
Ternyata Riri benar, Devan mengirim pesan lagi mengatakan jika pria itu harus menginap, anehnya Devan tak mau menerima panggilan suara maupun video dari Indah.
Indah yang semakin curiga kini menajamkan kembali ingatannya pada kejadian malam itu dan nihil, semuanya benar-benar buram. Kecuali rasa sakit dan perih pada bagian inti tubuhnya, yang dirasakan sangat nyata sampai hari ini.
Indah memilih masuk kekantor lagi. Setidaknya dia tak terlalu akan kepikiran soal apa yang telah menimpanya jika harinya disibukkan dengan pekerjaan..
Saat baru saja tiba di loby kantor, Indah langsung dihadang oleh Astrid yang datang dengan tergesa.
" Ndah, Dara dimasukkan ke rumah sakit jiwa !! "
Astrid berucap seraya berbisik.
" Katanya dia selalu bilang maaf dan nyebut nama kamu !!"
Indah memandang Astrid dengan serius,
" Kok bisa ? Kenapa aku yang dibawa-bawa ..!!"
"Mending kamu jujur sama aku, apa yang sebenarnya terjadi dengan kamu malam itu ? "
Mata Astrid menyipit, tubuhnya bahkan semakin ia rapatkan pada tubuh Indah, meminta kejujuran sahabatnya itu.
" Mending jangan disini deh, Trid !! aku nggak nyaman sama tatapan mereka itu !!" Indah memperhatikan sekelilingnya, memang banyak pasang mata kini seolah menghakimi dirinya.
Reaksi yang ditunjukan Indah membuat Astrid ikut melihat ke sekeliling..
" Mereka kemakan gosip. Katanya kamu yang sudah guna-gunain Dara.hihhihii !!"
Tawa Astrid yang menganggap hal itu lucu membuat bulu kuduk Indah meremang.
" Udah deh, nggak lucu. ..!!"
Indah menarik tangan Astrid menuju ke ruangan mereka, tak iya pedulikan tatapan penuh tuduhan dari para karyawan yang ditemuinya.
Indah serasa dikejar hantu saat ini. Pandangan mencibir orang-orang padanya ternyata membuatnya merasa horor dan ngos-ngosan. Dia memandang Astrid yang kini duduk santai sembari memandang kearahnya, yang masih berusaha menetralkan detak jantung dengan bersandar pada pintu ruang kerja mereka.
" Salah apa sih Aku Trid ?"
Astrid tertawa, kini dia bahkan tak menutup mulutnya yang tertawa lebar, ekspresinya seolah tengah bahagia akan dilema yang dialami oleh Indah.
" Heii... Kamu temanku atau bukan sih ? Kok Dari tadi ketawa mulu. Orang lagi panik juga ..!!"
__ADS_1
Astrid berusaha menghentikan tawanya dan kini dia memandang tepat pada wajah Indah yang sedikit pucat
" Lah aku mikirnya gosip itu konyol tahu nggak ndah. Lagian bisa-bisanya mereka termakan akan gosip murahan seperti itu.. !! "
Ada jeda yang kini juga diisi tawa oleh Astrid, sebelum perempuan satu anak itu melanjutkan ucapannya.
" Seantero kantor ini kan juga sudah tahu, kalau Dara itu dari dulu sudah menyimpan rasa iri dan dengki ke kamu. Hanya karena pengalihan isu ini saja, kok mereka malah nggak mikir apa sebenarnya yang membuat Dara melafalkan kata maaf terus menerus ke kamu !!"
Indah ikut tertawa, dan kini dia memilih duduk di kursi kerjanya.
" Entahlah, permasalahan sepertinya selalu datang saat aku memutuskan menerima Devan. Sepertinya aku salah lagi dalam memilih jalan..!!"
" Jangan suka menyesali apa yang terjadi. Nggak akan semuanya berakhir buruk Indah !! lagian kalian bahkan baru saja mulai. Jangan memikirkan ending akan sesuatu yang belum kamu baca bab-babnya dengan teliti. Nanti malah kamu terjebak dalam pikiran negatif itu dan akhirnya semuanya malah jadi do'a yang terkabulkan !!"
"Terima kasih ya Trid. Setiap perkataan kamu selalu membuatku merasa damai..!!"
Keduanya berpandangan dengan penuh senyum. Dan kini indah memilih memfokuskan dirinya dengan pekerjaannya, dia membuka laptopnya dan mulai meneliti tugas dan file apa saja yang menantinya setelah tiga hari tak masuk kerja ..!!
" Jadi ? kamu akan tetap bungkam akan kejadian dimana kalian jalan bareng keklub malam !!"
