
Indah diam saja, ketika Devan malah mengarahkan mobilnya kearah rumah mereka, semenjak tadi, sosok suaminya itu juga terdiam dan seolah tak memperdulikan kehadirannya disini.
Sebuah pesan masuk dari Nomor Bagus membuat Indah mengernyit,
[ Ndah !! video kita saat di restoran Viral, dengan judul yang sangat meresahkan. Aku harap suamimu tak salah paham akan hal ini !!]
Pesan Wa itu disertai dengan sebuah Video yang masuk, Indah langsung memutarnya saat itu juga..
Matanya mendelik membaca judul dengan caplok jebol pada artikel yang juga disertai video itu.
Devan mendengar semua suara yang melatar belakangi video itu, Namun saat dia melihat kearah Indah, Indah malah tertawa seolah itu adalah hal yang lucu.
" Kamu lihat Van, Bagus mengirim video viral tentang kami. Dan judulnya bikin aku ketawa. Sumpah kok bisa ada yang mengarang indah akan kejadian yang sebenarnya tidak dia ketahui..!!"
Devan menatap Indah yang tersenyum pada layar hapenya,
" Jadi!! Apa itu insiden yang tadi kamu bilang ?"
Indah mengangguk dan kini matanya menatap lekat kearah Devan, " Ibunya Darel mendatangi meja ku dan Bagus, untung saja klien kami sudah pulang. Dia memakiku dan juga menangis histeris di restoran tadi " Mata Indah menerawang, seolah mengingat rentetan kejadian yang dialaminya beberapa saat yang lalu.
" Apa benar jika aku yang menyebabkan kematian Darel, mungkinkah jika aku menolak lamarannya waktu itu. Darel akan tetap hidup hingga sekarang ? "
Devan menepikan mobilnya , meski sebenarnya mereka sebentar lagi akan sampai ke rumah mereka.
" Apakah itu berarti kamu juga menyesali pertemuan dan pernikahan kita ?..."
" Ehh ...Ak..a.aku...!!"
" Semuanya sudah suratan takdir Ndah, Aku juga menjalani hari-hari sulit saat kematian istri dan anakku. Tapi sekarang aku meyakini dibalik luka kehilangan mereka tuhan telah menyiapkan kamu sebagai pengganti. Makanya sekarang aku lebih memilih mensyukuri, daripada aku menyesali masa lalu ..!!"
Tangan Devan kini menggenggam erat tangan Indah, kemudian dia mengecup pelan punggung tangan milik istrinya itu,
" Maafkan aku , Karena sempat berpikir buruk akan hubunganmu dengan Bagus,, "
" Jadi... Tadi !! Kamu cemburu, karena itu kamu malah membawaku pulang ?"
__ADS_1
Indah tersenyum, mencoba menggoda Devan,
" berhentilah menggodaku. Atau aku akan membalasnya nanti malam ! " Kini wajah Devan menunjukan seringai mesum, membuat Indah segera menarik tangannya dari genggaman tangan suaminya itu, ia salah tingkah.
" Aku Lapar, jadi bisakah kamu membawaku ke manapun , asal di sana ada makanan ? "
Devan melajukan kembali kendaraan roda empatnya itu dengan senyum puas. Untungnya dia tak gegabah mengambil keputusan, karena rasa cemburu buta nya saat melihat video pelukan Indah dan Bagus tadi..
***
Hari sudah sore saat Devan dan Indah memutuskan untuk pulang ke rumah, Setelah makan siang. Mereka hanya berkeliling tak tahu arah selama dua jam, dan itu cukup membuat mereka lebih mengenal pribadi masing-masing, Meski Devan menawari Indah belanja, tapi perempuan itu menolak, dan lebih memilih mengelilingi kota berdua bersama dengan suaminya itu.
"Apa hubunganmu dengan Tante Meysa memang tak baik, saat kalian melakukan lamaran ?"
Indah memandang Devan dengan pandangan heran,
" Nanti kamu malah cemburu mendengar ceritaku dan Darel dulunya ?" Indah sebenarnya hanya tak ingin diingatkan tentang hal yang mati-matian dia lupakan, namun nyatanya Devan tak mengerti
" Bukan begitu ! Setahuku, Tante Meysa sangatlah berpikir logis akan hal apapun. Beliau tak percaya mitos dan sejenisnya itu, .."
