Lelaki Terakhir

Lelaki Terakhir
malam pertama


__ADS_3

Perjalanan ini terasa sangat lambat bagi Indah.


Karena baik Devan dan dirinya tak ada yang berusaha bicara untuk mencairkan suasana yang terasa sangat beku. meski diiringi dengan ******* tertahan dari Indah yang merasa sangat-sangat bosan , kini akhirnya mereka sampai juga di rumah, Indah segera turun. Tak memperdulikan sosok Devan, ia segera menuju kamar pengantin mereka, Ingin segera membaringkan diri, sekaligus mencoba membebaskan rasa lelah, karena seharian ini .


Namun kenyataannya , dia malah dibuat ribet dengan gaun yang sangat sukar untuk dibuka, dia baru sadar jika gaun ini mempunyai desain rumit demi untuk melengkapi keindahannya. Meski harus dibuat kerepotan dan kesal, akhirnya gaun itu bisa juga ia lepaskan dari tubuhnya, setelah berganti baju tidur, Indah memandangi riasan wajahnya di cermin, Dia sedang membersihkan Make up yang masih menempel diwajahnya, pada Saat itulah sosok Devan masuk, tanpa salam dan menoleh sedikitpun, dengan cuek Devan berlalu. Indah lihat pria itu kini telah memakai kaos polos dan boxer pendek yang Santai.


Dan langsung saja mengistirahatkan diri di atas ranjang king size mereka.


Tak lama berbaring, dengkuran halus mengalun ditelinga Indah. membuatnya geleng-geleng tak percaya akan tingkah ajaib pria yang baru saja jadi suaminya itu.


Indah tersenyum, dan segera menyudahi aktifitasnya membersihkan wajah. Agar segera bisa menyusul Devan kedalam mimpi.


pelan-pelan agar tak mengnggu tidur sang suami, Indah kini ikut berbaring bersiap untuk tidur, dia tetap memilih tidur berdampingan dengan Devan.


Indah pikir mereka sudah dewasa dan menikah, jikapun Devan menginginkan dirinya seutuhnya dia tak akan menolak karena pria itu telah jadi suami sahnya . Jadi tak ada drama tak mau seranjang seperti pada pasangan nikah kontrak , yang biasanya terjadi.


saat mau memejamkan mata, tak sengaja netranya menatap gaun resepsi yang dipakainya tadi. Dan itu membuatnya miris,


seharusnya ini adalah malam pertama mereka. Tapi sepertinya, hal romantis yang diidamkan oleh Indah, adalah hal yang mustahil terjadi. Karena memang pernikahan ini bukanlah pernikahan yang didasari oleh cinta.


Indah memandangi tubuh Devan yang memunggunginya, sebelum dia akhirnya ikut terlelap di samping Devan, meski saling memunggungi.


***


"In.. ...Ndah...!!!" Suara berat mirip rintihan itu membangunkan Indah yang tengah terlelap, rasanya dia baru saja memejamkan mata tapi kenapa malah diganggu?


Matanya menyipit dan sedikit kaget merasakan deru nafas seseorang yang sepertinya sangat dekat .


Setelah menyadari jika itu adalah sosok Devan sang suami, Indah langsung duduk, mencoba mencari tahu kenapa Devan seperti seseorang yang menahan sakit.

__ADS_1


" Ya Allah Devan...!!!"


Perempuan yang belum genap sehari menjadi Istri itu terkejut, melihat Devan kini bersimbah darah.. Dan rasa panik kini semakin menguasainya karena Sang suami sudah tak sadarkan diri .


Dengan tangan gemetar Indah menekan panggilan ke nomor Riri, karena hanya nama itu yang melintas di kepalanya sebagai seseorang yang akan sigap mengenai kondisi Devan. Mau telpon polisi dia takut jika salah . Makanya hanya Riri yang berusaha dihubunginya.


Telpon yang tak kunjung diangkat membuat Indah merasa kesal dan frustasi, dia bahkan sudah menangis sedari tadi.


Bayangan kematian Devan, seolah kini bukanlah suatu yang mustahil, mengingat Darah yang sampai sekarang tak kunjung berhenti keluar..


' Hallo ...Ri....kesini sekarang,. Devan.. Tolong ..Dia..."


