Lelaki Terakhir

Lelaki Terakhir
Resepsi


__ADS_3

Indah menemukan lagi pantulan dirinya di cermin, Riasan wajah ala Barbie kini melengkapi penampilannya. Mahkota kecil bertahta berlian bahkan kini telah bertengger cantik di kepalanya, dalam hati ia bertanya dimana sebenarnya mereka akan melakukan resepsi hingga dia harus memakai gaun semewah dan secantik ini ?


" Sudah siap Ndah ?"


Astrid kembali datang dengan gaun malam yang elegan dan seksi tapi semakin membuat ibu satu anak itu terlihat cantik dan lebih berkharisma..


" Kamu tahu, kita akan kemana ?,"


Indah berbisik, karena masih ada sang MUA disini. Bukankah aneh jika mempelai tak mengetahui dimana resepsinya akan dilaksanakan.


" katanya di hotel kharisma,,"


" Serius ?"


Indah membuka mulutnya tak percaya, pasalnya hotel itu adalah hotel bintang lima, dan tidak sembarang orang sanggup untuk membooking nya terlebih untuk acara besar, sejenis resepsi pernikahan.


" Suami kamu benar-benar tajir Ndah .. Aku berharap kalian langgeng sampai kakek nenek, dan melupakan kontrak bodoh itu.."


Astrid berbicara antusias dan merasa bahagia.


Indah tersenyum menanggapi, entah kenapa melihat air mata Devan kemarin, dia merasa jika kehadirannya di kehidupan pria itu telah membuat luka, bukan kebahagiaan.


" Aamiin.."


***


Kini Indah dan Astrid telah berada didalam mobil sedan jenis klasik yang sejujurnya tak diketahui oleh mereka ini mobil merk apa. Tapi menilik dari penampilannya yang mengkilat dan mahal, sudah pasti mobil ini disiapkan khusus untuk pernikahan ini.


Tak seperti pasangan pengantin pada umumnya, Indah dan Devan tak berangkat bersama ke tempat resepsi, bahkan Indah sama sekali tak tahu, kemana suaminya itu kini berada, untungnya Kehadiran Astrid membuatnya merasa jika pernikahan ini benar-benar terjadi dan bukan hanya permainan belaka.


Mereka kini telah sampai di hotel, dan ternyata Devan dengan gagah telah menunggunya, Indah diterpa kebingungan namun tetap tersenyum penuh pada Devan, meski tak mendapatkan reaksi yang sama.

__ADS_1


" Terima kasih..." Indah berbisik lirih, sungguh dia tak menyangka jika pernikahan ini akan Semewah dan seberkesan ini. Biarlah dia menikmati saat ini seolah sebagai pengantin yang berbahagia, soal suaminya. Bukankah mereka bisa memulai semuanya dari awal untuk menumbuhkan perasaan yang disebut dengan cinta..


" Aku tak suka dengan perempuan yang banyak bicara..!!"


Indah tersenyum, " Seharusnya kamu pastikan dulu akan menikah dengan siapa, sebelum menyuruhku untuk diam.."


Indah mempererat gandengan tangan mereka, menunjukkan kepemilikan atas pria tampan yang kini benar-benar telah menjadi suaminya.


Mata para tamu undangan seolah tak berkedip, menatap sepasang pengantin yang nampak serasi itu.


Indah memasuki hotel berbintang itu dengan langkah anggun, diiringi sosok Devan disampingnya, dan juga puluhan Bridesmaids dibelakangnya. Indah merasa takjub, akan dekorasi gedung yang dihias ala kastil kerajaan, dengan gemerlap lampu yang menyorot di segala sudut, Sungguh sekarang Indah seolah tahu rasanya hidup sebagai seorang putri dengan banyak pengawal dan Dayang.


Wajah-wajah familiar kini nampak dimatanya, Devan bahkan mengundang seluruh karyawan kantor tempatnya bekerja, bahkan penghuni apartemen yang cukup akrab dimatanya kini juga terlihat.


Sedetail ini Devan mengetahui tentang dirinya, bagaimana mungkin dia tidak terpesona, dengan segala sesuatu yang telah pria itu lakukan.


Acara berjalan khidmad, dan sebagai acara puncak kini pelayan telah menyiapkan kue dengan tinggi tujuh meter, Indah menatap kue itu dengan mata berkaca-kaca, refleks ia malah mencium Devan ditengah tamu undangan.


