Lelaki Terakhir

Lelaki Terakhir
Kesempatan.


__ADS_3

Indah pulang dengan lemas, dia sudah mencoba mengabaikan akan tatapan benci nan mencemooh para karyawan dikantornya, namun nyatanya itu mempengaruhi kondisi psikisnya, walau bagaimanapun dia juga manusia biasa yang tak bisa jika ditelanjangi didepan umum dan dianggap sebagai sumber masalah dan petaka.


" Bi ! Devan sudah pulang? "


Indah yang melihat bi Yuli, langsung menyapa. Dia tak menyadari jika sosok yang dia tanyakan pada sang Art telah berdiri bersedekap dibelakangnya !


" Non Indah kenapa ?"


Bi Yuli mengabaikan pertanyaan Indah, Dia segera menuang segelas air putih dan disodorkannya pada Indah. Perempuan itu segera menghabiskan air itu dengan sekali teguk.


" Haus banget ya Non ?"


Bi Yuli, tersenyum. Dia melirik Devan yang masih bergeming di posisinya.


" Emang kenapa Non. Masalah Devan lagi ?"


Devan yang menyimak, mengernyit karena namanya dibawa-bawa.


" Sabar kan hati Non.. Devan pasti akan membuka hatinya untuk Non. .!"


Indah duduk , di kursi makan dengan lesu.


" aku mau cerai Bi !!". Indah menjawab dengan memijit keningnya yang terasa pusing.


" Aku semakin banyak masalah karena pernikahan ini !! Lagian dia menikah denganku bukan karena cinta. Tapi karena nasibku yang malang soal lelaki. Aku tak dapat memenuhi harapannya untuk bertemu istri dan anaknya. Dia pasti sangat kecewa..."


Bi Imah cukup kaget, mendengar hal yang sangat janggal dari mulut Indah.


" Maksud non Apa ? Bertemu istri dan anak ? mereka kan sudah tak ada di dunia ini ..!!"Bi Imah menarik kursi yang lain agar bisa duduk lebih dekat dengan Indah dan mendengar jawaban Istri dari Devan itu.


" Aku selalu gagal menikah karena calon pengantin pria selalu saja meninggal sebelum hari pernikahan tiba. Aku dijuluki perempuan bahu lawean karena hal itu Bi...!! Hal inilah yang membuat Devan mau memperistri ku Mungkin sampai kapanpun aku dan Devan tak akan bisa saling mencintai, karena Devan telah menutup hatiny akan kehadiran perempuan lain ..!!"


Bi Imah memandang kearah Devan, pria itu kini nampak menunduk, yang artinya apa yang diceritakan oleh indah adalah sebuah kebenaran.


Bi Imah kini memeluk Indah. Meski tak ada air mata yang mengiringi ucapannya soal Devan, tapi bi Imah tahu jika sekarang Indah benar-benar sedang merasa sedih dan kacau.


" Sebaiknya kalian bicara..!" perempuan paruh baya itu melepaskan pelukannya

__ADS_1


"Van, kamu lelaki, selesaikan apa yang telah kamu mulai.. !!"


Indah mengikuti arah pandang Bi Imah, dan menemukan Devan berdiri dengan kaku dibelakangnya.


" Sejak kapan dia disitu Bi ?"


" Sejak Non sampai di rumah ini !!"


Bi Imah kini meninggalkan keduanya, sesuai apa yang tadi di inginkan nya. Berharap Devan dan Indah bisa bicara dari hari kehati


" Aku harap, kalian tidak mengakhiri pernikahan ini. Karena nyatanya kalian bahkan tak berusaha memulainya dengan baik..!!"


Pesan Bi Imah ketika dia selangkah lagi keluar dari pintu belakang. kemudian sosok itu menghilang seiring dengan pintu yang kini telah tertutup rapat.


"Aku tak akan mengulang ucapanku tadi !! aku ingin kita cerai..!!" Indah memulai pembicaraan dengan santai, bahkan dia tak perduli sosok yang diajaknya bicara masih saja berdiri diposisi yang sama.


" Kenapa ? " Devan malah menjawab penuh rasa penasaran . " Bi imah kan sudah bilang jika kita bahkan belum memulainya sama sekali bagaimana bisa kita mengakhiri sesuatu yang belum dimulai.."


Indah berdiri, dia kini menatap pria didepannya dengan nyalang .


