
Beberapa hari kemudian arak-arakan Raja Naren datang. Masyarakat menambutnya dengan sorak sorai kemenangan namun semua prajurit tertunduk dan tidak menyambut senyuman dari masyarakat. Masyarakat yang melihat tertegun menyaksikan prajurit yang tidak menunjukkan kesenangannya sama sekali, masyarakat mulai paham setelah ia melihat sebuah peti yang diarak 2 kuda. Masyarakat hanya melihat ke 4 pangeran tanpa kehadiran Raja. Merekapun langsung berlutut menundukkan kepala memberi penghormatan kepada mendiang Raja. Dari kamar Sara, arak-arakan sangat jelas terlihat bergitupun dengan sikap semua orang yang berada disana. Sara mentap dalam arak-arakan itu dari balik kaca yang terus ia tatap untuk menunggu mereka semua. Yang dikatakan Rawnie memang benar, Sara yang jelas mengetahui Rawnie tidak mungkin berbohong tapi hal itu teralu berat untuk dipercayainya. Setidaknya ia merasa lega karena melihat Addrin dalam keadaan baik-baik saja.
Tidak lama kemudian Adia mengetuk pintu menghadap Sara untuk memberitahu semua kejadian yang telah dialami para pengeran. Lagi-lagi Sara tidak percaya dengan yang dikatakan Adia meski ia sudah mengetahui semuanya. Sara diminta turun untuk memberi penghormatan terakhir kepada sang Raja. Sara hanya menunduk dan langsung memeluk Adia. Adia membalas pelukan Nonanya dan menuntunnya untuk kebawah. Pemuka Agama berdoa untuk mengantarkan Raja. Semua orang menyaksikan pemakaman ini termasuk para bangsawan yang sudah lebih dulu mendengar kematian tentang Rajanya. Mereka begitu khidmat mendengar ucapan pemuka Agama dan mengikuti prosesi pemakaman.
Sara menatap wajah Addrin yang bersanding dengan keempat pangeran dan juga putri Ira, ia berdiri dekat peti mati sang Raja. Sara menatap dalam sedih pangeran Addrin yang tidak menunjukkan kesedihan sama sekali diwajahnya. Wajah dinginnya semakin dingin dan semakin sulit untuk ditebak saja, padahal sebelumnya Sara mulai memahami tapi entah mengapa kejadinlan ini seolah membuatnya mengulang waktu. Wajah ini adalah wajah seperti yang pertama kali ia lihat. Meski hanya Raska yang memberitahu betapa ia kehilangan tapi sangat jelas sekali wajah pangeran dan putri itu manyiratkan sesuatu yang berbeda-beda.
__ADS_1
Sedingin-dinginnya wajah Addrin, sangat jelas tatapannya yang merasa kehilangan. Sara mendengar dulu ia sering menghabiskan waktu dengan sang Raja bahkan ketika berburu, ia juga sering diajak. Raja bukannya ingin mengingatkan kepada anaknya tentang kutukan itu, karena apa yang dilakukannya juga melukai dirinya sendiri, namun Raja tidak mungkin menghilangkan perburuan dari peraturan istana. Bhakan terkadang Raja dan Addrin tidak sengaja melihat atau sekilas melewati tanah terlarang itu, padahal mereka sudah berusaha untuk menghindarinya tapi tetap saja langkah kaki ini selalu membawa kesana. Entah itu memang karena hatinya kalut karena kutukan itu atau memang kutukan itu sengaja membimbing mereka untuk mengingatkan tanah terlarang yang sudah ia injak. Addrin tifak oernah membahas atau mempermasalahkannya karena ia juga tahu kutukan itu datang kepadanya karena malam itu dia sedang bersama ayahnya. bahkan ketika ia mendapat kutukan sifat ayahnya berubah merasa bersalah.
Bahkan ayahnya sedih karena telah kehilangan martabatnya sebagai Raja karena membiarkan rakyatnya menderita akibat penjajahan dari negeri lain. Kalau bukan karena Addrin yang memaksa untuk merebut kembali tanah itu. raja tidak mungkin setuju untuk menyetujui peperangan. Addrin kembali merasa bersalah karena sifatnya. Jika ketika itu tidak mengusulkan hal ini pasti tidak akan terjadi. Ia tetap menahan semuanya meski ia ingin berteriak dan mengadu kepada langit.
