
Malam kini hampir mencapai puncaknya. Ira dan Sara beristirahat seraya tiduran diatas rumput menatap bulan yang bersinar terang. Ira menikmati malam ini, ia yang sudah berlatih pedang cukup lama tapi tidak ada kemajuan sebelum ia berlatih dengan Sara. Ira gembira karena ia kini bisa swdikit ilmu berpedang. ia bisa melindungi dirinya sendiri.
“Putri kau ingin berpesta bersamaku?” ujar Sara sudah mulai bosan dan pastinya lapar lagi.
“Hhhh…” putri terkejut karena sebelumnya tidak ada yang pernah mengajaknya ataupun berbaur dengan masyarakat. Ira tidak menampik ia ingin juga menikmati pesta, namun ia tidak mungkin pergi kesana melihat pakaiannya dan juga wajahnya tidak mungkin tidak ada yang mengenal dirinya.
“Putri kau tidak perlu takut ada aku yang akan melindungimu, bukankah kau tahu ilmu berpedangku?” senyum Sara meyakinkan Putri Ira yang sedikit ketakutan.
Justru itu yang ditakutkan Ira, karena kemampuannya tidak mungkin Sara adalah orang biasa. Ira takut bisa jadi Linn yang ada dihadapannya adalah orang jahat yang dikirim oleh seseorang yang ingin membunuh dan mengintainya selama ini.
"Kau tidak perlu takut aku tidak ada niatan untuk membunuhmu, jika memang ada ini adalah kesempatanku karena kau berada dihutan dan tidak ada seorangpun disini yang bisa menolongmu, semua orang sedang menikmati pesta" Ujar Sara meyakinkannya.
Ira menunjukkan keraguan diwajahnya namun tidak dengan hatinya. Ia ingin merasakan pesta yang sebenarnya bukan pesta yang selama ini ia hadiri pesta yang hanya memperlihatkan status, banyak orang mendekati dirinya hanya dikarenakan Ira adalah seorang putri. Ira berpikir cukup lama namun sikap Linn alias Sara membuatnya percaya. Ira mengangguk mengiyakan. Dalam genggaman tangan Linn, Ira berjalan dibelakang mengikutinya menuju pesta rakyat. Pelayan dan penjaga yang sedang bersamanya hanya bisa mengikutinya khawatir dan tidak bisa membantah perintah putri. Namun sebelum itu mereka semua mengganti penampilan agar tidak terlalu mencolok dan menarik perhatian.
Dalam gelapnya malam belum ada yang menyadari jika sang putri kelima hilang dan sedang menikmati pesta diluar. Sara mengajaknya bernyanyi, makan, minum jus, bermain dan berbaur dengan masyarakat. Ira menikmatinya, ia sangat bahagia, ia terus berlari kesana kemari mengikuti langkah kaki Sara, Ira tidak pernah sebahagia ini sebelumnya. Selain Kamar, perjamuan dan pelajaran ia tidak pernah pergi kemanapun, karena terlalu banyak larangan yang ditujukan kepadanya. Ira menguatkan tekad untuk berlatih pedang karena dirinya merasa terancam, seolah ada yang terus mengintai dan nengikutinya. Ira juga mendengar desas-desus akan terjadi peperangan. Ira tidak mau tinggal diam dan ia ingin menjadi kuat, ia memaksakan dirinya untuk berlatih pedang walau tanpa guru sekalipun, karena mustahil untuk ia memintanya.
__ADS_1
“Wahhh.. bukankah anda putri Ira” ujar seorang lelaki yang seumuran dengannya. Mendengar ucapannya semua yang berada disana memalingkan wajah kearahnya.
Sara merasakan tangan ira yang gemetar ketakutan disapa oleh rakyatnya, hal ini menunjukkan jika ia tidak pernah melakukan hal seperti ini ataupun berbaur dengan masyarakatnya.
“Putri, sebuah kehormatan bagi saya, maafkan jika saya lancang, maukah anda menari bersamaku. Aku sangat mengagumimu” ujar lelaki itu menunduk gemetar meminta persetujuan sang putri yang ada hadapannya.
Sang putripun tak kalah gemetar ketakutan ia menoleh kearah Sara. Sara menganggukkan kepalanya, “Nikmati saja pestanya. Aku tetap memegang janjiku”
Sang putri menerima ajakan lelaki yang terperangah tidak percaya.
