Lelaki Terakhir

Lelaki Terakhir
Masalalu Devan,


__ADS_3

Riri memilih pamit, karena adzan Maghrib kini telah usai.


Sementara Indah kini memandang lagi kelantai atas, melihat dimana sekiranya menjadi tempat keberadaan Devan.


Setelah memastikan Riri telah pulang kerumahnya dan juga memanggil Bi Imah untuk membawa cangkir kopi kebelakang, Indah segera naik menuju ke kamar. Dia membuka pintu dengan pelan . Dan ternyata Devan tengah duduk dibibir ranjang, kedatangan Indah membuatnya menatap sosok istrinya itu dengan mata yang tajam.


"Kamu kenapa sih ? Kadang aku suka parno dengan sikap kamu yang benar-benar susah ditebak. Maaf jika penolakan ku membuatmu seperti ini !!" Indah mendekati Devan, dengan bibir yang bicara tanpa jeda.


Tiba-tiba Devan menarik pinggang Indah. Membuat sosok perempuan itu, kini duduk dipangkuan sang suami.


" Aku tak mau mendengar lagi penolakan akan sesuatu yang sebenarnya aku lakukan demi kebaikanmu..!! Kamu mengerti kan ?" Devan mencium lekuk bahu Indah, membuat bulu kuduk Indah meremang,


Indah tersenyum kikuk, tak merasa nyaman akan posisi mereka saat ini.


" Aku rasa aku terlalu berat untuk di pangku seperti ini !! Lagipula, aku sudah besar "


Devan memandang wajah Indah dengan lekat, pria itu menelisik setiap inci wajah cantik sang istri . Tak peduli akan protes yang dilayangkan Indah.


" Ternyata kamu secantik ini !! huh, apa mataku selama ini telah dibutakan dengan kenangan masa lalu, hingga aku tak sadar jika aku telah menikahi sosok bidadari..!!"


Indah mencubit pinggang Devan, dia membalas tatapan suaminya dengan pandangan yang terkesan menantang.


" Jadi , darimana semua harta ini kamu dapatkan ?" Indah meraba dada Devan yang masih berbalut kaos polos, mencoba membujuknya agar mau menceritakan semua yang dialami sang suami dimasa lalu, hingga bisa berada dititik ini.


Devan tersenyum, dia meletakkan tubuh Indah dengan hati-hati agar duduk disampingnya.


" Kamu berat juga ternyata. Dan soal pertanyaan mu apakah aku harus menjawabnya sekarang ?"


Indah cemberut, merasa usahanya merayu Devan tak mendapatkan hasil yang semestinya.


" Kan sudah janji !! kamu sendiri yang mengatakan jika akan meneruskan obrolan kita tadi, malam ini!! Ayolah , bukankah janji adalah hutang ? Lagi pula aku adalah istrimu, Tak akan lucu jika seseorang menanyakan latar belakangmu sementara aku tak tahu apa-apa ?"


" Ini warisan dari Ayah angkat ku !!" Devan memandang ke sembarang arah, sembari memulai cerita


" Dia merupakan pengusaha sukses, yang usahanya mencakup hampir semua aspek. Aku mengenal beliau karena kematian istriku, tepatnya setelah balas dendam yang aku lakukan pada pelaku..!!"

__ADS_1


" kenapa bisa seperti itu ?"


Devan memandang Indah dengan lekat " Bisa !! karena bajingan yang telah tega membunuh keluarga kecilku itu cukup disegani dan menjadi seseorang yang paling ditakuti oleh Pak Barata, Ayah angkat ku ..!"


" Maksudmu, setelah tahu kamu menyingkirkan musuhnya dengan mudah, dia memberikan perlindungan penuh akan hidup dan juga kebebasan, meski kamu telah melakukan tindak kriminal ,?"


" Yups !! Dan seminggu setelah itu beliau meninggal, setelah menanda tangani pengalihan semua aset baik perusahan maupun sekecil apapun barang pribadi beliau atas namaku !!"


Devan dapat melihat, jika Indah hendak mengeluarkan pertanyaan.


" Dia sama sekali tak punya anak. Karena istri dan anaknya telah menjadi korban pembunuhan oleh saingan bisnisnya. . !"


Devan kini menggenggam tangan Indah dan mengecupnya, " Tadinya, aku sempat berpikir jika hidupku akan seperti beliau. Tapi, bertemu denganmu, membuatku malah berpikir ingin punya banyak anak, sebagai penerus !!"


