
“Putri, aku benar-benar sudah tidak sanggup lagi untuk berjalan apalagi berlari” ujar Sara mengatur nafasnya. Sara kecewa pada tubuhnya yang sudah lama tidak berlatih. Dulu ia mudah pergi kemana saja seperti hewan liar bahkan tidak kenal lelah, sekarang ia hanya berlari menyusuri lorong lurus namun ia sudah lelah. Sara tidak bisa membayangkan lebih jauh lagi, ia baru tinggal beberapa bulan saja disini tapi kemampuannya sudah hampir hilang dengan pesatnya. Bagaimana jika ia tinggal selamanya diistana apa yang akan terjadi dengan kemampuan dan tubuhnya. Mengingat peraturan istana yang mengartikan perempuan harus selembut kapas. Sedangkan jiwa Sara bagaikan batu yang terbalut kapas.
“Aku Rasa mereka sudah tidak mengikutiku lagi” katanya juga yang terus mengatur nafasnya, meski sama lelahnya yang ditunjukkan wajah ira bukanlah rasa lelah tapi gelisah karrna ketakutan. “Maafkan aku karena aku telah memaksamu berlari bersamaku. Awalnya juga memang melelahkan, tapi sekarang bagiku itu adalah hal yang biasa”
“Maksudmu?” Sara tidak mengerti jika Putri Ira juga tidak kalah liar darinya yang terus melarikan diri.
“Aku dilarang Kak Raska untuk mempercayai siapapun diistana ini tapi jika terpaksa aku disuruh Kak Raska untuk menemuimu” ujarnya membingungkan Sara.
“Mengapa harus aku?” Tanya Sara aneh menunjuk tubuhnya sendiri.
“Selain Kak Addrin aku hanya percaya Kak Raska. Aku sudah terbiasa seperti ini selama 2 tahun lamanya hanya saja sekarang entah mengapa orang yang mengejarku seperti ada disetiap tempat dikerajaan ini” ujarnya sedih.
“Mengapa aku tidak mengadu saja kepada Yang Mulia Raja" ujar Sara.
“Aku dilarang melakukan hal itu, Aku tidak boleh memberitahu siapapun kecuali Kak Addrin dan Kak Raska" Katanya sedih.
Sara memeluknya. Entah kenapa keputusan Raska tepat menyuruh adiknya mencarinya, karena tidak ada lagi yang bisa membantunya, bahkan Misha dan Addrinpun terlihat seperti orang yang baru kenal tidak seperti teman masa kecil. Mungkin waktu telah membuat segala sesuatunya berubah. Sara merasa senang jika kemampuannya bisa menolong orang lain dan dibutuhkan tanpa Sara yang harus berinisiatif sendiri. Biasanya sara menggunakan kemmapuannya untuk berbuat kebaikan dan keadilan karena matanya yang selalu melihat penindasan.
"Aku memang tidak tahu seperti apa kondisi didalam istana. Tapi kalau begini nyawamu bisa terancam" desah Sara. Sara juga tidak tahu apa yang ada dipikiran Addrin membiarkan adiknya seperti ini.
__ADS_1
"kalaupun memang harus mengadu aku yakin kak Addrin dan Kak Raska yang akan mengetakannya” jelasnya lagi yang membuat Sara semakin menggunduk tanda Tanya di atas kepalanya. Ia tidak mengerti cara kerja diistana ini. bagaimanapun ini terlalu aneh, merasa terancam drumah sendiri.
Sara kembali berjalan mengikuti Ira, kaliini Ira berjalan normal tidak seperti sebelumnya hanya saja tempat yang ia pijaki sekarang tidaklah normal untuk seukuran Putri yang pastinya selalu menginjak keindahan. Sara menyusuri tempat tertutup dengan aliran sungai yang mengalir cukup deras. Kiri dan kanan dinding cukup kumuh dan juga berlumut. disini hanya ada lampu obor yang terang seadanya, ini benar-benar diluar nalarnya seorang putri bisa tahu tempat dan berada disini. Kini Sara sudah tidak bisa lagi menghitung Tanda tanya yang ada dikepalanya, istana macam apa seberanya yang ia tempati sekarang ini, entah mengapa ia merasa aman berada didalam hutan ketimbang berada diistana. Rasanya ia seperti bisa kehilangan nyawa setiap saat. Ira yang merupakan sang putri merasa terancam nyawanya apalagi dirinya yang bukan siapa-siapa.
