
"Apa yang kamu rasa Maira... Apa perut kamu sakit...?" tanya bu Sekar sambil memegang perut Maira.
"Iya bu perut ku sakit sekali mungkin mau melahirkan. Terasa mulas dan sakit" jelas Maira yang sebenarnya saat ini dia juga tidak tahu apa yang dia rasakan. Yang terasa adalah rasa sakit yang amat sangat di bagian perutnya dan seperti ada sesuatu yang ingin keluar dari bawah sana.
"Apa kita panggil bidan sekarang saja bu...?" tanya Denis
"Jangan dulu Nis, takutnya belum mau melahirkan sekarang, bagaimana kalau kita panggil paraji saja dulu, biar nanti bapak yang jemput" usul Bu Sekar
Bu Sekar pun meminta suaminya untuk menjemput paraji dan membawanya kesini, pak soleh yang diminta tolong istrinya pun segera bergegas pergi ke rumah paraji yang memang tidak jauh dari rumah mereka.
Setelah kepergian suaminya bu Sekar segera kembali ke kamar Maira.
"Denis kamu temani Maira dulu ya, ibu mau mempersiapkan semuanya takut Maira mau lahiran malam ini"
"Iya bu" kata Denis sambil duduk di samping Maira.
Sedangkan saat ini Maira terus saja merasa sakit di bagian perutnya, bahkan rasa sakitnya terkadang menjadi lebih sakit berali-kali lipat dari sebelumnya.
Maira hanya bisa menangis dengan apa yang di rasakan ya saat ini, sedangkan Denis tidak bisa berbuat apa-apa untuk menenangkan Maira.
Tepat jam setengah dua belas malam pak Soleh datang dengan membawa seorang wanita paruh baya, yang biasa membantu persalinan secara tradisional di desa itu.
"Assalamualaikum" sapa mak Tum sambil masuk kedalam rumah.
"Waalaikumsalam, akhirnya mak Tum datang juga" jawab bu Sekar yang langsung datang menghampiri mak Tum.
"Ada apa, apa sudah mau melahirkan...?" tanya mak Tum
"Belum tahu mak tapi tolong di lihat dulu apa sudah waktunya melahirkan apa belum" pinta bu Sekar
"Baik mak akan lihat dulu"
Bukan tanpa sebab karena mak Tum sudah tahu kondisi Maira sebelumnya, karena dia yang waktu itu datang di acara tujuh bulanan Maira dan memeriksa kandungannya.
__ADS_1
Mak Tum pun langsung masuk kedalam kamar Maira dan duduk di sampingnya, beliau terus saja mengelus perut Maira sambil terus berdoa.
"Coba mak lihat dulu ya, apa sudah waktunya apa belum" kata mak Tum yang langsung memposisikan dirinya untuk mengecek Maira.
"Maaf ya mbak, mak mau cek dulu sudah waktunya apa belum" ijin mak Tum sedangkan Maira hanya bisa menganggukan kepalanya saja sebagai jawaban. Sedangkan bu sekar hanya bisa melihatnya dari ambang pintu sambil menunggu perintah dari mak Tum.
"Bagaimana mak apa sudah waktunya melahirkan.....?" tanya bu Sekar penasaran.
"Belum masih jauh" jelas mak Tum yang kini duduk di samping Maira sambil mengelus perut dan punggug nya secara bergantian.
"Saya pikir sudah mau melahirkan soalnya kalau di lihat mulas-mulas seperti itu" sahut bu Sekar
Mak Tum hanya menjawab sambil tersenyum saja dan terus melapalkan ayat-ayat al Quran untuk membuat Maira lebih tenang lagi.
Waktu berjalan dengan sangat cepat, mak Tum tetap setia berada di dalam kamar sedang yang lain di ruang keluarga, sedangkan bu Sekar sedang memasak untuk makan sahur mereka semua apalagi sebentar lagi sudah waktunya sahur.
