
mereka membantu menurunkan maira dari atas motor dan membawanya ke salah satu toko makanan yang berada tidak jauh dari sana.
sedangkan denis setelah memastikan maira sudah sadar langsung pergi untuk membeli minuman.
"kamu baik-baik saja...?" tanya denis sambil menyerahkan sebotol minuman rasa buah
"agak mendingan tapi masih pusing" sahut maira yang lebih memilih bersandar di tembok toko tersebut.
setelah hampir setengah jam mereka duduk di depan toko itu maira dan denis pun memilih melanjutkan perjalanan karena hari sudah semakin siang dan hujan juga akan segera turun.
"kita bisa lanjut sekarang...?" tanya denis
"iya mas kita lanjut saja kasihan juga rere terlalu lama di jalan" sahut maira
"ya sudah ayo, mas akan membawa motor dengan pelan-pelan jadi kalau kamu merasa pusing kembali tolong bilang sama mas agar tidak kejadian seperti tadi" pinta denis
"baik mas.."
" ya sudah ayo... pak terima kasih ya atas bantuan nya maaf kami sudah merepotkan" kata denis kepada salah satu pedagang yang menolong maira tadi
"oh iya mas sama-sama.. hati-hati di jalan"
"iya pak"
akhirnya denis dan maira pun mulai meninggalkan tempat itu.
sepanjang perjalanan maira masih saja merasa tidak enak, dia juga merasa mual yang sangat hebat dan pusing kembali datang, tapi dia tahan semua itu. kalau dia mengatakan kepada denis pasti perjalanan mereka kembali terhambat sedangkan hujan sudah mulai turun.
maira tidak ingin berlama-lama di jalan raya, dia ingin segera sampai di rumah bang haikal.
__ADS_1
setelah satu jam akhirnya mereka sampai juga di rumah haikal, haikal dan istrinya menyambut mereka dengan baik.
"bagaimana perjalanannya apa macet.?" tanya haikal
"perjalanannya agak lancar tapi ya begitu kami harus membawa motor nya pelan-pelan" sahut denis
"kamu tidak mabuk kan ra...?"tanya haikal yang kini melihat kearah maira
"bukan nya mabuk lagi tapi hampir pingsan di jalan karena katanya kepalanya pusing" sahut denis
"loh kenapa..." tanya sri yang tidak lain istri dari haikal
"mungkin bawaan bayi mbak" tambah denis sedangkan maira hanya tersenyum saja
"oh kamu hamil lagi, sudah berapa bulan...?" tanya sri
"oh iya bang orang yang kemarin belum datang...?" tanya denis karena tidak melihat orang yang akan mengobati dirinya beserta maira
"sepertinya dia sedang dalam perjalanan, kita tunggu saja dulu" jawab haikal
"kamu punya uangnya nis buat membayar dia...?" tanya sri
"ada mbak tapi cuma dua ratus lima puluh ribu"
"kok cuma segitu, kamu kan tahu dia dari luar kota, kemarin saja mbak memberi dia empat ratus lima puluh ribu belum ongkos dan uang makannya" sahut sri yang tidak suka dengan jawaban denis
"ya kan mbak tahu sendiri bagaimana keadaan ekonomi kami saat ini, uang itu juga aku dapat pinjam dari ibu mertuaku..."
"ya tapikan kamu jangan menyepelekan dia, dia sudah mau membantu kamu dan kamu malah membayarnya segitu, seperti tidak menghargai dia saja"
__ADS_1
"ya sudah nanti tambahin saja sama mbak sri dan bang haikal, jujur saja kalau aku hanya bisa memberi dia segitu"
akhirnya sri dan Haikal pun tidak bisa berbicara apa-apa lagi.
akhirnya orang yang di tunggu pun datang juga, tepat jam enam sore dia datang ke rumah haikal, setelah di persilahkan masuk dia pun segera duduk tepat di depan maira.
entah kenapa ada perasaan risih dengan tatapan laki-laki itu, dia sedang berbicara dengan haikal dan juga denis tapi matanya tidak pernah lepas dari maira.
setelah cukup lama mereka mengobrol sri pun mengajak mereka makan malam terlebih dahulu, semua orang mulai makan begitu pun dengan maira, dia pun mulai mengambil nasi sedikit dan tidak lupa lauknya, dia hanya takut kalau dia akan memuntahkan lagi makanannya.
karena setiap kali dia makan pasti makanan itu keluar kembali, kecuali makanan itu makanan yang sangat di inginkan maira walupun sedikit bisa masuk juga.
"makan yang banyak nis..." kata sri sambil menyodorkan beberapa lauk kehadapan denis.
denis seolah lupa kalau disana masih ada maira dan juga rere dia terus saja makan tanpa memikirkan bagaimana maira sekarang ini.
karena seperti itulah denis, ketika dia sudah bergabung dengan saudara-saudaranya dia akan lupa dengan maira maupan rere, maira yang melihat denis sama sekali tidak melirik nya hanya bisa diam saja, toh di keluarga haikal maira merasa kalau mereka hanya berbasa-basi saja dengan dirinya.
sebetulnya bukan hanya dengan keluarga haikal saja semua keluarga denis seperti tidak suka dengan keberadaan maira disana, jadi terkadang kalau sedang kumpul keluarga hanya maira yang tidak di angap.
setelah selesai makan haikal pun memberi tahu kalau maira dan rere akan tidur di depan tv sedangkan kamar kosong akan di tempati orang yang akan mengobari denis, katanya dia butuh kamar kosong dan tertutup untuk melancarkan aksinya.
maira pun hanya bisa pasrah saja, dengan beralaskan karpet yang tidak terlalu tebal dia pun mulai tidur bersama rere karena sudah sangat mengatuk, sedangkan denis dan yang lainnya masih mengobrol membicarakan hal-hal yang menurut maira gaib.
sejujurnya maira tidak bisa tidur, di ruangan itu sangat tercium asap roko yang sangat pekat, karena semua orang yang belum tidur saat itu merokok sedangkan pintu atau pun kaca tidak ada yang di buka. belum lagi suara mereka yang sama sekali tidak di pelankan malah seperti sengaja di kencangkan.
lampu menyala dengan sempurna tidak ada yang di matikan, dan jangan terlewat suara tv yang sangat kencang, walaupun tidak ada yang melihat tv karena mereka lebih serius mengobrol tapi tv di biarkan menyala dengan suara yang sangat keras.
maira sangat ingin mematikan tv itu dan melemparkan remote nya tapi dia ingat kalau sekarang dia sedang berada di rumah sri, dia harus menjaga sikap atau sri menjadi semakin tidak suka dengan dirinya.
__ADS_1