Addrin terus menerus berdiam diri didalam kamar apa yang dilihat sara ketika itu bukanlah imajinasinya, karena Addrin kini benar-benar menjauhi dan tidak ada yang bisa mendekatinya. Ia menutup diri didalam kamar disaat kursi kerajaan sedang kosong. Addrin yang seharusnya menggantikan ayahnya hanya mengurung diri. Tidak hanya masalah ayah dan rakyatnya yang ia pikirkan tapi juga Sara orang dicintainya terus menunggunya didepan kamarnya hampir setiap hari menunggunya keluar dari kamar, sesekali ia mendengar suaranya dan mengetuk pintu kamarnya, hanya ia seorang yang melakukan hal itu, entah kemana tunangannya yang lain bahkan Misha tidak sekalipun menemuinya. Addrin semakin berat, ia tidak tahu bagaimana harus menjauhinya. Karena ulahnya yang seperti ini membuat Leo leluasa untuk memgambil alih mengintruksi para bawahan. Bahkan beberapa bangsawan penyokong kerajaan juga mulai menimbang-nimbang kemampuan anak-anak dari Raja. Dan pastinya Leo mudah menjalaninya karena ini yang ia inginkan. Sara tahu mengenaiberita dan juga beberapa keganjilan dari desas desus yang beredar di ranah kerajaan.
__ADS_1
Sara duduk dengan wajahnya yang terus menunduk karena terlalu lelah. “Tapi Addrin tidak pernah keluar, apa yang harus aku lakukan?”
Sara menangis dan menangis lagi, Raska tidak kuasa dan memeluknya. “Kak Addrin pasti akan baik-baik saja. Ia tahu apa yang harus ia lakukan. Kau tidak perlu bersedih ataupun gelisah. Ia pasti akan baik-baik saja” Raska terus menekankan kepada sara. “Kau harus bangun dan beristirahatlah.
“Aku tidak bisa beristirahat dengan tenang, aku belum melihatnya semenjak pemakaman itu” Sara tidak hentinya menangis, matanya bengkak dan tubuhnya mulai kurus. Sara bersedia melakukan hal ini disaat kerajaan sedang sibuk dengan desas-desus.
__ADS_1
Raska menyuruh Adia untuk membawa Sara kekamarnya. Sebelumnya Adia sudah melakukan hal itu tapi Sara terus menolak ajakannya, karenanya ia rela duduk dan tidur disini menemani sang Nona. Raska membantu Sara untuk bangun, Sara yang lemas karena tidak makan berhari-hari tidak mepunyai tenaga untuk berdiri, iapun terjatuh pingsan di pelukan Raska. Raska semakin bersedih, ia mengecup kening Sara yang sangat menyedihkan, iapun membawanya kekamar Sara. Raska terus merutuk karena sifat Sara yang sangat bodoh melakukan hal ini. dibanding dengan pangeran lain dan anggota kerajaan lainnya hanya Raska satu-satunya pangeran yang bekerja dibalik bayangan istana. Ia mengetehui semua seluk beluk kerajannya, karena itu juga ia bisa menebak apa yang terjadi dengan pangeran Addrin.
Sejauh yang ia tahu Addrin bukanlah orang bodoh. Ia orang yang menyimpan segala Sesuatu dalam diamnya, ia tidak mungkin berdiam diri seperti ini setelah ia mengetahui semua yang terjadi dikerajaan ini. Selain ayah dan Addrin, hanya Raska yang mengetahui kutukan itu, meski tidak mudah mendapatkannya tapi mungkin ini jalan satu-satunya yang diambil kakaknya. Dibanding kakak kandungnya Leo, Raska lebih setuju dengan Addrin yang memegang kuasa penuh atas kerajaan ini meski jelas Addrin adalah Putra Mahkota tapi lebih jelas lagi jika Leo yang menginginkan tahtanya.