
Matahari yang bersinar memaksa Sara membuka kedua matanya. Tidurnya kali ini sangat nyenyak dan nyaman sekali. Ia terdiam sejenak sebelum tersadar, ia merasa jika ada yang aneh didalam kamarnya. Ranjang yang biasa ia gunakan sangat berbeda dan tidak ada diberitahu jika diganti. Bahkan dekorasi, warna dan ornament sangat jelas berbeda. Ia teringat jika semalam ia bermimpi bertemu Narez dan ia juga tertidur didekat danau. Sara berteriak dan terjatuh dari atas ranjang.
Ia kebingungan dan tidak menyadari jika ada seseorang lelaki tertidur lelap disebelahnya. Sara gelisah, ia tidak menyangka untuk pertama kalinya ia tertidur lelap justru tidak merasakan sentuhan apapun, biasaya ia melawan dan tahu jika ada musuh didekatnya. Baru kali ini ia tidak berdaya didepan musuh. Ia juga tidak mungkin mudah diculik. Penjagaan didalam kerajaan pasti sangat ketat, itu alasan kedua yang membuatnya berani berkeliling didalam istana. Ia juga yakin tidak memiliki musuh didalam istana ini.
Sara memastikan penglihatan mengenai laki-laki yang belum ia lihat dengan jelas. Ia menyembulkan kepalanya, matanya sejajar dengan tempat tidur. Matanya bulat besar, ia ingin memastikan laki-laki yang kini juga menatapnya. Sara terkejut bukan main, laki-laki dengan tenang menatap Sara yang sedang mengintipnya diam-diam.
“Hahhh…” Sara langsung berdiri. “Pangeran Addrin. Bagaimana bisa aku berada disini? Maaf aku mengganggu.”
Sara gugup tidak tahu harus berkata apa. Ia terkejut melihat Pangeran Addrin bisa bersama dengannya didalam kamar yang Sara yakini pasti kamarnya.
“Kau ingin keluar dengan memakai pakaian seperti itu?” Kata Addrin melihat pakaian tidur yang digunakan Sara.
__ADS_1
Sara tidak tahu harus berkata dan bertingkah seperti apa lagi. ia benar-benar tidak menyangka dengan keadaan seperti ini, apa yang sudah dilakukannya bersamanya, ia tidak ingat sama sekali dengan kejadian semalam. Sara masih mematung menunduk melihat pakaian yang sudah berubah.
“Aku menyuruh pelayan menggantikan pakaianmu” Sara langsung lemas mendengar perkataan Addrin barusan. Ia sudah berpikir yang macam-macam.
Sara menuju kamar mandi dan mengganti pakaian dengan cepat. Ia menjadi kikuk dan serba salah dihadapan pangeran Addrin, betapa bodohnya dirinya tidak merasakan apapun yang menyentuh tubuhnya. Untuk pertama kalinya Sara bisa kehilangan pengawasannya, biasanya suara kecil saja meembuat Sara langsung terbangun dan lebih parahnya lagi Sara tidak mengingat apapun. Sara hanya bisa mempercayai ucapan Addrin. Betapa sialnya dihari pertunangan bisa terjadi hal yang tidak diinginkannya.
Sara keluar dari kamar Addrin, semua mata orang yang berada disana tetuju pada Sara yang keluar dari kamar sang pangeran, ditambah hari itu sedang ramai-ramainya dikerajaan. Dengan balutan gaun pertunangan Misha melihat dengan jelas Sara keluar dari kamar yang ingin ia masuki. Tidak hanya Misha, Raska yang sudah mencintainya tidak menyangka jika wanita yang dicintainya keluar dari kamar kakaknya, mereka mendengar jika pangeran menggotong seorang wanita dan hal itu termasuk sesuatu yang mengejutkan. Misha yang dekat dengan Addrin dari kecil dan Raska yang juga merupakan Adiknya tidak pernah sekalipun menginjakkan kakinya dikamar kakaknya yang memang tidak mengizinkan siapapun masuk bahkan kedua orang tuanya. Desas desus mengenai Sara tersebar dengan cepat menyeruak ke udara sampai terdengar ke telinga Rawnie dan menjadi perbincangan.
