LINN

LINN
Penobatan


__ADS_3

Addrin sudah siap, pangeran tersembunyi Menampakkan dirinya, bahkan terlihat lebih gagah. Ia juga memakai jubah kebesarannya dan siap untuk menjadi Raja yang sesungguhnya. Addrin juga siap dengan segala urusan Lemerintahan termasuk juga dengan bencana yang akan ia terima. Ia memang mengtahui jika Leo tidak menyukainya sedari kecil tapi Addrin tidak pernah berpikir dan menyangka jika kebencian itu ia wujudkan dalam bentuk nyata. Ia tahu jika Leo berencana untuk merebut tahtanya dan ia juga terpikirkan jika kakaknya akan melakukan pemberontakan untuk menurunkannya. Bahkan seumur hidupnya tidak pernah sekalipun Leo memanggil, menyapa ataupun tersenyum padanya. Addrin mengetahui semua keganjilan yang ada diistana temasuk Ira juga adalah perbuatan Leo. Namun ia tidak mungkin untuk melawannya jika senjata yang ia gunakan tidak akan mernyerangnya balik.


Tidak seperti Addrin, Leo sudah mengumpulkan kekuatannya sejak dulu dengan dukungan sang ibu. Sudah banyak yang mendukung dan mempercayainya bahkan hanya Leo yang lebih pantas untuk menjadi Raja. Semua rakyat sudah berkumpul dihalaman luas bak lapangan didepan istana. Mereka sorak sorai gembira menyambut Raja barunya. Masyarakat kini juga sudah mulai menerima dan menyambut Addrin. Saat malam festival tidak disangka jika pangeran itu berani keluar menyambut rakyatnya padahal ia hanya ingin menjemput adiknya. Masyarakat yang secara tidak langsung berpikir positif semakin senang dengan keberadaan Addrin dan kini hari ditunggupun akhirnya datang. Sama seperti halnya masyarakat yang sedang berkumpul di halaman depan istana. Para prajurit yang disediakan Leopun sudah bersiap dan bekumpul untuk melakukan pemberontakan. Dan beberapa sudah siap didalam istana melakukan penyerangan. Beberapa penjaga istana sudah terkapar dan para pelayan sudah ditawan. Sabetan dan ayunan pedang sangat ngilu terdengar. Darah sudah bercecer dimana-mana.


Addrin tidak memiliki rencana apapun, bahkan tidak ada orang yang bisa dipercaya olehnya. Ia sangat memperdulikan kerajaannya tapi ia lebih memperdulikan ibu dan adiknya. Ia akan rela untuk memberikan istana ini, karena ia juga mengetahui jika istana ini sudah tidak ada lagi dalam genggamanya. Semuanya pasti sia-sia jika ia bersikeras untuk menyelamatkan istana ini dan mengambilnya dari tangan Leo. Semua sudah Ia kendalikan baik diluar maupun didalam istana. Addrin melangkahkan kaki keluar dengan ditemani 2 pengawalnya dari belakang. Telinga Addrin terus bersiaga mendengar sekitarnya. Ia berjalan menuju halaman depan istana untuk menerima mahkota dan menjadikannya sebagai Raja yang sah.


Ratu, pangeran, putri, tunangan, tetua, petinggi kerajaan dan semuanya sudah bersiap menyambut pangeran termasuk masyarakat, kemunculan Addrin disambut meriah oleh masyarakat. Mereka melihat Addrin yang gagah sekali mirip sang ayah. Iapun menuju tempat tertinggi untuk menerima mahkota dan mandat sebagai Raja selanjutnya. Addrin berlutut dihadapan sang Ratu yang menjadi Raja sementara. Detik-detik pemakaian Mahkota ratusan parjurit datang memenuhi halaman depan, bahkan beberapa menawan masyarakat. Masyarakat yang tidak mengetahui yang sedang terjadi berteriak. Addrin tahu jika saatnya akan tiba. Iapun memperhatikan yang terjadi sebelum ia menyerahkan mahkota itu kepada Leo.


Leo beranjak dari duduknya namun beberapa pengawal mengeluarkan pedang berusaha untuk melindungi pangeran dan Ratu. Pengawal Leo pun mengeluarkan pedang untuk melawan mereka. kisah 2 anak Raja yang memperebutkan Harta disaksikan oleh semuanya dan merekapun menjadi bahan pikiran yang tidak berani Masyarakat katakan. Leo mengikrarkan dirinya jika dirinya yang pantas menjadi Raja.


“Aku tidak akan memaafkan mereka yang berani melanggar perintahku?” ancam Leo. “aku akan membunuh tanpa terkecuali”


“Apa maksudmu Kak Leo dengan semua ini?” Tanya Addrin yang memang sudah mengetahui hal ini hanya saja ia ingin mendengar langsung dari mulut kakaknya.


