Lelaki Terakhir

Lelaki Terakhir
hampir saja


__ADS_3

" Sekarang . Mending kamu mandi gih . persiapkan dirimu untuk malam panjang kita !!" Devan memandang Indah dengan tatapan mata yang sayu, seolah menyampaikan jika dirinya begitu ingin memiliki Indah dalam dekapannya secara utuh.


Sementara Indah malah menjauhkan tubuhnya agar tak terlalu dekat, wajahnya yang sembab kini malah Semerah tomat, " Bisakah jika kamu tak sefrontal itu ? Aku malu... !!" Diiringi dengan menutup kedua wajahnya, Indah mengutarakan isi hatinya.


" Kenapa meski malu . Kita sudah sah menjadi suami istri, kamu harus terbiasa menerima tingkah manis dan juga sisi liar ku sebagai seorang lelaki...!!" Devan menjawab dengan santai, namun semakin membuat Indah berdebar penuh rasa malu, dengan segera dia beranjak dan menuju kearah kamar mandi, membuat Devan tersenyum karena tingkah Indah yang kekanak-kanakan


Seperti biasa dibanding menunggu Istrinya selesai mandi Devan lebih memilih mandi dikamar mandi bawah, lagipula baginya waktu sangatlah berharga sekarang, Semuanya sudah berubah seiring perasaannya yang tumbuh subur pada sosok Istri kontraknya itu ,


Sementara Indah bukannya bergegas mandi membersihkan diri, dia malah sibuk meneliti setiap inci tubuh polosnya di cermin besar yang ada dikamar mandi mereka. Wajahnya mendadak merah mengingat ucapan Devan tadi. Ada rasa kurang percaya diri yang datang, melihat buah dadanya yang berukuran standar,


" apakah Devan suka ukuran jumbo atau standar ya ?"


Tanyanya pada pantulan dirinya di cermin , kemudian dia mendadak geli sendiri akan kelakuannya sekarang !.


Entah sudah berapa lama dia memikirkan hal dewasa selama didalam kamar mandi ini, yang jelas sekarang dia mendengar dengan jelas jika Devan memanggilnya dengan nada suara khawatir. Dengan cepat dia menyalakan shower membasahi tubuh polosnya dengan air, kemudian mulai mengunakan shampo dan sabun untuk rambut dan wajahnya. Setelah semuanya selesai Indah segera meraih handuk dan mengenakannya, kemudian melangkahkan kakinya menuju ke pintu.


Devan rupanya telah menunggu tepat di depan pintu, membuat Indah sedikit kaget. Apalagi Devan kini telah tampak rapi, harum shampo menguar dari rambut basah milik Devan. Indah merasa malu entah untuk ke berapa kalinya, dia malah tersenyum canggung pada Devan.


" Kamu kenapa ? Apa kamu segugup itu, sampai harus menghabiskan waktu yang sangat lama hanya untuk mandi ??" Devan bertanya dengan senyum menggoda, matanya seolah menelanjangi Indah yang berdiri kaku didepannya.


"Aku lapar !! Sebaiknya kita makan malam terlebih dahulu..!!"


Indah membuat Devan terpaksa memberi jalan padanya, pria itu memandang Indah dengan pandangan tak percaya, bisa-bisanya Istrinya itu mengatakan alasan dengan nada tenang dan merasa tak bersalah.


***


Indah mengunyah nasi dan lauk dengan pelan, dia sengaja menunggu Devan turun dan juga makan bersama dengannya dan juga Bi Imah. Tapi, Sepertinya Devan sangat antusias malam ini, hingga pria itu tak berniat turun untuk makan .


" Non kenapa ? nungguin Devan yah ?"

__ADS_1


Bi Imah bertanya dengan nada menggoda,


"Iyah Bi. Emangnya Devan nggak pernah makan malam Yah ? "


" Enggak juga sih Non. Tapi, biasanya jika dia sedang mengejar target atau memastikan sesuatu maka dia akan lupa makan..!!" jawaban pelan Bi Imah membuat Indah tersedak, pipinya memanas, Apa Iya Devan seantusias itu menunggu dirinya di pembaringan ..


Bi Imah menyadari akan reaksi tak biasa yang ditunjukan oleh Indah, dirinya tersenyum ketika menemukan Ide untuk menggoda Sang istri dari majikannya itu.