“Aku tersesat” ujar Sara terengah-engah.
“Apa itu benar?” Tanya Rawnie lagi begitupun dengan Adia yang penasaran menanti jawaban Sara.
__ADS_1
“Apa yang benar?” Tanya balik Sara yang mengetahui beritanya karena terlalu sibuk mencari kamarnya sendiri bahkan ia tidak sadar dengan tatapan orang yang melihatya berbeda.
“Kau tidur bersama Pangeran Addrin?” Rawnie terus menjajalnya dengan pertanyaan.
Sara langsung berhenti bernapas, melotot dan mematung mendengar ucapan Rawnie mengetahuinya. Sara mengangguk mengiyakan karena kenyataannya seperti itu. Adia terduduk lemas dan Rawnie tidak kalah terkejut, wajahnya merah padam mendengar ucapan Sara. Meski Sara tidak mengatakannya tapi Rawnie tahu jika Sara menyukai Narez, laki-laki yang baru ia temui. “Apakah aku harus mengancamnya untuk bertanggung jawab padamu?”. Tatapan Rawnie lebih menakutkan dari biasanya. Tatapannya seperti orang yang haus akan darah. Tatapan seperti ini yang Sara lebih percaya jika ia mendapat kutukan bukan pangeran Addrin.
Sara tahu betul yang dimaksud Rawnie, namun ia juga tidak merasakan hal yang aneh pada tubuhnya. Pasalnya Sara juga tidak sadar dan tidak tahu apa saja yang sudah terjadi malam itu, Yang ia ingat hanya sedang tidur didekat danau dan bertemu seseorang yang dirindukannya. Padahal perjumpaan itu baru sekali tapi entah mengapa rasanya rindu ini ingin selalu berjumpa denganya setiap waktu. Sara justru lebih mengkhawatirkan hatinya karena seolah telah mengkhianatinya. Untuk pertama kali ia merasakan perasaann yang tidak bisa digambar dan dijelaskan. Perasaan yang berbeda dari rasa kasih sayangnya kepada nenek dan pamannya. Dan kini Sara merindukan nenek dan pamannya berharap memberikan pertolongan agar ia bisa kekuar dari istana dan menjadi dirinya sendiri. Ia lebih baik tinggal didalam hutan daripada harus tinggal didalam istana ini.
Tidak hanya Sara yang merindukan seseorang dan terkejut karena kehadiran pangeran ketiga yang ada dihadapannya. Addrinpun dibuat heran dengan nama yang disebutkan oleh Sara. Bagaimana bisa ia mengingat nama seorang laki-laki dihadapannya. Ia merasa bersalah karena pertunangan ini membuat mereka semua harus melupakan kenangan bersama orang terkasih. Tapi Addrin merasa "Apakah tidak ada cinta yang tulus untukku, bahkan seorang putra mahkotapun hanya digunakan sebagai batu loncatan. mereka cukup tahu kegunaan sebuah "Barang" setidaknya bisa digunakan daripada tidak sama sekali" Addrin merasakan seperti itu. Ia merasa karena status seorang Pangeran karenanya ia memiliki kedudukan dan hukum. Tidak ada yang menggubris bahkan menganggu panheran yang bisa dikatakan pangeran cacat.
Addrin tahu betul semua orang pasti ketakutan berada didekatnya. Mereka hanya sekedar mendenharkan dan menjalankan perintah mutlak sang raja. Jika ia orang biasa pasti bukan tidak mungkin ia akan dihina, benci, ejek dan yang paling parah ia bisa diusir karena pembawa sial.
__ADS_1
Addrin kecewa dengan sikap yang ditujukan oleh Sara. Ia hanya sebatas membantunya namun sikap yang ditunjukan Sara adalah wajah takut dan gugup. Addrin tidak bisa menyalahkannya. Karena ia juga pasti mendengar kutukan tentang dirinya. Tidak hanya itu Addrin juga dibuat terkejut oleh Sara. Kata itu terlontar dari mulut Sara membuatnya tidak percaya, pasalnya hanya seorang yang tahu tentang nama sahabatnya yang ia gunakan dan tiu juga terpaksa ia gunakan karena tidak tahu nama lagi.