
Sara tidak percaya sama sekali jika ia akan menghabiskan waktunya di istana. Sara benar-benar lemah ia tidak tahu harus melakukan apa untuk menghilangkan rasa bosannya. Ia tidak bisa melakukan hal-hal yang ia sukai ditambah dengan peraturan istana dan juga ia adalah seorang perempuan. Sara benci memikirkannya. Wajah suramnya mengiringi perjalanan kekamarnya. Bahkan iapun ia tidak sadar diikuti oleh Raska dan Adia pelayannya yang terdiam takjub melihat pangeran keempat ada didepan bersamanya. Ia terus meracau mengeluh mengapa ia bisa terpilih dari sekian banyak wanita yang ada disana. Ia sudah semaksimal mungkin untuk membuatnya tereliminasi dari acara ini, rencana yang sudah ia susun kacau balau. Ia akan melarikan diri dari rumahnya jika ia tidak terpilih dan kembali menghabiskan waktu bersama Pon, Rawnie dan anggota lainnya. ia mengutuk dirinya sendiri dan mejambak rambutya.
“Hahahahaha…” suara tawa itu membungkam racaun Sara.
“Sejak kapan kau disana?” Tanya Sara tidak percaya dengan kehadiran 2 orang dibelakangnya. Sara semakin menyalahkan dirinya sendiri ia benar-benar tidak merasakan hawa keberadaan 2 orang dibelakangnya. Ia merasa semakin lemah karena terlalu lama berada didalam istana
“Ma… maaf Nona saya dan pangeran keempat sudah mengikuti anda sejak keluar dari perjamuan makan malam tadi” ujar Adia gugup.
“Apa…” Sara terkejut, suaranya menggema memenuhi lorong menuju arah kamarnya. Adia kaget mendengar suara Nonanya, pangeran keempatpun mematung mendengar suara Sara yang menggelegar dan juga tidak ketinggalan Rawnie yang telah menghilang beberapa hari tiba-tiba datang diwaktu yang tepat, Rawnie tak kalah terkejutnya ia muncul dari jendela dan memecahkan kacanya ia memasang kuda-kuda siap bertarung.
“Ada apa Nona?”
__ADS_1
“Maaf aku hanya terkejut” ujarnya lemas menuju kamar dan pamit kepada Raska yang kedudukan masoh dicerna oleh Sara.
Rawnie tidak kalah kagetnya dengan kehadiran pangeran yang tidak ia sadari, sudah bisa dipastikan jika aksinya terlihat jelas oleh pangeran. Rawnie memberi hormat dan meminta maaf. Raska hanya tersenyum karena hal itu bukanlah masalah. Rawnie dan Adia pamit dari hadapan Raska untuk menghampiri Nonanya yang sekarang dipastikan stress berat.
Sara kembali melakukan aktivitas barunya, merebahkan tubuh lalu menelantangkan kedua tanganya dan menatapi dalam langit-langit kamarnya sembari meracau tiada henti. Melihat keadaan Sara sungguh ironis sekali karena burung liar yang hidup dialam bebas kini menjadi burung peliharaan yang hidup didalam sangkar. Rawnie dan Adia yang sudah terbiasa membiarkan telinga mereka mendengarkan ocehan Nonanya. “Apakah aku akan terus menggunakan gaun yang merepotkanku?”, “Apakah aku akan terus menggunakan sepatu yang terus membuat kakiku lelah?”, “Apakah aku akan terus menggunakan hiasan kepala yang membebankan kepalaku?”, “Apakah aku…. aaarrrggghhh”.
“Apa kau tidak kasihan padaku Rawnie?” Sara menunjukkan wajah melasnya kepada Rawnie yang jelas iapun tahu tidak akan bisa menolongnya, Rawnie hanya membalasnya dengan alis yang ia naikkan dengan wajah cueknya melihat Nonanya meminta sesuatu yang mustahil.
