Lelaki Terakhir

Lelaki Terakhir
Topeng Rania


__ADS_3

" Apa-apaan Ini Rin !! Siapa dia ? Kenapa pakaiannya sangat tak sopan..!"


Rania baru saja hendak menjawab namun Indah telah mendahului mereka masuk kedalam kamar,


" Maaf Tuan, tapi ini Urgent dan aku harus segera membereskan kamar kalian kembali !" Indah menjawab dengan suara lembut yang dibuat-buat. Tak perduli akan ekspresi Rania yang sudah menunjukan kemarahan entah karena apa.


Indah memasuki kamar dirinya dan Devan dengan tergesa, dia harus menyingkirkan semua foto pernikahan mereka. Meski dia sebenarnya marah dan kecewa, tapi tetap saja keselamatan Devan lah yang sekarang menjadi prioritasnya .


" Awas saja, kalau sampai perempuan itu malah mengambil kesempatan dalam kesempitan. Aku tidak akan tinggal diam...!! "


Suara langkah kaki membuat Indah terdiam dari omelan panjangnya, untung saja semua foto itu telah aman dibawah ranjang king Size milik mereka.


" Jadi !! apa yang mau kamu ambil dari sini ?" Devan bertanya dengan dingin, mata elangnya meneliti keseluruhan tubuh Indah bukan karena terpesona tapi lebih ke mengamati apa yang dimaksud oleh perempuan itu, soal ada yang tertinggal .


" Eh ..!! Maaf tuan, sepertinya saya keliru. Rupanya bukan tercecer disini. Entah dimana benda itu sekarang ?"


Devan tersenyum sinis, " Ganti bajumu !! aku tak suka dengan penampilan yang terbuka seperti itu. Karena pakaianmu sudah menunjukkan seberapa murahannya dirimu !!"


" Apa...!!!" Indah menatap Devan tak percaya, apakah kehilangan ingatan membuat Devan juga lupa bagaimana menghormati perempuan ?


Bi Imah menyadari ekspresi Indah yang marah dan tersinggung. Dengan cepat dia memeluk tubuh Indah dan menuntunnya keluar,


" Ehh Nyonya rumah. Sebaiknya anda ikut saya dahulu. penting !!"


Indah berbisik ke telinga Rania dengan suara kencang penuh penekanan. Memastikan ucapan darinya didengar juga oleh Devan. Dan itu akan membuat Rania mau mengikutinya.


Benar saja, hanya selang beberapa detik. Rania kini telah menyusul Indah yang kini berdiri di tangga. Wajah yang dibuat sepolos mungkin itu membuat Indah jengah ..

__ADS_1


" Jadi !! Apakah kamu akan tidur dengan suamiku malam ini ? "


" Maaf !! Tapi, aku disini niatnya adalah membantu. Seharusnya kamu berterima kasih kepadaku, Karena aku tahu sedalam apa perasaan Devan pada Rindi. Jika dia tahu jika Rindi telah meninggal maka aku yakin dia lebih memilih ikut Rindi dari pada menerima kenyataan jika dia telah mengkhianati Istrinya itu !!"


" Jaga mulut kamu ya, Aku bukan pelakor, dan tak ada yang namanya penghianatan dalam hubungan kami. Lagian siapa yang memintamu melakukan semua ini . . !!"


" Rindi !!"


Suara Devan menginterupsi perdebatan keduanya, meski sosok itu tak nampak. Hanya memanggil Rindi seolah dia sedang butuh sesuatu.


Sebelum Rania pergi, Indah menggamit lengan gadis itu.


" Ingat batasan mu, nona !! Jangan uji kesabaran ku dengan tingkah tak tahu malumu..!!" Indah mengucapkan semua itu dengan nada penuh penekanan.


Meski begitu Rania hanya tersenyum kecil menanggapi Indah yang menurutnya akan hancur karena emosinya sendiri.


Sepeninggal Rania, Indah menatap langit-langit Rumah yang baru beberapa bulan dihuninya ini dengan mata berkaca-kaca. Dia sebenarnya telah menahan dirinya untuk tidak menangis , tapi tetap saja matanya terasa panas, seolah tak bisa untuk diajak kompromi. Entah akan kemana hubungan Dirinya dan Devan akan bermuara pada akhirnya.


