
Pagi ini Indah dan Devan terbangun dengan posisi saling berpelukan, sesuai kesepakatan yang mereka setujui semalam, maka Mereka akan menjalani kehidupan rumah tangga seperti pasangan suami istri pada umumnya.
Dan itu berarti, mereka akan mengikis jarak yang sudah tercipta sejak pernikahan ini terjadi.
" Sial!!! aku ada meeting hari ini !!" Devan bangun dengan cepat, dan menemukan jika indah kini menatapnya dengan kening berkerut.
" Ya sudah mandi duluan sana !!" Indah berucap cuek, dan memejamkan matanya lagi.
Saat mendengar suara pintu kamar mandi tertutup, Indah segera bangun dan menyiapkan baju ganti untuk Devan.
Sebenarnya kebiasaan ini telah dilakukan Indah sejak pernikahan mereka, tapi seolah menjadi angin lalu bagi Devan.
Sedang asyik dengan aktifitasnya sepasang tangan menyentuh pinggangnya, kemudian tangan itu menariknya agak kuat. hingga dingin tubuh sosok Devan, kini juga dirasakan kulit Indah.
" Aku juga bakal ke kantor, jadi lepaskan Van. Aku mau mandi !!"
Indah mendengar dengan jelas jika Devan menarik nafas dengan kuat dan menghembuskan nya cepat,
kemudian dia duduk dibibir ranjang .
" Untuk seorang perempuan yang hidup ditengah hingar bingar dunia metropolitan, sikapmu terlalu kaku !! pantas saja kamu tak bisa membaca niat buruk temanmu waktu itu ..!"
Indah kini menghentikan langkahnya yang hendak membersihkan diri, dia menoleh pada Devan dengan wajah penasaran
" Jadi ? kamu tahu semua yang terjadi padaku, dan itu semua adalah karena ulah Dara ?"
Devan berkedip pelan dan mengangguk sebagai jawaban.
Membuat Indah nampak termenung, mengingat malam itu .Tapi, kini wajahnya terasa panas, mengingat begitu banyak tanda cinta yang Devan berikan pada tubuhnya. Pikirannya jadi kacau, apakah percintaan mereka seliar dan sepanas itu ? Tapi, kenapa dia malah tak ingat akan hal itu sama sekali !
" Kamu kenapa ? " Ujar Devan yang melihat Indah kini fokus pada tubuh polosnya yang penuh dengan bekas luka
" katanya mau mandi !"
Indah gelagapan dan menemukan mata Devan yang melihatnya dengan heran.
kemudian dengan cepat, indah berbalik lagi, menuju ke kamar mandi .
__ADS_1
Kini keduanya memutuskan berangkat bersama, disepanjang jalan Indah lebih banyak diam,
" Apa kamu tak mau mempertimbangkan untuk menjadi sekretaris suami mu sendiri ?"
Indah menoleh dengan cepat, tak menyangka jika Devan berinisiatif untuk lebih dulu mengajaknya bicara,
" Aku sudah nyaman dengan pekerjaan dan lingkungan di kantor pak Bagus, lagian jika perjanjian kita tak berhasil, maka kemungkinan aku untuk diterima lagi di kantor milik Pak Bagus adalah nol...!!"
Devan terkekeh, membuat Indah memandang aneh apa yang ditampilkan pria itu
" Kamu berubah banyak, bukankah awal pertemuan kita kamu adalah wanita yang optimis, tapi kenapa sekarang kamu selalu mengkhawatirkan hal-hal yang belum terjadi ..?"
" kamu tahu !! Pernikahan kita mengajarkan begitu banyak hal bagiku, salah satunya tentang perubahan sikap yang sekarang kamu keluhkan..."
" Maaf untuk semuanya .. !!" Devan berucap tulus meski matanya kini fokus ke jalanan.
Indah memilih diam saja, dia memandang jalanan yang kini terlihat padat merayap. Dilihatnya jam yang melingkar dipergelangan tangannya, pukul tujuh lebih sepuluh menit.
" Sepertinya aku akan terlambat !! Sepanjang karirku baru kali ini aku terlambat !!"
" Aku akan menjelaskan ke Bagus. Agar kamu tak kena sanksi ..!!"
Indah akhirnya bisa melihat, area parkiran kantor dimana dia bekerja, Suasana yang sepi seolah menegaskan jika Indah telah benar-benar terlambat.
***
Devan menatap Riri dengan termenung, membuat sang sekretaris merasa salah tingkah. Karena berpikir jika sang bos tengah mengagumi kecantikannya .
