
Indah butuh waktu beberapa detik untuk menerima ucapan dingin dan posesif yang diutarakan oleh Devan.
Tak bisa dia bayangkan sebesar apa rasa kehilangan dan perasaan dendam yang telah dirasakan Devan, beberapa tahun belakangan.
Indah mendekat, duduk di depan Devan yang kini menunduk dalam diam. Ekspresi Devan yang tak dapat ditebak, seolah menjadi perisai yang telah melindungi luka hati yang dia rasakan selama ini.
" Maafkan aku !! Hari ini , aku sudah dua kali aku membuatmu marah ..!"
Devan mengangkat wajahnya mendengar ucapan Indah
" Aku mencintai mereka. Dan bajingan itu !! Dengan tega telah membuat mereka berpisah dariku untuk selamanya. ."
Devan menggenggam jemari Indah.
" maafkan aku, tapi biarkan aku mencintaimu dengan caraku. Aku tak akan membiarkanmu kemanapun tanpa pengawalan mulai sekarang.." Devan tersenyum saat mengatakan itu.
" Tapi aku akan tetap bekerja kan ?"
" Boleh. Tapi !! Bekerja sebagai sekretaris ku.. Bagaimana ? Bukankah itu adalah kesepakatan awal kita.!!"
" Kapan ?" Indah mengingat. dan memang benar, dia pernah ingin menjadi sekretaris sang suami.
" Tapi. Aku harus berkembang bukan ? Aku sudah nyaman dan ,.."
" Kamu nyaman sama Bagus ?"
" Eh, bukan itu !!"
" Jadi Apa ?" Devan menatap Indah yang kini terlihat gugup.
Dia mempererat genggaman tangannya pada Istrinya itu.
" Aku pernah kehilangan sekali. Dan itu membuatku hampir mati rasa. Dan jika itu terulang lagi. aku kira, Aku tak akan sanggup.
Aku bersyukur, karena sekarang aku punya uang dan kekuasaan, dan semua ini tidak akan membuat kamu harus jauh dari diriku untuk waktu yang lama..!!"
Mendengar ucapan Devan, indah memandang suaminya itu dengan penasaran.
" Bi Imah bilang, kamu cuma butuh waktu tiga bulan, untuk menjadi seseorang yang berkuasa seperti sekarang ? bolehkah aku tahu apa yang sebenarnya terjadi setelah kasus kematian istri dan anakmu terjadi, dan kasusnya malah ditutup begitu saja ?"
Devan seolah tahu jika Indah akan menanyakan ini.
" Aku membalaskan dendam keluarga kecilku, Ndah. Kepada seseorang yang dengan gampangnya meminta maaf karena telah salah sasaran. Mereka meminta maaf bukan dengan ucapan tulus tapi dengan memberikan sejumlah uang...!"
Indah menutup mulutnya, " Jadi kamu menukar nyawa mereka dengan Uang ? itukah yang kamu bilang cinta !!"
" Aku belum selesai bicara ..!!" Devan menatap tangannya, setelah lebih dulu melepaskan tautannya dengan Indah.
" Aku membalas kematian istriku dengan tanganku sendiri !!"
__ADS_1
" Kamu membunuh para pelaku !!"
Devan mengangguk. " Mereka berkuasa, sementara aku tak punya apapun selain perasaan benci yang tak menemui titik dan pelampiasan. Mereka pantas mendapatkan pembalasan..!!"
" Lalu ? apa yang terjadi ?"
" Mending sekarang kamu mandi !!"
" Kamu rampok harta mereka, apa mereka tak punya keluarga sehingga tak ada yang protes.."
Cup.
Devan mencium bibir sensual Indah yang bicara tanpa henti. Dan ajaib, Indah langsung terdiam dan kini memalingkan wajahnya kearah lain.
" hari semakin sore, sayang !! sekarang mending kamu mandi, nanti malam kita lanjut lagi cerita yang belum selesai ini. Oke !!"
Dengan gerak kaku, Indah langsung berdiri. Kemudian dia keluar dari kamar itu, tanpa menoleh sedikitpun kepada Devan.
Membuat Devan tertawa, merasa lucu akan tingkah Indah yang merasa malu..
[ Ri. Carikan seseorang yang terpercaya untuk menemani Istriku. Perempuan . jangan laki-laki ]
Send.
[ Maksudnya bodyguard ? ]
Devan memandang layar itu dengan datar tanpa berniat membalasnya. Dia sudah hafal akan perilaku Riri, dia tau jika gadis itu akan mengerti tanpa dijelaskan. Tapi, jika ditanggapi gadis itu akhirnya akan memberondong Devan dengan banyak pertanyaan, untuk itu dia lebih memilih tak menjawab...