Indah menjawab dengan nada datar, terdengar sangat enggan membahas hal ini.
Devan terdiam, dia melihat Indah dari samping, raut wajah istrinya yang berubah membuatnya merasa bersalah, kenapa juga dia harus menanyakan hal itu,
" Ndah !! Masa lalu kamu memang menyakitkan, begitupun masa lalu ku !! Jika kita menghindarinya, semuanya akan terasa semakin menyulitkan, lebih baik jika kita mengungkapkan nya , agar kita tak terlalu kepikiran. Dan malah terjebak nostalgia masa lalu..!!"
Indah tiba-tiba tak bisa membendung air matanya, Dia menatap ke arah Devan dengan pandangan nanar.
" Aku sudah terbiasa sendiri menghadapi hal-hal sulit, Bukannya tak bersyukur, tapi aku muak dengan semuanya Van, selama ini aku berhasil dengan cara ini. Cara menghapus ingatan dan tak mengungkit hal sekecil apapun, yang bisa membuatku goyah dan merasa bersalah..!!"
Indah memandang keluar jendela mobil, matanya telah basah. Tanpa ada niat menghapusnya.
Mereka akhirnya tiba, dengan cepat Indah berlari kearah pintu, membukanya dengan tak sabaran dan segera masuk.
Devan yang merasa bersalah hanya menatap tingkah sang istri dengan pandangan iba. Niatnya sebenarnya baik. Tapi dia lupa jika setiap orang mempunyai caranya masing-masing dalam menghadapi masa lalu dan juga kesedihan.
__ADS_1
Bi Amih menatap Devan yangmasuk ke rumah dengan lesu,
..."kalian marahan?"...
Devan menggeleng, "Dia hanya terjebak akan kesedihan di masa lalu Bi !"
"Yah, dan itu karena kamu ?" kenapa malah nggak peka kamu sebagai suami. Seharusnya kamu tenangkan dia, bukannya membiarkan dia sedih dan semakin sedih lagi, karena merasa dia masih sendirian seperti sebelumnya!"
"Bukankah aku harus memberinya waktu, Bi ! Bagaimana jika dia menolak kehadiranku ?"
"Kata Riri, Indah itu yatim piatu sedari kecil, paman yang mengasuhnya juga sudah meninggal, Dia sudah terbiasa mengatasi kesedihannya sendiri, dan sekarang. Saat ini, kamu tunjukkan ke dia kalau sekarang, kamu ada di sampingnya, dan dia bisa berbagi kesedihan itu denganmu !!"
Devan tak menyahut, namun dia membenarkan ucapan Bi Imah. Dengan segera dia menuju lantai atas, ke arah dimana Indah berada.
Saat membuka pintu yang untungnya tak dikunci, Devan menemukan jika Indah kini masih menyembunyikan wajahnya di bantal, dapat dilihat oleh Devan jika bantal telah basah oleh air mata sang istri.
" Ndah. Maafkan aku !!"
Dia memaksa Indah untuk merubah posisinya menjadi duduk, wajah sembab istrinya itu semakin membuatnya merasa bersalah.
"Sekarang !! kamu tidak sendirian, ada aku disini, kamu bebas menceritakan semuanya, apapun itu. Aku akan berusaha menjadi pendengar, sekaligus memberikan nasehat terbaikku untukmu. ."Devan menyentuh dagu Indah, memaksa mata istrinya menatap wajahnya,
"Berbagilah semuanya denganku mulai sekarang ! Karena sekarang hanya ada kita, bukan hanya aku dan kamu.. Kamu pahamkan maksudku ?"
Indah malah semakin terisak, kemudian Indah memeluk Devan dengan erat,
" Meski aku terbiasa dikecewakan, bisakah sekali ini saja. Aku memintamu untuk benar-benar mendampingiku hingga akhir ? Aku lelah Van, lelah ..hiks ...!!"
Devan membalas pelukan Indah,
"Aku Berjanji!!!"
Kemudian pria itu memberi ciuman bertubi-tubi pada tetesan air mata di wajah cantik sang istri..
"kita akan memulai semuanya dari awal, dan hanya akan ada kita... !!"
__ADS_1