
Devan tersenyum, melihat betapa memelas nya wajah sang istri ketika dia dekati. Apakah setakut itu Indah, karena dia meminta haknya.
" Sebentar lagi Maghrib. Jadi waktu kita sangat terbatas. Lebih baik kita undur saja nanti malam . Bagaimana ?"
Indah tersenyum kecut, meski dia menarik nafas lega. Tapi ucapan Devan malah semakin membuatnya malu,
"Se.. Sebaiknya kamu temui Riri ! Aku akan berganti baju..!"
Devan langsung berbalik, dia masih mengulum senyum saat kemudian membuka pintu, dan menemukan wajah Riri yang cemberut dengan kening berlipat.
Gadis itu melongok kedalam kamar sang bos, dan menemukan Indah yang menggenggam handuknya erat, seolah takut seseorang menariknya. Sepertinya apa yang Devan katakan tadi ditelpon adalah kebenaran.
" Jadi .. Kalian benar-benar melakukannya tadi...! " Riri menatap tak percaya , dan dia memandang Devan dengan pandangan yang entah .Menilik penampilan Devan yang masih berpakaian lengkap.
Devan mengetuk kening gadis itu. Riri memang telah dianggapnya sebagai seorang adik. Jadi dia tak segan bersikap manis, galak sekaligus tegas pada Riri.
" Jangan kotori pikiranmu dengan hal mesum !! belum saatnya bagi kamu untuk memikirkan hal itu ! Mengerti ?"
Riri mengangguk dan menyerahkan map Biru pada Devan . Membuat pria itu tersenyum puas ..
" Aku selalu dibuat kagum akan kegesitanmu !! "
Devan membuka map itu dan meneliti foto beserta biodata para calon bodyguard untuk sang istri. Dia malah menemukan jika semua kandidat ini lebih seperti sedang melamar pekerjaan sebagai Foto model, karena menampilkan foto full body yang menarik dengan senyuman manis.
" Kamu yakin mereka bisa diandalkan ?"
Devan memandang Riri dengan pandangan ragu,
" Apakah kita akan membahas persoalan ini disini. ." Riri malah menatap Devan dengan lemah.
Devan memandang Riri, yang berdiri didepan pintu dan dirinya sendiri yang seolah menghalangi gadis itu untuk memasuki kamar pribadinya.
" ehm... Sebaiknya kita kebawah saja. "
Devan melirik kedalam, dan menemukan istrinya sudah selesai berganti baju dan kini sedang menyisir rambut didepan meja rias.
Dia memilih tak pamit dan langsung saja turun kebawah bersama dengan Riri.
__ADS_1
" Zaman sekarang penampilan itu penting Van, lagian mereka satu angkatan sama aku saat menempuh pendidikan. mereka juga ahli bela diri..!!"
Kini keduanya berada diruang keluarga, dengan dua cangkir kopi yang telah terhidang. Bi Imah memang sesigap ini kalau soal minuman penyambut tamu. Padahal Devan baru saja menghabiskan Kopinya tadi.
" Aku merasa jika mereka malah pantas menjadi model saja, dari pada menjadi pengawal pribadi untuk Indah.. Aku takut mereka malah sibuk mempercantik diri mereka dan mengabaikan tugas yang sebenarnya.." Devan masih merasakan keraguannya akan rekomendasi dari Riri kali ini.
Indah datang, dan langsung mengambil alih map yang ada ditangan sang suami. Dahinya mengernyit ketika menemukan biodata para gadis cantik di map itu .
" Ini apa ? Kamu mau cari istri lagi ?"
Devan melotot mendengar itu, sementara Riri malah tertawa puas , akan tuduhan yang diucapkan Indah.
Devan melakukan hal yang sama pada Indah, yaitu merebut paksa map itu,
" Ini kandidat yang akan menjadi teman, atau bisa disebut dengan pengawalmu !!"
" Nggak salah. Bisa-bisanya kamu malah tergoda nantinya sama mereka. Melamar sebagai bodyguard kok kayak lagi pamer body dan wajah gitu!!"
Indah bersugut-sugut merasa aneh dan tak terima.
" Emangnya kamu pikir aku pria seperti yang baru saja kamu katakan. Lagian jika dibandingkan dengan mereka. Riri jauh lebih menarik. Jadi , jangan berpikir seperti itu !!" Devan menjawab cuek, dan kembali menatap lembaran kertas ditangannya.
Suasana yang mendadak hening. Membuat Devan mengalihkan pandangannya kearah Indah dan Riri, dia menemukan jika keduanya kini seolah diliputi aura permusuhan.