Indah merasakan hawa yang berbeda saat Devan mengakhiri ceritanya dengan kalimat yang membuatnya lagi-lagi merasa kikuk.


" Jadi . Ayo kita lakukan prosesnya sekarang !! "


Tuh kan !!


" Tapi Dev, aku belum siap !! "


Devan memilih mengabaikan penolakan sang istri, dia menarik Indah kearahnya dan langsung memberi bibir yang terlihat mempesona itu sebuah kecupan yang dalam.


Tangannya pun kini bekerja dengan sangat telaten, mencoba melepaskan pakaian yang masih membalut tubuh ramping itu ..


" Non Indah.. Non !! Didepan ada tamu, !" Ketukan dan ucapan dari bi Imah membuat Indah bernafas lega, dapat dilihatnya jika Devan merasa kesal karena aktivitasnya dihentikan oleh sang Bibi dengan tiba-tiba.


" Sebentar.. !! "


Indah memperbaiki pakaiannya yang telah diacak-acak jemari nakal Devan. kemudian dia memberi kecupan singkat pada pipi suaminya itu, membuat Devan semakin merasakan kesal.


Dilihatnya jika kini Indah tengah asyik mengobrol dengan Bi Imah. Dan sesekali mata itu menoleh kearah dimana dia berada sekarang. Tak ingin terbakar oleh emosi dan birahinya sendiri. Devan memilih merebahkan tubuhnya di kasur dan menutup matanya dengan rapat, mencoba untuk tidur !!


Sementara itu, Tamu yang dimaksud Bi Imah adalah Bagus, atasannya di kantor. Indah menuruni tangga, disusul Bi Imah. Dari sini, dia langsung dapat melihat jika bagus kini menatap kearahnya,

__ADS_1


" Tumben Pak !! ada hal penting apa ?" Indah duduk didepan bagus dan langsung to the point pada sang bos.


" Bagus aja ndah !! kita kan berada di luar kantor, jadi tak usah bicara seformal itu."


" Ya gimana lagi Pak ,., eh Gus. !! kebiasaan juga Hehehhehe. Pasti sangat penting Ya, sampai kamu datang kesini ? "


"Hmm, sebenarnya Iya. Aku butuh file yang ada di flashdisk kamu, Ndah. Biasanya kan kamu nggak bawa tapi tadi aku cari di laci kerjamu malah nggak ada .."


" Loh Pak .. Eh salah lagi hehe . Kan besok aku masuk kantor kenapa malah kamu sampai repot datang kesini ?"


" Bukannya kamu sendiri yang mengirim pesan padaku jika kamu mau resign dan akan bekerja pada suami tampan mu itu, bahkan kamu langsung memblokir nomorku sebelum aku sempat menanyakan tentang flashdisk padamu !!"


Indah memandang Bagus dengan malu, dan tak tahu harus berkata apa . Pasti ini adalah ulah Devan, suaminya .


" Oh ..Aku lupa !! Sebentar aku ambilkan ..!!"


Bi Imah datang dan langsung menyuguhkan minuman untuk tamu dari istri majikannya, sementara Nonanya itu kini melangkah kearah tangga untuk menuju ke lantai atas .


" Silahkan diminum Den !!"


Bagus mengangguk sopan pada bi Imah, sebagai tanda menghargai..


Dikamar Devan kini malah duduk dan memandang pintu dengan nelangsa. Meski masih sibuk menenangkan otongnya karena gagal bergelut, tapi ternyata rasa penasaran Devan tak bisa dia abaikan. Dia bertanya-tanya siapakah tamu yang dimaksud oleh Bi Imah.


Baru saja hendak beranjak, Indah kini telah kembali ke dalam kamar mereka, dengan gesit Devan langsung mengunci pintu , membuat Indah menghentikan tangannya yang hendak membuka tas kantor miliknya." Kamu mau ngapain ?"


Devan tak perduli, dia kini malah memeluk Indah dari belakang..


" Dev, dibawah ada Bagus dia datang kesini untuk ini !!" Indah memperlihatkan benda kecil itu didepan Devan,


" Jangan tanya kenapa dia datang kesini, malam-malam. Karena ini semua juga karena ulah mu !!"


Devan langsung teringat jika dia tadi telah memblokir nomor Bagus , sesaat setelah mengirim pesan pada bos dari istrinya itu.


Mengingat itu, dia diam saja saat Indah melewatinya dan kini kembali lagi kebawah menemui Bagus.

__ADS_1


Gagal maning, gagal maning .


__ADS_2