" Maaf!!" Indah menampilkan wajah bersalah, karena hal ini tak bisa dia katakan pada Astrid.
***
Devan akhirnya sampai di rumah pada siang hari, tepat pada saat waktu makan siang. Dia telah memberi tahu akan kepulangannya dengan Bi Sumi, meminta bi Sumi menyediakan makan siangnya yang akan dilakukan bersama Riri sambil membahas pekerjaan.
Devan masuk dengan gontai, ternyata Riri dan Bi Sumi sudah menunggu kedatangannya diruang tamu.
Didepan Riri sudah ada setumpuk map yang menarik perhatian Devan. Perubahan sikap Indah memang membuatnya tak bisa menjadikan istrinya itu sebagai sekretarisnya. Dan itu berarti Riri harus siap sedia merangkap pekerjaan lagi untuk Devan.
" Aku lapar , Ri !! Sebaiknya kita makan dulu ..!!". Devan langsung menuju ke arah dapur, diikuti oleh Riri. sedangkan Bi Sumi sudah lebih dulu menata makanan di atas meja makan.
Keduanya makan dengan keadaan hening, Bi Sumi memang baru saja selesai makan jadi dia hanya berdiri saja memperhatikan sang majikan dan Sekretarisnya itu, siapa tahu butuh sesuatu.
" jadi. Apakah vitaminnya diminum oleh Indah !!"
Riri yang sedang fokus dengan makanannya kini tersedak. Merasa kaget juga karena biasanya sang bos selalu saja tak mau membicarakan apapun saat sedang makan.
" Apa kamu sepenasaran itu !! Hingga aturan yang kamu buat , malah kamu langgar sendiri ?"
Riri mengerlingkan matanya berusaha menggoda Devan.
__ADS_1
" Aku sudah memberikannya ,soal diminum atau tidak aku tidak tahu. Jadi maaf jika jawabanku ini tak memuaskan rasa penasaranmu !! "
" Kenapa ?"
" Apanya yang kenapa ? Aku lihat jika Indah sehat-sehat saja, lagian aku bukan dokter yang harus memastikannya meminum obat !!"
Devan menunjukan wajah tak puas akan jawaban Riri. Meski dia membenarkan pembelaan gadis itu.
Mendadak dia merasakan perasaan ingin bertemu dengan istrinya.
" Bi !! Indah mana ?"
" Non Indah hari ini masuk kantor lagi, Van !!"
Devan mengangguk dan kini memilih menikmati sajian makan siang yang disiapkan Bi Sumi.
Selesai makan, Devan dan Riri langsung berkutat dengan Map tebal yang tadi dibawa oleh Riri tadi. Meski pikiran pria itu malah dipenuhi oleh sosok sang Istri.
" Ri !! menurut kamu, apakah Indah bisa memaafkan ku. Jika aku menunjukkan padanya jika aku benar-benar menyesali akan pemikiran awalku saat memintanya menjadi istri ?"
Riri terdiam, Setelah malam dimana Indah tahu kebenaran akan isi hati Devan. Mendadak bosnya ini juga menunjukkan perubahan sikap. Meski tak bisa diungkapkannya. Tapi ada nyeri yang dirasakan Riri, mengetahui jika Devan sudah mulai perduli akan Indah. Dan tentu saja itu artinya Pria itu mulai membuka hatinya untuk perempuan lain. Dan perempuan beruntung itu adalah Istri kontraknya sendiri.
" Bukankah kamu bilang kalau kalian sudah melalui malam pertama ?"
Riri menyipitkan matanya ketika mengingat akan hal itu .
" Apakah kamu memaksa dia melayanimu malam itu ? Kamu memperkosa Indah ! hingga kalian marahan selama tiga hari ? Benarkah begitu !!"
Devan melotot, Tak menyangka jika Riri punya pemikiran seperti itu
" Emangnya ada istilah suami memperkosa istri ! Jangan ngawur deh Ri !!"
Devan bicara dengan gelagapan,, Dia berusaha mengalihkan fokus matanya kearah lain.
" Atau apakah ini karena kamu sudah jatuh cinta ?"
Devan memandang Riri dengan dingin, perubahan ekspresi Devan yang cepat itu Membuat gadis itu menutup mulutnya. Kata ajaib yang keluar dari mulutnya sepertinya masih berpengaruh sangat besar bagi Devan.
" Bukan !!! ini bukan cinta ! Tapi simpati dan rasa kasihan ..."
Riri mengalihkan pandangannya kearah lain . Devan yang dingin, kini dia lihat lagi sosoknya ..!!
__ADS_1