" Kalian marahan ? Kenapa ?"
Devan bertanya menatap bergantian keduanya, kemudian mengambil gelas kopi dan menyeruputnya.
" Sayang !! Sepertinya kita akan bergadang malam ini . Karena Bi Imah telah memberiku dua cangkir kopi dalam waktu yang berdekatan..!!" Ada tawa dalam ucapan Devan.
Namun Indah tetap menatap kearah Riri. Seolah tak mendengar apa yang diucapkan oleh Devan.
"Heii !! " Devan menyentuh wajah Indah, dengan lembut memaksa istrinya itu untuk menatap kearahnya.
" kenapa kamu melihat Riri dengan pandangan seperti itu ? Apa ada yang salah padanya ?"
" Aku mau bertanya satu hal Bolehkah ?" Indah malah bertanya, membuat Devan mengangguk memberi Izin.
__ADS_1
" Apakah ada sedikit saja , perasaan sayang kamu kepada Riri ? mengingat kalian sudah lama bersama, dan sudah sangat dekat satu sama lain..!!"
Pertanyaan Indah membuat Devan memandang gadis yang sedari tadi masih menundukkan wajahnya.
" Apa ini karena ucapan ku tadi ?" Devan kini menggenggam tangan Indah
" Sayang !! bukankah sudah aku tegaskan jika kamu satu-satunya perempuan yang berhasil membuatku membuka hati. Kamu dan Riri tentu saja berbeda, aku menyayangi Riri sebagai sosok seorang adik. Sedangkan kamu !! kamu berada di hati dan otakku !!"
Devan mengecup lembut tangan Indah..
" Jangan menyudutkan Riri dengan cemburu mu !! Oke .."
" Aku bukan cemburu, Van. Tapi belajar dari pengalaman jika yang selalu bersama akan lebih berkesan, daripada sosok baru yang masih butuh penyesuaian..!!"
Riri kini semakin menunduk, jujur saja ucapan Indah membuatnya kurang nyaman. Secara tidak langsung, tuduhan istri dari bos nya itu malah mengingatkan dirinya akan betapa konyolnya dia dulu. Saat mengutarakan perasaannya pada Devan, dan dengan tegas malah langsung ditolak oleh Devan saat itu juga. Entah Devan mengingatnya atau tidak, yang pasti ada saat-saat dimana Dirinya merasa canggung dan malu akan bersikap seperti apa pada sang bos .
" Jangan takut Ndah. Jika Devan mencintai ku maka dia tak akan menghadirkan mu diantara kami. Aku dan dia sudah nyaman dengan hubungan saudara yang terjalin tanpa ikatan darah ini. Jadi, nyamankan dirimu dan akupun akan melakukan hal yang sama.."
Mendengar jawaban Riri, Indah merasa jahat. Seolah dia menuduh gadis itu ingin merebut Devan dari dirinya. Diapun sebenarnya takjub akan apa yang tadi dia ucapkan. Apakah dia sudah benar-benar jatuh cinta dengan sosok Suaminya ? Hingga perasaan cemburu tak bisa dia bendung, mendengar Devan memuji gadis lain tepat didepan matanya.
" Maaf ya Ri. Aku tak bermaksud !! " Indah melepaskan genggaman tangan Devan dan Memegang tangan Riri. Dia menatap wajah itu dengan senyuman permohonan maaf. Dan Dibalas Riri dengan anggukan kepala.
" Aku mengerti, jika aku diposisimu pasti aku akan melakukan hal yang sama !!"
" Oke !! jadi, Istriku !! mana yang akan kamu pilih diantara lima perempuan ini ?" Devan kini menyerahkan Map itu lagi, pada Indah.
" Apakah ini harus ? Lagian apa yang sebenarnya kamu takutkan terjadi padaku ? Kamu bukan mafia kan ! Yang harus siap mendapat serangan musuh kapan saja..!!"
" Ini harus, Ndah. Titik!!" Devan beranjak, moodnya tiba-tiba rusak.
Sedangkan Indah malah dibuat terkejut lagi akan tingkah suaminya yang laksana bunglon tersebut.
" Apa aku salah bicara ?"
Indah memandang Riri, meminta jawaban. Namun gadis itu mengendikkan bahunya tanda tak tahu.
" Mungkin dia marah, karena kamu membantah perintahnya ?"
__ADS_1
" Benarkah ? "
Indah memandang kearah dimana Devan menghilang. Semakin kesini kenapa Devan malah semakin misterius !!