
Indah bangun dengan merasakan sakit di sekujur tubuhnya, apalagi area intinya. Sangat sakit. Ragu, dia malah menyentuhnya, dan merasakan perih tak terkira, bahkan bagian sensitif itu terasa membengkak.
" Apa yang terjadi ?" ujarnya menelisik setiap sudut ruangan kecil yang kini ditidurinya ..!!
" aku dimana ?" Rasa pusing kini dirasakannya.
Meski begitu dia mencoba untuk berdiri dan menemukan sakit yang sangat pada selangkangannya.
Noda pada sprei putih polos nan tipis itu membuat matanya membola. Dia menggeleng ketika pikiran buruk kini memenuhi otaknya .
" Tidak mungkin !!" Dia menutup mulutnya, " Siapa ?" Desisnya lirih dengan air mata yang telah berlinang !
Indah mengamati penampilannya yang memang sudah memakai cardigan miliknya yang dia buang semalam, seolah sosok yang telah bersama dengannya itu mengetahui jelas tentang dirinya..
Indah pulang dengan menggunakan taksi, ternyata dia dibawa oleh sosok entah siapa ke motel yang berada tak jauh dari klub yang semalam dia kunjungi.
Untung saja, sosok itu masih berbaik hati dengan tak mencuri tas miliknya.
Indah memandang jalanan dengan wajah basah. Mendadak dia membayangkan wajah Devan, apakah ia berdosa, karena telah mengobral kesuciannya...
Taksi berhenti, panggilan sang sopir membuat indah tersadar dan langsung menghapus wajahnya yang penuh dengan air mata. Dia tak peduli akan penampilannya lagi sekarang, yang dia tahu dia ingin segera menuju kamar mandi. Membersihkan rasa lengket yang sekarang terasa melekat disekitar pahanya.
" Apakah lelaki itu tak pakai pengaman?" entah kenapa pertanyaan itu tiba-tiba membayanginya.
Ketika membuka pintu yang tak terkunci, dia menemukan Devan berdiri tepat didepan pintu, bukan untuk menyambutnya tapi, sepertinya pria itu juga tak sengaja berpapasan dengannya karena ingin pergi kekantor.
Indah berusaha tak perduli meski matanya menatap kearah bibir Devan yang terlihat bengkak.
' Pasti duel lagi !!' pikirnya malah bergerak maju membuat Devan terpaksa sedikit bergeser untuk memberi jalan pada sang istri.
Indah menaiki tangga dengan hati-hati. perih dan sakitnya ternyata belum juga pergi bahkan kini semakin bertambah parah.
Dia benar-benar memilih langsung masuk ke kamar mandi, dan berdiri dibawah shower..!
Satu persatu dia menanggalkan pakaiannya, dan cermin yang memantulkan siluet dirinya, tubuh polos itu seakan tengah tertawa mengejeknya.
Ada banyak tanda merah di sekujur tubuhnya, membuat dia tertawa didalam tangisnya. Bagaimana mungkin dia mengorbankan kesuciannya pada pemberontakannya pada sang suami ? Kalau sudah seperti ini. Maka dia sudah tak layak lagi bagi Devan.
memikirkan itu Indah malah memekik keras dan menangis penuh penyesalan..
__ADS_1
***
Tiga hari berlalu dengan cepat, selama itu pula Indah mengurung diri dikamar ruang tamu. Dia tak mau bertemu dengan Devan, sekalipun pria itu menyakitinya tapi apa yang telah terjadi dengan dirinya tentu akan membuat Devan membenci dirinya, sekarang Indah hanya makan untuk membuatnya sedikit bertenaga.
[ Ri ..boleh minta tolong !! aku butuh semacam obat pencegah kehamilan..]
Entah kenapa Indah malah baru kepikiran soal ini dan minta tolong pada Aspri sang suami. Jikapun nanti Devan menanyainya dia akan memilih jujur saja, dia siap menerima konsekuensi yang mungkin akan merubah hidupnya .
[ Aku otw, sepertinya aku juga butuh penjelasan..!!]
Indah melempar hapenya ke atas kasur dengan sembarang. Tak mau menanggapi pesan dari Riri padanya.
Dia kembali berusaha mengingat kejadian naas yang menimpanya malam itu, mungkin saja dengan mengingat reka ulangnya, Indah mampu mengingat siapa yang telah mengambil keuntungan dari obat perangsang yang telah diminumnya ?
