LINN

LINN
Kabar Duka


__ADS_3

2 dari 3 kerajaan yang mengambil alih wilayah Kerajaan Lasverre sudah dibereskan dan mereka bisa menghirup udara dengan tenang. 2 minggu sudah mereka pergi berperang. Sara masih menunggu kedatangan mereka yang tak kunjung pulang. Selama 2 minggu ini hanya mendapat kabar 1 kali dari Rawnie, itupun hanya sebatas peperangan, Sara ingin sekali mendengar kabar dari Addrin, bahkan sampai saat ini keadaanya pun tidak sara ketahui. Ia sering menunggu di bibir jendela dan danau berharap Rawnie atau Addrin datang menhampirinya, namun itu semua sia-sia. Perkembangan perangpun Sara tidak mengetahuinya, ia juga tidak mungkin untuk bertanya ke petinggi kerajaan. Ia tidak memiliki kuasa untuk menanyakan hal itu apalagi hanyalah seorang perempuan. Sesekali ia mendengar kabar dari Ira tapi ia juga tidak memiliki banyak informasi karena iapun sama seperti Sara apalagi Ira bisa dikatakan hanya anak dibawah umur.


Untuk melepas rasa lelahnya, Sara masih menemani Ira hanya saja kali ini Sara ikut berpura-pura latihan meski niatnya ia hanya melampaskan kekesalannya karna tidak bisa bertarung dan bersanding dengan Addrin. Rasanya tidak rela ia melepaskan kepergian Addrin walaupun ia sangat tahu tanggung jawab Addrin. Ia sangat rindu dan ingin bertemu Addrin tapi ia tidak tahu bagaimana caranya.


“Nona” Kata Rawnie datang tiba-tiba turun dari langit.


“Rawnie” Sara terkejut dengan kedatangan Rawnie. Sara takut jika Ira yang sedang berlatih bersamanya melihat Rawnie dengan wujud berbeda dan bau darah yang menempel di pakaiannya. Syukurnya Jarak diantara mereka cukup jauh, bisa dipastikan Ira tidak bisa melihat Rawnie ataupun mendengar percakaoan karena terhalang pepohonan.


Rawnie yang berlutut, menunduk sejenak tapi sangat jelas terdengar oleh Sara jika ia sedang menitikkan air mata.

__ADS_1


“Nona, Maafkan aku?”


Ucapanny benar-benar sedih. Untuk pertama kalinya ia melihat Rawnie yang kuat menangis seperti ini. “Ada apa denganmu? Kau jangan menakutiku”


“Nona. Aku minta maaf karena aku tidak bisa melindunginya” Rawnie memberanikan menenggakkan kepalanya menatap Sara.


“Apa maksudmu? Tolong jangan seperti ini” Sara mendekati Rawnie memegang kedua bahunya dengan tatapan sendu dan gelisah.


“Siapa orang yang kau maksud? Cepat katakan Rawnie” tanpa Sara sadari ia menangis karena kesal mendengar ucapan Rawnie.

__ADS_1


“Yang Mulia Raja Naren telah tiada. Dan aku mohon setelah ini kau harus kuat menghadapi semuanya” ujar Rawnie membuat Sara terduduk lemah. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi dengan Addrin ataupun kerajaan ini.


Sara mentap kearah Ira yang sedang serius dan bangga bisa melakukan latihan ini demi melindungi dirinya ataupun kerajaannya. Sara bangga memiliki adik seperti ira yang tidak pantang menyerah meski ia masih kecil, bahkan ia sadar jika ia selalu diikuti oleh seseorang namun ia sebisa mungkin mencari jalan keluar seorang diri sebelum meminta bantuan kepada kakaknya. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi pada Ira dan Addrin yang memiliki masalah sendiri. Sara mengucap janji dalam hatinya untuk melindungi Ira apapun yang akan terjadi.


Di sisi lain Pon meminta Izin kepada Rawnie untuk mengikutinya demi bertemu dengan Sara yang sudah lama tidak ia lihat. Ia hanya ingin melihat wajahnya dan berharap ia bahagia. Meski ia sadar kedatangannya kali ini membawa kabar duka yang sebenarnya melebihi kabar sang Raja yang meninggal dunia. Rawnie mengizinkan Pon tapi dengan syarat ia hanya boleh melihat tanpa harus bertemu. Pon menganggukkan kepala tidak masalah, ia hanya ingin melihat Nonanya baik-baik saja dan itu sudah cukup baginya.