" Sekarang jawab pertanyaanku ? Apa kamu, yang telah meniduri ku malam itu ?"


" Kita suami istri, dan jika aku tak melakukan hal itu, maka kamu mungkin akan menggoda pria lain dengan tubuhmu. .!"


Ada kilat marah di mata Indah, meski dia membenarkan ucapan Devan.


" Jangan menatapku seperti itu. Aku tahu jika kamu dalam pengaruh obat perangsang !! Tapi hal seperti kemarin tak akan terjadi jika kamu tak berontak dan merubah sudut pandangmu akan kehidupan. .!!


" seharusnya kamu tak perlu pergi, dan meninggalkanku di sana sendirian..!!" Indah memekik, mengenang Tiga hari yang dilaluinya dengan rasa bersalah dan penyesalan.


Devan mendekat, dia menarik Indah kedalam pelukannya. Meski agak kaku, dan bingung akan refleks tubuhnya sendiri. Nyatanya ada kenyamanan yang dia rasakan saat memeluk istrinya , Indah..!!


" Maafkan kelakuanku malam itu !! Tapi percayalah aku melakukannya untuk menyelamatkanmu !!"


" Jadi.. Malam itu, adalah malam pertama kita..?" Indah bertanya pelan, dia menikmati detak jantung Devan yang berdetak teratur. Apakah pria ini tak ada perasaan padanya ? Karena biasanya saat orang jatuh cinta maka jantungnya akan terpompa dengan cepat .


" Yang dilakukan tanpa Cinta ,?"

__ADS_1


Devan berkedip cepat, namun tak mau menjawab sepatah katapun ucapan dari Indah .


" Aku lega, setidaknya bukan orang lain, yang mengambil mahkota itu !!"


Indah mendongak, dia menyentuh pipi Devan membuat Devan kini malah membalas tatapannya


" Jadi ..Ayo kita bercerai ,...!!"


Indah melepaskan pelukannya


" Aku tak butuh sepersen pun dari harta yang kamu miliki..!!"


" Apakah Kita tidak bisa memulainya dari awal lagi ?"


" Jujur aku mulai menyukaimu !! tapi, apakah kamu akan berusaha untuk membalas perasaan itu, atau sedikit saja melihatku sebagai perempuan spesial. Aku tidak bisa hidup dengan pria yang hanya mendedikasikan hidupnya untuk mati..!!"


Tatapan Indah semakin terlihat terluka


" Lagian, aku tak akan menang jika harus bersaing dengan sosok tanpa wujud. Aku akan kalah, bahkan jika aku mengorbankan jiwaku sekalipun !!"


Devan tertegun , dia tak mampu mengeluarkan satu katapun dari bibirnya. Saat tersadar Indah sudah tak tampak lagi di area dapur ini. Pria itu menyentuh Dadanya yang berdetak cepat, Kemudian menatap ke arah pintu, dimana kemungkinan Indah telah menghilang.


Devan kini malah berjalan cepat dia mencari keberadaan Indah dan menemukan jika Kini Indah sedang menata baju-bajunya ke dalam koper, Devan menarik sosok itu kedalam pelukannya lagi .


" Aku mulai tertarik padamu , Indah !! Bantu aku, dan jangan pergi !! aku mohon !!"


Indah mendengar perkataan Devan tanpa ekspresi, dia masih memberi ruang pada tubuhnya agar tak langsung bersentuhan dengan tubuh Devan.


" Beri aku kesempatan, Ajari aku tentang cinta sekali lagi. Tanpa membuatku lupa jika aku pernah punya masa lalu !! aku mohon. ..!!"


Indah kini didekap erat oleh Devan. Membuat jarak yang tadi dia ciptakan menghilang. Namun ekspresinya tetap sama..


" Beri aku waktu tiga bulan. Untuk berubah, jangan pergi ,...!!"


" Lepas ...!!"


Indah akhirnya buka suara, meski satu kata yang dia keluarkan membuat Devan merasa jika Perempuan didepannya ini tak akan memberinya kesempatan.

__ADS_1


Membuatnya pasrah, setidaknya dia sudah berusaha dan menghalangi Keinginan Indah. Soal hasil akhirnya, Dia Menyerahkan keputusan sepenuhnya pada tangan Indah. Yang akan menjalaninya..


" Satu bulan !! Jika hubungan ini tetap terasa hambar, maka izinkan aku memilih jalanku sendiri... Bagaimana ?"


__ADS_2