***


Indah kini memilih menempati kamar di lantai bawah, karena memang dia tak sempat berkemas. Semua pakaiannya masih berada didalam kamarnya dan Devan. Suara ketukan pada pintu mengalihkan fokus Indah. Dia mendengar jelas suara Bi Imah yang memanggilnya dengan sopan disertai dengan ketukan pada pintu kamar ini.


" Kenapa Bi !!" Indah membuka pintu dengan malas. Dia masih menyimpan kekecewaan pada pembantunya itu.


" Anu non !! Non bisa makan malam terlebih dahulu, soalnya Devan dan Rania belum mau saat saya meminta mereka makan malam tadi..!!"


Indah dapat melihat kegugupan yang ditunjukan oleh Bi Imah. Tapi, dia sudah hilang respect pada perempuan Paruh baya itu.

__ADS_1


" aku nggak lapar Bi. Dan Jika Devan bertanya katakan saja jika aku adalah anakmu !! Bibi ngerti maksudku kan ?"


Indah melihat jika bi Imah mengangguk tanpa bertanya apapun, membuatnya melanjutkan ucapannya


" Dan sebagai sesama perempuan, bolehkah Jika aku meminta kesediaan Bibi untuk mengawasi perempuan itu!! Aku takut, dia adalah jenis perempuan penggoda dan suka mengobral diri pada suami orang..!!" Indah menatap Lekat wajah Bi Imah. Dia tahu kemungkinannya memang kecil Bi Imah membantunya. Tapi, tidak salahnya kan jika dia mencoba ..


" Baik Non !! Bibi tahu kok jika yang dilakukan Rania itu adalah kesalahan. Non tenang saja, saya akan berada di pihak Non Indah. Bagaimanapun kemiripan dirinya dengan Almarhumah. Tetap saja, sikap dan sifat mereka tidaklah sama..!! Maafkan Sikap bibi yang kemarin ya Non !!"


Indah menatap dengan datar wajah bersalah Bi Imah, dia hanya berdehem sebagai jawaban. Bi Imah yang mengerti kini pamit, dan meninggalkan Indah yang segera menutup pintu ketika sang bibi membalikkan badan.


" Ehh ...!! Rania ? sejak kapan kamu disini ?"


Bi Imah kaget ketika melihat Rania menenteng segelas air minum, dan meminumnya dengan penuh gaya, seolah dia adalah nyonya di rumah ini .


"Apa sikap Istri Devan itu selalu sesombong itu memperlakukan Bibi ? Aku yakin, dia mau menikah dengan Devan karena Harta. Terlihat dengan penampilannya yang murahan dan tingkahnya yang bar-bar..!!"


Bi Imah memandang perempuan didepannya dengan gelengan kepala tanda tak mengerti. Bisa-bisanya ada manusia seperti ini di dunia.


" Sebaiknya kamu berkaca sebelum bicara. Kamu tamu disini, dan jikapun ada yang mengincar harta Devan. Itu bukanlah Non Indah. Tapi, dirimu sendiri..!!"


Rania meletakkan gelas dengan keras di atas meja.


" Jangan bicara lancang Bi !! Dengan posisiku sekarang, aku bisa jika memecat bibi dan mengusir perempuan sok cantik itu dengan segera dari rumah ini. Jadi, aku sarankan bibi lebih bijak dalam memilih teman . Jangan sampai malah membuat Bibi jadi kehilangan pekerjaan..!!"


Rania melangkah dengan anggun setelah mengatakan hal itu. Sementara Bi Imah kini tampak mengelus dada. Tak menyangka jika Rania sudah menunjukkan wajah aslinya meski baru beberapa jam saja berada di rumah ini.


" Semoga saja, Devan segera pulih. Dan tak lagi terlibat dengan perempuan modelan kayak begitu !!" Doa Bi Imah seraya memandang kepergian Rania yang mengenakan Dress yang dikenali oleh dirinya sebagai milik Indah..

__ADS_1


" Sok cantik dan tak tahu malu.. Ih amit-amit !!"


__ADS_2