Indah bergegas mencari hapenya, ketika ingat akan soal obat perangsang !
Nama Dara tiba-tiba terlintas, sosok itu seharusnya tahu akan apa yang telah terjadi padanya mengingat jika gadis itulah yang telah memberinya perangsang.
Belum juga panggilan terhubung, ketukan pada pintu kamarnya terdengar
" Siapa ?"
Indah mendekat kearah pintu dan membukanya. Astrid malah memperhatikan penampilan Indah dari atas sampai bawah, dengan masih berdiri didepan pintu.
" Heii. Masuk!!!" Indah risih, kemudian menarik tangan Astrid yang masih tampak melongo..!
Mereka kini duduk bersisian diranjang king size kamar tamu yang telah dikuasai oleh Indah selama tiga hari ini.
" Tumben datang kesini ? Ada apa ?"
" Aku khawatir sama kamu dong Ndah. Lagian kok bisa sih kalian malah nggak masuk kantor setelah pergi bareng ke keklub ?"
" Kalian siapa ? aku dan Dara ? Emang Dara juga cuti ?"
Astrid mengangguk, tangannya mengambil satu bungkus kripik kentang di atas nakas , membukanya kemudian dengan santai mengunyah makanan renyah itu.
" Iya. Dara nggak ada kabar. Kalau kamu sih, Pak Bagus dihubungi langsung sama Devan. Bilang kamu lagi sakit.. .Emang apa coba yang kalian lakukan sampai kamu bisa sakit begini ?"
Indah tak menjawab, dia malah memfokuskan pandangannya kearah pintu. Berharap Riri segera datang.
__ADS_1
" Padahal aku mau nanya ke kamu soal Dara. karena nomornya nggak aktif-aktif sejak malam itu..!"
Astrid mengangkat bahu, dia sebenarnya kesal karena rasa penasarannya malah tak ditanggapi oleh Indah.
Pintu tiba-tiba terbuka. Dan sosok Riri masuk tanpa kata. Melemparkan sebungkus plastik bening yang berisi banyak pil yang entah diperuntukkan untuk apa ?
" Kok sebanyak ini ? ini untuk apa ? "
Indah bertanya sembari meneliti setiap merk pada kemasan pil-pil itu, meski tentu saja dia tak mengerti apapun soal obat-obatan.
" Vitamin. Devan yang menyarankan. Dia mau jika kalian punya anak..!!"
Indah menatap Riri dengan pandangan penasaran " Apa maksud kamu ? "
Riri terkekeh terlihat jelas jika ada semburat merah kini menghiasi pipinya.
" Kalian kan sudah melalui malam pertama yang panjang dan panas !!"
Indah menunduk , apa Devan tahu jika seseorang telah menodainya. Dan Devan hanya menyelamatkan dirinya dari rasa bersalah dan malu. Atau jangan-jangan ..
Indah segera berlari menuju pintu.
" Devan baru saja menuju Bali. Dengan dua kemungkinan. Bisa menginap bisa tidak..!!".
Mendengar Riri mengatakan itu, Indah kini memilih menelpon Devan. Dia harus segera minta penjelasan soal apa yang pria itu katakan pada Riri.
[ Aku meeting. Nanti saja !!]
Setelah menolak panggilan darinya, Devan malah mengiriminya pesan seperti itu. Membuat Indah semakin dilanda rasa penasaran.
" So !!! kamu nggak masuk kerja dengan alasan sakit karena sudah melewati malam pertama dengan Devan ?"
Wajah putih itu mendadak memucat, Indah tak tahu harus menjawab apa !
" Apa Devan senikmat dan seperkasa itu. Hingga kamu tak bisa move on..!!" Astrid menaik turunkan alisnya ,menatap Indah yang gugup dengan senyum kikuk.
" Aku tak mau bahas soal ini..Trid !!"
" Huhhh padahal, aku berharap dengan kamu yang sudah mencobanya kita bisa bertukar pengalaman di ranjang dengan obrolan yang bikin basah hihihihi "
__ADS_1
Riri kini menatap kedua wanita didepannya dengan tatapan malu sendiri. Bagaimana mungkin mereka mengatakan hal seperti itu di depan dirinya yang berstatus gadis perawan yang masih single..ckckkck