" Menurutmu !! perempuan Seperti Indah suka hadiah seperti apa ?"
Devan masih memperlihatkan tatapan yang sama saat mengatakan hal itu kepada Riri.
Sedangkan Riri kini semakin dibuat sport jantung, karena telah terlalu kepedean, dia tersenyum kecut, menyadari jika dirinya masih saja berharap pada sang bos yang telah beristri.
" Yah, sudah pasti seperti perempuan pada umumnya pak Devan..!! Suka kejutan, hadiah dan yang terpenting perhatian !!"
Mendengar kata terakhir, membuat Devan memalingkan wajah ke arah lain. Entah kenapa dia jadi sekaku ini sekarang !! Tiba-tiba bayangan mantan Istri kini hadir di pelupuk matanya membuatnya menggeleng dengan isi pikirannya sendiri.
__ADS_1
" Indah memberiku, satu bulan untuk hubungan kami !! Apakah aku akan berhasil memperlakukan dia seperti seharusnya ? "
Mata itu menerawang, sepertinya dia sedang mengalami sindrom kasmaran. Meski hatinya belum sepenuhnya berdamai dengan masa lalu.
" Semua jawaban dari pertanyaanmu , bisa kamu presentasikan sendiri. Hal itu, tergantung seberapa besar niatmu untuk membuat Indah terkesan...!! Sebenarnya yang aku lihat, Indah sudah punya perasaan padamu. Tinggal bagaimana kamu menyiramnya dan memupuknya lagi agar tumbuh subur !!"
Devan kini menyandarkan tubuhnya di kursi. Sebenarnya dia sudah punya ketertarikan saat pertemuan pertama mereka, dan juga malam pertama mereka yang tak sengaja itu, juga berhasil membuatnya menyimpan kagum pada sosok Indah. Baginya, sangatlah langkah seorang perempuan mampu menjaga kesuciannya ditengah gemerlap pergaulan yang semakin bebas. Apalagi, Indah sejatinya telah tujuh kali gagal menikah dengan sang kekasih. Semua jejak perempuan itu, sudah pasti membuat Devan menyimpulkan hal negatif, tapi kenyataan yang diberikan oleh Indah membuatnya bertekuk lutut.
" Temani aku ke makam Bima Ya Ri ?"
" Loh !! Biasanya kan hari jum'at Dev ?"
Devan tak menjawab
" Terus ,meeting nanti jam dua bagaimana ?" Ujar Riri lagi.
" Batalkan !! Aku malas berbicara bisnis hari ini !!"
Riri diam, dan segera mengirim e-mail pembatalan pada kolega bisnis mereka.
Meski sejatinya Riri yang telah mengajari Devan tentang dunia perkantoran. Tapi sebagai sekretaris, Riri selalu mematuhi perintah Devan. Meski tergolong baru. Namun Devan nyatanya mampu membuat para pesaing ketar-ketir jika dia sudah mengeluarkan ide dan pendapatnya.
Devan melangkah meninggalkan Riri yang masih sibuk membereskan berkas-berkas yang mereka pelajari tadi. Dia memutuskan menunggu Riri di dalam mobil.
Kehadiran Riri yang sedikit lama membuat Devan membuka galeri pada handphonenya. Dan kini senyum menghiasi wajah tampan itu yang biasanya terlihat datar.
" Ayah Rindu padamu Bim, Sama ibu juga. Ayah Rindu kalian berdua .. "
Jika dulu dia selalu menitikkan air mata saat melihat album foto dua orang yang paling berarti dalam hidupnya itu. Tapi Hari ini, Devan memandang potret keduanya dengan senyuman. Senyuman yang dulu hilang bersama kepergian dua sosok itu.
" Doakan ayah, ya bun !! Bima ..,!! Semoga Ayah mampu menjalani hidup ini dengan bahagia, seperti saat kalian masih bersama Ayah..!"
Riri yang sudah membuka pintu dan tak disadari oleh Devan, kini menitikkan air mata. Devan ternyata telah menemukan semangat hidupnya kembali. Meski bukan karena dirinya, tapi dia ikut bahagia karena Devan tak lagi, menyia-nyiakan hidupnya.
" Ayo pak Bos Aku sudah siap !!"
Riri berucap ceria, setelah terlebih dahulu menghapus air mata di pipi putihnya..
__ADS_1
Devan yang terbiasa dengan kedatangan Riri yang tiba-tiba hanya mengangguk dan mulai menyalakan mesin mobil, ketika Riri telah duduk dengan nyaman di sampingnya .