
sambil menenangkan rere maira terus berpikir dengan apa yang barusan di dengarnya, pantas saja sekarang denis bisa lebih lama tinggal bersama nya sedangkan bos denis adalah orang yang sangat cerewet dan tepat waktu.
kalau denis sudah tidak bekerja lagi di sana dari mana dia mendapat uang setiap minggu nya...?
sedangkan maira tahu mertua nya kini sedang jatuh sakit dan tinggal bersama mbak yuli.
ya, bu erni jatuh sakit dan mengalami kelumpuhan tapi sampai sekarang maira belum bisa melihat nya karena belum boleh pergi jauh-jauh oleh Bu Sekar.
tapi nanti di saat usia rere memasuki usia tujuh bulan baru dia bisa meliihat keadaan mertuanya itu, karena pada saat itu dia dan rere akan pindah kembali ke kota B, dan untuk sekarang dia sedang mempersiapkan semua nya termasuk mengurus surat pindah dan juga membuat akte lahir rere.
tentu saja Denis yang mengurus itu semua, melalui salah satu saudara Maira yang kebetulan bekerja di kecamatan tempat maira tinggal.
di saat maira sedang melamun denis masuk ke dalam kamar dan melihat keadan putrinya, maira yang melihat itu pun langsung memanfaatkan nya untuk bertanya.
"mas..." pangggil maira
"ada apa...?" sahut denis tanpa melihat ke arah maira dan malah terus menatap rere
"tadi aku mendengar pembicaraan kamu di telpon, apa itu benar kamu sudah tidak bekerja di kantor itu lagi...?" tanya maira penasaran.
"iya itu benar"
"lalu sekarang kamu bekerja dimana...?"
__ADS_1
"di perusahaan yang dulu, sebelum mas menikah"
"tapi mas, bukan nya kata kamu perusahaan itu sekarang sudah tidak ada lagi di kota B dan malah pindah ke kota D....?" tanya maira seakin heran
"iya memang pindah, tapi ini seperti cabang nya cuma lebih kecil tempat nya juga masih di tempat yang dulu, hanya saja saat ini hanya menyuplai barang saja" jelas Denis tanpa melihat ke arah maira.
"lalu kamu bekerja di bagian apa...? apa sama seperti dulu...?" tanya maira lagi
"mas bekerja di bagian mengantarkan barang ke toko-toko kecil dan itu tidak setiap hari mas lakukan, mas akan pergi ketika toko itu menghubungi untuk meminta barang saja, lagi pula bukan nya bagus jadi mas ada waktu lebih lama untuk menemani kamu dan rere di sini" jelas denis
maira pun harus puas dengan jawaban Denis barusan walaupun di dalam hati nya masih ada perasaan aneh tapi maira tahu jika dia meneruskan pembicaraan ini maka dia dan Denis pasti akan bertengkar, dan itu tidak mungkin maira lakukan apalagi mengingat mereka sedang tinggal bersama orang tua maira.
setelah kejadian malam itu maira pun tidak pernah bertanya lagi tentang pekerjaan denis, toh selama di sini denis selalu memberi nya uang belanja, walaupun maira tahu denis hanya memberi nya empat puluh persen dari uang yang di miliki Denis tapi dia sama sekali tidak masalah, karena dari awal menikah sampai sekarang memang seperti itulah denis jika menyangkut masalah uang.
maira pun berbicara kepada denis untuk meminta uang tapi sikap denis menunjukan kalau dia tidak suka hal itu.
"mas nanti aku minta uang lebih ya..." kata maira ketika denis sedang berada di rumah nya.
"berapa...?"
"entahlah, untuk uang sewa tiga mobil saja sudah sembilan ratus ribu, lalu bensin pada setiap masing-masing mobil lalu dari sini kita juga harus memasak agak banyak agar nanti sampai di sana orang-orang yang mengantar kita bisa makan, tidak mungkinkan nanti sampai disana kita menunggu mbak yuli menjamu tamu-tamu kita itu." kata maira menjelaskan
"iyalah mbak yuli sudah repot mengurus mamah mana mungkin kita kembali merepotkan nya lagi dengan hal seperti ini"
__ADS_1
"ya makanya nanti sebelum pergi kita harus memasak terlebih dahulu di rumah agar sampai sana bisa menjamu tamu kita."
"lalu total semua nya berapa...?" tanya denis
"aku hitung-hitung total semua nya itu sekitar satu setengah juta" jawab maira
denis yang mendengar itu langsung melihat ke arah maira dia tidak menyangka biaya nya kan sangat besar seperti itu, belum lagi dia harus membayar untuk akte serta surat pindah maira dan kini di tambah ini.
"besar sekali...?" tanya denis heran
"ya kamu hitung saja mas, tiga mobil saja sudah sembilan ratus ribu, lalu uang bensin tiga ratus ribu, sisa nya untuk membeli sayur dan bahan-bahan lain untuk menjamu mereka, kita pasti membuat kue dan juga beberapa masakan" jelas maira
"apa mereka harus ikut, kenapa tidak kita saja bertiga yang pergi, kenapa mereka semua harus ikut bahkan para tetangga juga ikut...?" tanya Denis heran
"mas ini sudah tradisi disini, kalau kita mau pindah para tetangga dan saudara akan ikut mengantar ke rumah baru kita nanti nya" jelas maira dan denis pun mau tidak mau harus mengikuti tradisi yang menurut nya sangat konyol itu.
tidak terasa hari keberangkatan pun akhirnya datang juga, benar saja perkiraan maira kalau yang akan ikut mengantar diri nya akan banyak, bahkan masih ada beberapa orang lagi yang ingin ikut tapi sudah tidak muat.
maira dan denis pergi menggunakan motor sedangkan rere bersama bu sekar dan yang lain nya di mobil, itu semua karena maira harus memberitahu sang kakek dari pihak ibu yang juga ingin ikut mengantar cucu nya itu.
kebetulan rumah kakek maira berada di kota yang sama dengan denis, setelah sampai di rumah sang kakek maira langsung membawa nya dengan motor dan menunggu di pinggir jalan, kebetulan rumah sang kakek berada di dalam gang. sebenar nya gang nya cukup besar dan masuk mobil juga tapi untuk menghemat waktu jadi mereka putuskan untuk meminta sang kakek menunggu di depan saja.
setelah menunggu sekitar setengah jam rombongan mobil keluarga maira akhirnya terlihat juga, mobil yang di tumpangi oleh bu sekar berada di barisan paling depan di susul oleh dua mobil lain nya, kakek amir pun segera naik kedalam mobil yang sama dengan bu sekar.
__ADS_1
setelah memastikan sang kakek sudah naik ke dalam mobil baru lah mereka melanjutkan lagi perjalanan mereka yang hanya tinggal setengah jam lagi. maira memimpin jalan karena ini kali pertama keluarga nya datang ke rumah denis, jadi mereka tidak tahu arah jalan.