
Setelah mendengar penjelasan dari bidan Maira dan bu Sekar pun segera kembali pulang kerumah, sesampainya di rumah Maira langsung menghubungi Denis dan memintanya untuk segera datang.
📱Mas kamu kapan pulang...?
Tanya Maira ketika telephonnya tersambung di seberang sana
📱 Mas tidak tahu, soalnya mas masih belum punya uang. Memangnya kenapa Ra..?
📱 Ini mas sejak subuh tadi aku terus saja keluar cairan dan kata bidan air ketuban ku sudah pecah, aku juga sudah pembukaan ke dua ada kemungkinan akan melahirkan hari ini juga
📱 Tapikan ini belum waktunya Ra, bukannya perkiraan persalinan tuh sesudah hari raya idhul fitri...?
Kata Denis yang masih tidak mengerti
📱 Ya tapikan kata bidannya seperti itu, kalau bisa mas kesini hari ini juga. KKamu tahukan aku tidak punya uang untuk biaya persalinan takutnya benar kata bidan, aku melahirkan hari ini juga
📱 Ya baiklah mas akan pergi kesana sekarang, mungkin akan sampai siang nanti
📱 Iya mas dan jangan lupa bawa uang untuk persalinannya
📱 Iya
Sambungan pun terputus, Maira ingat perkataan bidan tadi kalau dia harus lebih sering berjalan-jalan atau pun naik turun tangga agar jalan lahirnya terbuka sempurna. Maira pun segera naik turun tangga dengan hati-hati dan dia pun mulai berjalan-jalan di sekitar rumah saja.
Sampai tidak terasa waktu sudah siang dan Denis pun baru saja datang, sedangkan bu Sekar terus saja menanyakan keadaan putri pertamanya itu, dia takut putrinya itu merasakan sakit atau apapun itu.
"Ra bagaimana apa terasa sakit...?" tanya bu Sekar
"Tidak bu, air yang keluar juga sudah jarang sekali" jelas Maira
"Oh begitu, kalau misalnya ada yang di rasa segera kasih tahu ibu ya" kata bu Sekar yang lebih memilih kembali ke dapur.
"Iya bu,"
__ADS_1
Denis terus saja memperhatikan percakapan antara bu Sekar dan juga Maira, setelah bu Sekar masuk kedalam Denis pun mengajak Maira kembali ke bidan untuk memeriksa keadaannya sekarang.
"Ra bagaimana kalau kita kembali ke bidan, mas ingin tahu keadaan kamu sekarang" ajak Denis
"Iya mas nanti sore saja kalau sekarang pasti bidannya sedang tugas di puskesmas" jelas Maira.
Setelah sore tiba Maira dan juga Denis pun kembali ke bidan dan setelah di periksa jalan lahir masih saja belum sempurna.
"Masih belum ya pak, bu.. Apa tidak sebaiknya pakai obat saja biar lebih cepat proses persalinannya..?" kata bidan itu setelah kembali memeriksa keadaan Maira.
"Tidak bu, saya ingin yang alami saja" jelas Denis, karena sebelum pergi ke bidan Maira sudah meminta Denis untuk tidak menyetujui cara bidan itu.
"Baiklah kalau mau bapak seperti itu, bu Maira harus lebih sering jalan-jalan saja ya dan ada satu lagi cara lain agar ibu bisa cepat kontraksi"
"Bagaimana bu caranya...?" tanya Denis penasaran
"Berhubungan suami istri, hal itu juga bisa membuat ibu cepat kontraksi" jelas bidan itu sambil tersenyum
Setelah keluar dari rumah bidan itu Maira pun mengajak Denis pergi ke tempat di adakannya acara ngabuburit yang memang selalu ada setiap tahun di desa Maira.
Mereka pun berjalan kaki karena tadi memang Denis tidak membawa motor dengan alasan agar Maira bisa berjalan-jalan. Banyak jajan yang di beli Maira saat itu, tentu saja untuk menu berbuka puasa nanti bersama keluarganya di rumah.
Setelah selesai membeli takjil Maira dan Denis pun kembali pulang kerumah, sesampainya di rumah Maira segera memakan makanan yang dia beli karena memang dia tidak berpuasa hari ini.
"Ra bagaimana kata bidan...?" tanya bu Sekar
"Masih belum bu, masih jauh.. Mungkin juga bukan hari ini persalinannya"jelas Maira
"Lalu apa kamu merasa perutnya sakit atau apapun itu?" tanya ibu lagi
"Tidak bu, semua aman"
Setelah mengatakan itu sudah tidak ada pembicaraan lain lagi, bu Sekar juga kembali dengan aktifiitasnya lagi di dapur. Sedangkan Maira kembali berjalan-jalan di sekitar rumahnya.
__ADS_1
Malam pun tiba semua orang sudah bersiap untuk tidur, apalagi nanti mereka harus bangun sahur. Begitu pun dengan Denis dan Maira yang kini sudah berada di dalam kamar mereka.
"Mas kamu sudah ada uang untuk persalinan nanti...?" tanya Maira di saat mereka sedang berbaring di tempat tidur.
"Ada tapi hanya lima ratus ribu saja, mudah-mudahan cukup untuk biaya persalinan nanti" kata Denis
"Ya mudah-mudahan saja, tapi kalau bisa di saat aku melahirkan nanti tidak ingin di bantu oleh bidan tapi cukup paraji saja" harap Maira
"Ya kita liat saja nanti, oh iya Ra kamu masih ingat kan apa kata bidan tadi sore...?" tanya Denis yang kini sudah tidur menghadap Maira
"Yang mana...?" tanya Maira sambil mengingat perkataan bidan tadi sore.
"Itu yang kita harus berhubungan agar dedek bayinya cepat keluar" bisik Denis yang langsung merapatkan tubuhnya dengan Maira
"Memamg tidak apa-apa mas...?" tanya Maira ragu
"Ya tidak apa-apa, lagi pula itu jugakan di suruh oleh bidannya.. Lagian mas sudah lama tidak dapat jatah" bisik Denis
Maira pun hanya mengangukan kepalanya sebagai jawaban dan tentu saja itu membuat Denis senang. Denis pun segera memulai aksinya, tapi baru saja dia akan membuka baju Maira sesuatu terjadi.
Maira mengalamim kontarksi dan tentu saja itu membuat Denis khawatir, dia langsung bangun dan membuka pintu kamar, hal pertama yang dia lakukan adalah mengetuk pintu kamar mertuanya.
Tok...tok..tok
Tidak lama pintu pun terbuka dan memperlihatkan bu sekar.
"Ada apa Nis, kenapa malam-malam kesini...?" tanya bu Sekar yang heran melihat menantunya ini malam-malam datang ke kamarnya.
"Maaf bu saya membangunkan ibu malam-malam, tapi itu Maira merasa sakit mungkin mau melahirkan..." jelas Denis yang kini sedang khawatir dengan keadaan istrinya itu.
"Baik nanti ibu akan lihat kesana, kamu temani saja dulu Maira ibu mau membangunkan bapak dulu" setelah mengatakan itu bu Sekar kembali ke dalam kamar dan segera membangunkan suaminya, setelah itu dia pun segera menyusul Denis dan melihat keadaan Maira.
Bu Sekar langsung masuk ke dalam kamar Maira dan langsung menghampiri putrinya itu.
__ADS_1