Dan tepat pada saat itu Maira kembali merasakan sakit yang sangat hebat, dia kembali menangis.
"Mau apa ke kamar mandi..?" tanya mak Tum memastikan
"Sepertinya saya ingin buang air besar" sahut Maira malu-malu
"Tidak usah di kamar mandi disini saja biar nanti sama mak di bersihkan" jawab mak Tum. Setelah mengatakan itu mak tum pun segera keluar dan menemui bu Sekar entah apa yang sedang mereka bicarakan.
"Apa akan melahirkan sekarang?" tanya Denis ketika melihat mak Tum hendak kembali ke kamar.
"Sepertinya begitu, silahkan masuk ke kamar jika ingin menemani"
Tanpa ragu Denis pun masuk kedalam kamar dan segera duduk di samping Maira sambil terus memegang tangan Maira dan tentu saja dia terus berdoa meminta agar keduanya selamat.
"Apa perlu kita panggil bidan..?" tanya Denis kepada Maira dan Maira hanya menggelengkan kepalanya saja.
Mak Tum pun mulai memposisikan dirinya dan juga Maira agar lebih mudah lagi, Maira yang sudah tidak tahan ingin mengeluarkan sesuatu mulai beraksi.
__ADS_1
"Jangan di tahan keluarkan saja" kata mak Tum
Maira terus berjuang untuk mengeluarkan anak pertama mereka, sampai dia mendengar mak Tum berbicara.
"Ayo dorong lebih kencang lagi kepalanya sudah kelihatan dan hampir keluar" kata mak Tum
Bu Sekar yang tadinya menunggu di luar langsung masuk kedalam kamar dan segera melihatnya.
Maira terus saja berusaha tapi apa daya dia sudah lelah dan tenaganya sudah habis terkuras.
"Maira sudah tidak kuat mak, Maira lelah" kata Maira sambil menangis
"Jangan menyerah sekarang, lihat kepalanya sudah keluar setengah, cepat selesaikan kalau tidak kasihan anaknya" perintah mak Tum dengan tegas.
Setelah beristirahat dan mengambil napas selama lima menit akhirnya Maira kembali melanjutkan perjuangannya dan tidak lama terdengar suara tangisan bayi di dalam kamar itu, membuat semua orang yang ada di dalam kamar langsung datang dan melihat.
Mak Tum meletakan bayi mungil itu di bawah jalan keluarnya, tangan mungil itu terus bergerak dan menyentuh kaki Maira membuat Maira merasa geli.
"Mak geli" kata Maira sambil menahan tawa
"Sebentar mak harus memotong ini dulu, kamu jangan banyak bergerak" kata mak Tum, akhirnya Maira hanya bisa pasrah dan diam saja setelah lima menit bayi itu pun kembali di angkat oleh mak Tum.
"Ayo siapa yang mau adzanin bayi ini..?" tanya mak Tum kepada pak Soleh dan Denis
Denis sangat ingin sekali mengadzani putrinya tapi apa daya tangan Maira tidak mau lepas dan Maira seperti sedang merasakan sakit lagi di bagian perutnya.
"Biar ayah saja" kata Denis pasrah
Mak Tum pun menyerahkan bayi mungil itu ke tangan pak Soleh dan langsung di terimanya dengan senang hati. Sedangkan Maira kini sedang berjuang lagi mengeluarkan ari-ari sang bayi, memang tidak sesakit sewaktu melahirkan putrinya tapi kali ini dia tidak boleh berhenti di tengah jalan karena bisa membahayakan nyawanya sediri.
Setelah pak Soleh selesai mengadzani cucu pertamanya langsung di berikan ke tangan bu Sekar, bu Sekar menggendong cucu pertamanya itu untuk pertama kali, ada perasaan takut, bahagia dan juga sedih tanpa dia sadari air matanya menetes begitu saja.
"Tolong parut jahe dan bawa kesini setelah di bungkus dengan kain" kata mak Tum kepada bu Sekar.
__ADS_1