Ira berjalan mengikuti aliran sungai itu, tidak deras namun cukup lancar. Entah kemana Ira akan membawanya. Yang jelas ini cukup jauh dari kamar Sara ataupun dari Jalan yang yang Sara ketahui. Kini sudah dipastikan ia tidak bisa seorang diri untuk pergi kekamarnya. Setitik cahaya dari kejauhan melegakan pikiran Sara, akhirnya ia akan tahu kemana langkah kaki ini akan berhenti. Perlahan cahaya itu semakin membesar dan menunjukkan kebenarannya. Sara bisa melihat dengan jelas pepohonan yang cukup besar, lebat dan juga banyak, disana ada bebatuan dan beberapa prajurit, tidak lupa pelayan yang pernah Sara temui ketika ia menjadi Linn. Semuanya serba sepaket.
“Dimana ini?” ujar Sara emlihat kesekelilingnya.
“Ini berada dihutan diluar gerbang istana” ujarnya.
Sara terbelalak. “Bagaimana bisa?”
“Tapi untuk apa kau kabur dari sana?” Tanya Sara menunjuk istananya.
“Aku tidak diberikan rinciannya, hanya Kak Raska yang mengetahui hal itu, aku hanya diberi tahu untuk keluar dari sini ketika ada bahaya yan mengintaiku”
Sara memang tidak mengerti maksud dari semua ini tapi ia bisa memastikan jika Ira sedang tidak berbohong, tapi ia juga semakin tidak mengerti kenapa ia harus dibawa kedalam masalah mereka yang jelas sara tidak mengetahuinnya. Saat ini Sara hanya bisa percaya apa yang dilihatnya sekarang, ia juga tidak melihat sesuatu yang aneh dari Raska. Bahkan ia tidak percaya jika Raska memiliki banyak Rahasia.
“Putri kau percaya padaku?” Tanya Sara menyakinkan.
__ADS_1
“Setidaknya itu yang dikatakan Kak Raska dan aku melihat kau tidak seperti tunangan Kak Addrin yang lain dan pastinya kalung yang kau gunakan itu adalah kalung milik Kak Addrin. Kalung itu adalah pemberian kakek dan itu bisa menambahkan kepercayaanku padamu, mengingat sifat kak Addrin” Sara terbelalak melupakan sesuatu yang melingkar dilehernya, setidaknya itu bisa menolongnya untuk sekarang ini karena kepercayaan yang diberikan Addrin.
“Apa yang inginkau lakukan?” Tanya Ira melihat Sara mengambil selembar dedaunan dari tanaman didekatnya dan batang lalu menuliskan sesuatu.
“Ambil ini dan berikan kepada Worri” ujar Sara kepada salah satu prajurit disana.
“Kau jangan gila, jangan sampai kau bertindak gegabah” ira khawatir.
“Karena itulah aku bilang kau percaya padaku begitupun denganku. Aku tidak mungkin membiarkan orang yang didekatku terancam bahaya apalagi kau percaya padaku” ucap Sara menyakinkan Ira.
“Lalu untuk apa kau memanggil Worri” Ira masih ketakutan.
“AKu melihat prajuritmu tidak terlalu terlatih aku yakin kau tidak mungkin selamat, jangankan untuk melindungimu untuk melindunginya saja tidak mungkin bisa mereka lakukan” ujar Sara .
“Sara harap yang Mulia Sara bisa melindungi Nona, aku juga akan melakukan hal yang sama asal Yang Mulia Ira bisa selamat”Ujar salah satu pelayan.
“Mengapa harus Ira yang selamat jika kalian juga bisa menyelamatkan diri kalian” ujar Sara tersenyum.
“Itu tidak mungkin” ujarnya kembali.
__ADS_1
“Mengapa tidak, tidak ada yang tidak mungkin jika kalian mau belajar, tidak perlu sampai ahli yang terpenting kau cukup tahu ilmu ketika bertarung dan melindungi” ujar Sara membuat mereka mengangguk.