Pon melihat dan mendengar semua yang diucapkan oleh Rawnie begitpun Sara. Hanya Saja Rawnie tidak mengatakan semua kebenarannya kepada Sara. Pon tidak mengerti mengapa Rawnie menyembunyikan masalah itu dari Sara. Melihat situasi dan keadaan saat itu, Pon tidak berani mengambil langkah untuk menghampiri Sara dan Rawnie. Pon juga tidak menampik betapa kagetnya Sara ketika mendengar sang raja tewas, ia juga terlihat khawatir dengan calon tunangannya. Mungkin hal itu juga yang membuat Rawnie tidak berani untuk mengatakannya tapi Pon merasa harusnya tidak seperti ini karena bisa membahayakan nyawa Sara. Seharusnya Rawnie lebih tahu sifat Nonanya karena mereka sering menghabiskan waktu bersama, meski tidak setuju dengan pemikiran Rawnie tapi Pon yakin Rawnie lebih memiliki alasan kuat.


Bukan tidak mungkin untuk menyelamatkan Raja tapi posisi Rawnie ketika itu adalah anggota Lingga yang sudah sangat jelas identitasnya, bahkan jika ia menjadi Rawnie yang sesungguhnya juga tidak akan mungkin untuk menolongnya karena ia hanyalah pelayan biasa. Meski jelas ia melihat pembunuhan itu dan bisa di selamatkan namun kondisinya dan status saat itu tidak memungkinkannya untuk menolongnya. Rawnie pun takut, takut jika ia menolong raja indentitasnya akan diketahuinya dan pasti yang dihukum adalah Nonanya. Ia takut karena sikapnya akan memutarbalikkan fakta setelah ia tahu siapa pembunuhnya. Semakin tidak mungkin bagi Rawnie untuk menolongnya. Rawnie tidak ingin mempercayai apa yang dilihatnya tapi itu sangat jelas sekali. hatinya sangat hancur apalagi jika Sara yang langsung melihatnya, Rawnie yakin jika Nonanya akan membabi buta melebihi Addrin dipeperangan. Entah apa yang akan terjadi dan ia lakukan terhadap keluarganya yang tidak ia sukai.

__ADS_1


Rawnie kalut, setelah melihat semua itu, Rawnie sebisa mungkin untuk mengendalikan dirinya namun ingatan itu sulit dilupakan dan iapun berusaha menyelesaikan dengan cepat agar ia bisa beristriahat dan mengumpulkan tenaganya untuk memberitahu kenyataan pada Sara. Air mata yang keluar bukan karena hanya kematian Raja tapi kenyataan yang sesungguhnya. Namun tetap saja setelah bertemu dengan Wajah Sara, ia tetap tidak berani mengatakan yang sejujurnya, rasanya itu lebih menakutkan daripada ia harus menghadang musuh sebanyak apapun. Bahkan sebelum bertemu dengan Sara, Pon dan Rawnie sempat bersiteru untuk mengatakan hal ini kepada Sara. Rawnie mengerti maksud Pon tapi ia lebih tahu Sara dari siapapun bahkan ayahnya sendiri. Meski kesal Pon menerima semua yang dikatakan Rawnie jika itu memang jalan terbaik untuk Sara, Pon menjelaskan kepada Rawnie untuk segera mengatakannya kepada Sara sebelum semuanya terlambat. Meski ia tidak tahu motif pembunuhan itu tapi Sara berhak tahu semua yang telah terjadi dan jangan sampai Sara tahu hal ini dari orang lain.


Kelompok Linggapun berseteru untuk mengambil tindakan demi melindungi Nonanya yang sudah menyelamatkan mereka. Mereka saling sahut menyahut untuk menyerang musuh yang ada dihadapan Nona entah siapapun itu, karena mereka semua sudah bersumpah untuk mengangkat keadilan, melindungi keluarganya dan menjadi pengikut Sara. Beberapa dari mereka bahkan berinisiatif untuk menyerang dan menunjukkan giginya tapi Kemarahan Rawnie membuat mereka terdiam terpaku sabetan pedangnya mudah sekali menghancurkan batu dengan sekali ayunan. Batu hancur itu langsung menghancurkan pertahanan mereka yang selalu meributkan untuk melindungi Nonanya. Rawnie tahu niat dan kebaikan mereka. Rawnie juga ingin melakukan hal yang sama bahkan tanpa bantuan kelompok Lingga ia juga bisa dengan mudah membunuh orang yang menghalangi nonanya. Tapi kali ini masalah itu tidak mudah, Sara memiliki 2 jalan yang berbeda dihadapnnya dan ia harus melewatinya sekaligus.


__ADS_2