LINN

LINN
Belenggu Hati


__ADS_3

Setelah peperangan berakhir, Leo menyerahkan diri kepada Addrin untuk didakwa, Leo rela dihukum apapun karena ketidakbecusannya menjadi penguasa kerajaan Lasverre. Addrin tidak peduli dengan apapun, saat ini ia sedang berkabung karena kepergian Sara. Kerajaan Lasverre ramai bukan karena hari penobatan Addrin melainkan iring-iringan teman Sara yang membawa jenazahnya dan sengaja memberikan penghormatan terakhir. Teman Sara, Linn ataupun Lingga mengikuti jenazah Sara kedalam Kerajaan Lasverre secara tersembunyi. karena tidak mungkin mereka menunjukkan identitas diri mereka. Masyarakat yang tidak tahu apapun kebingungan karena peperangan yang telah dimenangkan tidak sesuai dengan yang terlihat diwajah para pemenang.


Adia dan Ira menangis sejadinya karena kehilangan nona dan juga kakak yang sangat dikagumi. Rawnie hanya terdiam tanpa ekspresi, ia bersedih namun ia tidak ingin menunjukkannya termasuk semua anggota Lingga yang sudah dilatih untuk tidak menangis meski kehilangan apapun. Tapi jadikan kekuatan untuk menjadi lebih baik dan yang terbaik. Sedangkan Worri yang sudah berjanji akan tetap menjadi Prajurit Sara bahkan kini pasukannya hanya menerima titah Addrin demi menjalankan tugasnya sebagai prajurit Abdi keadilan seperti keinginan Sara.


Mereka semua mengikuti dengan khidmat pemakaman Sara, namun tidak dengan Adddrin yang kehilangan sosoknya. Ia membenci dirinya karena ia kutukan ini membuatnya harus menerima keadaan ini. Disaat ia benar-benar mencintai seseorang tapi ia harus kembali disaat yang sama hanya untuk menyelamatkannya.


Berhari-hari mendekam didalam kamar, ia sudah tidak peduli dengan hidupnya, keluarganya bahkan rakyatnya karena tahtanya yang merupakan kewajibannya tidak ingin ia duduki. Hukuman untuk Leo yang sudah ia siapkan tidak ingin digubrisnya. Ratu, adik, Luda bahkan Misha memintanya untuk keluar dari kamar tapi tetap saja tidak berefek pada Addrin. Selama berhari-hari Addrin hanya makan sedikit terkadang tidak dimakan sama sekali olehnya. Setelah kepergian Ayahnya, Addrin tidak bisa merelakan kematian Sara.


Ia menangis dan berdiam diri dikamar Sara. ia mendekap selimut yang masih tercium wewangian yang biasa dipakai Sara, Addrin tidak memperbolehkan siapapun untuk merubah, mebersihkan bahkan memasuki kamar Sara.


"Kak Addrin" panggil Ira menangis dari balik pintu. Ini sudah kesekian kalinya Ira terus mengetuk pintu kamar Sara yang dipakai Addrin ditemani Adia yang terus bersama dengan Ira setelah kepergian Sara.


Setelah peperangan, Addrin yang terus terpuruk membuat goyah kerajaan meski tidak ada yang berani melawan kerajaan Lasverre. Raska dibantu dengan Ryu anggota Lingga tetap mengumpulkan informasi. Rawnie kini berada di kediaman Pon tetap menjadi Lingga, setelah kepergian Sara, Pon yang memegang kendali untuk Lingga sedangkan Rawnie akan tetap membantu Pon ataupun Raska. Yang jelas Rawnie tidak inin bertuan kepada siapapun, ia bebas melakukan apapun tanpa aturan.


Brukkk... sesuatu yang keras membentur kaca kamar Sara. Addrin yang mendengar langsung terbangun dari lamunan di tempat tidur.


"Rawnie" desah Addrin melihat sosok yang ada didepannya masuk dari kaca jendela kamar Sara.


"Maaf pangeran Addrin, jika saya mengganggu anda" Kata Rawnie dengan wajah yang tegas.


"Tidak apa" jawab Addrin tidak mempermasalahkan kehadiran Rawnie dan kembali berbaring memeluk bantal.


"Jika Nona Sara melihat keadaan pangeran seperti ini, saya yakin Nona telah buta karena mencintai orang yang salah" ungkap Rawnie tetap berdiri dekat jendela.


Addrin hanya diam tetap tidak memperdulikannya.


"Jangan pernah merasa jika hanya Pangeran yang kehilngan Nona Sara. Pangeran hanya mengenalnya beberapa waktu tidak seperti saya bahkan Worri yang sudah dekat sebelum anda. Saya yakin Nona pasti menyesal melihat anda sekarang ini. Dan saya juga mneyesal karena Nona harus mengenal orang aeperti anda" jelas Rawnie kembali dan kini Addrin terduduk.


"Apa sebenarnya maksudmu kedatanganmu? Jika kau ingin berbicara panjang lebar lebih baik kau pergi saja" tegas Addrin.


"Nona telah mengorbankan dirinya untuk anda, bukan hanya jantung tapi darahnya yang kini mengalir ditubuh anda"


Ucapan Rawnie membuat Addrin terkejut dan kini ia benar-benar bangun dari tempat tidur dan duduk di kursi belajar Sara. "Darah apa maksudmu?"