Sara akan menjadi Selir untuk pangeran ketiga. Sara yang tidak pernah berpikir akan hidup diistana ini belum ada persiapan sama sekali untuk menjadi seorang tunangan. Ia belum siap untuk menikah diumurnya yang akan menginjak 16 tahun pada tanggal 17 April yaitu 1 bulan lagi, 1 minggu sesudah hari pertunangannya. Sesuai urutan yang disebutkan oleh penasehat Raja Si Gaun merah Misha akan menjadi permaisuri utama dan hal itu sudah diduga oleh Sara.
Sara tidak memperdulikan statusnya dan ia merasa bosan terus didalam kamar, Sara memutuskan untuk membantu para pelayan mengerjakan sesuatu, karena mustahil untuk pergi dari istana. Para pelayan merasa tidak enak karena tindakan calon tunangan pangeran itu namun mereka juga tidak berani melarangnya, mereka takut jika Ratu ataupun Raja datang dan melihat aktivitas Sara. Sara yang melihat kekhawatiran memberitahu mereka jika ia akan bertangung jawab jika memang hal yang tidak diinginkan terjadi.
__ADS_1
“Yang Mulia”
Hal yang baru dibicarakan kini tepat dihadapan mereka. sang Ratu datang dengan Wajah tegas yang tidak pernah hilang sedari awal kedatangannya. Sara yang melihat wajah para pelayan langsung bertanggung jawab. “Maaf yang Mulia, jika saya ikut turut campur membantu pekerjaan mereka. Saya akan bertanggung jawab atas kesalahan saya sendiri”
Sara tidak kalah takut namun ia harus bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukannya. Ratu menatap Sara yang masih menunduk iapun tidak mengatakan sepatahkatapuun untuk menjawab ucapan dari Sara. Tidak lama kemudian Sara merasakan sentuhan dirambutnya, usapan yang sangat lembut dan menyentuh hatinya, ia mendambakan belaian seperti ini dari seorang ibu.
“Lakukanlah Nak apa yang ingin kau lakukan, hal ini bukanlah suatu tindak kejahatan tapi kau tidak perlu memaksakan diri”
Sang Ratu telah berlalu namun Sara masih tertunduk ia rindu belaian seorang ibu yang tidak pernah ia rasakan sama sekali, ia baru tahu jika belaian yang baru pertama kali ia rasakan sungguh menenangkan, tanpa ia sadari kembali ia meneteskan air matanya dan membuat pelayan yang dihadapannya terkejut dengan tingkah Sara yang tiba-tiba menangis. Mereka serba salah dan tidak tahu kenapa majikannya menangis tiba-tiba. Sara lalu menghapusnya dan mencari alasan agar pelayannya tidak khawatir dan melanjutkan kembali apa yang sedang dikerjakannya bersama-sama.
Meski begitu pikiran Sara terus melanglang buana. ia tidak pernah merasakan sentuhan dan belaian daei seorang ibu, bahkan ibu tirinyapun tidak.pernag sekalipun mneyentuh untuk membelainya melainkan untuk memukulnya. Ia merasa tersentuh dan terharu.
__ADS_1
Sara tidak sadar jika kini pikirannya sedang berusaha mengingat momen ketika dia merasa kan kasih sayang Dari keluarganya. Tidak hanya ibu tiri, ayahnya pun tidak pernah membelainya. Sentuhan kasihnsayang ia dapatkan hanya dari Nenek yang selalu mendukungnya dan juga Paman yang giat dan disiplin melatihnya. Nenek tidaknpernah sekalipun marah padanya meski ia berbuat salah. Begitupun dengan paman yang melatihnya secara sembunyi-sembunyian karena ia juga takut kepada ayah yang juga merupakan kakaknya.
Perjuangan Nenek dan Pamannya tidak sia-sia kini Sara menjadi wanita tangguh yang menjunjung keadilan, meski tidak jarang pula mengajak ribut seseorang ayaupun kelompok. Sara juga tidak bisa menampik karena sifat orang tuanya lah yang membuatnya keras dan kejam seperti sekarang ini. Terkadang sifat dan sikap orang bisa menjadi penentu perubahan seseorang