“Kau seharusnya tidak pantas menjadi seorang Raja. Karena aku disini adalah anak tertua yang berhak menerimanya” tutur Leo.


“Jaga mulutmu Leo. Anakku yang berhak yang mendapatkan mahkota ini” ucap sang Ratu ibu dari Addrin dan mendapat tamparan dari Leo.

__ADS_1


“Aku sudah mengatakannya aku tidak akan mengampuni tanpa terkecuali” Leo menyiratkan ancaman itu bukanlah main-main.


Kemarahan sangat memuncak melihat perlakuan kakaknya yang berniat mempermalukan ibunya didepan banyak orang, addrin membenci dirinya sendiri karena ia tidak bisa melakukan apapun bahkan ia juga terus melirik ke arah Ira. “Jika kau menginginkan semua ini, ambil saaja tapi kalian tidak perlu untuk melakukan kekerasan terhadap ibuku”


“Lihatlah dirimu, tidak ada kemauan dari dalam dirimu. kau hanya melihat apa yang terlihat tapi tidak pernah mampu melihat yang seharusnya kau lihat. Itulah kelemahanmu yang membuatmu kalah. Aku benci dirimu” cecar Leo.


Leo mengambil pedang dari salah satu anak buahnya. Ia mengangkat pedang itu tinggi dan mengikrarkan dirinya adalah Raja sesunguhnya yang akan memberikan kejayaan kepada negri ini bahkan ia akan membuat kerajaan lain tunduk padanya. Leo yang mengangkat pedang terus mengatakan kata-kata ancaman, peringatan dan ia juga akan membuat kerajaan ini menjadi kerajaan terbesar yang tidak akan pernah mungkin bisa dilawan dan dihina seperti masa sebelumnya. Semua orang terdiam dan tertunduk bahkan setelah Leo menurunkan pedangnya mereka semua berlutut layaknya menyambut Raja baru meski tanpa mahkota yang melekat dikepalanya. Tidak menampik Addrin merasa sedikit iri kepada kakaknya yang sangat berani dan pantang menyerah semenjak ia mengenalnya sedari kecil. Bahkan Addrinpun mengaguminya dalam diam. Addrin mengetahui jika Leo menganggapnya mengambil semua hak yang seharusnya diterima olehnya, tapi tidak dalam pandanngan Addrin. Justru Leolah yang telah mengambil semua haknya. Ia kehilangan kepercayaan dari orang-orang terdekat ayah dan juga orang yang ia cintai Misha. Misha yang sering sekali menghabiskan waktu dengannya tidak ia duga jika Misha mencintai Leo yang juga memperhatikannya namun tidak pernah sekalipun mereka saling bicara. Sorot mata Misha mengharuskan Addrin mengurungkan niatnya untuk memberikan Liontin yang kini melingkar cantik dileher Sara.


Pertunjukan terakhir dari Leo adalah memberikan penghakiman terakhir untuk Addrin dan juga peringatan untuk semua orang yang berada disana. Leo menurunkan pedangnya perlahan, ratu yang melihat gerak gerik Leo itu langsung melindungi Addrin. Begitupun dengan Misha untuk mencegah dan mengingatkan akan janjinya. Misha menggenggam tangan Leo yang memegang pedang, ia menggelengkan kepala untuk tidak melakukan hal itu. Leo tidak peduli dan mendorong Misha sampai terjatuh, ia ingin melakukan aksinya lagi jika tidak ia pasti yang akan susah. Ia harus membunuh semua keluarga Addrin. Leo mengayun kembali pedang dan mengarahkan kepada anak dan ibu yang sedang berpelukan.


“Teng…”


“Kalian jangan bergerak” seseorang tiba-tiba menawan Misha yang terjatuh demi melidungi Leo. Orang itu menggunakan pedangnya dan menaruhnya dileher MIsha. Semua orang terbelalak dengan aksi orang yang tidak diketahui itu. semua orang tahu siapa Misha.


Leo murka melihat aksi orang itu yang tidak terima dengan sikapnya. “HENTIKAN ITU ISVARA KAU MENYAKITI MISHA-KU” Leo berteriak mendengar rintihan Misha karena lehernya berdarah. “PENGAWAL TANGKAP DIA”


Sara merasa pilu mendengar ucapan Leo terhadap kakaknya yang tidak ia ketahui jika orang yang dicintainya bukanlah dirinya melainkan Misha. Bahkan leo berani memerintahkan pengawal untuk menangkapnya. Sara sedih dengan keadaaan kakaknya yang telah disia-siakan oleh Leo, namun tidak ada waktu untuk terus menonton kejadian yang ada didepannya. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Sara, ia yang sudah mengetahui perbedaan kekuatan langsung menggunakan perserteruan itu untuk melarikan diri dari istana itu. Ratu, Addrin dan Ira sudah diamankan dengan bantuan Worri yang membukakan jalan untuk melarikan diri, worri sudah memerintahkan anak buahnya untuk menyiapkan kuda guna untuk melarikan diri.