Ira yang sedang menari bersama lelaki itu diikuti oleh Sara yang juga ikut menari disampingnya. Ira sangat senang dan aman didekat Linn, hal seperti ini yang sebenarnya ia tunggu. Ini adalah kebahagiaan yang ia dambakan. Selama festival hanya kembang api saja yang ia tunggu dan itupun didalam kamarnya, namun kali ini benar-benar berbeda.
Bulan kini benar-benar berada dipuncaknya, pesta semakin meriah. Raska hanya duduk termenung diatas balkon menatap kebawah yang sangat ramai sekali, ia tidak bisa menemukan keberadaan Sara. Rawnie masih kocar-kacir mencari keberadaan Sara, pangeran Addrin, seperti biasa ia pergi ke Danau menatap langit malam. Ia pergi keluar diringi dengan tatapan Misha yang seolah tidak bisa lagi mengenalnya. Misha hanya bisa tertunduk melihat teman masa kecilnya benar-benar berbeda. Addrin melewati beberapa orang yang sedang tertunduk memberi hormat kepadanya, namun seketika langkahnya berhenti saat ia baru saja keluar dari pintu untuk melihat para penduduk berpesta. Ia memicingkan mata melihat sosok yang ia kenal, ia terkejut melihat Ira adik kandungnya sedang bersama masyarakat yang jelas sangat berbahaya. Addrin kesal karena ia telah menyuruh beberapa penjaga untuk menjaga adiknya namun ia masih lolos. Addrin marah langsung beteriak memanggil para penjaga untuk menjemput Ira. Addrin terus menatap dalam adiknya dan sekelilingnya, matanya waspada dan ia menemukan sosok yang ia kenal, ia melihat Ira sedang menari bergandengan Linn dengan penuh tawa, sorak sorai dan tepuk tangan penduduk yang menontonnya semakin seru dan ramai.
Addrin menyuruh penjaga untuk ikut bersamanya. Sontak kelakuan Addrin yang tidak biasanya membuat seorang terkejut, beberapa yang tidak mengetahui terus bertanya-tanya namun kabar mudah tersebar apalagi dalam keadaan ramai seperti ini. semua orang langsung berlutut, seketika suara semakin lama semakin kecil dan hilang, yang terdengar hanya suara hentakan kaki. Sara dan Ira saling menatap karena pesta yang belum selesai ini tiba-tiba hening.
__ADS_1
“Kakak…” Ira melotot melihat kakaknya berada tepat didepannya.
“Maafkan hamba yang Mulia” pelayan dan penjaganya berlutut ketakutan meminta belas kasihan.
Sarapun tidak kalah terkejut melihat tunangannya berada didepanya. Sara langsung berlutut sebagai Linn yang telah mengajak adiknya pergi keluar, “Maafkan hamba yang Mulia ini kesalahan saya telah lancang membawa Putri”.
Addrin hanya terdiam melihatnya dalam. Meski sedang pesta dan banyak orang tapi malam itu benar-benar hening. Addrin hanya ingin memastikan orang yang berada didepannya. Wanita yang berubah menjadi sosok laki-laki. Jika bukan karena kecelakaan, mungkin Ia akan tertipu oleh sosoknya.
“Maafkan aku kak, aku hanya ingin…”
Addrin dan Ira membalikkan punggung menuju istana. Rawnie mengelus dada telah menemukan nonanya selalu dalam keadaan seperti ini, disisinya tidak pernah ada angin sejuk selalu badai. Rawnie yang setengah berdiri setelah berlutut terbelalak oleh aksi Nonanya begitupun dengan masyarakat dan Addrin memalingkan wajah reflek merasakan senjata yang mengarah kepadanya. Sara mengeluarkan pedanganya dengan cepat, Addrin tidak ada waktu untuk menangkisnya.
“Yang Mulia, baik-baik saja” ujar Sara setelah menangkis anak panah yang datang menghampiri Addrin dengan pengecut.
Aksi heroik Sara di puji oleh orang yang menonton disana meski sebagian kecil dari mereka ada yang kesal. Awalnya Ira dan juga Raska yang ikut dibelakanga Addrin akan menghukum Sara mengingat sifat Addrin yang dingin dan tidak mudah memaafkan. Semua anggota kerajaan tahu jika ia tidak mudah didekati dan juga tidak dekat dengan yang lain, namun ia selalu melindungi adik bungsunya ini dengan tindakan.
__ADS_1