Indah bahkan tak sanggup untuk bicara lagi, dan kini telponnya malah mati. Tapi dia tahu, kalau Riri akan segera datang.


seperempat jam kemudian barulah Riri datang dengan tergesa, Indah bahkan tak tahu bagaimana Aspri suaminya itu bisa masuk ke rumah ini. Tapi yang penting sekarang kehadiran Riri mengurangi sedikit ketakutan Indah..


" Persiapkan dirimu Ndah sebentar lagi ambulance akan Datang..!"


" ganti bajumu Ndah. Kamu harus kuat kan diri. Karena ini akan jadi hal yang akan kamu temui, dan mungkin setiap hari. Jadi , sadarlah dan cepatlah bersiap kita ke rumah sakit sekarang.."


Indah semakin gelagapan mendengar ucapan Riri, Dia bahkan kini lupa kode sandi koper miliknya, dia telah melihat alasan Riri yang menyuruhnya berganti baju karena baju yang dia kenakan telah penuh dengan noda darah.


Semakin panik kini Indah malah mengacak-acak lemari pakaian milik Devan, setelah menemukan sebuah kaos dia membuka bajunya langsung didepan Riri, melemparnya ke sembarang arah, dan langsung memakai kaos tadi yang nampak kebesaran pada badannya yang langsing..


Indah tak mendengar suara ambulance datang, tapi kini dia menemukan jika telah ada tiga orang berpakaian perawat dan juga seorang sopir ambulance, yang langsung membawa tubuh Devan.


Setelah Devan dibawa petugas, Indah menatap Darah yang memenuhi lantai kamar ini dengan tatapan ngeri. Namun dia disadarkan Riri yang kini menarik tangannya kuat, mengikuti langkah petugas..


***

__ADS_1


Kondisi Devan kritis dan luka tembak yang dialaminya mengharuskan dokter melakukan operasi. Indah menatap nanar Ruangan yang menjadi tempat Devan sedang berjuang bertaruh nyawa.


Dia melirik kesamping, menatap Riri yang menampilkan wajah biasa. Tak ada kesan khawatir sama sekali. seprofesional itukah gadis ini hingga ia tak menunjukkan ekspresi kesedihan sama sekali ?


" Siapa Devan ?" Indah bertanya dengan suara bergetar


" Sekarang kamu masih belum mau membuka mulutmu, setelah di malam pertama kami, aku bisa saja kehilangan dia sebagai suamiku ?"


Riri menoleh, mengikuti arah dimana mata Indah kini menatap lekat.


" Aku..."


" Meskipun dokter tak bisa menyelamatkannya ? Meski aku harus jadi janda dimalam pertama ?" Indah memotong ucapan Riri yang masih saja ingin tutup mulut akan Devan, suaminya .


" Aku mengerti perasaanmu Ndah. Tapi, aku juga punya prinsip, dalam menjalani pekerjaanku ?"


" Baiklah, Tadi kamu bilang jika aku harus terbiasa akan hal ini ? Apa maksudnya dengan itu ? Jelaskan !!!" Indah mengalah dan mengajukan pertanyaan lain.


" Devan sering pergi untuk melakukan duel..Dia bisa saja mengalami hal hal yang bisa saja membuatnya kehilangan nyawa. Jadi..."


" Duel apa ? kenapa malah pakai senjata api segala ?" Indah bertanya bingung , tidak mengerti dan merasa tak masuk diakal jika di zaman modern seperti ini, masih ada hal seperti itu . Apakah pertarungan sejenis ini tak tercium polisi ?


"Kalau itu aku kurang paham, Ndah. Karena aku juga tidak pernah menyaksikan langsung. Aku hanya ditugaskan untuk selalu bertindak gesit jika terjadi sesuatu dengan Devan. ."


" Apa kamu tahu, Apa yang Dia dapatkan setelah memenangkan duel ? Jujur, aku merasa Devan seolah sedang benar-benar menantang maut dengan kegiatan yang unfaedah seperti ini ? Apakah dia sengaja agar Tuhan segera mencabut nyawanya ?"


Indah menoleh cepat, membahas tentang ini membuat kekhawatirannya tentang kondisi Devan, mulai memudar.


" Aku nggak tahu pasti !!" Riri menerawang jauh

__ADS_1


" Yang pasti, ini bukanlah soal uang . Kamu tahu sendiri kan, kalau harta Devan bahkan tak akan habis sampai tujuh turunan. ."


" Lalu kenapa dia melakukan itu..?" Indah berbisik entah pada siapa ?


__ADS_2