__ADS_1


Meski dengan perlawanan dan petarungan sengit, akhirnya mereka semua berhasil keluar dari Istana. Ratu, Addrin dan Ira tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Namun setidaknya bagi Addrin saat ini adalah keselamatan ibu dan adiknya. Addrin hanya bisa meratapi nasibnya karena ulah dunia yang begitu kejam padanya. Worri membawa Addrin, secepat mungkin memacu kudanya. Pon membawa Ibu Ratu, Rawnie membawa Ira dan Sara membawa Adia. Sisa Pasukan bayangan hitam mengejar pasukan Sara dengan laju kuda secepat mungkin. Melihat pasukan bayangan hitam itu terus mengejar, Sara langsung menggerakkan tangannya. Mereka membagi beberapa pasukan dan berpencar. Luda takjub dengan Sara hanya dengan isyarat ia mampu menggerakkan pasukannya. Pasukan Sara terpisah menjadi Empat, Luda mengikuti arah pangeran. Ia ingin melindungi pangeran dan juga teman mainnya yang sudah lama sekali tidak bertemu. Mereka semua berpencar masuk kedalam hutan.


Sara, Rawnie dan Pon berhasil bertemu di sebuah tempat dihutan yang dikeliling pepohonan lebat tempat ini sangat cocok untuk dijadikan tempat persembunyian, hanya saja tinggal Worri yang belum sampai. Pasukan bayangan itu sengaja memilih Addrin, mereka tidak menghiraukan keberadaan Ratu dan Ira. Sara gelisah begitupun dengan sang ibu. Mereka terus menunggu, namun tidak ada tanda-tanda kehadiran dari Worri.


“Aku mohon padamu, tolonglah selamatkan anakku” tangis sang ibu Ratu yang khawatir karena anaknya tak kunjung juga datang.


“AKu pasti akan menolongnya” ujar Sara sembari melepaskan tangan Ratu yang terus bersimpuh memeluk betis Sara. Perlakuan sang ibu yang menyandang sebagai ratu sangat tidak pantas jika ia berlutut seperti ini, tanpa ratu menginginkan pun ia ingin menolong Addrin orang yang ia yakini sangat dicintainya.


Ira menghampiri ibunya dan memeluknya, gadis kecil yang sering terancam hidupnya kini kembali dihadapkan dengan kenyataan yang pahit. “AKu mohon tolong selamatkan kakak dan ibu, aku rela menjadi budakmu seumur hidupku”


Pengawal dan pelayan setia Ira menangis dengan kelakuan tuannya yang tidak memperlihatkan statusnya sebagai putri kerajaan, Ia bahkan berani merendahkan dirinya untuk menjadi seorang budak. Air mata ratu dan juga Ira membuat Sara tidak tahan untuk melihatnya. Ia benci melihat pemandangan ini, benci karena ia tidak bisa menolong mereka. mereka berdua terus berlutut dan menangis di kaki Sara yang belum mereka ketahui identitas orang yang didepannya.


“Ibu, aku mohon jangan seperti ini” Sara membuka penutup kepala yang sedari tadi ia gunakan. Sara ikut berlutut dan memeluk Ratu dan Ira yang sudah ia anggap ibu dan adiknya.


“Sara…, Kak Sara” ucap mereka berdua.


“Aku pasti akan menolong Addrin bu” Sara berdiri tegap dan mengambil pedangnya menari keberadaan Addrin.

__ADS_1


“Nona disini saja, biar aku yang mencarinya” Pon menghalau Sara dan memerintahkan beberapa anggotanya untuk ikut bersamanya menolong Addrin.


Sara hanya mengangguk, ia juga belum tentu bisa mengendalikan dirinya jika dihadapkan dengan Addrin apalagi dengan kondisi Addrin yang menyedihkan. Sementara Pon menyusul yang lainnya diperintahkan Rawnie untuk pergi kemarkas agar tidak terlalu mencolok karena terlalu banyak orang. disana hanya tersisa anggota dari kerajaan ditambah Sara dan Rawnie. Sara terus memeluk dan memberikan kekuatan untuk mereka berdua, walau Ia juga sadar jika dirinya tidak kalah tertekan dan kecewa. Sara tidak hanya memikirkan dirinya sendiri melainkan wilayah dan keluarganya khususnya sang kakak Isvara yang dipastikan akan mendapatkan perlakuan yang tidak baik, kesalahan sangat fatal karena membunuh Raja dan juga menyandra Misha, wanita yang sangat dicintai oleh Leo.


__ADS_2