"Nona tahu jika dengan mengorbankan jantung orang yang anda cintai kutukan anda akan hilang. tapi ternyata itu salah, jantung nona Sara hanya untuk meringankan rasa sakit bukan untuk menghilangkan kutukan. Detik terakhir nona Sara menyentuh memgang wajahmu agar anda Nona bisa memberikan darahnya meski hanya setetes"


"Darimana ia tahu cara menghilangkan kutukan itu"

__ADS_1


"Bukan masalah umum lagi, Demi dirimu yang akan menjadi seorang Raja, Nona rela mencari informasi mengenai kutukan itu kemanpun bahkan tanpa sepengetahuanku ataupun Pon dan yang lainnya. Ia mencari seorang diri sampai ia mengetahui jika bukan hanya jantung untuk menghilangkan kutukan itu tapi juga rela mengorbankan darahnya. Namun menurutku itu seperti merelakan nyawanya" Sara berkaca namun tetap ia menahan untuk tidak meneteskan air mata itu.


"yang kutahu hanya jantung yang bisa menghilangkan kutukanku tapi aku tidak tahu jika harus darah juga yang diberikan" Addrin gelisah dengan perkataan Rawnie karena ia juga tidak tahu tentang kebenaran tentang darah.


Sara memberikan selembar kertas yang bertuliskan tulisan Sara. Informasi mengenai kutukan dari orang yang memberitahunya dan juga mengenai perasaan Sara terhadap Addrin yang besar terhadapnya. Rawnie pergi setelah memberikan lembaran kertas.


Saralee Acelin Esvarat


Hitam kelabu merasuk jiwaku


Panah cemburu menusuk hatiku


Pandangan yang buruk terlihat dimataku


Hidupku kini terpuruk oleh luka yang lalu


Aku berusaha untuk mencari


Namun ia semakin menjauh


Ku ingin terus berlari


Dalam sepi ku menangis


Duka ini sulit tuk menghilang


Semakin sunyi jiwaku semakin teriris


Merasakan sakit dalam bimbang


Kenangan yang membekas


Membuat rindu ini semakin membuas


Bayanganmu dalam pikiran semakin jelas


Cintaku tak sekecil namun sebanyak butiran beras

__ADS_1


Tak kuasa aku menahan rasa


Pandangan dan akal semakin menggila


Apakah aku sedang terkena karma?


Karena cintamu yang sulit kuterima


Semoga Langit terus membimbingku


Disetiap sudut ruang dan waktu


Agar jiwaku tidak membeku


Karena ulah dan sikapku yang tak seperti ratu


Jika kita tidak menyatu


Mungkin itu yang terbaik untukku dan untukmu


Tolong lepaskanlah dan berikan aku restu


Untuk melanjutkan hidupku di lain waktu.


Diriku yang Terjebak Belenggu.


"Addrin, jantung dan darah~~~"


Addrin membaca selembar kertas pemberian Rawnie. Ia mebaca dengan tenang, tidak lama tetesan air mata jatuh dari pelupuk matanya. Addrin kecewa karena ia telah membuat Sara kehilangan keinginan terakhirnya, lembaran kertas itu hampir berisikan semua tentang Addrin dan juga usahanya membantu menghilangkan kutukan Addrin ataupun melawan musuh kerajaan Lasverre. Tidak sekalipun membahas mengenai dirinya ataupun keluarganya hanya sebatas puisi yang mencurahkan perasaannya dan itu juga ditujukan untuk Addrin.


Addrin mengerti maksud dari Rawnie. Memang saat ini bukan saatnya untuk bersedih. Sara sudah membantunya memperjuangkan hak dan tahtanya bukan karena ia akan menjadi seorang Raja tapi tigas yang diemban seorang Raja untuk mensejahterakan rakyatnya, Sara takut jika rakyatnya akan menderita. Seperti yang selama ini ia lakukan dan cita-citakan. Ia menjadi Linn ataupun Lingga hanya karena ia tidak ingin melihat rakyat yang kesusahan khususnya anak kecil yang tidak bersalah harus mencuru ataupun dijadikan budak.


Addrin menyimpan kertas itu sebagai kenang-kenangan dari Sara dan juga Motivator untuknya agat menjadi Raja yang sesungguhnya. Addrin menghampiri pintu dan membukanya perlahan. Cahaya matahari yang sebelumnya hanya sesikit masuk kedalam kamar bekas Sara kini terang benderang setelah Addrin membuka pintu itu dengan pasti. Addrin sudah yakin dan pasti untuk maju dan naik ke tahtanya. Ira yang berada didepan pintu bersma pawa dayang dan juga oelayan lainnya terkejut melihat sosok sang calon raja akhirnya keluar dari persembunyiannya.


"Kakak" Ira yang masih menangis dan sembab memeluk Addrin. pelukan itu diblas oleh Addrin dan juga ucapan minta maaf.


Addrin melangkah pasti ditemani Ira. Ia menghampiri sang ibu dan juga Luda untuk meminta maaf atas kesalahannya yang terlalu terpuruk menghadapi kehilangan Sara. Sehari sesudahnya Addrin benar-benar menjadi Raja dengan jubah dan mahkota kebesaran kerajaan Lasverre. Semua para pemberontak langsung dijatuhi hukuman. Addrin memberikan hukuman kepada Sang ibu tiri yaitu ibu Leo untuk tidak tinggal diistana dan dipulangkan kembali kekeluarganya sedangkan untuk Leo dijatuhi hukuman menjadi abdi negara, lebih pastinya Addrin yakin kepada Leo sehingga Leo diberi kepercayaan untuk membantunya menangani pemerintahan.

__ADS_1


Berkat Sara kini Addrin merasa bangga karena banyak yang mendukungnya karena perjuangannya menaiki tahta tidaklah mudah. Ia melambaikan tangan kepada seluruh masyarakat kerajaan Lasverre dengan gagah dan penuh keyakinan.


__ADS_2