Indah kini berada didalam kamar mandi, dia menatap wajahnya di cermin. Dan menyentuh bibirnya dengan jemari lentiknya, dia tersenyum. Merasakan debar di dada dan juga kelembutan bibir seorang Devan.
Rasanya dia tengah benar-benar di mabuk asmara.
Tapi, kini pikirannya malah sedikit terganggu dengan posesifnya sang suami terhadapnya, jika Devan bisa bersikap seperti ini, karena tertarik. Bagaimana jika pria itu benar-benar merasakan jatuh cinta padanya nanti !!
" Ndah !! kamu baik-baik saja kan di dalam ?"
Devan mengetuk pintu, wajahnya tentu saja khawatir karena meski berada dikamar ini, tapi dia sama sekali tak mendengar suara air dari dalam kamar mandi, tempat dimana Indah berada.
" Sebentar !!"
Indah sedikit berteriak, sambil tangannya menyalakan shower. Dia benar-benar lupa waktu, mengingat tingkah romantis Devan tadi..
Devan memilih merebahkan diri, dia memejamkan matanya. Tak berapa lama, pria itupun tertidur.
Indah yang baru saja selesai mandi, menatap heran, Devan yang secepat itu menjemput mimpi.
" Sepertinya aku akan selalu diberi kejutan oleh pria ini !" Gumamnya tersenyum, memandang wajah suaminya yang damai dan membuatnya terlihat semakin tampan saja..
Ketukan di pintu mengalihkan pandangan Indah, pun Devan. Rupanya pria itu langsung terjaga dan penasaran siapa yang datang.
__ADS_1
" Siapa ?
Indah menjawab sambil membenarkan handuk yang melingkar di dadanya.
Melihat itu Devan malah tersenyum, Istrinya itu ternyata sangat konyol.
Apakah dia tak tahu, jika kamar mereka kedap suara ?
" Siapapun yang berada diluar tak akan mendengar , Sayang !!"
Devan berdiri, dan menghampiri Indah yang lagi-lagi bersikap konyol. Karena mengintip sosok diluar melalui lubang kunci.
Devan memeluknya, dan membalik tubuh istrinya dengan gerakan cepat.
membuat Indah gelagapan, dan refleks menyilangkan kedua tangannya didepan dada.
" Kamu mau apa ? Ada orang diluar, se..Sebaiknya kita lihat dulu, siapa tahu penting !!"
Indah memperlihatkan senyum salah tingkah, karena Devan seolah tak mendengar ucapannya dan malah memfokuskan matanya pada wajah Indah, entah kearah mana tepatnya.
" Kenapa ? Apakah kamu benar-benar tidak tahu jika kamar ini kedap suara..?" Devan tersenyum. Namun malah terlihat mesum di mata Indah.
membuatnya semakin tak berkutik dan memalingkan wajah kearah lain.
"Kamu bisa berteriak, dengan kencang disini. tanpa ada yang akan merasa terganggu. Seperti saat malam pertama Kita!"
Wajah Indah mendadak bersemu merah. Apakah benar dia seberisik itu saat bercinta, memikirkannya membuatnya semakin merasa malu.
" Jangan bahas sesuatu yang tak aku pernah aku sadari, itu pasti diluar kendaliku !!"
Devan tersenyum simpul, ingatannya kembali pada kejadian malam itu. Dia benar-benar kewalahan menanggapi tingkah indah yang dipengaruhi obat perangsang.
" Jadi . Bisakah kita sekarang melakukannya ? Agar kamu juga merasakannya !!"
Indah berusaha menghindari pandangan mata Devan, dia melirik ke kiri dan ke kanan. Berharap ada sesuatu atau seseorang yang membantunya keluar dari keadaan yang membuatnya tersudutkan seperti ini .
Dering hape mengalihkan pandangan Indah. Dengan cepat dia mendorong tubuh Devan dan mengambil Benda pipih yang telah menyelamatkan dirinya itu.
"Hallo !!"
' Kalian dimana ? aku didepan kamar kalian sedari tadi ! Bi Imah bilang kalau kalian ada didalam !!'
" Jangan mengganggu pasangan pengantin baru seperti kami. Riri !! Kami sedang Sibuk !!"
Devan memandang Indah dengan senyuman simpul, setelah selesai mengatakan itu, dia mematikan panggilan.
Sementara Indah malah bengong akan kelakuan Devan yang bisa mengejutkannya sampai berkali-kali.
" Aku... a..Aku belum Siap !!"
__ADS_1
Ucapnya dengan menyilangkan Tangan didepan dadanya sekali lagi..
" Kita temui Riri dulu, setelah itu.. Aku.. aku..akan..!"