membuat Indah menatapnya dengan tak percaya.


" Jadi. Katakan kenapa kamu bisa datang kesini dan mencuci otak suamiku ?" Indah berucap dengan dingin, membiarkan tangan Rania menggantung di udara. melihat reaksi Indah. Rania segera menarik tangannya kembali ke sisi tubuhnya.


" Jangan salah paham .. Aku sungguh tak bermaksud. Jujur saja aku sudah lama mencari keberadaan Saudari kembarku. Dan bertemu Devan membuatku seolah merasakan angin segar..!! "


Mata itu berucap dengan tulus , membuat Bi Imah menangis, namun tak membuat Indah merasa bersimpati.


" Rindi sudah meninggal tiga tahun yang lalu !!" Bi imah lah yang menjawab.


" Apa ? "

__ADS_1


Rania memandang Bi Imah minta penjelasan. Tak menyangka jika dia malah dihadapkan akan kabar dan juga kenyataan pahit seperti ini .


Rania menangis dalam diam. Dia pikir dia akan bahagia karena telah menemukan saudara sekaligus keluarga satu-satunya.


" Maaf jika aku seolah tak bersimpati akan kesedihanmu !! Tapi bisakah kau jelaskan pada Devan, jika kamu bukanlah istrinya. Dan aku ! aku istrinya sekarang !!"


Indah berucap dengan nada keras, dia sakit. Mengingat betapa Devan menatap perempuan dihadapannya ini dengan pandangan penuh cinta, saat dikamar rawat tadi.


Rania tak menjawab, dia kini tengah terisak seraya memegang dadanya yang terasa sesak.


Melihat pemandangan didepannya Bi Imah jadi bimbang, antara menenangkan Indah atau menenangkan Rania, saudara kembar dari Rindi.


Riri berinisiatif memeluk Indah, menenangkan sosok yang masih menatap nyalang pada Rania yang menangis. Riri pun sebenarnya merasa aneh akan kehadiran tiba-tiba sosok Rania, terlebih perempuan itu seolah telah membaca situasi disini dengan sangat detail, entah instingnya salah atau benar. Tapi yang jelas, Riri merasa dia mencium gelagat aneh dari perempuan yang katanya saudara kembar Rindi, mendiang istri dari Devan.


***


Masa pemulihan kini telah dilewati dengan baik oleh Devan, meski Indah hanya bisa menggenggam tangan suaminya hanya saat Devan tertidur saja. Karena saat terjaga, yang dicari Devan hanyalah Rania dan Rania.


" Sampai kapan semuanya akan seperti ini Bi ? Aku , Aku harus bagaimana ?" Indah memandang Devan yang kini mengandeng Rania. Hari masih siang, dan memang Devan lah yang meminta proses pemulangannya dipercepat.


Indah menangis, entah sudah berapa banyak dia mengeluarkan air matanya untuk sang suami yang sama sekali tak mengingat dirinya sedikitpun. Ini bahkan belum satu minggu. Bagaimana jika semua ini akan terjadi lebih lama lagi .


" Bi ? aku lihat kalau bibi akrab dengan Rania Apakah dia bilang jika akan membawa Devan kemana ? "


Bi Imah tergagap, dia sekarang dilanda kebingungan. pasalnya Rania telah tahu alamat Devan dengan jelas, bahkan perusahaan-perusahaan yang dikelola oleh Devan, tiga tahun belakangan.


" Anu Non. . !! Devan akan pulang ke rumah kalian... !!"


Indah memandang Bi Imah dengan tatapan tak percaya,


" Sebenarnya bibi di pihak siapa ? Kenapa aku merasa jika Bibi sekarang seolah sedang menikam ku dari belakang? Terus. Bagaimana denganku Bi , Apa aku harus merelakan suamiku seatap dengan perempuan lain ? " Indah emosi dia berteriak tak peduli suasana rumah sakit yang ramai. Tak berapa lama Kemudian, dia menampilkan senyum pada tangisnya.


" Aku salah karena percaya bahwa bibi adalah orang baik.. Terima kasih karena telah mengajarkanku untuk berhati-hati dalam berteman..!!"


" Non !!"

__ADS_1


" Cukup Bi !! Jangan berikan alasan apapun, karena sekali aku dikecewakan keadaannya tak akan sama lagi seperti sedia kala...!!"


Indah melangkah meninggalkan Bi Imah tanpa menoleh lagi. Sekarang dia harus mempersiapkan diri untuk mengambil hati Devan kembali.


Meski agak sulit karena reaksi Devan yang sangat kasar dan dingin jika bertemu dengannya, terlebih mungkin dia harus kembali menghuni apartemennya, agar Devan tak mengalami Syok, karena kehadirannya di rumah pribadi pria yang sebenarnya telah berstatus suaminya itu.


***


Sementara itu Devan memandang rumah dimana taksi mengantar mereka. Rumah mewah ini sangat asing baginya, apalagi sepanjang jalan Rania menjelaskan jika dia telah menjadi pengusaha sukses, bukan lagi seorang buruh pabrik.


" Ini benar rumah kita ? Kamu yakin Rin? "


Rania mengangguk, meski dia telah tahu beberapa bulan yang lalu akan kesuksesan suami dari kembarannya ini, tapi melihat rumah ini dari dekat dan bahkan akan tinggal disini membuatnya merasa senang dan lupa jika ini bukanlah miliknya, kesedihan akan kehilangan Rindi, tergantikan dengan keinginan untuk mengantikan posisi Saudari kembarnya itu disisi Devan.


Apalagi Devan kini terlihat semakin gagah dan tampan, tak seperti pertemuan terakhir mereka saat Rindi hamil Bima, sang ponakan.


Mengingat Bima, Rania kini malah gugup. Meski sudah berapa hari ini Devan tak membahas soal anak. Tapi, dia tetap takut jika keberadaan Bima malah dipertanyakan oleh Devan.


" Apa kita akan berdiri disini sampai malam ?"


Suara Devan menyadarkan Rania, gadis itu kini menuntun Devan agar memasuki rumah itu.


Suasana yang sepi, membuat Rania heran. Dimana wanita paruh baya yang memperkenalkan dirinya sebagai pembantu rumah ini.


Sedangkan dia bahkan tak tahu sedikitpun tentang detail kamar maupun ruangan dalam rumah besar ini ..


" Eh Den Devan !! maaf, Bibi tadi mau jemput, tapi kata dokternya Kalian sudah pulang naik taksi !!"


Rania menghembuskan nafas lega, seolah malaikat penolongnya telah datang.


" Bi . Kamar kita sudah dibereskan belum ? Devan harus segera berbaring, agar kepalanya tak pusing..!"


Rania menatap penuh arti kepada bi Imah. Meski agak kaget dengan ucapan tentang ' Kamar kita ' yang diucapkan Rania. Tapi, bi Imah kini menaiki tangga seolah memberi tahu Rania kalau kamar Devan ada dilantai atas ..


" Mbok !! Aku harus mengambil sesuatu didalam kamar Tuan Devan !!"

__ADS_1


Itu Suara Indah, entah kapan istri dari Devan itu sampai kesini. Dan yang membuat Bi Imah dan Rania kaget adalah, Indah memakai pakaian seragam khas pelayan ala kerajaan, dengan tampilan mencolok nan seksi ..


__ADS_2