Devan ingin protes namun dia malah tersenyum bodoh, menyadari jika sekarang bukanlah situasi yang tepat untuk melawan perbuatan lancang istri kontraknya ini.


" Terima kasih, meski ini pernikahan Kontrak, tapi aku pastikan ini adalah pernikahan impian bagiku, Semoga saja, awal yang aneh ini berubah seiring waktu,,"


Indah lagi-lagi mencium Devan, membuat pria itu melongo, entah kenapa . Dia merasa asing dengan sosok gadis didepannya kini.


Apakah statusnya yang kini berubah menjadi Istri, Indah akhirnya menampakkan dirinya yang cerewet dan agresif ?


Entahlah, yang jelas Devan merasa risih dengan kelakuan Indah saat ini ..


" Jangan memancingku, Nona. Aku bisa saja menerkammu setelah ini jika terus menerus melakukan itu "


Indah tersenyum menantang,

__ADS_1


" Oh Ya, bukankah bagus ? kurasa didalam surat perjanjian tidak ada larangan untuk menyentuh fisik bukan !!"


Indah mengedipkan matanya, dan memasang pose menggoda, membuat para tamu undangan bersorak dan merasa terhibur.


Sedang Devan, pria itu malah memalingkan wajahnya kearah lain ,sungguh dia merasa tak punya muka sekarang, kenapa juga dia harus menikahi Gadis seagresif Indah, belum apa-apa, kini dia malah terserang penyakit migrain...


" Kamu tahu, aku bahkan telah menyiapkan beberapa jenis lingerie, untuk mencerahkan matamu. I'm Yours Baby..!!,'


Indah sengaja mendesah ditelinga Devan, mencoba memancing pria ini lagi. Entah kenapa melihat Devan terbakar akan emosinya sendiri membuat Indah puas. Dan Merasa menang.


Devan mundur dari posisinya, dan pergi tanpa menoleh pada Indah. Tak ia pedulikan para tamu undangan yang kini berbisik-bisik, keheranan. Baginya Indah telah melewati batasnya,


Tapi sepertinya Indah adalah jenis mahluk langka, karena sekarang gadis yang telah berstatus istrinya itu malah mengikuti langkahnya dengan sedikit berlari, mencoba mengejar langkah besar Devan.


" SEMUANYA...!!! Silahkan lanjutkan pestanya. Kami akan berpesta sendiri dikamar pengantin kami.."


Suara tawa kini membahana memenuhi Ballroom hotel ini. Devan terkejut, begitu lancangnya Indah membuatnya merasa tak punya muka.


Tak berapa lama, Indah telah mengandeng tangannya lagi ,seolah menuntun dirinya mengikuti perempuan itu.


"Ku harap kau tak terkejut, Aku juga kurang nyaman berada disini..Jadi, bawa aku kemanapun kau akan pergi. Suamiku.." Indah melenggang mendahului Devan, menuju ke mobil yang tadi membawanya ketempat ini.


Indah sengaja duduk di samping kemudi. menunggu Devan datang.


" Aku rasa aku tak cukup tahu tentangmu Nona. Berhenti memberiku kejutan.." Devan berkata penuh penekanan. Dan melajukan Mobil dengan kecepatan penuh.


Indah kini memilih diam, memandang malam yang bertabur bintang. Tubuhnya yang lelah seolah dibuat semakin lelah dengan sikap Devan. Bisa-bisanya dia ditinggalkan ditengah-tengah acara..Entah apa sebenarnya yang terjadi dengan lelaki yang kini bergelar suami untuknya ini.


" Aku harap aku yang tak terkejut, akan sikapmu yang tak menghormati ku sebagai perempuan yang telah kau nikahi..


Meski ini pernikahan kontrak, tapi alangkah baiknya kau tak terlalu menunjukan isi hatimu yang sebenarnya. Setidaknya sampai acara selesai.."

__ADS_1


Devan tertegun ,apakah ini salahnya. Jadi sedari tadi, Indah hanya memainkan perannya. Dan dia dengan bodohnya tak bisa membaca itu.


Sungguh dia benar-benar telah merasa bodoh sekarang. Ia malah sibuk menata hatinya tanpa memikirkan Indah yang selama ini mendamba pernikahan.


__ADS_2