" Oh mungkin saja , Non sudah memberikan janji padanya ? Hingga Devan tak sabaran !!"


Indah meminum segelas air putih dengan sekali teguk, ucapan Bi Imah semakin membuatnya merasa panas dingin. Entah apa sebenarnya yang ia khawatirkan.


" Tenang Non!!! Biasanya laki-laki seperti Devan itu akan memperlakukan perempuannya bagaikan porselen, sangat lembut dan penuh kehati-hatian. Jadi, Non tak usah khawatir !!"


" Iya sayang !!! Jadi, berhentilah mencari alasan untuk menghindari ku,, " Devan duduk di samping Indah . Setelah menginterupsi ucapan Bi Imah Dengan santai dia mencomot Ayam goreng yang berada didepan Indah.


Darel dan Bi imah sama-sama tersenyum, merasa semakin lucu akan tingkah yang ditunjukan Indah.


" Dev, kenapa nomormu nggak aktif ? Aku diteror seharian nih !!"


Riri tiba-tiba datang dan langsung memberikan hapenya pada Devan, Indah dapat melihat jika Devan seolah mengisyaratkan Riri untuk tak bercerita banyak didepan Dirinya,


Devan beranjak menjauh dari meja makan, membuat Indah kini memandang Riri dengan tatapan penuh pertanyaan.


" Siapa ? Dan perlu apa ? Aku akan diam jika kamu jawab ini soal kantor. Tapi jika ini hal yang akan membahayakan suamiku maka aku akan melarang !!"


Riri diam, matanya dia arahkan ke sembarang arah, mencoba menghindari tatapan Indah .


" Maafkan aku ! " Kini gadis itu malah menundukkan wajah , membuat Indah semakin yakin jika Devan akan pergi lagi malam ini.

__ADS_1


Dengan segera Indah menyusul suaminya, sebuah kamar yang disulap menjadi ruang kerja kini menjadi tujuan Indah. Pasti Devan sekarang berada di sana ..!!


" Aku pasti datang !! " Itu adalah kalimat yang diucap Devan dan mampu didengar dengan jelas oleh Indah.


Dengan hati yang campur aduk Indah memeluk tubuh Devan dengan erat dari belakang. Membuat Devan kaget dan membalik tubuhnya dengan cepat.


" Kenapa menyusul kesini ?" Devan mencium kening Indah, kemudian menatap istrinya dengan penasaran. " Apa Riri mengatakan sesuatu ?"


" Kenapa menyalahkan Riri ? Bukankah permasalahannya ada di kamu ?"


" Maksudnya ?"


" Kamu bilang, sekarang aku adalah penyemangat mu untuk melanjutkan hidup.. Tapi kenapa ? hal yang bisa saja merenggut jiwamu masih saja kamu lakukan ?"


Devan memandang Indah dengan datar, dia seorang lelaki dan telah mengucapkan janji. Bagaimana mungkin dia membatalkan dan menjilat ludahnya sendiri.


" Aku siap !!! aku akan melayanimu sampai kamu benar-benar terpuaskan !! Tapi , aku mohon jangan pergi.... Bisakah ?" Indah memandang wajah Devan penuh harap, dia rela menahan rasa malunya untuk mencegah suaminya itu pergi.


Devan mencium Indah dengan penuh minat. Sementara Indah membalasnya sesuai nalurinya. Mereka cukup lama berbagi Saliva, hingga Devan mengendong tubuh ramping itu dan membaringkannya di atas Sofa. Tak lupa dia menutup pintu dengan kakinya .


" Apakah Kamu yakin jika Riri dan Bi Imah tak akan tiba-tiba masuk !!"


Devan tersenyum,nada suara penuh keyakinan yang diucapkan Indah tadi kini telah menghilang entah kemana, dan sekarang Indah seolah-olah kembali mencari celah untuk menghindari adegan intim mereka.


" Apa aku belum pernah bilang jika ruang kerjaku akan terkunci otomatis jika aku menutupnya dari dalam. Dan hanya bisa dibuka dari dalam, kecuali jika seseorang itu punya duplikat kuncinya ...!!" Devan memperlihatkan anak kunci ditangannya kearah Indah.


" Apakah Tak apa jika kita melakukannya disini ?"


Indah tak menjawab. Dengan cepat dia malah meraih tengkuk Devan dan memberi suaminya itu ciuman yang dalam nan Panas..

__ADS_1


__ADS_2